3 Duyung Cantik

Andi di Usir Dari Rumah

"Ara!" panggil Dirga sembari manjat ke atas pagar rumah menghampiri Ara.

"Ya ampun Dirga ngapain ke sini? Sudah sana pulang! Pulang!" pinta Ara dengan cemas.

 

Dirga memandang Ara, "Orang baru datang disuruh pulang? Lagi hujan nih, orang mah disuruh masuk dibikinin teh basah nih," lirih Dirga.

 

"Ya ampun Dirga, Mamah aku ada di sana kalau lihat kamu bagaimana?" tunjuk Ara ke arah Nyokapnya yang masih duduk di jendela.  

 

Dirga melirik Nyokapnya Ara, "Nyokap Lo?" tanyanya memastikan yang dijawab dengan anggukan kepala Ara, "Berarti harus ketemu dong," katanya hendak nyelonong masuk ke dalam rumah. 

"Eh eh jangan!" sergah Ara menghentikan langkah Dirga.

 

"Kapan? Besok ya?" ujar Dirga memandang Ara, namun cewek itu belum bisa memberi jawaban.

 

"Okey okey kalau belum siap besok, terserah lo!" tunjuk Dirga kepada Ara. "Nanti juga ujung-ujungnya gue bakal ketemu juga sama Nyokap Lo kan? Hehehe." 

 

"Dirga! Sekarang bukan waktunya untuk bercanda, Mamah aku lagi sedih kalau sampai lihat kamu terus dia marah pasti Mamah aku tambah sedih aku gak mau," terang Ara dengan cemas.

 

"Yah kok sedih sih? gara-gara Lo?" tanya Dirga menatap Ara tajam.

 

"Ceritanya panjang gak bisa dijelasin, udah mending kamu pergi saja sana!" pinta Ara kembali mengusir Dirga.

 

"Oh okey," tukas Dirga mengerti perasaan Ara dia pun merogoh kantong jaketnya. "Ini seharusnya buat Lo tapi gue punya ide yang lebih bagus lagi," kata Dirga memandang Ara. "Kasih aja ke Nyokap Lo yang lagi sedih ya!" pintanya sembari menggenggamkan barang itu di tangan Ara.

 

Begitu Ara melihatnya dia langsung tersenyum, "Dirga ini bagus banget, makasih ya!" serunya sambil memandang barang pemberian Dirga.

 

Dirga senang melihat Ara yang begitu senang juga. "Sama-sama, ya sudah gue pulang dulu ya!" pamitnya yang kembali melompat lagi dari pagar.

 

"Iyah, hati-hati ya Ga," seru Ara sembari tersenyum melihat kepergian Dirga.

 

Ara memandang Mamahnya yang masih duduk di dekat jendela dengan tersenyum lalu dia pun dengan tidak sabar masuk ke dalam rumahnya untuk memberikan barang itu kepada Mamahnya. 

 

Ara menghampiri Mamahnya yang sedang duduk di depan jendela. memandangi ke arah luar jendela. Dia melangkah mendekat lalu membetulkan barang yang dia bawa untuk diberikan kepada Mamahnya.

 

"Mamah!" pekik Ara dengan mengulurkan sebuah kalung di depan wajah Mamahnya.

Melly menoleh begitu dipanggil dia terkejut melihat Ara yang mengulurkan kalung kepadanya perlahan digapainya kalung tersebut yang berlafadz 'Allah'. 

 

"Itu hadiah buat Mamah," ujar Ara sambil mengulum senyum pada bibirnya.

"Astaghfirullah, bagus banget sayang, Mamah terharu." Melly memandang anaknya dengan mata yang berbinar-binar.

 

Ara membalasnya dengan tersenyum. "Mah, Ara minta maaf ya! Selama ini Ara sudah bikin Mamah sedih, sekarang Ara sadar Mah kalau Mamah benar-benar sayang sama Om Verry, dan sekarang pun aku udah benar-benar tidak masalah kalau Mamah menikah dengan Om Verry Mah, kalau Mamah bahagia aku juga ikut bahagia, jadi tolong pikirkan baik-baik soal hubungan Mamah dengan Om Verry karena aku selalu mendukung Mamah," ujar Ara yang sudah mengikhlaskan jika Mamahnya akan menikah dengan Om Verry yang tidak lain adalah Papahnya Teri.

 

Perkataan Ara membuat Melly tersenyum bahagia, "Terima kasih sayang, Mamah sangat terharu mendengar ucapan kamu dan Mamah sangat beruntung punya anak seperti kamu," ungkapnya dengan air mata yang berlinang.

 

Lalu dia pun memeluk Ara dengan penuh kasih sayang Ara merasakan kehangatan pelukan dari Mamahnya yang begitu menyayanginya.

 

****

 

Di pagi hari Andi hendak pergi dengan membawa tasnya yang besar, namun begitu di depan tangga dia didorong oleh Papahnya.

 

"Mau ke mana kamu?!" tanya Papahnya kepada Andi, lalu pandangannya beralih ke tas yang dibawa anaknya itu. "MAU KABUR? Seperti Mamah kamu? bagus, anak sama Ibu sama saja!" teriak Papahnya Andi dengan penuh amarah.

 

"Papah, Papah jangan berani ngomongin Mamah, Mamah ninggalin kita karena Papah! Aku selama ini sudah berusaha sabar dengan tingkah laku Papah tapi tidak untuk kali ini," sahut Andi penuh emosi. "Papah, kenapa Papah jual mobil aku? Itu kan pemberian dari Mamah BUKAN dari PAPAH!!" 

 

"Halah, mobil gitu aja kok diributin, apa sih mau kamu kheh?" ujar Papahnya kembali menatap Andi.

 

"Aku tahu Papah jual mobil itu buat judi serta mabuk-mabukkan dengan teman-teman Papah kan?" pekik Andi yang mengetahui kemana Papahnya sering pergi ke luar.

 

"Diam kamu!" hentak Papahnya wajahnya terlihat merah padam. "Berani-beraninya kamu berkata itu sama Papah!" tunjuknya ke arah wajah Andi.

 

"Papah itu udah gak pantas jadi Papah lagi!" pekik Andi terbawa emosi.

Plakk!! Terdengar bunyi tamparan dengan begitu nyaring, wajah Andi menghadap ke samping mendapatkan tamparan itu.

 

Papahnya menatap Andi tajam. "Kurang ajar kamu! Berani sekali kamu, okey okey kalau kamu mau pergi silahkan pergi jauh-jauh dari rumah ini samperin Mamah kamu yang gak tahu diri itu! Pergi sana! Pergi!" hentaknya mengusir anaknya pergi.

 

Andi tidak habis pikir dengan sikap Papahnya, "Okeh aku akan pergi lagian aku muka lihat muka Papah!" tunjuk Andi yang langsung bergegas pergi meninggalkan rumahnya.

 

Ara, Astrid dan Ratu pergi bersama dengan menaiki mobil namun kali Ini Ara yang membawa mobilnya.

"Strid, sebenarnya Lo mau ngajak kita ke mana sih?" tanya Ara dia tidak tahu akan membawa mobilnya ke mana karena Astrid belum memberitahunya.

 

"Gue juga belum tahu tapi gue tahu kebaikan apa yang harus kita lakuin," sahut Astrid sembari menatap ke dua sahabatnya.

 

"Hah?" pekik Ara terkejut dan tidak mengerti apa yang akan dilakukannya. Begitu pun dengan Ratu yang terkejut mendengarnya.

 

Di sebrang jalanan terlihat ada Andi yang sedang menghampiri sebuah warung nasi secara tidak sengaja Astrid melihatnya lalu menyuruh Ara untuk berhenti.

 

"Ara! Ra, stop! Stop!" seru Astrid dengan heboh sembari terus menatap ke depan.

"Kita ngapain sih berhenti di sini?" heran Ara begitu mobil udah berhenti di tepi jalan.

"Dia yang harus kita tolongin," tunjuk Astrid ke arah Andi.

 

"What! Andi?" Ara terkejut begitu mengetahui tangan Astrid yang menunjuk ke arah Andi. 

Astrid menganggukkan kepalanya membenarkan ucapan Ara. 

 

"Ngapain dia bawa tas gede kaya gitu? Mukanya bengkak gitu lagi Strid, lagian tumben bangeg tuh cowok mau makan di pinggir jalan," pekik Ratu kaget melihat penampilan Andi yang biasanya keren kini nampak berbeda. 

 

"Emang kondisinya yang lagi kaya gitu," sahut Astrid santai. Ara menoleh menatap Astrid. "Dia lagi dalam masalah, jadi kita harus bantuin dia okey!" 

 

Ratu dan Ara mengganggukan kepalanya mengerti mereka nampak memperhatikan Andi di seberang sana.

 

Seketika Astrid keluar dari mobil dan berlari menghampiri Andi yang hendak pergi. "Andi!" panggilnya membuat cowok itu menoleh.

 

"Gue, mau nawarin Lo tempat tinggal tapi di tempat gue gak bisa," keluhnya menyadari akan rumahnya yang tidak punya banyak kamar. "Ah sama Doni aja pasti dia gak bakal keberatan sampai masalah Lo selesai aja okey," lanjutnya.

"Beraninya ya Lo ngikutin gue sampai tahu masalah gue! Pasti Lo mau ngejelekin gue di sekolah kan?" tuding Andi berpikiran negatif kepada Astrid.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!