Aku Anak yang Tak diharapkan

Aku Takut

"Aguy ... gelep bener," batinku
 
Dengan seribu langkah, aku mundur ke jalan perkampungan. Berhenti sejenak. Berfikir apa harus aku jalan mutar lagi lewat depan desa? Atau nekat nerobos kegelapan sawitan itu?
 
"Nggak! Nggak mungkin aku lewat depan! Dan nggak mungkin juga aku nekat nerobos sawitan itu! Kalo hantu sih mending. Kalo orang? Terus aku di apa-apain gimana?" Fikiranku mengacau.
 
Nekatku memang bulat, tapi tak sebulat rasa khawatirku. Kulihat dari kejauhan. Ada sekelompok remaja seumuranku lagi asik nongkrong. Kuhampiri mereka dengan memasang wajah lugu nan imut sejagat raya.
 
"Kak ... bisa anterin aku nggak? Ke perumahan negaratu. Aku dari les kak Terus kemaleman, Aku takut." Ucapku berbohong. Lebih baik begini dari pada harus melewati kebun sawit yang luar biasa menyeramkan. Mereka tak melihat wajahku dengan banyaknya memar. Karena posisi mereka tak terlalu terang! Alias remang-remang.
 
"Anterin geh coy ... kalo nggak mau, gue aja nih!" Sahut teman nya yang lain.
 
Tak lama salah satu dari mereka, menghidupkan motornya. Huh! Leganya aku. Akhirnyaa, ada yang percaya. Aku tersenyum-senyum sendiri. Bodoh nya mereka! Atau aku yang pintar bersandiwara.
 
"Maafkanlah aku Tuhan ... aku terpaksa. HiHiHiHi ..." batinku tertawa
 
Sepanjang jalan, aku memberikan arah ... dan kami sampai di rumah ibuk. Aku melarangnya masuk agar ibu tak memikirkan hal aneh-aneh tentangku. 
 
Tok ... tok ...
 
"Buk ... ibuk, ini Erni buk ..." panggilku sambil mengetuk pintu, Ibu membuka pintu. Ibu terperangah dengan genangan air mata. 
 
"Kau kenapa Er? Tadi nenek, kakek, semuanya kesini mereka nyari kamu. Terus ini kenapa? Badanmu loh Er ..." 
 
Aku menjelaskan secara detail ... namun ibuk lagi-lagi merasa heran.
 
"Paman? Ibuk tau Er. Pamanmu itu sayang dengan kamu. Nggak mungkin paman yang ngelakuin ini ... kamu ngaku dengan ibuk. Siapa?" 
 
"Buk ... paman udah berubah semenjak nikah, paman udah nggak mau maen dengan Erni lagi! Malah paman sering marah-marah nggak jelas buk." Ucapku dengan air mata yang tak sengaja terjatuh.
 
Ibuk menuntunku ke kamar. Meskipun tetap dengan divan kayu tanpa kasur. Setidaknya sikap ibu sudah sangat manis denganku.
 
"Kau istirahat dulu ya Er ..." ucap ibu berlalu.
 
Dengan tetesan air mata, aku mengingat kenangan-kenanganku bersama paman. Paman adalah anak lelaki nenek satu-satunya, anak bungsu dari 5 bersaudara tepatnya di bawah bibiku. 
 
Aku hanya selisih usia 7 tahun dengan paman . Paman lah yang di setiap harinya bermain denganku. Paman yang setiap aku sakit, dia pasti menangis. Namun semuanya berubah saat paman menikah, semuanya berubah secara drastis. Aku pun tak pernah menyangka, paman bisa berbuat sebegitu kejamnya.  
 
"Apa semua orang yang kucintai akan menyiksaku? Ini baru paman ... jika nanti nenek, kakek, dan ibu akan bisa kapan saja berubah? Apa memang aku ini anak sial? Ya Tuhan ... " batinku menangis. Aku tenggelam dalam ke kecewaan sikap paman.
 
~~~~~
 
"Er ... bangun nak, kau harus pulang ya. Nenek tadi nelpon ibuk. Ibuk panggil ojek ya? Tapi ibuk gak bisa nganter ... nanti Erni sendirian yaa, nih untuk sangumu" ucap ibu sambil menyodorkan uang 10 ribu.
 
Aku hanya mengangguk tak bisa menolak, namun aku juga tak mau pulang ke rumah. Aku menyiapkan diri, ojek pun tiba. Kutatap wajah ibu dari kejauhan. Dan berharap semoga aku bisa melihat wajah lembut itu selamanya ... jika ada yang heran dengan sikap ibu yang tiba-tiba manis terhadapku. Aku pun sama! Sampai detik ini pun aku tak pernah tahu!
 
Tetapi ... sudahlah. Aku sudah lelah untuk mencari tahu semuanya, bagiku yang terpenting hanyalah sikap ibu. 
 
Sepanjang jalan, aku mencari cara bagaimana aku bisa pergi,    sejauh mungkin dengan uang 10 ribu dari ibu?  Terlihat rumah nenek akan sampai. Aku memilih untuk turun di depan gang perempatan rumah nenek. 
 
"Sini aja om ..." ucapku sambil menepuk bahunya.
 
"Sini aja neng?" 
 
"Iyaaaaaahhh om ..."
 
Aku turun dari motor, dan menuju ke sebuah Warnet. Sengaja aku ke Warnet ini supaya ada tempat untuk berfikir. Kuambil paket 2 jam dengan biaya 5000. Lumayan fikirku, bisa berfikir secara jernih selama 2 jam.  
 
Berjam-jam aku merenung. Fikiranku tumpul ...
 
Aku akan kemana?
 
Terlalu takut untuk pulang
 
Aku ingin pergi dari semuanya!
 
Degh!
 
Fikiranku terarah ke temanku, yang rumahnya tepat di belakang Warnet ini. Yah! Amelia ... teman Rismaku, sebenarnya kami tak terlalu dekat. Tapi tak apalah, siapa tau si Amel mau membantuku. Karena kutahu Amel ini anak yang baik ke semua orang. 
 
Aku pergi meninggalkan Warnet. Dengan langkah cepat aku ambil seribu langkah. Aku takut! Jika nanti teman-teman paman akan melihatku. 
 
Tok ... tok ... 
 
"Assalammualaikum"
 
"Walaikumsalam" 
 
Tepat sekali yang membukakan pintu adalah Amel! Amel menyuruhku masuk, aku menceritakan semuanya ke Amel. Amel tak bersedia memberi tumpangan kepadaku, namun Amel akan membantuku.
 
 Amel menemuiku dengan temannya, dia menjelaskan semua dengan temannya itu. Kuperhatikan Amel,  dia benar-benar sangat baik, sangat cantik. Hidung mancung, bibir tipis, kulit hitam manis, tinggi dengan tubuh yang tak terlalu kurus. Dia sempurna! Seperti hidupnya! 
 
"Kenalin Er ... ini temenku namanya Lili" ucap Amel
 
"Heee ... Erni" ucapku dengan menyodorkan tangan ke Lili,
 
"Iya Er, ini aku Lili" Lili membalas jabatan tanganku
 
Lili menuntunku ke kamarnya, dan Amel pun berpamitan pulang ... Lili sama seperti Amel. Lili baik dan sangat cantik dan keluarganya pun sangat baik! Ibuk, bapak dan adik Lili pun menerimaku.
 
~~~~~
 
Ke esokkan harinya, aku berniat untuk melamar kerja ke kota. Jangan tanya dari mana aku uang? Lili meminjami aku uang, untuk ongkos naik angkutan umum katanya. Baik kan?Aku berjalan menyusuri persawahan untuk sampai kejalan raya. 
 
Aku bersenyembunyi di balik semak-semak, jika angkutan umum berwarna coklat susu sudah terlihat. Baru aku keluar dari persembunyian. Ini semua kulakukan karena kutakut ada orang yang mengenalku dan melaporkan ke pamanku.
 
"Om simpur ya" ucapku ke supir angkot. Aku di beritahu Lili, karena aku baru pertama kalinya ke kota. 
 
"Iya neng" 
 
Aku celingak-celinguk ... 
 
"Ya Ampun bagus nya ... ada taman dengan patung besar di tengah-tengah jalan." Aku terpukau dengan semuanya.
 
Tak lama angkutan umum terhenti ...
 
"Simpur neng ..." ucap supir ke arahku.
 
Ternyata simpur itu pusat perbelanjaan, aku bingung harus kemana. Aku berjalan terus sampai tepat di depanku toko sepatu Rama Shoes ... aku masuk menemui ownernya.
 
 Tak kusangka ownernya seorang pria baik hati. Sepertinya tuhan memang lagi berpihak denganku. Aku hanya membuat berkas dengan tamatan SD namun aku di terima! Senangnya! 
 
~~~~~
 
Hari demi hari kulewati, hampir sebulan aku di luar ... hidup sangat amat tak ada beban. Meskipun di hati ini ada setitik kerinduan untuk nenek, kakek. Aku yakin mereka sangat khawatir.
 
Maafkan aku nek ... maafkan aku kek ... aku takut dengan semuanya. Aku sangat gila jika di rumah terus-terusaan, menghadapi teror yang amat sangat menakutkan bagiku.
 
Seandainya hidupku bisa normal seperti yang lainnya. Mungkin hidupku tak akan begini ...
 
"Huh" aku menghela napas 
 
Tin ... Tin ...
 
Klakson angkutan umum membuyarkan lamunanku. Aku menaiki angkutan itu, tujuanku akan ke rumah Melati untuk mengambil baju-bajuku yang tertinggal di sana. 
 
30 menit perjalanan, aku sampai di desa. Langsung aku berlari sekencang mungkin untuk sampai kerumah Melati. Aku tahu jam segini Melati pasti di rumah ... 
 
"Mel ... Mel" ketukku pelan.
 
Melati tak menjawab langsung membukakan pintu, Melati langsung memelukku ... aku tahu pasti Melati sangat merindukanku. Kami seperti keluarga lebih dari sahabat, apapun yang Melati dapatkan di hari ini pasti itu juga rezeki untukku. 
 
Aku bersyukur selalu mendapatkan sahabat yang baik ... meskipun kini aku, Tiara, dan Fina terpisah karena bedanya sekolah ... Tetapi, lagi-lagi aku mendapatkan sahabat yang luar biasa seperti Melati.
 
"Er ... maapin aku yaa, karna aku kamu begini. Kamu sekarang   gimana kabarnya?" 
 
"Aku baik Mel, Alhamdulillah aku udah kerja di toko sepatu di daerah Simpur Mel." 
 
"Yaudah kamu baik-baik aja ya Er"
 
Aku hanya mengangguk ... aku langsung berpamitan dengan Melati. Tak ingin berlama-lama di rumah Melati, takut dengan kejadian hal kemarin terulang lagi.
 
Lagi-lagi aku berlari sekencang mungkin, dan pulang ke rumah Lili ... sekitar 500 meter aku berlari sangat kencang. Aku berlari dengan air mata yang menetes ... 
 
Sampai kapan aku begini? 
 
Hidup di rumah orang, tak ada siapapun. Aku seperti debu yang berhamburan, tak ada makna kehidupan.
 
Aku berhenti di pertengahan sawah ... aku terduduk merenung, aku menatap ke arah rumah Lili.
 
"Sampai kapan aku di rumah itu? Bagaimana sekolahku? Atau anak sepertiku tak akan mendapatkan masa depan? Ya Tuhan ... lagian kenapa sih ibuk? bukannya menyuruhku tinggal di rumahnya. Malah di suruh pulang!" Gumamku dalam hati ... fikiranku sudah di penuhi tanda tanya.
 
Hari sudah mulai gelap. Aku tak mau orang tua Lili khawatir, aku berjalan dengan tertatih ...
 
"Assalammualaikum" 
 
"Walaikumsalam" suara dari dalam berbarengan 
 
Kubuka pintu yang tak terkunci itu ... kulihat Lili, dan anggota keluarganya sedang duduk dengan bercanda ria. Aku hanya tersenyum melihat mereka. Ada perasaan iri memang. Tetapi, sudahlah ... percuma ... harapan itu sangat jauh! Aku berlalu ke kamar. Kurebahkan tubuhku. Sangat lelah rasanya ...
 
~~~~
 
"Anak gadis mamak, rajin bener ... udah, sana siap-siap ntar telat Er kerjanya" ucap ibu Lili, aku memang setiap pagi sebelum orang rumah Lili bangun, Aku sudah bangun. Hanya ini yang bisa aku lakukan, untuk membalas kebaikan mereka.
 
"Hee ... bentar lagi mak" ucapku dengan cengengesan 
 
Kuselesaikan semuanya. Aku bersiap-siap untuk bekerja ... seperti biasanya aku menaiki angkutan umum, sesampainya di toko membersihkan toilet, kaca-kaca toko ... menyusun sepatu dan melayani konsumen.
 
 Begitulah pekerjaanku, aku bekerja dengan senang apalagi bosku sangat baik yang hampir tak pernah marah. Karyawannya bernyanyi beliau pun ikut bernyanyi, saat siang semua karyawannya makan bersama beliau. Beliau selalu di bekali oleh istrinya. Dan bekal itu juga di bagikan dengan para karyawannya.
 
Dari pagi perasaanku tak enak ... kulihat jam makan siang akan tiba. Aku duduk menghadap kaca seluruh badan .... 
 
Tep! Tanganku di pegang erat oleh pakde. Aku terperangah! Aku kaget!
 
"Ada apa pak?" Tanya bosku 
 
"Ini tetangga saya pak. Dia sudah kabur dari rumah selama sebulan." Pakde menyeret tanganku keluar toko
 
Degh!
 
"Tetangga? Pakde bilang aku tetangganya. Apa pakde malu mengakuiku sebagai ponakannya?" Batinku
Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!