3 Duyung Cantik
Bahaya Bulan Purnama
"Ah selesai juga mendekor rumah gue," ujar Ara setelah menempelkan pita tersebut. "Gimana kalian sudah selesai?" ujar Ara menatap kedua sahabatnya serta adiknya yang ikut membantu.
"Beres," sahut Astrid pelan begitu menyelesaikan semuanya.
"Sudah semua ka," timpal Amy menatap kakaknya dengan tersenyum.
"Ah jadi gak sabar deh buat party ulang tahun Nyokap gue nanti malam." Ara membayangkan kebahagiaan yang akan Mamahnya rasakan nanti malam.
Mereka tersenyum ikut merasakan kebahagian yang akan datang nanti malam.
"Ya udah sekarang kita harus siap-siap sebentar lagi teman-teman akan datang," seru Astrid mengingatkan. "Mandi!" Dia menunjuk kepada Amy sembari terkekeh.
"Iya iya." Amy pun ikut tersenyum dan berlalu pergi.
"Ya udah yuk!" ajak Ara dengan antusias dia sudah tidak sabar untuk memakai gaun cantik menyambut ulang tahun Mamahhya.
Setelah semuanya selesai, satu persatu teman-teman Ara datang beserta para teman-teman Nyokapnya yang diundang.
"Eh makasih ya udah bantu siapin semuanya," tukas Ara memandang kedua sahabatnya dengan bahagia karena memiliki mereka di dekatnya.
"Iya Iyah." Ratu tersenyum memandang Ara lalu dipeluknya dia dan Astrid oleh Ara.
"Apa sih yang enggak buat Lo," sahut Astrid sambil menyolek hidup Ara.
"Makasih, makasih wkwkw." Ara menangkupkan kedua tangannya didepan dada sambil menjongkok mengucap terima kasih kepada kedua sahabatnya.
"Santai aja kali hehehehe." Mereka pun kembali tertawa bersama dengan bahagianya.
Begitu Ara menoleh dia mendapati Om Verry di belakangnya dia dan kedua sahabatnya pun langsung menghampirinya.
"Hallo Om," sapa Ratu dengan mencium tangan Verry yang diikuti oleh oleh Ara dan Astrid.
"Hallo Om, apa kabar?" tanya Ara dengan tersenyum.
"Melly mana?" Verry malah bertanya soal Nyokapnya Ara yang belum kelihatan di matanya.
"Mamah masih di jalan soalnya kita mau siapin surprise untuk Mamah nantinya," sahut Ara dengan tersenyum senang.
Verry pun menganggukan kepalanya mengerti.
"Om sendirian aja, Terinya mana!" Ratu bertanya saat dia tidak melihat Teri di acara ini.
"Iyah Om Terinya ke mana?" Ara dan Astrid mengernyit bingung ketika mereka tidak melihat Teri.
"Hemm … Terinya lagi kurang enak badan jadi dia tidak bisa datang tapi Teri intip sal untuk kalian beritiga," sahut Verry berbohong karena sampai sekarang anaknya itu belum juga kembali ke rumah.
"Oh gitu, sampaikan salam balik dari kita untuk Teri ya Om semoga dia cepat sembuh," sahut Ara yang sudah baikan dengan Teri meski cewek itu akan selalu membeci dirinya.
"Terpaksa aku harus berbohong padahal Teri tidak pernah ada di rumah," lirih Verry mengingat bahwa sudah 3 hari lebih anaknya itu pergi.
Begitu Ara pergi ke dapur untuk mengambil minuman dan tiba-tiba dia melihat ke atas langit di sana terlihat sinar bulan purnama Ara yang menatap sinar tersebut tiba-tiba menjadi terhipnotis.
Ratu dan Astrid mencari Ara ke mana-mana dan ternyata sahabatnya ini ada di dapur sedang bengong.
"Ara gue cariin juga," ujar Ratu yang dihiraukan oleh Ara.
"Ara! Ara!" panggil Astrid tetap saja Ara masih menatap bulan itu.
"Hey Ara." Ratu pun melambaikan tangannya di depan wajah Ara dia juga menggesekan jemarinya sehingga menimbulkan bunyi yang akhirnya berhasil membuat Ara menoleh.
"Hay!" sapa Ara suaranya terdengar beda agak cempreng.
"Ara, Lo kenapa?" Astrid menatap Ara bingung.
"Hah, gue gak apa-apa dadah muach!" Ara pun memberikan kiss kepada kedua sahabatnya lalu pergi begitu saja dengan terlihat aneh.
"Ray, Ara kenapa itu? Kok aneh banget dia ya." Astrid bingung dengan apa yang telah terjadi kepada Ara.
Ratu mengangkat kedua bahunya, "Tahu Strid gue juga bingung ya sudah kita samperin yuk!" ajaknya untuk menyusul Ara.
Di ruang tengah Ara menyapa semua para tamu undangan yang telah hadir pada acara party ulang tahun Nyokapnya.
"Hallo semuanya, kalian happy? Happy? semuanya sudah pada siap? Mari bergoyang!" teriak Ara dengan anehnya dan tidak jelas goyang sendiri di depan semua orang. "Uhuhuy goyangkan badanmu!"
"Hallo Om," sapa Ara kepada Verry lalu Ara pun pergi menatap seorang yang memakai wig di kepalanya berwarna putih.
"Oh my God rambutnya bagus banget!" seru Ara sembari memegang wig Ibu-ibu itu sampai terjatuh. "Ups sorry!" Ara pun kembali pergi dari sana dengan terus tertawa tidak jelas.
"Duh Ibu maaf ya Bu maaf!" tukas Ratu mewakili Ara dia meminta maaf kepada Ibu-ibu itu.
"Iya maaf ya Bu," timpal Astrid takut Ibu-ibu itu marah karena ulah Ara.
Ara kini pergi ke depan para cowok serta anak muda lainnya, sama seperti tadi dia juga menyapa semua para tamu undangan.
"Selamat malam semuanya, gimana kalian happy kan? Okey Mari Semuanya kita bergoyang!" ajak Ara setelah menyapa semuanya dia melompat-lompat dengan senangnya. Begitu dia menemukan kaset lagu dia pun langsung menyalakannya dan kembali bergoyang.
Ratu melongo melihat Ara, "Hooh!" Dia tidak bisa berkata-kata lagi tingka laku Ara mendadak menjadi aneh.
"Aduh Astrid, si Ara kenapa jadi gitu sih!" ujar Ratu dengan heran melihat sahabatnya yang goyang-goyang sendiri di depan semua orang.
"Ayo semuanya angkat tangannya! Angkat tangannya! Bapak ayo kita goyang," racau Ara dengan berlarian ke sana ke mari sembari terus bergoyang.
Sampai Ara bertabrakan dengan seseorang laki-laki. "Hahh Dirga!" serunya kaget begitu melihat siapa yang menabraknya. "Gays! Gays kalian tahu ini siapa? Ini adalah pangeran pujaan hatiku," ujar Ara terlihat kacau.
Dirga hanya tersenyum melihat ke semua tamu yang hadir, lalu dia menatap Ara yang terus memegangi pipinya serta memuji dirinya. "Ganteng ihh ganteng banget," katanya seraya memajukan tubuhnya hendak mencium Dirga.
"Eh … Ara!" sergah Ratu dengan terkekeh dia merasa malu dengan tingkah aneh sahabatnya ini.
Astrid langsung mematikan lagunya dia juga mematikan lampunya sehingga semua terlihat gelap.
Ara kembali menyapa semuanya sambil terkekeh dan meracau tidak jelas. Ratu terus memegangi sahabatnya itu. "Iya iya," katanya menanggapi racauan Ara yang semakin parah.
"Hah mati lampu, aku suka mati lampu!" ujar Ara sambil mengangkat tangannya ke atas.
"Sebentar lagi Tante Melly datang kan jadi lampunya kita matikan saja ya jadi kita pada gelap-gelapan dulu ya, okey? Okey?" terang Astrid menatap semua para tamu undangan.
Lalu Ratu dan Astrid pun membawa Ara ke luar halaman. Sedangkan Ara terus berbicara tidak jelas membuat Astrid dan Ratu semakin pusing.
"Duh Ara kenapa ya?" tukas Astrid sembari memegangi jidat Ara takut jika sahabatnya ini sakit.
"Kayanya terjadi sesuatu deh sama dia." Ratu pun menyimpulkan karena melihat tingkah laku Ara yang aneh.
Astrid menoleh ke arah sinar bulan yang jatuh ke air kolam renang, lama dia menatapnya membuat Ratu heran.
"Woy Astrid Lo kenapa lagi?" seru Ratu dengan berdecak pinggang ke dua alisnya mengkerut bingung.
Seketika panggilan Ratu kembali membuat Astrid sadar, "Oh my god," pekiknya sembari menunjuk ke arah sinar bulan yang terpantul di air kolam renang. Dia menutup pandangan wajahnya dari sinar itu.
"Apaan sih?" Ratu ikut menoleh ke arah air kolam dan pandangannya pun kini tidak lepas dari sana.
"Ratu! Rat!" cegah Astrid menyadarkan Ratu untuk tidak menatap pantulan sinar bulan purnama itu. "Jangan lihat!"
"Kenapa sih?" Ratu menatap Astrid bingung.
"Duh Rat, jangan-jangan Ara kaya gini gara-gara sinar bulan purnama yang Ara cerita yang Bu Maya ingetin dalam mimpi," terang Astrid dengan geregetan karena Ratu masih tidak mengerti.