Tangisanku sangat tertahan, tak boleh terjatuh sedikit pun! Air mataku tak boleh menetes hanya karena ini.
"Kuatkan aku Tuhan ..." aku memohon di dalam hati. Jangan tanya lagi bagaimana hancurnya perasaanku.
"Erni, Erni ... ini soto nya, yuk kita makan." Ajak mamah Abian dengan sangat lembut. Sangat beda jauh sebelum Abian pulang.
Kubalas senyuman, ajakannya itu. Semua terasa hangat setelah Abian datang. Tak lupa mamahnya pun memujiku, berkata seolah-olah aku lah wanita yang mamah inginkan! Akulah menantu idamannya, dan mamah bangga dengan kepribadianku.
Terasa aneh bukan? Aku seperti sedang di permainkan. Hatiku seolah-olah sedang di hantam dengan pisau, lalu di usap kembali dengan kasih sayang.
"Yun, selesai makan ajak Erni nyuci piring bareng ya. Biar Erni nanti terbiasa di rumah ini. Jangan sungkan." Titah mamah Abian dengan tersenyum.
Kuperhatikan Abian yang sedari tadi sudah duduk di ujung sofa, di sisi kanan mamahnya. Terlihat wajah Abian sangat senang, melihat keluarganya menyambutku dengan hangat.
Drep! Tanganku tiba-tiba di tarik pelan dengan kakak perempuan Abian.
"Yuk Er," ajaknya dengan tersenyum lembut
Aku mengikutinya dari belakang, dan tiba-tiba tanganku di pegang dengan sangat kencang.
"Aduhhh mbak" keluhku
"Kenapa? Sakit? Hahaha ... bukannya kau sudah terbiasa disakiti dan dipaksa di atas kasur?" Ucapnya dengan tertawa sinis.
Rasanya inginku tampar mulutnya. Geram sudah telingaku mendengarkan ucapan itu! Wajahku mulai beda, emosiku tertahan. Namun mimik mukaku tetap terlihat.
"Heh pelacur! Kau jangan marah ... yang seharusnya marah itu kami! Karena adik dan anak kesayangan mamah kami, di guna-guna dengan wanita najis seperti kau!" Ucapnya lagi dengan mata yang melotot, dan jari telunjuk yang menoyor kepalaku.
Aku hanya terdiam ... hanya diam! Dan diam! Itulah yang saat ini kubisa lakukan. Tubuhku ingin meronta, ingin menangis dan berteriak sekencang-kencangnya. Namun kutahan. Aku tak mau mengecewakan Abian.
"Huuhh" belum sempat aku menyelesaikan tarikan napas ...
Cuihh!!!
Kakak perempuan Abian yang terhormat itu. Meludahiku tepat di wajahku!
"Woy! kau apakan Erni?" Jerit Abian dari dalam, yang memergoki kakaknya sedang meludahiku.
Abian berjalan setengah berlari ke arahku. Didekapnya dan dibawanya aku keruang tamu ...
"Mah! Bilangin dengan mbak Yuni dia berurusan dengan Abi! Dia ngeludahin Erni mah!" Adu Abian dengan lantang.
"Mbakmu nggak salah Bi! Emang yang kau bawa ini najis kan?" Jawab mamahnya. Sontak Abian kaget mendengar jawaban itu.
"Erni ini wanita baik-baik mah, dia sangat baik! Bukan najis!"
"Baik bagi lelaki yang kesepian? Dia pelacur Bi!"
"Erni bukan pelacur!" Jawab Abian dengan sangat keras
"Oh ... rupanya kau sudah berani sekarang, melawan mamah? Cuma karena pelacur itu!" Mamahnya menunjukku. Dengan tatapan yang sangat seram.
Abian menarik tanganku keluar rumah, dan menuntunku ke dalam mobil. Kami berlalu meninggalkan rumahnya. Tanganku tetap di genggam erat oleh Abian.
Abian menangis! Ntah mengapa tetesan air matanya, membuatku kecewa. Kecewa ... karena Abian yang kukenal ternyata tak sekuat yang kukira. Dia rapuh.
"Biii ... udah, aku nggak apa-apa" ucapku menenangkan.
"Aku salah Er! Aku salah! Aku kira dengan menceritakan tentang kamu dengan mamah. Mamah bisa mengerti!" Jawab Abian dengan air mata yang terus menetes.
"Kamu nggak salah Bi, dan mamahmu pun nggak salah. Setiap orang tua pasti mau yang terbaik buat anaknya kan? Dan yang terbaik itu bukan aku Bii"
Abian mengencangkan laju mobilnya. Tak ada jawaban yang kudengar. Abian hanya sibuk menangis saja. Jujur, aku bingung dengan sikap Abian yang terlihat rapuh begini.
Mengapa Abian harus menangis? Kan aku yang dicaci maki, dihina dan diludahi. Seharusnya akulah yang paling cocok untuk menangis bukan Abian.
Cittt ... mobil Abian berhenti mendadak di depan TPU, penuh pertanyaan di otak ini.
Mengapa harus ke TPU? Namun kuabaikan pertanyaan itu ke Abian. Dan memilih mengikutinya karena penasaran, apa yang ingin Abian lakukan di tempat pemakaman umum seperti ini?
Dan pertanyaanku terjawab saat Abian tersungkur menangis di salah satu pemakaman.
"Pah ... ini Abi pah, hari ini Abi dengan calon menantu papah. Dia wanita yang baik pah. Abi mohon restui Abi ... bantu Abi pah." Ucap Abian dengan memeluk nisan papahnya
Pemandangan yang sebenarnya tak ingin kulihat, seumur hidupku. Tetapi, kali ini aku senang melihat pemandangan ini. Pemandangan ... di mana seorang anak yang tetap meminta restu hidupnya, ke orang tuanya yang sudah tiada.
"Sini Er ..." ajak Abian, akupun menurutinya.
"Ini kuburan papah. Kalo aku ada masalah atau ribut dengan mamah, pasti kesini. Semasa papah hidup ... aku kalo ada masalah ngadunya kepapah. Dan sekarang papah udah gak ada, cuma ini yang bisa aku lakuin. Supaya fikiranku tenang" ucap Abian.
"Kita duduk situ yuk Er," ajak Abian menunjuk sebuah gubuk tepat di depan pemakaman papahnya
Kupandangi Abian dari belakang, memang terlihat Abian sudah cukup lega setelah kejadian tadi. Rasa bersyukurku bertambah setelah melihat lebih jauh kepribadian Abian. Yang ternyata Abian sangat menyayangi orang tuanya ...
Sampai-sampai pemakaman papahnya pun. Dia renov menjadi terang menderang, dan gubuk yang bersih terawat. Supaya lebih nyaman untuk menunggu katanya.
"Bii ... kamu nggak takut apa malem beginian dikuburan?"
"Udah biasa Er, aku malah pernah minep disini kalo lagi kangen papah"
Mendengar jawaban Abian aku mengrenyitkan dahi, terasa aneh bagiku. Ternyata masih ada anak muda yang masih secinta ini dengan orang tuanya sampai mereka tutup usia.
"Kamu takut yaa ..." goda Abian dan tanpa ragu-ragu Abian menidurkan kepalanya di kakiku.
"Er ... kamu tau kenapa aku nangis?" Tanya Abian ... dan aku hanya menggeleng.
"Karena kamu bukan hanya sekedar pacar Er, tetapi masa depanku. Aku janji bakal ngebuat kamu sukses. Aku janji Er ... dan setelah sukses aku mohon. Menikahlah denganku." Ucap Abian
Degh! Ya Tuhan ... jantungku mau copot, hatiku rasanya berbunga-bunga setelah kejadian tadi yang membuat aku galau tak karuan.
"Terus gimana dengan mamahmu? Mamah kan nggak suka dengan aku?"
"Er ... yang ngejalanin hidup itu kita, mamah hanya merestui. jadi aku mohon ya, kamu jangan nyerah ... tetap berjuang mendapatkan restu mamah. Aku yakin kok Er ... kamu bisa" jawab Abian pelan.
Ku usap rambut Abian ... benar - benar anugerah terbaik yang Tuhan berikan kepadaku. Seorang pria yang sangat baik, seperti Malaikat namun tak bersayap. Terimakasih Tuhan ...
"Er, pulang yuk. Udah malem" ajak Abian
Tak lupa sebelum pulang, Abian berpamitan terlebih dahulu dengan papahnya dan berjanji jika nanti ada waktu, pasti Abi menjenguk ke rumah papah lagi. Kata Abian.
Di perjalanan pulang Abian tiba-tiba menanyakan hal yang sensitif bagiku ... yaitu tentang orang tuaku. Dan akupun belum menjawab pertanyaannya, karena bingung harus memulai dari mana cerita itu di mulai. Tetapi, aku berjanji suatu hari nanti, bukan hanya cerita orang tuaku saja yang kuceritakan. Namun kisah hidupku juga.