3 Duyung Cantik

Teri Mencuri Kalung

Pagi harinya Arabell sarapan bersama Mamah dan adiknya di meja makan.

 

“Ara, ini airnya nak," ujar Mama seraya memberikan air kepada Arabell namun air itu malah tumpah ke tangannya.

 

Arabell langsung panik, "Aaahhh!!” teriaknya, sambil memegangi tangannya.

 

Amy menatap sang kakak dengan tatapan yang tidak biasanya.

 

“Waduh gawat nih, bisa-bisa gue berubah," gumam Arabell dalam hati.

 

"Sorry, sorry Mama tidak sengaja,” ujar Mamanya, namun Arabell malah pergi ke kamarnya.

 

“Ara, Arabell, kamu lebay banget sih, ini cuma air putih sayang,” jelas Mamanya. “Dilap juga langsung kering," lanjutnya merasa heran dengan anaknya.

 

Amy yang merasa heran dengan apa yang dirahasiakan kakaknya dia pun langsung menyusul kakaknya yang pergi ke kamar mandi. 

 

Semalam Amy sudah membaca terlebih dahulu buku diary Arabell dia tahu jika kakaknya menyukai Dirga, namun dia masih tidak percaya dan mengerti dengan gambar tiga putri duyung itu, sebenarnya apa yang telah terjadi pada kakaknya? 

 

“Ka Ara!” panggil Amy, dia masuk ke kamar Arabell yang tidak terkunci.

 

Begitu masuk Amy bingung kemana perginya sang kakak karena dengan cepatnya Arabel pergi ke kamar mandi, begitu Amy menoleh ke arah kamar mandi dia melihat ekor duyung, Arabell lupa menutup rapat pintu kamar mandinya, seketika Amy pun langsung kaget melihatnya.

 

Arabel merasa ada yang aneh dia menyadari pintu kamar mandinya tidak tertutup rapat, dengan cepat dia langsung mendorongnya. 

 

Amy memalingkan wajahnya dia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, “Hah, duyung?" pekiknya, dia berlalu pergi keluar dari kamar dengan buru-buru.

 

Kecurigaan Amy semakin menjadi-jadi, jika kakaknya berubah menjadi putri duyung. Setelah pulang sekolah dia langsung menemui temannya yang merupakan adiknya Astrid yaitu Tomi. 

 

"Eh Amy,” ujar Astrid dia kaget saat mengetahui siapa yang sudah mengetuk pintu rumahnya. "Ada apa, kok muka kamu kayak ketakutan gitu?” tanya Astrid dengan kerutan di keningnya. 

 

Amy kaget saat melihat Astrid yang membukakan pintu, "Heemmm, nggak kok ka, oh ya Tomi nya ada?” tanyanya gugup.

 

“Oh Tomi, ada kok. Tomi! Ada Amy nih," panggil Astrid seraya menoleh ke dalam rumahnya.

 

Akhirnya Tomi pun keluar, dia bingung kenapa Amy mendadak langsung ke rumahnya. 

 

Amy masih terdiam karena masih ada Astrid bersamanya, jika sampai Astrid tahu jika dirinya telah mengetahui rahasianya dan kakaknya bisa bahaya. 

 

"Ciee, ciee, kalian berdua nih.” Astrid malah menggoda kedua anak kecil ini. 

 

Tomi yang terganggu akhirnya mendorong kakaknya menyuruhnya untuk masuk ke dalam rumah, Amy pun membawa Tomi pergi jauh dari rumahnya. Dia ingin membisikkan sesuatu yaitu tentang rahasia kakak-kakaknya selama ini.

 

“Hah, apa kamu bilang? Ka Astrid, ka Arabell …," pekik Tomi terkejut mendengarnya.

 

Amin menaruh telunjuknya di depan mulutnya menyuruh Tomi untuk diam dan tidak berisik. 

 

“Jadi mereka itu putri duyung?" sahut Tomi kembali melanjutkan kalimatnya.

 

“Iya, sama ka Ratu juga," jawab Amy yakin jika gambar tiga putri duyung itu adalah mereka bertiga. 

 

"Ah, tidak mungkin, kamu mah ngayal.” Tomi mengelak dia tidak percaya apa yang dikatakan Amy.

 

"Yehh malah gak percaya, nih baca buku ini tuh penting," kata Amy seraya menunjukkan buku diary Arabell. 

 

“Gue nggak mau baca ini kan buku diary orang itu namanya privasi,” tukas Tomi menolak untuk membaca buku yang diberikan Amy.

 

"Baca dulu, ini tuh penting!” seru Amy sambil menunjukkan buku diary Arabell.

 

“Gak mau ah!" Tomi tetap kekeh tidak mau membacanya. “Bisa aja, kakak-kakak kita itu ngarang cerita, ya kan?" katanya berpikir positif. 

 

Amy melotot kesal, “Ya udah kalau kamu nggak percaya dan gak mau baca, coba aja suruh kakak kamu tuh masuk ke dalam air pasti nggak mau, buktikan saja coba!” pintanya dengan kesal.

 

Tomi semakin bingung dia tidak percaya dengan adanya putri duyung apalagi kakaknya yang berubah menjadi putri duyung, namun dia penasaran dengan apa yang disarankan oleh Amy. 

 

****

 

Di sekolah Astrid menggunakan kalung yang dia temukan di laut, sampai ada yang memuji kalung miliknya.

 

“Astrid!" sapa salah satu teman kelas Astrid 

 

Arabell, Ratu dan Astrid menoleh menatap dua teman sekelasnya itu. 

 

“Kalung lo bagus banget, beli di mana itu?” tanya salah satu dari mereka sambil menatap kalung yang digunakan oleh Astrid. 

 

Terlihat Teri yang tidak jauh dari sana mendengar dan menoleh melihat ke arah Arabell, Ratu dan Astrid apalagi sampai dipuji karena perhiasan yang dipakainya membuat Teri semakin iri saja. 

 

“Hemm, dikasih teman," jawab Astrid untuk menyembunyikan fakta yang sebenarnya. 

 

"Merendah aja Strid, pasti harganya mahal kan? lo kan star second di sekolah ini," seru teman kelasnya itu. 

 

"Ah nggak ah,” ujar Astrid sambil tersenyum begitupun Ratu yang menahan ketawa mendengar ucapan teman sekelasnya.

 

Dari semakin panas mendengar pujian itu kepada Astrid. “Siapan, kalung itu emang bagus sih, kenapa harus Astrid yang pakai kalung itu, gue juga kan mau,” gumamnya dalam hati.

 

Ketika pelajaran olahraga Arabel, Ratu dan Astrid pun berganti pakaian mereka. 

 

“Astrid, buruan ihh!" teriak Arabell melihat Astrid yang masih sibuk di depan lemarinya. 

 

“Iya sebentar, sebentar!” ucap Astrid yang terburu-buru menutup pintu lemarinya sampai lupa untuk menguncinya. 

 

“Ayo!" seru Astrid saat sampai di samping kedua sahabatnya.

 

Ketiga sahabat itu keluar dari ruang ganti kesempatan untuk Teri, dia menghampiri lemari Astrid dan membukanya dengan kunci cadangan miliknya. 

 

 

Matahari tampak bersinar melihat keindahan kalung itu, dengan cepat-cepat dia mengambil kalung itu, namun tiba-tiba Ratu datang dan kaget saat melihat Teri memegang kalung milik Astrid, dia pun langsung bersembunyi. 

 

Setelah pintu terkunci kembali, Teri berniat untuk segera pergi namun di jalan Ratu langsung menghadangnya dan memegang tangannya. 

 

"Kembalikan kalung Astrid!!” teriak Ratu sambil berusaha mengambil kalung itu. 

 

“Kalung apa sih? gue nggak tahu!” jawab Teri sambil melepaskan tangan Ratu yang mencoba untuk menggeledahnya. 

 

"Mana kalung Astrid!” Ratu tampak kesal dan emosi melihat Teri yang tidak mau mengembalikan kalung itu.

 

“Gue nggak tahu, bukan sama gue.” Teri masih terus berbohong.

 

Mata Ratu tertuju pada ember yang ada di sampingnya dia punya ide untuk menggunakan kekuatan, dia pun memanaskan air dalam ember tersebut lalu menggeser embernya sehingga mengenai kaki Teri. 

 

“Aauww, auww!" teriak Teri mengaduh kesakitan sampai kalung itu terjatuh di lantai. 

 

Dengan cepat Ratu mengambilnya “Ini apaan?” tukasnya dengan geram.

 

Seketika Teri menatap Ratu, “Maling, maling! Ada yang ngambil kalung Astrid," teriak Teri dengan kencang. 

 

Ratu memicingkan matanya dia heran apa yang dilakukan Teri. “Apaan sih lo? maling, teriak maling,” gerutu Ratu menarik tangan Teri untuk berhenti berteriak.

 

Seketika Teri berlari turun ke bawah sambil berteriak membuat Ratu semakin kesal.

 

“Tolong ada maling!” teriak Teri semakin kencang. 

 

Ratu mendorong Teri dengan kesal. “Teri Lo apa-apaan sih, maling teriak maling!" 

 

“Iyalah, siapa sih yang bakal ngira gue yang ngambil? Lagian kenapa sih Astrid dan Arabel mau temenan sama lo,” cibir Teri.

 

Ratu kesal dia mengepalkan tangannya, “Keterlaluan ya Lo,” katanya berusaha menahan emosinya. 

 

"Maling! Ada yang maling kalung Astrid,” teriak Teri kembali, yang mengundang satu persatu temannya berdatangan.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!