Malam ini nekatku sudah bulat, untuk pergi dari kost karena sudah tak ada alasan apapun lagi aku untuk tetap disini.
Fikiranku hanya tertuju ke rumah bapak, meskipun rumah nenek dan ibu cukup dekat di banding rumah bapak, namun tak memungkinkan untuk diri ini pulang kesana.
Aku tak mau mengecewakan nenek, pasti akan ada banyak pertanyaan untuk semua ini ...
Perjalanan ini cukup jauh sekitar 1km, dan tetesan air mata yang tak dapat kutahan bagaikan pengiring langkah kesedihanku, inikah akhir dari kisah cintaku? Malaikat yang kukira akan menjaga selama hidupku malah tega menghianati seluruh janjinya ...
Omong kosong! Pernah berbicara untuk menjadikan aku orang yang hebat, orang yang sukses, kini nyatanya? Semua kata-kata dan perilaku manisnya masih terngiang di ingatanku. Sakit ... teramat sakit ...
Orang yang kujadikan tumpuan untuk hidup kini telah hilang, dan aku harus apa? Kini hidupku semakin terombang ambing bagaikan debu jalan yang hanya bisa terinjak-terinjak kaki manusia dan tak bisa melawan takdirnya.
"Oh Tuhan, kejutan apalagi yang ingin kau tunjukkan untukku?" kuseka air mata ini, aku ingin tetap berusaha berbaik sangka pada Tuhan.
Sudah 2 jam perjalanan, ponsel sudah menunjukkan pukul jam 11:00 malam dan notif panggilan Abian berpuluh-puluh kali yang sengaja kubiarkan, aku tak mau untuk larut dalam kesedihan karena masih berhubungan dengan Abian.
Sakitnya kaki ini sudah tak kuhiraukan lagi, yang kufikirkan saat ini adalah bagaimana nanti Aku menghadapi sikap Mbah waktu di rumah Bapak nanti.
"Huhhh, perasaan ini jalan kok makin jauh" Aku menarik napas panjang.
****
Ntah beraapa jam Aku di perjalanan tadi, kini pintu rumah Bapak sudah terpampang di depanku.
"Assalammualaikum ... Pak, ini Erni Pak"
Tak lama pintu nya terbuka namun bukan Bapak yang membukanya, tetapi Mbah!
"Heh, kau Erni malam-malam datang kerumah bawa buntelan. Mau apa kau?"
"Erni di usir dengan ibu kost, karena nggak bayar kost"
"Terus kau ngapain kesini?" Ucap Mbah dengan nada tinggi.
Tak lama Bapak menghampiri kami yang sedang adu mulut di depan pintu, Bapak mempersilahkan Aku masuk kerumah dan langsung menyuruhku istirahat di kamar yang sudah bapak sediakan.
"Kau istirahat dulu nak, besok kita bicarakan lagi ya. Ini sudah malam" ucap Bapak sangat lembut
Kulirik wajah Mbah sangat tampak ada kemarahan di wajahnya, dan Aku langsung meneloyor pergi untuk istirahat tanpa memperdulikan kemarahan mbah.
"Bodok amat" batinku tertawa
Kurebahkan tubuh ini di kasur, rasanya sakit sekali, kakiku hampir copot! Sungguh nekat memang.
"Hahaha"aku menertawai diri sendiri
Terasa asing bagiku tidur di kamar ini, kutatapi langit-langit dan fikiranku melayang kesana kemari.
"Kini aku di rumah Bapak Bukk, Nek. Apa kalian nanti marah dengan Erni? Saat tahu Erni sekarang lebih memilih tinggal di rumah Bapak?" Batinku bergumam
Aku bak buah simalakama, Aku bimbang akan memilih tinggal dimana? Tinggal dengan Ibu, Aku harus tak bersekolah dan satu atap dengan Ayah tiriku, tinggal dengan Nenek, Aku harus merelakan sekolahku juga dan mencari pekerjaan baru.
Namun jika Aku tinggal di rumah Bapak, Aku yakin! Aku pasti di sekolahkan disini dan hidupku pun tak akan terombang ambing lagi. Karena kini Aku tinggal dirumah bapak, yang seharusnya menjadi tumpuan hidupku
Pilihan yang terbaik memang hidup bersama Bapak, tetapi ... bagaimana dengan perasaan Nenek dan Ibu? Apa Aku terlalu egois? Demi masa depanku, Aku mengecewakan Nenek dan Ibu, wanita yang sangat berjasa di hidupku?
"Ahh ... ntahlah hidupku terlalu rumit" Kubenamkan wajah di bantal.
****
"Wahh udah ada makanan aja nih pagi-pagi, siapa yang masak?"
"Ratu baru bangun? Ini Saya loh yang masak, dan Saya nggak mau Kamu makan masakan Saya!" Ucap Mbah dengan bibir yang di sinis-siniskan olehnya.
"Wah mbah memanggilku Ratu? Padahal Aku baru menginap semalam, tapi Mbah sudah bahagianya setengah mati sampai membuatkan nama khusus untukku. Ah Mbah sayang nih! Makanan Enak begini nggak kumakan." sahutku dengan bercanda.
Nggak kuhiraukan kata-kata mbah tadi, Aku tetap mengambil posisi duduk di tempat meja makan. Kumakan dengan lahap tanpa memikirkan keberadaan Mbah di sampingku, dan bapak hanya bisa tersenyum-senyum sendiri melihat tingkahku
"Pak masakan Mbah enak banget ya" ucapku basa-basi supaya mbah merasa senang kupuji.
"Saya memang kalo masak selalu enak, memang seperti Ibumu" sahut Mbah dengan bangga
"Oh iya Mbah memang, memang Ibu juga masakannya lebih enak dari ini." Ucapku dengan lebih bangga.
Sontak wajah Mbah memerah menahan amarah, dan aku hanya bisa tertawa di dalam hati melihat tingkah mbah yang ke kanak-kanakan.
Selesai sarapan Mbah dan Bapak berkumpul di ruang tamu, menanyaiku tentang kejadian tadi malam seperti apa? Dan kujelaskan dengan berbohong karena tak mungkin Aku menjelaskan yang sebenarnya, kubilang Aku diusir dengan Ibu kost karena tak mampu untuk membayar kost-kost'an.
"Aku juga rencananya mau tinggal disini Pak, bolehkan?"
"Nggak, nggak boleh!" Jawab Mbah tegas.
Dan mendengar pertanyaanku dan jawaban Mbah, bapak hanya diam saja!
"Kenapa Mbah? Bukannya Mbah pernah mengajakku untuk tinggal disini, lalu sekarang?"
"Iya tapi Kau kujadikan pembantu, mau?"
"Mau sih Mbah, tapi nanti kayanya Erni bakalan sibuk soalnya kan pagi sekolah, dan sore baru pulang, karena Erni sekarang sudah kelas 3 SMA. Jadi jadwalnya padet nih." jawabku dengan tersenyum
"Menurutku nggak masalah Buk, Erni tinggal disini. Kan ini rumahnya juga, tapi dimana sekolahmu Er?" Sahut bapak
"Sekolahku di daerah branti Pak,"
"Oke Kau boleh tinggal disini, tapi ada satu syarat Kau harus pindah sekolah ke kota jangan di kampung, Bapak nggak mau Kau sekolah disana"
Wah kufikir itu bukan persyaratan yang sulit, bukannya itu malah menguntungkan untukku? Sekolah dikota, dengan sekolah elit itu kan memang impianku.
"Iya Pak Erni mau"
Sontak Mbah pun berdiri meninggalkan Kami berdua, ntahlah apapun yang akan Mbah perbuat itu tak akan berguna untukku. Yang jelas aku tak mau menjadi wanita yang lemah seperti Ibu yang hanya diam saja saat Mbah siksa.
"Pak, kira-kira Mbah akan seperti apa ya denganku nanti? Saat aku tinggal disini," bisikku ke telinga bapak.
"Ntahlah ... yang jelas Bapak harap kau bisa menjaga diri sendiri, Bapak nggak selalu bisa membelamu Er. Bapak yakin kau lebih pintar dari Ibumu." Ucap bapak dengan nada yang datar.
"Iya pak, terimakasih"
Bapak hanya tersenyum dan meninggalkanku, kini Aku duduk sendiri, fikiranku tertuju pada nenek dan ibu. Aku masih memikirkan perasaan mereka.
"Oh Tuhan Aku yakin, Aku mengambil keputusan yang tepat!"
*****
Hari demi hari berlalu, keadaanku kini semakin membaik namun jangan tanya lagi tentang Mbahku, Mbah masih saja tetap selalu mencari gara-gara denganku. Tetapi ... syukurnya Aku dapat mengatasi itu dengan baik.
"Hehehe aku merasa bangga dengan diri sendiri, bahkan bude Nur selalu tertawa melihat tingkahku dengan Mbah"
Dan sekolahku kini sudah pindah ke kota, namun sampai sekarang aku belum juga kerumah Nenek untuk mengatakan yang sebenarnya.
Lalu Abian? Mungkin dia sudah lelah menghubungiku, kami tak pernah berhubungan lagi, bahkan saat ini aku mencoba untuk melupakan Abian dalam hidupku.
Tetapi ... sayangnya Aku orang yang selalu susah Move On. Jadi melupakan seseorang itu butuh yang lama untukku, bahkan mungkin sampai seumur hidup.
"Er!" Panggil Irna membuyarkan lamunanku
"Eh kau Ir, ada apa toh?"
"Kau ada salam Er, dari Renaldi sekelasku" Ucap Irna yang sembari makan kwaci di atas meja.
Irna adalah teman satu Sekolahku yang kebetulan kelas kami berdampingan, dan Renaldi adalah teman Irna yang ntahlah Aku tak pernah tahu ada nama itu.
"Renaldi? Aku nggak tahu Ir"
"Pulang sekolah dia mau ngajak ketemuan tuh, di taman deket sekolahan"
"Tapi aku malu Ir" ucapku tersipu malu
Karena jujur saja beberapa tahun ini, aku tak pernah dekat dengan lelaki lain selain Abian.
"A-ah tenang aja Er, ntar Irna temenin."
Aku yang sedari tadi tersipu malu hanya diam saja, mungkin Irna pun tahu jika kali ini hatiku sedang di ambang awan-awan.
****
Ting ... ting ...
Bel sekolah sudah berbunyi menandakan waktu pulang telah tiba, dan Irna segera menghampiri, mengajakku untuk ke taman depan sekolah.
Kami berdua menuju ke taman itu, dan tepat sekali disana sudah ada anak muda seusiaku yang menunggu kami.
Dia Renaldi anak sepantaranku, yang tingginya kira-kira 165 Cm, berkulit kuning sawo, dan bertubuh kurus seperti Abian.
"Hey, ini Erni ya" sapa Renaldi
"E-em iya ..." balasku dengan gugup
Rasanya gugup sekali, bagaimana tidak? Ini pertama kalinya Aku dekat dengan pemuda lain selain Abian. Rasanya aneh seperti ada penolakan di diri ini, namun tetap Aku berusaha untuk menerima Orang baru. Supaya Aku juga lebih mudah melupakan Abian yang setiap hari membayang-bayangiku.
Karena jujur saja Aku tetap mencintai Abian, merindui dirinya sepanjang waktu. Setiap kali Aku mencoba untuk melupakan, disetiap itu pula Aku semakin merindukan kenangannya.
"Er Kok melamun? Aku boleh minta nomor ponselmu?"
"Oh ... nggak Di, Aku cuma capek aja nih. Aku catat ya di Handponemu"
Kami bertukar nomor telepon, dan Aku pun berpamitan pulang alasanku Aku lelah ingin beristirahat padahal hatiku sedang tidak nyaman, ntah mengapa saat di dekatnya Aku selalu mengingat Abian.
Sesampainya di rumah, Mbah sudah menyiapi semua pakaian kotor dan karpet-karpet yang akan kucuci. Aku curiga sepertinya pakaian yang selama ini Aku cuci sengaja mbah kotori karena jumlah pakaian yang selalu kucuci tak wajar, padahal dirumah hanya kami berempat.
"Oiy pembantu, cuci semua pakaian ini! Awas aja nggak bersih!" Bentak mbah
"Mbah kalo mau bersih mending Mbah ngeloundry, kalo masih nyuruh Erni yaa terima seadanya. Jangan protes!" Jawabku dengan nada keras
"Dasar anak sialan! Cuih" Mbah mengumpat dan meludah
Tanpa kuhiraukan amarahnya, Aku meneloyor masuk ke kamar.
Jlegar!
Kubanting pintu kamar dengan sengaja, supaya Mbah merasa kaget.
"Hehehe maap yo Mbah, bukan bersikap kurang sopan. Cuma mau ngerjain Mbah saja. Hihi ..." batinku tertawa
Kuganti semua pakaian sekolahku, lalu bergegas untuk mencuci. Kulihat mbah sudah mencuci semua pakaiam kotor itu dan memainkan drama menangis di depan Bapak.
"Sakit hati Saya, Anakmu itu Mat sudah kurang ajar banting-banting pintu padahal cuma disuruh nyuci doang"
"Lah mbah udah nyuci toh baik banget, jangan sakit hati Mbah itu cuma pelan kok. Ibuk aja puas banget sakit hati dengan Mbah nggak pernah tuh ngadu-ngadu" Aku menggerutu.
Mendengar jawabanku Bapak hanya menggeleng, dan Aku kembali kekamar untuk sekedar beristirahat sambil mengecek ponsel, Aku penasaran Renaldi berani nggak ya menghubungiku?
Baru ku cek ponsel sudah ada 5 pesan dan 1 panggilan dari Renaldi. Isi pesan nya hanya menyapaku, menanyakan sudah makan belum dan begitulah pertanyaan-pertanyaan dasar yang sering ditanyakan dari kaum Bucin seperti Kami.
"Iya Ren maaf ya baru balas, Aku dari belakang tadi, belum makan nih" isi balasan pesanku
"Lah kok belum makan Er, nanti sakit loh" balasnya lagi
"Aku capek Ren, mau istirahat" balasku, karena aku sangat malas meladeni orang yang hanya berbasa-basi.
"Oke deh Er, selamat istirahat ya"
Tak kubalas pesannya, kubiarkan saja sampai akhirnya Aku menerima pesan lagi dari Renaldi ...
"Er selamat istrirahat ya maaf kalo pesan ini ganggu, aku cuma mau bilang Aku suka dengan kamu. Aku sering merhatiin kamu dari kejauhan. Dan akhirnya Aku senang bisa juga dapat Nomor handponemu dari orang nya sendiri."
Pipiku memerah melihat pesannya namun tetap tak kubalas juga, Aku masih berharap pesan itu dari Abian.
"Hiks, Move On dong Er!" Aku mengacau sendirinya
Kubenamkan wajahku kebantal, Aku sangat merindukan Abian Tuhan ... apa Abian juga sama? Atau malah sekarang Abian sudah berbahagia dengan Perempuan lain?