Akhir Seorang Penjudi

Liburan Kuliah dan Lelaki Tua

Pagi itu, aku keluar rumah. Liburan semester ini membahagiakan bagiku, pulang ke kampung halaman tentu mengingatkanku pada semua kenanganku sewaktu kecil. Sungguh indah untuk dikenang.

”Firman, jangan lupa bantuan Bapak nanti,” kata Ibuku. Dia sedang memasak sarapan pagi dan bapak sudah berangkat ke ladang.

”Iya, Bu!” kataku. Aku berjalan-jalan di depan rumah, bertemu dengan beberapa tetangga yang akan melakukan aktifitas mereka; ada yang hendak ke ladang dengan membawa sabit, ada yang menaiki kendaraan motor untuk membawa pupuk, ada juga para pedagang keliling yang membawa dagangannya dengan keliling.

Suasana desa yang nyaman, semua orang terlihat saling tersenyum dan tidak ada wajah yang memikul beban. Ah! Itu hanya perasaanku saja tentunya. Di  manapun memang sama saja, setiap manusia membawa beban dan ujiannya masing-masing. Namun, kehidupan di desa setidaknya memberikan hal lebih mudah.

Hal itu karena, ketika kita memiliki masalah maka kita hanya tinggal melihat ketenangan alam dan suara burung dan ketenangan saat daun bergoyang. Itu semua, setidaknya tidak didapatkan ketika hidup di kota yang terlihat hanya kebisingan.

Aku melanjutkan perjalananku, jalanan terjal dan batu-batu besar yang belum dibangun secara halus. Ini salah satu kekurangan hidup di desa, jalan halus masih menjadi mimpi yang datang saat tidur. Namun, saat terjaga, mereka mendapati jalan masih sulit.

Srak! Srak! Srak!

Aku terdiam memandang lelaki tua, sedari tadi aku terus berjalan tapi tidak terlalu memperhatikan ada lelaki tua yang berjalan dengan sangat pelan. Mungkin, hal itu karena aku juga berjalan cukup cepat. Aku baru  menyadari ada lelaki tua berjalan membungkuk, menyeret kedua kakinya bergantian. Namun, ritmenya sangat lambat. Bahkan, mungkin 20 kali lebih lambat dari langkah kaki manusia secara normal.

Srak! Sraaaaakk! Sraaaaakkk! 

Semakin lama kulihat, semakin lambat. Atau, itu hanya perasaanku saja. Lelaki tua itu terus berjalan, tapi sangat lambat. Bahkan, aku terdiam dan tak bergerak untuk melihat seberapa lama lelaki tua itu mampu berjalan untuk melewatiku.

Srak! Sraaaaaak! Sraaakkk!

Jika kalian pernah melihat keong berjalan, maka mungkin aku bisa membuat permisalan yang mirip. Meskipun terkesan hiperbola, tapi setidaknya itu gambaran ketika melihat lelaki tua yang terus berjalan dan menundukkan pandangannya ke tanah tersebut. Dia berjalan di pinggir sebelah kiri dan terus berjalan.

Srak!

Satu langkah kakinya, hanya mencapai separuh dari telapak kaki satunya. Kaki kanan maju, maka setengah kakinya, hanya mampu mencapai ujung jari kaki kaki satunya lagi. Jadi, setiap langkahnya mungkin hanya bertambah lima centimeter saja. Dan, itu pun sangat lambat ritme antara satu langkah ke langkah berikutnya.

Lelaki renta, tertunduk wajahnya, dan melangkah seperti siput.

Apakah gerangan tidak ada keluarga yang menjaganya di usia tua?

”Kek!”

Lelaki tua renta itu mulai berpapasan denganku, aku ingin menyapanya.

”Kek!”

Aku  lebih mengeraskan suaraku, karena lelaki tua renta itu tidak menengok dan masih melihat ke bawah sambil berjalan.

”Kek! Kakek mau kemana!”

Aku mengeraskan sedikit lebih keras, mungkin pendengarannya  mulai terganggu.

Dan, sebuah suara terdengar tanpa lelaki tua renta itu menoleh.

”Hari ..., ini ... Aku pasti menang!”

Aku mengernyitkan kedua mataku, keningku berkerut.

Lelaki tua yang ingin menang?

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!