"Assalammualaikum"ucap suami dan istri itu berbarengan.
"Walaikumsalam" jawab si tuan rumah. Wanita tua, lebih tua dari nenekku.
"Buk ... ada bang Rahmat?"ucap pakde
"Tumben kau cari Rahmat? ... tuh lagi di kamarnya." Jawab wanita tua itu, dengan mata besar yang sedari tadi memperhatikanku. Aku takut sekali dengan mata itu. Terlihat sangat sinis tatapannya.
"Er ... pakde temui bapakmu dulu ya." Ucap pakde dengan membungkuk di depanku.
Mendengar pernyatan pakde. Wanita tua itu semakin memperhatikanku ... di perhatikannya aku dari ujung kaki sampai kepala. Ntah apa yang di fikirannya. Wanita itu hanya memperhatikanku. tapi tak membicarakan apapun, menghampiriku pun tidak. Siapa dia sebenarnya? Mengapa tatapannya begitu menyeramkan?
Aku hanya diam. Ntah mengapa mulutku tak mampu berkata apapun, Seperti terkunci. Dan detak jantung berdetak tak beraturan. Aku sangat takut, jika bapak nanti tak menginginkan aku sama seperti ibuk.
"Bang ... bang ..." panggil pakde.
"Hoy ... siapa?" Jawab laki-laki di dalam kamar itu
Degh!
"Suara itu! Apa itu suara bapakku? Jadi bapak akan keluar dari balik pintu itu? Aduhhh aku udah nggak sabar ... " batinku
Laki-laki itu keluar. Aku yakin dia bapakku! Mata yang sipit, hidung mancung, pipi tembam, kulit putih, dan postur tubuhpun sangat mirip denganku. Kami seperti anak kembar, namun beda generasi. Rasanya aku ingin berlari memeluknya. Bapak yang aku cari selama ini ada di depanku!
"Ini bapakku. Ya Tuhan terimakasih. Terimakasih tuhan ... Terimakasih." Ucapku dalam hati, rasanya aku ingin sujud syukur sekarang juga!
"Bang ... ini anakmu. Erni." Ucap pakde, sambil merangkul bahu ku.
Tanpa jawaban, langsung kupeluk tubuh bapakcyang selama ini kurindukan. Namun bapak mendorongku! Aku sempat terkejut ... tetapi, aku tetap menyodorkan tanganku untuk bersalaman dengannya. Bapak menyalami tanpa melihatku, Tatapan nya ke arah lain. Dia sama sekali tak ingin menatapku.
"Inikah bapak yang selama ini kurindukan? Ya Tuhan ... ketakutanku benar-benar tejadi." Batinku menangis. Hatiku sangat hancur!
"Kenapa kau membawanya kesini? Bawa dia pulang sekarang!" Bentak bapak dengan pakde.
"Banggg ... dia cuma pengen ketemu dengan kamu bang."
"Bawa dia sekarang!" Bentak bapak dengan keras.
Bude merangkul bahuku, membawaku keluar. Namun kami di hadang dengan wanita tua itu. Tatapan nya sangat sinis. Tubuhnya besar, dan berambut putih yang di tutupi dengan dalaman jilbab.
"Hey nak ... kamu mau tinggal di sini? Lumayan buat nambah-nambahin pembantu!" Wanita tua itu berbicara dengan ketus.
Aku terkejut mendengar kata-kata itu! Siapa sebenarnya wanita tua ini? Apa dia ... ibu dari bapak? Aku bergidik membayangkan nenekku sepertinya.
Kami tak menanggapi wanita tua itu, kami terus berjalan keluar. Namun lagi-lagi kami terhadang. dengan wanita yang lari dari depan menemuiku ...
"Ini Erni kan? Ini bude Nur. Ya Allah nak ... mukamu itu loh, memang nggak pernah berubah. Ke rumah bude yukkk ... rumah bude di depan sana." Ucap bude Nur. Dia memelukku dan menuntunku ke rumahnya
"Pah ... pahh, ada Erni pah." Panggil bude Nur dengan nada tinggi.
"Ya Allah nak ... kau sudah besar. Duduk ...duduk."ucap suami bude Nur. Dengan mempersilakan kami duduk.
"Mbak ... Nur mohon. Jangan bawa Erni kesini lagi." Ucap bude Nur, dengan menatapnya serius.
Aku bingung dengan ucapan bude Nur. Bukannya tadi, bude memperlakukan aku dengan sangat manis. Lalu sekarang ... bude tak menginginkan aku di sini? Ntah apa, yang sebenarnya terjadi di keluarga bapak.
"Nur ... mbak dan abangmu ke sini, karna Erni yang minta. Erni mau bertemu dengan bapaknya."
"Yasudah sekarang kan Erni sudah tau, jangan lagi ajak Erni kesini mbak!" Sahut suami bude Nur.
Aku bengong, melihat obrolan mereka. Yang seakan-akan diriku ini, benar-benar tak di harapakan di keluarga bapak. Jangan tanya lagi, bagaimana rasa sakitnya hati ini. Pupus sudah harapanku.
Kami berpamitan untuk pulang. Adik bapak sudah menunggu di motor. Kutatap rumah bapak ... kuperhatikan baik-baik. Motor kami melaju meninggalkan rumah bapak, namun mataku tetap menatap rumah itu dari kejauhan. Sampai tak terlihat lagi ...
"Ya Tuhan ... apa ini terakhir kalinya aku menemui bapak? Setelah bertahun-tahun kusimpan kerinduan ini. Yang kudapat hanya penolakan! Ini nggak adil!" Batinku menangis.
Aku ingin menangis sekencang mungkin. Mengapa dari semua anak, hanya aku yang teramat sial! aku iri melihat semua anak, bermain dengan kedua orang tuanya. Sedangkan aku? Anak yang tak di harapkan oleh ibu dan bapaknya!
"Ya Tuhan ..." gumamku dalam hati, tak sanggup melanjutkan kata-kata.
Sesampai nya di rumah, kulihat nenek sedang asyik menonton televisi. Aku berlalu masuk ke kamar tanpa menegur nenek. Rasanya aku ingin meratapi nasipku yang malang ini.
Aku bisa menahan sakit, jika ibu memperlakukanku dengan kasar. Tetapi ini ... aku mendapatkan penolakan dari seorang bapak, yang aku rindukan selama ini.
~~~~~
Hari-hari berlalu, sekolahku baik-baik saja ... kehidupanku pun kembali normal. Aku mulai pasrah dengan kehidupan. Aku tak lagi mencari bapak. Meskipun kerinduan itu masih ada, namun kutepis. Mengingat perlakuan bapak terhadapku ...
Nenek sedang sibuk-sibuknya, mempersiapkan kebutuhan acara pernikahan bibiku yang terakhir ... namun nahas bibik sakit dan harus di larikan ke rumah sakit. Nenek menitipkan aku dengan ibu. Karena nenek khawatir, tak ada yang menjaga aku selama nenek di rumah sakit.
"Lus ... mamak nitip Erni ya. Si Rina kan masuk rumah sakit. Mamak khawatir, kalo harus ninggalin Erni sendirian di rumah." Ucap nenek yang mengantarkan aku ke rumah ibuk
"Oh iya mak. Gapapa"
"Ya sudah, nenek pulang dulu ya Er ... nggak bisa lama-lama. Mau langsung kerumah sakit" ucap nenek sambil mengelus rambutku.
Nenek berlalu pulang ... namun ibu tiba-tiba menarik rambutku seperti orang kesetanan, aku kaget! Aku tak tahu apa salahku? Aku baru sampai, nenek pulang ... lalu ibu menarik rambutku dan menyeretnya ke tumpukan baju.
"Kau sudah puas kan di manja? Gosok semua baju itu! Kalo nggak kugosok punggungmu! Erni ... Erni ... udah tau kerjaan ayahmu lagi sepi. Malah kesini!" Bentak ibu.
Aku hanya diam. Tahu betul sikap ibu jika kujawab, bisa aku habis-habisan di pukul ibu. Kulirik tumpukan baju itu ... banyak sekali. Seperti setahun tak pernah di gosok!
"Erni ... Erni!" Panggil ibu.
Tanpa menjawab, aku berlari menghampiri ibu ...
"Iya bukk ..."
"Nih cebokin adekmu!" Ucap ibu sambil menyodorkan Kenzo
Kutuntun Kenzo ke kamar mandi, kubasuh dengan teliti dan kupakaikan celana Kenzo dan memberikan Kenzo pada ibu lagi. Karena aku masih melanjutkan gosokan.
"Erniiiiiii!" Panggil ibu dengan nada tinggi.
Degh!
Aku takut dengan panggilan itu! Biasanya jika ibu memanggilku begitu. Pasti ibu sedang marah besar. Namun aku tetap berlari menemui ibu.
"Iya buk ada apa?"
"Liat nih! Nggak bersih kamu nyebokin nya! Kamu itu masih aja idiot Er!"ucap ibu sambil menarik rambutku dan menendangku sampai aku tersungkur ke lantai.
"Maaf buk ... perasaan Erni tadi udah bersih"
"Kan udah ibuk bilang ... jangan pake perasaan! Nanti kau tambah idiot!" Ucap ibu sambil menarik rambutku dan membenturkan kepalaku ke lantai.
"Ampun buk ... ampun. Sakit." aku memohon dengan tangisan.
"Biarin! Biar kau nggak terlalu idiot! Kaya bapakmu!"
Degh!
Hatiku lagi-lagi sakit mendengar ucapan itu. Bagaimanapun dia tetap bapakku ... meskipun bapak tak menerimaku. Namun aku masih berharap suatu saat kedua orang tuaku bisa berubah.
"Assalammualaikum" terdengar suara laki-laki dari luar
"Walaikumsalam" jawab ibu, dan langsung membuka pintu.
"Oh Asmun, masuk ... masuk. Dari mana Mun?"
"Dari rumah sakit mbak ... nungguin Rina tadi. Ini baru pulang."
Aku meninggalkan mereka yang sibuk mengobrol. Sebenarnya, aku tak terlalu suka dengan calon suami bibiku ini ... dia suka memperhatikanku dengan tatapan aneh. Setiap dia datang ke rumah nenek. Aku selalu sembunyi.
"Er ... buatin om nya kopi" panggil ibu, aku pun menurutinya
Tak lama aku mendengar laki-laki itu menyuruh ibuku membelikan rokok ...
"Mbak mau rokok nggak? Beli sih mbak. Pake motor sebentar"
"Suruh Erni aja" jawab ibuku.
"Erni lama mbak"
Lalu ibuku menuruti perintah om Asmun, ibuku juga sangat candu dengan rokok ... dan mungkin ibu nggak tahan, yang sedari tadi tidak merokok, karena tak mempunyai uang untuk membelinya. Belum lama ibu pergi om asmun menemuiku ke dapur ...
"Er, mau duit nggak?"
Aku menggeleng. Melihat tanggapanku, om Asmun malah menaruh uang nya di dalam minisetku. Tangannya menyentuh buah dadaku. Dengan sigap langsung kuberlari ke luar rumah. Aku sangat takut dengan perlakuannya. Tiba-tiba ibu datang ...
"Er, kok di luar? Kopinya udah di buatin?"
"Belum buk ..."
"Dasar anak idiot" ucap ibu pelan, sambil menoyor kepalaku.
Belum sampai ibu masuk ke dalam. Om Asmun berpamitan pulang ... ada urusan penting katanya. Aku tak berani menatap wajahnya. Aku berjalan masuk dan menyelesaikan gosokanku ...
"Er ... kalo udah selesai. Langsung nyapu ngepel ya!" Ucap ibu
"Iya buk"
Kuselesaikan semuanya ... lalu kurebahkan tubuhku ke divan kayu.
"Huh rasanya ... capek banget, semoga aja nenek nggak lama." Gumamku dalam hati.
Kruk ... kruk
Perutku keroncongan, biasanya jam segini nenek sudak sibuk menyiapkan makanan untukku. Aku beranjak dari divan ... kubuka tudung nasi, kulihat ada tumis genjer dan tahu, tempe.
"Buk ... Erni laper. Erni minta sayurnya sedikit ya buk." ucapku sambil menghampiri ibuk.
"Jangan! Itu punya ayah! Nanti habis!" Bentak ibuk.
"Nggak bukk ... sediiiikkittt aja"ucapku memohon.
"Kugampar kau ya Er! Nyambel sana!"
Aku hanya diam, tak mampu lagi menjawab ...
"Huh ..." aku menghela napas panjang. Lagi-lagi aku harus merasakan, makan nasi berlauk sambal.