Akhir Seorang Penjudi
Kisah Akhir Mbah Remo
Hari wisuda tiba, aku bahagia. Semua tugas kuliah selesai dan hanya tinggal menunggu ijazah diserahkan. Permasalahan seorang mahasiswa sebenarnya bukan pada tugas dan skripsi yang harus diselesaikan, tetapi yang paling penting adalah. Setelah selesai kuliah, ya benar! Mereka baru memasuki dunia yang sebenarnya setelah selesai kuliah.
Jadi, selesai kuliah adalah awal mula jalan sesungguhnya untuk memulai hidup dan mengamalkan ilmu-ilmunya.
Satu bulan setelah wisuda, aku mengambil ijazah yang sudah dipersiapkan. Beberapa legalisir aku siapkan untuk mendaftar ke dunia kerja. Sebelum itu semua, aku harus pulang lagi ke kampung karena masa belajarku telah selesai. Jadi, selama belum mendapatkan pekerjaan, aku bisa berkumpul dengan keluargaku terlebih dahulu.
Dalam perjalanan pulang itulah, aku menelpon ibu terlebih dahulu. Semua urusan di kota, di kampusku sudah selesai.
”Hari ini aku pulang, Bu.”
Aku mengabarkan bahwa hari ini aku akan pulang ke rumah, mereka tentu gembira karena sejak wisuda kemarin. Aku menunggu untuk mendapatkan ijazah dari kampus, setelah itu aku baru bisa pulang ke kampung.
”Kamu jangan lupa bawa semua barang yang harus dibawa pulang.”
Pesan ibuku, hal itu karena aku sudah selesai kuliah di kota. Jadi, aku mungkin tidak akan kembali ke kota tersebut. Jadi, aku akan membawa beberapa hal yang penting. Barang yang tidak bisa kubawa akan aku berikan ke junior di kost atau di kampus. Siapa tahu, barang itu berguna. Tentu saja, untuk buku aku membawa semua pulang ke rumah. Buku adalah sesuatu yang tidak bisa terpisah dariku.
”Tentu saja, Bu.”
”Apakah kamu sudah tahu Nak, mbah Remo yang dulu baru meninggal dunia kemarin.”
Aku kaget mendengar kabar itu.
”Innalillahi wainna ilahi raji’uun”
Lelaki itu meninggal dunia, aku tidak tahu apakah dia berubah dari tingkahnya atau tidak. Lelaki yang seumur hidupnya hanya memiliki rasa bahagia ketika bermain judi. Apakah di akhir hayatnya dia bertaubat atau tidak, aku tidak tahu. Wallahu a’lam bishawab.
***
Aku menyempatkan datang ke takziah di rumah anak bungsu mbah Remo. Di sana diadakan acara berdoa untuk beberapa hari. Aku datang ke sana untuk ikut mendoakan mbah Remo.
Yah, dan di sana. Semua masih saja berbincang tentang mbah Remo. Larno juga dibicarakan di sana. Dia datang dan membawa uang cukup banyak diserahkan pada keluarga mbah Remo. Itu adalah uang yang seharusnya digunakan Larno untuk membeli nomor dari mbah Remo. Namun, dia tidak tega dan mengumpulkan uang tersebut.
Jujur kata Larno, mbah Remo sampai akhir hayatnya masih saja membeli nomor padanya. Dan, dia tak peduli tentang menang atau kalah. Dia hanya peduli dengan membeli atau bermain judi. Larno pun memberikan uang itu pada keluarga mbah Remo.
Jumlah uang itu cukup banyak, bahkan sudah mendekati angka sepuluh juta rupiah. Uang itu khusus dari uang mbah Remo yang setiap hari digunakan untuk membeli nomor. Larno, seburuk-buruk seorang penjual nomor. Dia tetap kasihan pada mbah Remo. Dari sana, bahkan dia berjanji akan bertaubat dan berhenti.
Dia tak ingin nasibnya seperti mbah Remo.
Akhir seorang manusia, itu tergantung dari amal harian yang sering dilakukannya. Maka, kisah mbah Remo menjadi pelajaran bagiku. Agar, tidak mencoba sesuatu hal buruk dan bahkan menjadi kebiasaan hingga meninggal dunia.
Perbuatan buruk itu, seperti kita sedang berdiri dan menyemen kaki kita. Awalnya, mungkin kita bisa lepas begitu saja karena cor semen masih baru. Namun, lama-lama akan sulit keluar jika semen itu sudah kering.
Sama ketika kita berbuat buruk, kita ketagihan dan nafsu kita akan puas ketika melakukan keburukan tersebut.
Naudzubillah min dzalik.
Allah, jauhkan kami dari keburukan dan menikmati dosa yang kami lakukan. Jadikan kami bahagia, melakukan ketaatan padamu dan kami bahagia ketika dekat denganmu.
Semoga kisah ini bermanfaat, ini adalah kisah nyata dan kami mengubah beberapa nama dan tokoh di dalamnya.