Kritt ...
Pintu kamar ibu terbuka, di susul dengan ibu yang keluar dari balik pintu.
"Eh kamu Tik, kapan dateng?" Sapa ibu, membubarkan obrolan kami.
"Barusan mbak"
"Buk Erni mau ngomong." Sahutku, mengambil alih pembicaraan, aku tau ini waktu yang tepat untuk berbicara.
"Hmm" jawab ibu singkat
"Anu buk ... Erni mau tinggal lagi dengan nenek, bolehkan?"
Ibu kaget mendengar ucapanku, Bude pun tak kalah kaget. Bude menatapku dengan tatapan heran. Aku tau fikiran bude seperti apa, pasti ia bertanya-tanya ... tentang keputusanku ini.
"Kau ya Tik? Yang nyuruh Erni ngomong begitu." Tanya ibu dengan nada tinggi
"Enggak kok mbak ..."
"Nggak! Kau akan tetap tinggal disini!" Bentak ibu.
"Tapi buk ..."
"Nggak ada tapi-tapian! Atau ..." ucap ibu terpotong.
Aku tahu sekarang, Ibu tak akan bisa membentakku di depan keluarganya. Bukan karena Ibu takut, tetapi ... karena Ibu tak mau itu menjadi senjata mereka untuk mengambilku dari rumah ibu.
~~~~~
2 tahun berlalu ...
Semenjak ucapan bude 2 tahun lalu, Aku selalu saja mencari cara, agar bisa kembali ke rumah Nenek. Hari ini aku menang dari ibu! Akhirnya ibu mengalah, untuk mengembalikan aku ke rumah nenek.
"Selamat tinggal rumahku ... yang telah menjadi saksi bisu. Atas penyiksaan ibu di setiap harinya." Ucap batinku ... kukecup kening Kenzo. Kuambil ransel dan kulangkahkan kaki keluar.
Air mataku menetes, sebenarnya aku berat meninggalkan ibu. Aku takut ibu tak pernah menjengukku lagi. Meskipun ibu selalu saja kasar, namun rasa sayangku tetap tak berkurang, sedikitpun. Ibu tetaplah ibuku. Aku yakin suatu saat ibu akan berubah. Aku berbalik arah, aku masuk kembali menemui ibu ...
"Buk ... Erni pulang ya buk, ibuk sering jenguk Erni ya buk di rumah nenek." Ucapku, sambil menyalami tangan ibu ... ingin rasanya aku memeluk ibu. Ingin sekali! Sangat ingin! Namun ku urungkan, aku takut ibu akan marah.
Tin ... Tin ...
Terdengar, suara klakson Ojek yang ibu pesan untuk mengantarku telah tiba. Kutinggalkan ibu tanpa mendengar jawaban darinya ... tetes demi tetes air mata keluar, tanpa sengaja.
"Ya Tuhan ... aku hidup tanpa orang tuaku lagi. Tetapi, Ini keputusanku! Semoga ini yang terbaik." Ucap batinku, ku usap air mata itu.
"Mbak ... kita udah nyampek" ucap abang Ojek yang sudah menjadi langganan ibuku itu.
Aku segera turun. Kulihat nenek sudah duduk di depan pintu, menungguku. Dengan senyuman sumringahnya yang khas.
"Erni ..." panggil nenek sambil memeluk tubuhku.
"Nek, kok duduk di depan? Nungguin Erni yaa ..." ejekku
"Iya Er ... nenek nungguin cucu nenek yang paling cantik. Nenek udah masak, semua sayur kesukaan kamu Er." Jawab nenek dengan sumringah sambil menuntunku masuk.
Nenek mengambil piring. mengisinya dengan lauk pauk. Yang sudah tersedia di meja makan ... ada tumis oncom, bekasem, ikan goreng, dan sambal khas buatan nenek. Aku dengan lahap memakannya. Jika di ingat sudah 2 tahun aku tak pernah makan seenak ini.
"Aku nambah ya nek ..." ucapku
"Iya ... iyaa Er. Makan yang banyak yaa"
Belum sempat kumemasukkan makanan kemulut Nenek menatapku dengan genangan air mata ...
"Er ... nenek suapin ya. Nenek kangen" pintanya
Aku pun menyetujuinya, ku usap air matanya. Ada kerinduan yang sangat mendalam di mata itu. Seandainya yang di posisi ini adalah ibu. Pasti aku sangat senang.
"Maafkan aku nek ... nenek sangat menyayangiku. Tapi Erni nggak pernah bersyukur." Gumamku dalam hati.
Selesai makan, dengan reflek aku membereskan bekas makanku. Namun nenek menghalangi ... di cegahnya tanganku dan malah menuntunku untuk masuk ke kamar.
"Er ... istirahat aja ya." Ucap nenek tersenyum
Ah! Rasanya, empuk sekali. Tak ada lagi sakitnya badan setelah bangun tidur ...
~~~~
"Er bangun, hari ini kau masuk sekolah." Ucap nenek sambil menggoyangkan tubuhku.
Aku beranjak bangun dari tidur, bersiap-siap untuk ke sekolah. Nenek menyediakan semua keperluanku ... dari sepatu, tas, buku dan lain-lain.
"Yuk Er ..." ajak nenek
"Loh ... nenek ikut?"
"Ya ... iyalah, nenek ikut. Inikan hari pertamamu sekolah."
Kami berdua berjalan, menuju tempat sekolahku yang dulu. Dalam perjalanan, kulirik rumah yang di maksut bude dulu ... aku harus mendekati tuan rumahnya nanti. Fikiranku mengacau. Ntah bagaimana caranya, aku mencari tahu tentang keluargaku yang sebenarnya.
"Er ... sini loh, jangan jauh-jauh jalannya" pinta nenek, sambil menggandeng tanganku.
Sesampainya di sekolah. Nenek mengantarkan aku ke ruangan kantor ...
"Buk ... ini cucu saya. Dia murid pindahan dari SDN 01 Negaratu. Apa ada yang perlu saya urus buk?"
"Oh ... ini Erni ya? Yang dulu pernah sekolah di sini kan? Sudah besar ya sekarang, nggak perlu buk ... kan sudah beres kemarin." Ucap salah satu guru.
"Iya buk, dulu masih kelas 1 disini, sekarang udah kelas 4." Jawab nenekku.
"Yasudah buk, cucu nya boleh di tinggal ya"
"Iya buk ... titip cucu saya ya" jawab nenek
Nenek berjalan keluar, sambil menarik tanganku. Di ambilnya uang kertas 5000an dari saku.
"Er ini sangumu, nenek pulang ya." Ucapnya sambil mengecupnkedua pipiku.
"Iya nek ... makasih ya. Nenek hati-hati."
Kuperhatikan uang yang di beri nenek, terasa sangat besar bagiku. Biasanya ibu hanya memberiku sangu 500 rupiah. Jika bulan puasa, ibu malah tak memberiku sangu sama sekali.
"Erni ..." panggil salah satu murid perempuan
Aku menoleh ke belakang. Ku lihat sahabatku, yang dulu pernah kutinggalkan. Karena perpindahan sekolah. Dia menghampiriku, menanyakan kabarku dan banyak hal kami bicarakan, sambil jalan bergandengan.
"Er ... kesana yuk." Ajak tiara, sambil menunjuk kerumunan murid-murid.Tanpa menjawab, kuturuti ajakan tiara. Kami menuju ke arah kerumunan itu.
"Fina!" Panggilku, aku kenal dengan anak perempuan ini. Rumahnya satu perumahan dengan ibu.
"Ehh, sekolah di sini? Aku lupa, namanya siapa ya? Jawab Fina. Maklum aku tak terlalu terkenal di kalangan anak-anak. Namun di kalangan ibu-ibu aku sangat terkenal. Karena ... aku adalah bahan utama gosipan mereka.
"Aku Erni Fin, aku pindah sekolah di sini" ucapku sembari menyodorkan tangan berkenalan, aku mengetahui Fina. Karena Fina anak yang selama ini ku perhatikan. Setiap aku membuang sampah di lapangan perumahan. Rumah nya berhadapan dengan lapangan itu.
Ayah, ibu, dan adik nya pun selalu akrab. Itulah yang membuatku memperhatikannya, Fina anak yang beruntung. Mendapatkan orang tua utuh, yang begitu menyayanginya.
"Heh Er! Malah ngelamun aja!" Ucap tiara membuyarkan lamunanku.
"Hee ... iya Er, aku pernah dengar nama itu. Aku juga anak pindahan kelas 4" ucapnya cengengesan.
Dari itulah, persahabatan kami bertiga di mulai ...
~~~~
"Assalammualaikum, Nek Erni pulang ..."
"Aduh ... cucuku yang cantik, pipimu merah sekali Er. Panas ya di luar?" Tanya nenek, dengan mengambil ranselku.
"Nggak kok nek ..."
"Erni makan dulu ya ... udah nenek siapin, udah sana makan."
Kunikmati hidangan ini, sungguh ... ini benar-benar enak! Pindang patin, dengan sambal mentah. Nenek menatapku dengan tersenyum ...
"Nenek jadi semangat masak Er, kalo kamu makannya lahap begini. Ayo ... Er makannya yang banyak ya." ucap nenek
Aku hanya tersenyum melihat nenek, dan lanjut menyantap makanan yang lezat ini!
"Nek, Erni udah makannya. Erni boleh maen ya ..."ucapku, sebenarnya aku ingin ke rumah sebelah, menemui adik ayah. Yang di maksut dengan bude dulu.
"Iya Er ... jangan jauh-jauh ya."
Aku melihat situasi. Tak mau nenek tahu aku menemui adik bapak. Aku tak mau karena ulahku nenek akan khawatir. Karena aku yakin. nenek tak menginginkan aku tahu, tentang semuanya. Maka dari itu nenek selalu menutupi semuanya dariku. Ntah mengapa? Aku pun tak tahu!
"Assalammualaikum"
"Walaikumsalam" ucap suara wanita dari dalam
"Oh Erni .. ada apa?" Tanya wanita itu
"Heee ... anu bude, aku mau nanya sesuatu." Ucapku dengan terbata-bata. Namun harus kulakukan demi mengetahui asal usulku. Tekadku sudah bulat!
"Nanya sesuatu? Masuk dulu sini Er." Ajak wanita itu
Aku pun duduk, dengan canggung. Baru pertama kalinya aku masuk ke rumah ini.
"Kamu mau nanya apa Er?"
"Anu ... aku mau nanya tentang bapakku, kata budeku ... adik bapak tinggal di sini." Jawabku yakin ... karena kutahu yang di maksut bude sebelah rumah nenek itu. Ya rumah ini! Soalnya rumah nenek sebelahnya lagi itu semak-semak.
"Hehh ... iya Er, suami bude. Adik dari bapakmu." Jawab wanita itu, sambil mengusap rambutku.
"Abi, bi ... ini ada Erni." Panggil wanita itu, sambil menghampiri suaminya
Kulihat dari ruang tamu. Wanita itu membicarakan sesuatu yang serius dengan suaminya ...
"Iya Er ... aku adik dari bapakmu" jawab laki-laki itu
Aku terkejut! Alhamdulillah Ya Tuhan, setidaknya langkahku mulai ada kemajuan ... untuk segera mengetahui asal-usulku.
"Bisa pertemukan aku dengan bapak?"
Mendengar pertanyaanku, suami dan istri itu saling bertatap muka, ntah apa yang mereka fikirkan. Aku pun tak tahu ..
"Aku sangat bisa Er, mengantarkanmu untuk bertemu bapakmu. Sekarang juga bisa. Namun kau janji, jangan kau beritahu siapapun. Termasuk nenekmu."
Aku ragu, bagaimana jika aku di culik? Seperti rumor yang beredar banyak penculik anak, yang memakai mobil Jeep. Tetapi ... sudahlah, aku sudah terlanjur untuk ingin mengetahuinya.
Dengan menaiki motor, kami bertiga kerumah bapakku. Motor itu berhenti di rumah besar ... suami, istri itu pun mengajakku turun.
"Er ... ayuk masuk. Ini rumah bapakmu" ajak laki-laki itu.
Degh!
Jantungku berdegup kencang. Bapak yang selama ini kuimpikan, akan kutemui sekarang. Fikiranku campur aduk. Apa bapak akan menerimaku? Atau malah sebaliknya?