"Lusia, boleh minta nomor hp mu?" Ucap pria muda menjegatku.
"Ehh ... anu mas, aku tak punya hp." Sahutku dengan malu
Namaku Lusia berusia 16 tahun ... kulit putih, badan berisi, dan rambut panjang hitam, hampir sepaha. Banyak yang bilang aku si kembang desa.
"Oke tak apa, kau mau kemana Lus?"
"Aku mau pulang mas, dari warung" ucapku bingung karena lupa siapa nama pria muda ini.
"Ku antar pulang ya ... " Ajak pria itu
"Eh, anu mas ... nggak usah aku jalan saja "
"Nggak apa apa Lus ... " sahut nya sambil menuntunku masuk ke dalam mobilnya
Mobil nya melaju dengan sangat pelan, Menelusuri jalan yang hanya pas di lajukan oleh 1 mobil. Dan aku hanya diam kaku di dalam mobil itu.
"Nggak mau mampir mas?" Ajak ku
"Nggak usah dek, mas langsung pulang saja"
"Oh iya mas, terimakasih mas atas tumpangannya ... "
Aku tetap berdiri, di depan rumahku. Aku tinggal di bedeng tempat pembuatan bata, kami hanya menumpang karena ayahku pekerja di sini.
"Siapa yang nganter nak?" Tanya mamak
"Eh ... anu mak, aku lupa namanya"
"Hati ... hati sepertinya dia orang berada, jangan terlalu dekat"
"Iya mak ... " ucapku berlalu menuju ke kamar
"Siapa ya ... aku kok ya lupa" ucapku dalam hati, fikiranku tetap sibuk memikirkan pria tadi.
"Tapi dia ganteng juga ... bawa mobil lagi, pasti temen temenku iri. " sibuknya fikiranku menghayal, sampai akhirnya aku tertidur.
~~~~
"Nak ... nak, itu si temenmu yang ganteng. Dateng lagi, " panggil emak
Tanpa menjawab langsung kuberlari keluar, Terlihat pria itu membawakan ... pisang, singkong, manggis, dan sawo.
"Lus, ini dari kebonku habis panen, " ucap pria itu dengan menyodorkan yang di bawanya tadi.
"Nggak usah repot repot, aku jadi nggak enak mas"
"Nggak apa, hitung hitung bagi rezeki."
"Terimakasih mas, yuk masuk" ajakku
"Duduk dulu mas, aku buatkan minum dulu ya, "
"Tak usah Lus, aku ingin mengajakmu pergi ... "
"Maaf mas, aku nggak bisa ... aku mau bantu bapak buat bata"
"Yasudah, kalo begitu mas pulang ya ... "
Ku antar pria itu kedepan, untuk mengantar nya masuk ke mobil. Tetangga sebelah memperhatikanku, ku ihat mereka berbisik ke arah kami.
"Ahh ... biarlah, " Aku menggerutu
~~~~
Malam nya pria itu datang lagi, aku yang sedang duduk di depan, melihat lampu mobilnya menyorot tepat di depan rumah.
"Hai Lus, nih bakso buatmu ... " ucap pria itu sambil menyodorkan bungkus hitam agak besar,
"Eh ... mas repot repot loh, "
"Nggak Lus ... "
Obrolan demi obrolan, tak terasa jam menunjukkan pukul 10 malam ...
"Mas ... sudah malam, bukannya mengusir namun tak enak di lihat tetangga. "
"Oh iya Lus ... aku pulang ya ..."
"Eh mas ... anu ... aku mau nanya, nama mas sebenernya siapa ya aku lupa "
"Aku Rahmat Lus ..." ucap nya tersenyum
~~~~
2 bulan berlalu, mas Rahmat selalu kerumahku ... pagi, siang, malam, dan tak lupa pasti membawakan kami sembako, bakso, terkadang hampir seisi kebun singkong, mas Rahmat bawa untukku.
"Lus ... kau mau menikah denganku?" Tanya mas Rahmat yang sedari tadi sudah di rumahku.
"Gimana ya mas ... aku belum bisa, aku belum mencintai mas, maaf." Jawabku dengan pelan
"Baiklah ... kalo gitu, kumohon temui ibuku, ibuku ingin bertemu denganmu."
Aku menyetujui permintaan, mas Rahmat. Di tuntun nya aku masuk ke dalam mobil mas Rahmat, mas Rahmat menyetir dengan hati hati ...
"Gilaa ... ini tanah mas Rahmat lebar banget, dari tobong bataku, sampai kerumahnya. Masa iya sih?" Tanya ku dalam hati, sambil melihat dan memperhatikan lebarnya tanah mas Rahmat, dari dalam mobil ..
Aku sih nggak tau, semua tetangga yang bilang ... katanya mas Rahmat orang berdarah biru, dan pemilik tanah terbesar di kotaku, tanah nya dari tobong bataku, sampai kerumah nya ...
Rumah nya jauh sekali ... dari rumahku berkisar 4 kilo meter, bisa di bayangkan bagaimana sebesar apa tanah mereka.
"Ayuk Lus ... " ajak mas Rahmat dan menuntunku keluar mobil.
Aku mulai turun, dan terperangah dengan besarnya rumah mas Rahmat, Semakin diri ini minder ... rasanya tak pantas dengan pakaian lusuhku ini masuk ke dalam rumah bak istana ini.
"Anu mas ... aku minder, aku pulang yaa ... aku malu"
"Untuk apa kau malu Lus ... kau sangat cantik dan anggun, ayolah ... ibuku sudah menunggumu di dalam." Ucap mas Rahmat tersenyum, sambil menarik tanganku.
"Assalammualaikum ..." ucapku.
"Wa'alaikumsalam," jawab mereka
Aku kaget ... betapa banyaknya orang di rumah ini, seperti keluarga besar yang berkumpul karena ada acara di rumah mereka,
"Wah ini calon si Rahmat ya ... cantik ya, " ucap salah satu keluarganya
"Maaf ... aku hanya teman mas Rahmat, mas Rahmat mengajakku kemari untuk menemui ibunya" ucapku, dan semua mata mereka saling menatap seolah aneh mendengar ucapan itu.
Terlihat mas Rahmat membisikkan sesuatu ke salah satu keluarganya, dan mereka mempersilahkanku duduk di kursi kayu, kursi yang mereka bawa khusus untukku.
"Kok ... aku disuruh duduk di kursi kayu ya ... nggak di sofa seperti mereka, apa fikir mereka aku tak pantas untuk duduk di sofa mewah itu. " gumamku dalam hati yang belum merasakan ke anehan apapun.
Namun tiba tiba, dari belakang ada orang yang mengikatku dengan tali ... dan itu sangat keras!
"Ya Tuhan ... apa yang mereka akan lakukan kepadaku." Ucapku dalam hati, aku syok!
"Ada apa dengan kalian, mengapa aku di ikat?" Ucapku dengan nada tinggi
"Maaf Lusia ... aku terpaksa melakukan ini, agar kau mau menikah denganku. "
"Kau gila mas ... aku tak mencintaimu, aku tak ingin menikah denganmu, " ucapku menangis
Sebenarnya, bukan hanya aku yang tak mencintai mas Rahmat saja. Namun banyak yang bilang bahwa mas Rahmat ini adalah lelaki idiot, itulah yang membuatku ragu ... meskipun selama ini mas Rahmat tak pernah melakukan ke anehan apapun terhadapku .
"Jangan banyak omong kau wanita miskin ... tanda tangani lah surat larian ini, atau kalo tidak lehermu akanku gorok ... " ucap pria muda dengan pisau di leherku.
"Aku nggak mau ... cuihh, dengan cara najis seperti inikah kalian melamarku ... " Tersengal sengal suara tangisanku
Srett ... darah menetes di bajuku, pisau itu telah menggoreskan leherku ...
"Perih sekali rasanya ... sial!" gumamku dalam hati
"Cepat tanda tangani ini wanita miskin! Atau kalau tidak benar benar akan ku gorok leher mu. " ucapnya dengan nada tinggi dan tegas
Kutanda tangani surat itu, terlihat di situ tertulis uang penepik sejumlah 500 ribu rupiah.
"Maafkan aku mak ... aku menyesal, namun semoga dengan uang penepik yang besar ini, mamak akan senang. "
Lalu mereka mendatangi rumahku, mengantarkan surat dan uang penepik, sebagai tanda bahwa aku sudah melarikan diri bersama laki laki yang ingin menikahiku.
"Lepaskan aku mas ... aku pegal, kau mau apalagi ... aku sudah menandatangani surat itu kan, " ucapku dengan mas Rahmat yang sedari tadi di sampingku.
Ia hanya diam, tak ada suara apapun yang keluar dari dalam mulutnya ... aku sangat benci lelaki ini, rasanya kebaikan yang selama ini ia berikan, hancur seketika, karena pemberian itu adalah pancingan untukku agar mempercayainya.
Pegal sekali rasanya ... kupandangi jam dinding menunjukkan jam 05:30 sore, masih sibuk aku memandangi jam dinding. Wanita separuh baya menghampiriku,
"Mbak ... nanti malam, keluarga mbak akan datang kemari. Mbak mandi dulu ya, baju kebayan sudah kusiapkan ... mari kuantar mandi lalu kuantar ke kamar nanti. " ucap perempuan itu dengan lembut sambil melepaskan tali ikatan itu
Tanpa menjawab, kuturuti wanita itu ... lalu mengikutinya ke arah kamar mandi, terkagum kagum aku melihat kamar mandi yang sangat besar, mewah dan wangi ... dengan kamarku pun, kamarku tak ada apa apanya.
Setelah mandi, masih saja perempuan itu menunggu di depan pintu.
"Mari mbak ... kuantar ke kamar."
Akupun mengikutinya ... sesampainya dikamar aku di buat takjub lagi dengan ke indahan rumah ini, ini benar benar seperti istana. Aku memakai kebaya dan tutup kepala merah adatku ..
"Mbak ... kenalin namaku Nur, aku ayuk dari Rahmat" ucap wanita tadi
Aku diam tanpa menjawab ... lalu tiba tiba si Nur keluar dan mengunciku lagi di dalam kamar.
"Mbak ... aku kunci dulu ya pintunya, nanti kalo ada tamu ... aku buka lagi" ucap si Nur dari balik pintu
Aku tak menjawab apapun ... biarkan lah, aku juga ingin istrahat. Saat aku sedang istrahat, terdengar kebisingan di luar seperti orang ramai yang datang.
"Assalammualaikum"
"Wa'alaikumsalam"
Terdengar suara keramaian itu sampai ke dalam kamar, kemudian suara pintu seperti ada yang membuka ...
"Mbak ... keluarga mbak datang." Ucap si Nur.
Aku di tuntunnya keluar, semua menatapku seolah olah terpukau dengan kecantikanku di tambah lagi dengan kemewahan baju kebaya yang kupakai.
Saat antara keluarga sedang bermusyawah, akhirnya terucap juga kata kata pertanyaan mereka, yang seharusnya bisa membebaskanku dari keluarga ini.
"Bagaimana Lusi ... kamu siap untuk menikah? Tanpa paksaan siapapun?" Tanya bapakku
"Siap pak ... " aku menunduk menahan air mata, namun tak bisa aku menjawab yang sebenarnya, karena jika aku menjawab yang sebenarnya dan balik lagi kerumah. Itu sama saja sudah menjatuhkan kehormatan keluargaku.
"Baik lah kalau begitu, besok kita adakan acara pernikahannya "
~~~~
Acara pernikahan sudah berlangsung, tamu tamu sudah berpulangan, tinggallah aku sendirian bersama keluarga besar suamiku.
"Wah selamat yaa mbah ... punya menantu baru" ucap wanita yang tak kukenal namun sepertinya masih ada hubungan keluarga dengan mereka.
"Menantu kata mu? Pembantu tepatnya, sudahlah aku malas untuk berpura pura lagi " sahut mertuaku
Aku tak menyangka, di depan semua orang termasuk keluargaku ibu mertuaku baiknya bukan main. Namun sekarang kata kata itu yang harus ku dengar.
Aku masuk ke kamar pengantin, namun isinya hanya diriku sendiri tanpa adanya mas Rahmat, ntahlah apa maksut semua ini. Kupejamkan mata ini dan berharap semoga esok diriku bisa hidup normal.
"Lusia ... Lusiaa ... bangun!" Panggil ibu mertuaku yang menjerit jerit.
"Iya buk, "
"Mau jadi ratukah kau di rumah ini, cepat bereskan rumah ini"
"Iya bukk ... "
Diriku berlalu pergi meninggalkan ibu mertuaku, membereskan kotoran sisa kemarin, namun apa yang aku bereskan selalu salah di matanya...
Bahkan belum ada seminggu di rumah ini, ibu tak segan menjambak rambutku ... rambutku yang panjang ini memudahkan nya untuk menarik rambutku.
Kutengok ayah mertuaku, yang sedang duduk di belakang ... kuhampiri beliau dengan membawa secangkir kopi dan pisang goreng.
"Yah ... ini Lusia bawakan kopi dan cemilan, "
"Jangan nak ... bawakan kedalam cepat!" Jawab mertuaku panik
Aneh rasanya, mengapa ayah mertuaku begitu panik. Tapi sudahlah aku menuruti perintahnya, tak mau memikirkan hal yang tidak tidak lagi.
Namun belum sempatku masuk ke dalam, aku berpapasan dengan ibu ...
"Ohhhhh ... pandainya kau ya! Merayu ayah mertuamu sendiri"
"Nggak buk ... nggak ... aku hanya berikan ayah kopi, itu saja. Tak lebih"
"Banyak alasan kau ... " ucap ibu mertua sambil menjambak rambutku
"Ampun buk ... ampun ... "
Di lepaskan nya rambutku, lalu kulari kedalam. Mas Rahmat tak kunjung kelihatan, ntah dimana dirinya ... aku ingin mengadu kepada mas Rahmat.
"Lusiaaa ..." panggil ibu mertuaku dengan jeritannya yang khas.
Rasanya aku takut sekali setelah kejadian tadi ... namun harus kutemui ibu mertuaku itu.
"Buatkan saya kopi ... jangan terlalu manis, jangan terlalu panas, jangan hangat, dan jangan terlalu kental. " Perintahnya
"Iya buk ... " jawabku yang sebenarnya bingung dengan perintahnya itu.
Kubuatkan kopi itu dengan hati hati ...
"Buk ini kopinya ... "
"Kamu tunggu di sini, saya minum dulu kopinya ... "
Aku berdiri tepat disamping ibu mertua, sambil melihatnya meneguk kopi tersebut dengan hati hati.
Prangg ...
Di lempar nya gelas yang berisikan kopi panas itu ke kakiku, dan pecah. Pecahannya mengenai kakiku ... perih rasanya, namun perihnya belum seberapa, di banding ibu yang dengan sengaja menggoreskan pecahan kaca itu kepunggungku ... sakit sekali rasanya ...
"Assalammualaikum"
"Wa'alaikumsalam" jawabku yang berlari ke arah suara itu, karena kutau itu mas Rahmat.
"Mas dari mana saja" tanyaku dengan air mata yang mengalir
"Aku dari kampung sebelah, ibu memaksaku untuk pergi mengecek kebun yang disana. "
Aku kaget mendengarnya, apa yang di otak ibunya. Saat anak laki laki nya baru saja menunaikan ijab kobul beliau malah menyuruh anaknya untuk mengecek kebun. Dan si mas Rahmat berlalu begitu saja tanpa menanyakan keadaanku yang sedang menangis dengan punggung yang berdarah ini.
Ku ikuti mas ke kamarnya, dan mengadu apa yang ibunya lakukan.
"Mas ... aku di pukul ibumu, di jambaknya berkali kali, dan punggungku nihh ... punggungku di goreskan dengan pecahan gelas ... ibumu jahat mas, " ucapku sambil menangis.
"Itu pasti kau punya salah dengan ibuku ... sudah tak apa apa, lain kali turuti saja perintah ibu. "
Hah ... aku kaget mendengar jawaban mas Rahmat yang seolah biasa saja dengan kelakuan ibunya itu. Dimana perhatian mas Rahmat selama ini, seolah sirna semuanya saat mas Rahmat membawaku kerumahnya.
~~~~~
9 bulan berlalu, saat ini aku sedang mengandung. Jangan tanya lagi bagaimana keadaanku selama 9 bulan ini. Hanya siksaan demi siksaan yang ku terima dari ibu mertuaku, kucari tau semuanya mengapa ibu mertuaku begitu ...
Ternyata itu memang salahku, ibu mertuaku tak menyukai anak perempuan! Ibu mertuaku mempunyai penyakit pencemburu akut. Yang memberi tahu semuanya adalah Nur, semua anak perempuannya di perlakukan sama sepertiku. Akhirnya mereka pergi ke kota seberang hanya Nur yang tinggal di sini, dan semua anak laki laki nya yang sudah menikah, mereka membawa istrinya tinggal jauh dari ibunya.
Namun tidak dengan suamiku! Mas Rahmat memang benar benar sangat idiot aku benci dirinya, kuajak dia untuk pisah rumah, suamiku tak mau ... dia tak mau meninggalkan ibunya, dan saat diriku di siksa oleh ibunyaa ... mas Rahmat hanya melompat lompat saja bagaikan anak kecil yang merengek minta di gendong.
Pernah hampir aku mati karena ibunya, ibunya memukulku dengan kayu balok yang sudah menjadi bara api ... Rasanya sakit sekali , suamiku melihatnya ... dan lagi - lagi mas Rahmat hanya melompat tanpa melerai ... geram sekali rasanya aku melihat tingkah suamiku.
Aku berontakkk ... dan lepas dari cengkraman ibu mertuaku, aku lari sekencang mungkin. Namun nahas nasib baik tak lagi di tanganku. Aku tertangkap lagi oleh keluarganya.
"Lusia ... buang sampah ini kebelakang ... cepat!" Perintah ibu mertuaku membuyarkan lamunanku.
"Iya buk ..." aku berjalan ke arah ibu dan mengambil sampah yang sudah di letakkan dibawah dekat kaki ibu.
Dengan susah payah aku mengambilnya, namun ibu menendangku karena terlalu lama mengambil sampah dengan perut besarku. Aku tersungkur, dan darah mengalir di kakiku ...
Rasanya perutku sakit sekali, seperti ingin melahirkan tetapi kandunganku masih berumur 8 bulan ...
"Sakit buk ... kuqrtimohon bantu aku, bawa aku ke klinik, aku ingin melahirkan." Rintihku
"Bawa ke klinik katamu ... parut dulu kelapa ini, baru kuajak kau ke klinik. "
Kuturuti perintah ibu, kuparut kelapa itu dengan rasa sakit yang luar biasa. Kukebutkan parutanku ... perutku benar benar sakit. Aku sudah tak tahan.
"Ya Tuhan ... tolong aku ... ku mohon. " ucapku dalam hati
Ku lihat mas Rahmat menghampiriku,
"Kenapa Lus kok kakimu berdarah" tanya mas Rahmat
Belum sempat ku menjawab, ibu sudah menjawab ...
"Nggak apa apa itu Mat ... istri mu saja yang lebay, ingin di perhatikan ... biarin ajalah, yuk ngopi bareng ibu sini ... " ucap ibuku
Dan suamiku memang sudah kelewatan idiotnya, bukannya menolongku. Malah duduk di samping ibu sambil melihatku yang sedang kesakitan.
"Ya Allah ... Lusia, kau mau melahirkan ... kalian keterlaluan!" Ucap Nur yang datang tiba tiba ntah dari mana, dia menuntunku ke mobil.
Mas Rahmat ingin ikut, namun di cegah dengan ibunya ...
"Lus ... tahan ya, demi anakmu ..." ucap Nur.
Sebenarnya aku tak menginginkan anak ini, karena aku ingin bercerai dengan mas Rahmat, aku sudah tak kuat ... namun aku hamil fikiran cerai pun aku urungkan.
Oeeekk ... oeekk ...
Anakku sudah lahir, mas Rahmat pun tak kunjung datang untuk mengadzani anak kami. Akhirnya anakku di adzani dengan suami Nur.
"Ku beri nama Erni ya Lus ..." ucap suami Nur.
Aku hanya mengangguk ... aku tak memperdulikan bayi itu. Ku benci kehadirannya. Di tambah lagi wajah nya mirip suamiku, semoga saja bisa berubah. Kata mereka jika masih bayi akan berubah - berubah wajahnya.
"Lus ... ini anakmu, jangan benci dia ... dia suci Lus, jangan melampiaskan bencimu dengan anakmu ... dia darah dagingmu Lus. " ucap Nur dengan merangkulku, seolah dia tau apa yang sedang aku rasakan.
Nur mengantarku pulang, sesampainya di rumah tak ada sambutan apapun yang akan menyambut bayiku. Nur menuntunku ke kamar.
"Lus ... mbak Nur pulang ya, kasian anak mbak di rumah sendirian, kamu baik baik di sini . Jangan keluar ... nanti kau bertemu ibu, kalo laper ... mbak sudah taruh beberapa makanan di sini dan minumnya pun juga ada. "
"Iya mbak ... terimakasih ya, terimakasih mbak sudah membantuku, kau iparku yang sangat baik mbak. "
"Sama sama Lus ... jangan anggap aku iparmu ya ... anggap saja aku mbakmu, oh iya ... maaf aku belum sempat mencuci bekas persalinan mu Lus. Besok pagi ku sempatkan kesini ya untuk mencuci semuanya. "
"Iya mbak ... sekali lagi terimakasih ya mbak ..."
Mbak Nur pun berlalu pergi, baru saja 5 menit ... mbak Nur meninggalkanku. Ibu mertuaku sudah menjerit.
"Lusia ... Lusia ... "
Kuberlari menemui ibu sambil menggendong anakku ...
"Iya buk ... "
"Cuci nih, bekas darahmu! Kau fikir kau siapa, main tumpuk, tumpuk saja cucian kotor bekas darahmu ... cuci sekarang!"
"Tapi buk ... Erni gimna ..."
"Alasan saja kau ... taruh tuh Erni di lantai "
Ku taruh Erni di kursi kayu, kucuci semua baju dan kain bekasku bersalin ...
~~~~
8 bulan berlalu, rasanya tubuhku sudah tak menapakkan lagi kaki nya ke tanah. Malamku begadang karena harus menjaga Erni, subuhku sudah membereskan rumah yang tiada hentinya. Terkadang aku harus menggendong Erni, untuk mengerjakan semuanya. Mas Rahmat tak pernah sekalipun menggendong Erni sejak dia Lahir ...
Apalagi sekarang, Erni sudah dalam tahap merangkak ... aku makin kerepotan ... sudah kuduga Erni hanya menambah bebanku ... kubenci anak ini. Apalagi wajahnya yang semakin hari semakin mirip dengan wajah suamiku.
"Lusiaa ... apa yang kau masak ini ... Gosong!" Jerit ibu mertua
"Astaghfirullah ... aku lupa sedang menggoreng tempe" Aku berlari dengan cepat bak kilat di siang hari
"Maaf buk ... aku tak sengaja ... aku lupa, aku sibuk menyusui Erni" jawabku
"Ah kau banyak alasan!"
Di pukulnya wajan panas itu kepunggungku, berkali kali ... aku berontak ... kudorong badan ibu, aku berlari mengambil Erni, dan berlari pergi. Namun kali ini aku akan sangat hati hati jika ada orang aku langsung menyumput ke semak semak, kutakut di tangkap lagi.
Ntah dengan jurus apa kuberlari, akhirnya sampai juga di depan rumahku ...
"Assalammualaikum mak, mak ... ini Lusi "
"Walaikumsalam, kamu kenapa Lus ... malem malem begini kamu pulang, suamimu mana? Kamu pulang lagi ya kerumah suamimu ... nggak bagus Lus, kalo kamu lagi berantem dengan suamimu pulang kerumah mamak. Kembalilah nak ... mamak antar" ucap mamak asal menebak tanpa mendengar jawaban ku
"Nggak mak ... ku mohon. Aku sudah tak kuat buk ... lihat nih punggungku, ini ulah mertuaku mak" ucapku sambil menunjukkan punggungku
"Astaghfirullah ..." jerit mamakku
Itulah terakhir kalinya aku menderita, sekarang aku telah menikah lagi dengan pria single idamanku ... Hardi namanya dia memang tak kaya, namun ntah mengapa mas Hardi adalah pria yang membuatku terpanah.
Aku telah mempunyai anak laki laki berusia 13 bulan, dari kehamilanku sampai sekarang Hardi selalu memperhatikanku ... saat waktu aku melahirkan pun, bahagia sekali rasanya. Beda dengan lahirnya Erni yang malah membuatku menderita.
Namun semakin besar Kenzo anak laki laki ku, semakin pula aku kerepotan ...
"Ahh ... mengapa aku pusing, kuajak saja Erni tinggal di sini, pasti Erni senang"
Sebelumku menjemputnya ... kutulis dulu jadwal tugas tugasnya di rumah ini. Sebenarnya aku benci melihat anak itu, wajahnya selalu mengingatkanku penderitaan yang lalu.
Kujemput Erni, kukemasi semua barang barang nya ...
Sesampainya di rumah, aku menunjukkan kamarnya,
"Ini kamarmu Er ... "
"Kok nggak ada kasur buk .."
"Nggak usah bawel ... itu udah bagus!" Ucapku dengan nada tinggi
"Oh iya jadwal kamu di rumah ini, sudah ibuk tulis di dinding kamar.
Aku berlalu pergi, tak bisa rasanya melihat wajah anak itu lama - lama, geram sekali rasanya ...
Kuintip kekamar Erni, Erni sudah tertidur pulas ... kuatur alarm di jam wekerku, yang kutaruh di atas divan Erni, supaya Erni tak kesiangan ...
"Lega rasanya ... besok tak repot lagi"
Kring ...
Jam wekerku berbunyi, jam menunjukkan pukul 06:30 pagi. Mas Hardi akan bekerja ... buru buru aku keluar untuk mencuci muka.
Brukk ... terdengar suara kenzo menangis dengan kuat.
Ku lihat kenzo sudah tergeletak di lantai, terpeleset karena Erni!
Langsung kuhampiri Erni ... kuinjak tubuhnya, kubenturkan kepalanya ketembok .
"Anak sialan ... mengepel saja kau tak becus Er, adikmu sampai terjatuh. Kok bisa?" Tanyaku dengan nada tinggi
"Ampun bukk ... aku nggak tau" jawabnya
"Kau melawan ... hah!"
Kemarahanku semakin di puncak nya, aku benci kau Er .. aku benci ... kusodok mulutnya dengan gagang pel, lalu darah segar keluar dari mulutnya
Aku terduduk seketika melihatnya ... kebencianku sudah sangat mendalam, dengan anakku sendiri. Jika ku teruskan Erni pasti mati di tanganku.
"Sudahlah ... bangun kau, sekarang mandi kau akan ke sekolah, maafkan ibu ... ibu khilaf" ucapku berlalu pergi meninggalkannya