3 Duyung Cantik
Ara Tidak Bisa Berubah
"Tunggu sebentar ya Tante nanti kalau udah siap kita bakal ke sana," ujar Astrid ketika Melly masih ragu untuk pergi.
"Jangan lama-lama ya!" Melly berpesan dia masih menaruh curiga dengan Ara yang duduk di lantai serta melihat raut wajah ke tiga anak-anak itu.
"Dadah Tante." Ratu tersenyum sambil melambaikan tangannya.
Setelah Melly benar-benar pergi akhirnya Astrid dan Ratu bisa bernapas lega setelah merasa takut serta khawatir yang mereka rasakan.
"Kenapa sih kalian capek banget kayaknya? hahaha" ujar Ara menatap kedua sahabatnya yang tampak lelah.
"Rat, bagaimana ini?" Astrid menunjuk kepada Ara yang tidak bisa ditolongnya.
"Gimana apanya? Yaudah tutupin." Ara terus menyahut perkataan mereka.
"Gue juga gak tahu," pekik Ratu dengan bingung. "Hah, sinar bulan purnama? Apa jangan-jangan Ara kena sinar bulan purnama jadi dia gak bisa berubah lagi jadi manusia," terang Ratu wajahnya tampak cemas, kekuatannya pun tidak dapat merubah Ara.
Astrid melongo menyadari akan bahaya yang pernah Ara katakan mengenai sinar bulan purnama.
"Hah gak bisa berubah? Yeye happy semua harus senang malam ini." Ara kembali berteriak tangannya diangkat keatas hendak menari-nari namun buru-buru Ratu membekap mulut Ara agar kembali diam.
"Ara stop Ra!" sergah Astrid dia sudah terlalu pusing memikirkan semua ini dia tertunduk dengan tangan yang memegangi kepalanya.
"Yeye gak bisa berubah," seru Ara merasa senang dengan semuanya ini.
"Gimana ini, gimana ini, apa yang gue lakukan?" Astrid berdiri mencoba berpikir mencari jalan keluarnya serta cara agar Ara bisa kembali normal.
Kemudian terdengar Doni yang sedang berada di dekat mereka. "Ara! Ara!" panggilnya karena mendengar teriakan cewek itu.
"Syutt syutt, sini! Sini!" panggil Astrid sambil melambai-lambaikan tangannya.
"Hay Doni!" teriak Ara yang menyapa Doni. Dia tahu jika itu adalah suara Doni.
Ratu pun langsung menutupi kembali mulut Ara yang berisik membuat cewek itu marah.
"Ara kenapa?" tanya Doni begitu melihat Ara yang menjadi duyung.
"Gue juga gak tahu, dia terkena sinar bulan purnama terus dia berenang dan berubah jadi duyung tapi sekarang dia gak bisa berubah," terang Astrid yang mencoba menjelaskan.
"Hah?" Doni terkejut mendengarnya.
"Yeye aku tidak bisa berubah, keren kan aku? Hahaha," ujar Ara dengan senangnya, masih dalam keadaan tidak sadar.
"Ini pasti gara-gara sinar bulan purnama deh," tukas Astrid begitu yakin jika itulah penyebabnya Ara bisa begini.
"Iyah habisnya sinarnya bagus banget sih." Ara menyahut sambil menatap bulan yang ada di atas langit sana.
"Iya terus bagaimana ini? Kalau ada yang lihat Ara, kan gawat!" Astrid sudah pusing memikirkan caranya.
"Iyah Don, tolong bantuin kita dong!" Ratu menatap Doni dengan nelangsa dia sudah kehabisan cara untuk merubah Ara menjadi normal kembali.
"Ya udah aku tahu, semuanya tunggu di sini yah!" Doni akhirnya memiliki ide dia berlalu entah mau ngapain.
"Ya udah." Astrid mengizinkan Doni untuk pergi.
"Yeah semuanya harus happy," seru Ara dengan senangnya. "Dadah Doni! Ahahaha."
"Aduhh dia mau ngapain?" seru Ratu melihat Doni pergi lalu dia menatap Astrid menunggu jawabannya.
"Gue juga gak tahu," sahut Astrid menunggu kedatanga Doni dengan tidak sabar.
Kemudian Doni datang dengan membawa kursi roda serta selimut.
"Yuk naik!" ajak Doni.
"Ya udah buruan angkat Ara bantu naikin dia ke kursi roda," pinta Astrid sembari mencoba mengangkat Ara.
"Duhh aku mau dibawa ke mana sih kok di angkat-angkat mulu sih hahaha." Ara terus mengoceh diserta tawanya tanpa berhenti.
Akhirnya mereka pun berhasil mengangkat Ara lalu dengan pelan mereka membawa Ara masuk ke dalam rumah untuk mencari tempat sembunyi yang paling aman.
"Hallo aku ratu …." Ucapan Ara kembali terhenti sebab Ratu langsung membekap mulutnya agar tidak terus menerus berbicara karena mereka kini sedang berada di rumah banyak orang sebelah sana.
Tiba-tiba mereka terhenti saat ada seorang yang menatap Ara penuh curiga di depan mereka. Astrid menoleh pada Ratu bingung bagaimana cara melewati tamu undangan itu.
"Kok Ara pakai kursi roda gitu? Cedera ya?" tukas wanita itu menatap kaki Ara.
"Semua happy semua harus happy malam ini," racau Ara terus menerus.
Begitu tidak ada jawaban wanita itu hendak membuka selimut yang menutupi kaki Ara.
"Ehh!!" Astrid dan Ratu langsung menahannya.
"Jangan Bu, ini itu sebagai kejutan untuk Tante Melly," jelas Ara setelah menemukan jawaban yang tepat.
"Iya benar Bu jadi permisi yahh!" Astrid berpamitan untuk kembali membawa Ara menuju kamarnya.
"Dadah Ibu!" Ara melambaikan tangannya serta tersenyum kepada wanita itu.
Setelah sampai di kamar mereka langsung menutup pintu kamarnya dan membawa Ara ke atas kasur lalu Astrid dan Ratu duduk di sebelah mereka.
Sedangkan Ara memandang ke dua sahabatnya itu dengan menopang dagunya dengan tangan.
"Sampai kapan kita sembunyikan Ara dari semua orang?" Astrid kembali dibingungkan dengan semua ini.
"Gue juga gak tahu Strid, gue juga bingung," sahut Ratu yang tidak tahu lagi harus ngapain.
"Ya sudah coba lo keringin ekor Ara lagi!" pinta Astrid berharap akan berhasil.
Begitu Ratu menggunakan kekuatannya hasilnya masih sama. "Tuh ka gak bisa," katanya frustasi.
"Hahaha gak bisa." Ara tertawa dengan senangnya sikapnya masih belum kembali normal.
"Aduh gak bisa lagi gimana dong? 10 menit lagi jam 12 terus ulang tahun Tante Melly gimana dong?" Ratu semakin panik dengan semuanya.
Masalahnya Ara adalah anak Melly yang harus hadir dalam acara ulang tahun pada malam ini jika kondisi Ara seperti ini maka harus bagaimana? hal itu membuat ketiga teman Ara bingung.
"Yeye bentar lagi jam 12!" Ara kembali berseru dengan terus terkekeh.
Astrid mencoba berpikir mencari cara. "Okey semuanya tenang, tenang! Lo di sini aja ya temenin Ara biar Gue yang tangani Tante Melly dulu dan Lo Rat, terus coba keringin ekor Ara nanti kalau dia sudah kembali normal kabarin lagi yah," pekik Astrid yang bergegas untuk pergi ke ruang utama.
"Okey Astrid, dadah!" Ara melambaikan tangannya kepada Astrid dengan tersenyum.
Akhirnya Astrid mengawasi semuanya agar tetap berjalan lancar, lalu dia menghubungi Ratu. "Ara bagaimana?" tanyanya pelan begitu Ratu sudah mengangkatnya.
"Aduh Astrid tetap gak bisa juga terus ini gimana dong masa Tante Astrid harus tahu pasti semuanya akan gawat kan?" rengek Ratu bingung.
"Ya udah lo mending keluar aja sini!" pinta Astrid dia tidak bisa menangani acara ini sendirian.
"Okey Gue keluar ya!" ujar Ratu yang ingin menyusul Astrid.
"Iya-iya." Sambungan pun terputus Astrid menggenggam ponselnya merasa deg-degan takut jika terjadi sesuatu.
Melly menoleh melihat tubuh Astrid yang berada dibalik dinding membuatnya penasaran dan menghampirinya. "Astrid!" panggilnya.
Seketika Astrid menjadi bingung dia takut jika Melly akan menanyakan soal Ara. "Hay Tante," sapanya begitu menoleh dia tersenyum manis ke arahnya.
"Ara mana?" tanya Melly yang sudah menunggu kedatangan anaknya itu. "Tante gak mau potong kue sebelum ada Ara," lirihnya.
Mendengarnya Astrid langsung mencari alasan yang tepat. "Ara sedang keluar sebentar, buat siapkan kejutannya karena ada sedikit gangguan Tante," jelasnya.
"Aduh lama sekali ya! Yaudah deh Tante mau lihat Ara aja," kata Melly yang berjalan pergi.
Ratu dan Doni kemudian datang mencegah Melly yang hendak ke kamar Ara.
"Hay Tante, cantik banget malam ini, Tante para tamu sudah menunggu sejak tadi bagaimana kalau kita mulai saja acaranya kasihan mereka sudah menunggu." Ratu mencoba membujuk agar acaranya dapat langsung dimulai.
"Iyah Tante kita mulai saja yuk acaranya!" seru Astrid yang ikut merayu namun sedikit memaksa sih.
"Tapi Aranya bagaimana?" Melly masih ingin menunggu anaknya itu.
"Udah Tante nanti Ara pasti akan datang kok kita mulai saja dulu ya," seru Ratu yang sudah menggenggam tangan Melly memaksanya agar pergi ke tempat acara dan memulainya.