"Buk ... Erni sudah nimbak, Erni boleh makan kan buk?" Tanyaku dengan pelan
"Makan aja sana di dapur ... habis makan jangan lupa momong adekmu"
"Iya buk ... "
Kulihat di dapur, ada sop bakso kesukaanku sedang nangkring di atas kompor dengan aroma yang menggoda, rasanya ... ingin kulahap semuanya.
"Wuhh ... asiknya ada sop bakso, mungkin ibu sengaja membuatkannya untukku" Hati ini terenyuh
"Er ... sop bakso di panci jangan di makan ya! Itu punya kenzo. " Teriak ibu
"Erni minta kuah nya aja ya buk, sedikit. "
"Nggak boleh! ibuk tampar kamu ya Er ... anak kok ya rakus banget, "
"Huh ... " Aku menghela nafas
"Cicip sedikit nggak apa kali yaa ... kan kuahnya banyak cicip sesendok saja, pasti nggak keliatan. " sambil menyendokkan kuahnya ke mulutku.
"Ya Allah ... ini enak banget, cicip lagi ahh ... "
"Astaghfirullah Er ... Kau ini emang kelewatan!" Ucap ibu mengagetkanku
"Ibuk kan sudah bilang, jangan di makan bakso ini punya adek ... Kau makan saja pakai sambal, kan bisa!"
"Erni pengen buk"
Plak! Ibuk menamparku dengan keras, Aku hanya menunduk tak sanggup melawan.
"Assalammualaikum"
"Walaikumsalam" jawab ibuku dengan menghampiri suara itu
"Eh mas sudah pulang ... aku siapkan kopi dan makanan dulu ya mas"
Kulihat ibu mengambil sepotong dada ayam, dan tempe yang ibu sembunyikan di lemari makan, Di sajikannya sop bakso, ayam, dan tempe itu di atas meja.
"Ayuk mas makan ..." ajak ibu
Aku hanya menatap ibu dan ayah dari dapur, berdoa semoga ada sisa makanan yang bisa kumakan terutama sop bakso itu ..
"Buk ... biar Erni yang beresin" ucapku berlari menghampiri ibu yang beranjak dari kursi
"Alhamdulillah ... ayam nya masih ada, meskipun hanya sedikit sisa daging yang menempel di tulangnya, tempe ayah juga sisa setengah ... kuah bakso juga masih ada, asik!" ucapku dalam hati, dengan semangat aku membersihkan nya.
Kupindahkan sisa makanan tadi ke piring, kumakan dengan lahap dan cepat! Takut ibu akan memergoki diriku yang sedang makan dengan lauk pauk sisa mereka.
"Kau benar benar seperti Babi!" Ucap ayah yang mengagetkanku
Aku hanya menunduk, dan dengan cepat menyeselesaikan makananku ... kutakut ibu akan tahu. Namun belum sempat menyelesaikan makananku, ayah sudah memanggil ibu.
"Dik ... dik, lihat nih anakmu" panggil ayah
"Iya mas, Astaghfirullah Erni ... kau ini benar benar idiot!" Ucap ibu yang menghampiri ayah dan langsung menarik rambutku dan menyeretku ke kamar ...
"Ampun buk, sakit ..." rintihku, sambil memegangi rambutku yang di seret ibu
"Assalammualaikum"
Degh ! Aku menoleh ke arah pintu ...
"Suara itu ku kenal, itu suara nenek!" Hatiku sangat senang mendengarnya
Tanpa menjawab, ibu melepaskan tangannya dari rambutku ... dan berlari menemui nenek di luar.
"Walaikumsalam mak, kok nggak ngomong mak kalo mau kesini, masuk sini mak ... masuk" ajak ibu
"Mamak mau ketemu Erni, mamak kangen ... ntah kenapa perasaan mamak berapa hari ini nggak enak Lus, " ucap nenek
"Ah itu perasaan mamak aja, karena mamak itu kelewat memanjakan dia mak"
"Kalo mamak nggak memanjakan Erni, siapa yang manjain dia Lus ... kau kan sudah hampir 2 tahun, nggak pernah nengok Erni. Sekalinya nengok ... kau mengambil Erni dari mamak"
"Aku sibuk mak, mamak kan tau aku kerepotan ... makanya aku ajak Erni"
"Ingat Lus ... kau ajak Erni tinggal di rumahmu, jangan kau jadikan pembantu! Jangan kau pukul. Ibuk tau sifatmu, Dia anakmu Lus ... kasian Erni. "
"Sudahlah buk, jangan bahas itu lagi. "
"Erni ... Er ... " panggil nenek
Aku menghampiri nenek, di peluk nya dengan erat tubuhku ... rindu rasanya dengan perempuan tua ini. sebenarnya hidup dengan nenek saja aku bisa tenang. Namun ke egoisanku yang ingin kasih sayang ibu lebih besar, meskipun Aku tau perlakuan ibu terhadapku selalu kasar, tapi tak apa asal aku bisa hidup bersama ibu ...
Seandainya ibu tau ... betapa aku merindukan pelukan dari nya. nenek selalu memelukku , nenek sering menyuapiku, nenek selalu memberikan kebahagiaan dan kasih sayang untukku. Namun ntah mengapa, aku selalu merindukan kasih sayang ibu. Bagiku nenek tetaplah nenek dan ibu tetaplah ibu, tak akan pernah sama.
"Erni bahagia nggak disini?" ucap nenek sambil mengusap rambutku
"Erni seneng disini nek, seneng bisa dengan ibuk ... jadi nggak kangen terus. Nggak apa kan nek, Erni disini?"
"Ya nggak apa apa, kalo Erni bahagia ... nenek juga bahagia" ucap nenek yang masih terus mengusap rambutku, dan aku harus menahan sakit karena rasa perih nya kepalaku
"Nenek nggak bisa lama lama ya Er disini, nenek pulang dulu, jaga dirimu ya Er"
"Iya nek ... nenek hati hati yaa, nenek harus sering jenguk Erni disini ya nek, Erni sayang nenek." Ucapku sambil memeluk nenek, rasanya berat untuk melepas nenek pergi.
"Iya pasti Er, nenek juga sayang Erni, nenek pulang dulu ya. Lus ...mamak pulang ya, titip Erni. "
Nenek pun berlalu pergi, aku berdiri di halaman rumah sampai nenek berjalan tak terlihat.
"Erni!" Teriak ibu dari dalam
"Iya buk " aku berlari menghampiri ibuk
"Buatkan susu adek, susunya 4 sendok air nya jangan terlalu panas, kalo panas kusiram ke mukamu"
"Iya buk ..."
Sebenarnya ini pertama kali aku membuatkan si Kenzo susu, semoga saja tak salah.
"Nih buk ... susunya" ucapku sambil menyodorkan botol susu, dan ibu mulai mencicinya.
"Ya Allah Er, kau itu tololnya minta ampun! Sini mukamu sini!" Ucap ibu yang memegang wajahku dan menyiramkan susu itu ke wajahku.
"Maaf buk, perasaan Erni tadi nggak terlalu panas"
"Halah kau Er, kalo kau idiot jangan pake perasaan lagi, nanti kau tambah idiot" ucap ibu sambil menoyor kepalaku
"Nanti malam, kau tidur dengan ibuk. Kenzo suka kebangun tengah malam minta susu, nanti kau ya Er yang bangun. Jangan terlalu panas lagi"
"Iya buk"
"Ini kemajuan! Ibu mengajakku tidur bersamanya, Alhamdulillah." Aku tersenyum kecil
Rasanya ... Aku senang sekali, ini adalah impian terbesarku, di samping ibu, di peluk ibu, bisa bangun pagi dan bermanja dengan ibu. Indah sekali rasanya ... aku benar benar tak sabar menunggu nanti malam.
"Sabar ... sabar, bentar lagi aku akan tidur bareng ibuk" kutgpatap jam dinding itu terus menerus, menghitung waktu karena sudah tak sabar, menanti moment yang indah ini.
"Er ... tidur sini. Cepat!" Panggil ibu
Aku berlari masuk ke kamar ibu dengan semangat ...
"Nih tidur sini ..." ucap ibu yang meletakkan bantalnya di bawah kaki mereka
"Buk kok nggak di samping ibuk, kan itu masih muat"
"Jangan bawel"<u>>$-_$</u>
Akhirnya harapanku sia sia, aku memang tidur bersama ibuk. tapi tidak di sampingnya melainkan di bawah kaki nya ...
Bruk!
Di tendangnya kepalaku ini dengan ayah sebanyak 2 kali, ibuku melihatnya, namun hanya diam.
"Ya Allah ... harus beginikah kenanganku tidur dengan ibu, untuk pertama kalinya" gumamku dalam hati
Kutengok ibu memeluk Kenzo dengan hangat, terkadang ada rasa iri yang menyelimuti hati ini, Aku iri ... dengan Kenzo yang selalu mendapatkan perhatian khusus dari ibu.
Sedangkan aku? Rasanya tak ada ingatan sedikitpun tentang kasih sayang ibu. Jangankan untuk kasih sayang, untuk mengatakan aku anaknya pun, mungkin aku sudah senang.
"Aku merindukan kau buk ... aku yakin suatu saat ibu akan menganggap diriku. " gumamku dalam hati sambil menatap wajah ibu, yang tertidur pulas memeluk Kenzo.
Dan aku hanya tidur di bawah kaki mereka lalu kaki ayah tepat di samping kepalaku. yang jika ayah menendang lumayan sakit rasanya. Aku hanya memperhatikan mereka bertiga dari bawah, sampai aku tertidur ...
"Er ... Er ... bangun" ibu membangunkan aku, dengan menendang kakiku.
Kulihat jam 5 pagi, seperti biasa semua tugas rumah sudah menumpuk. Setelah selesai siap siap untuk berangkat ke sekolah.
"Buk Erni pamit mau sekolah, Erni minta sangu buk ... " ucapku pelan sambil membangunkan ibu tidur, sepertinya ayah libur.
"Udahlah Erni, jangan sangu terus di fikiran kau ... ibuk nggak ada duit pergi sana. Oh iya ... kau jangan ponten Nol lagi ya. Awas kau!"
"Iya buk ... "
Aku pun menyalami tangan ibuk untuk pamit ke sekolah ... dan di sekolah pun tak ada moment yang spesial, sama seperti biasanya. Bedanya jika anak yang lain lapar dan haus bisa jajan, kalau aku hanya meminum air dari keran toilet sekolah.e
Ting ... Ting!
Bel pulang berbunyi, semua anak berdoa dan satu persatu pulang meninggalkan sekolah, Aku berlari sekencang mungkin untuk sampai kerumah. Lapar sekali rasanya ... dari pagi belum makan.
"Assalammualaikum"
"Walaikumsalam" jawab ibu sambil menggendong Kenzo dan ayah pun ada.
"Gimana sekolah kau Er, coba lihat bukumu?"
"Ini buk" aku menyodorkan 2 buku
"Nah ini yang ibuk mau, kau harus ponten 100 ya setiap hari. Kurang dari 100 kepala kau kuinjak injak lagi, supaya pintar!"
"Iya buk" jawabku dengan hati hati
Sebenarnya mengapa aku bisa dapat nilai 100, karena aku mencontek dengan Tri. Aku memohon kalau tidak aku bisa dipukul ibu kataku, dan Tri pun dengan senang hati memperlihatkannya.
"Buk ... Erni laper banget, Erni boleh makan buk"
"Makan saja, tapi jangan ambil sayur ya! Itu sayur untuk ayahmu, Kau menyambal saja, Jangan ngeyel ... kalo nggak, kutampar mukamu!"
"Iya buk"
Kulihat sayur yang di maksut ibuk tadi, ayam kecap agak banyak jika hanya porsi ayah. Namun biarlah aku hanya makan nasi sambal saja, sudah cukup ... di banding harus terus menerus membuat ibu kesal.
"Mang ... bakso!" Seru ayah
"Hihi ayah beli bakso ... pasti aku di belikan" gumamku dalam hati, aku sangat menyukai makanan bulat itu, Aku pun segera menghabiskan makananku dan langsung ke depan.
Namun ternyata ayah hanya membeli 2 mangkok saja, dan merekapun memakannya dengan lahap, tanpa menawariku.
"Ya Tuhan ... rasanya inginku gigit bakso ibu yang besar itu, " ucapku dalam hati sambil memperhatikan mereka makan.