Aku Anak yang Tak diharapkan
Pergi Kau anak Idiot!
Tak lama bude Lati datang, nenek menyuruhnya untuk menemaniku di rumah nenek nanti. Rumah bude Lati sangat jauh dari rumah nenek sekitar 4jam, itu yang tak memungkinkan nenek untuk membawaku ke rumah bude Lati .
"Er ... pulang yukk," ucap bude Lati. Aku sangat senang dengan ajakan bude.
"Yuk bude"
"Cawako jama mamak, dang terlalu di manja anak sina! Anak ina ngebawa sial! Nanti mamak nyesol. Liak lah jama kuti! Iris kupingku bila nyak buhung!"
("Omongin dengan mamak, jangan terlalu di manja anak itu! Anak itu ngebawa sial! Nanti mamak nyesel. Liat lah nanti sama kalian! Iris kupingku bila saya bohong!") Sanggah ibu, dengan bahasa lampung nya.
"Niku mak berubah mbak. Erni mak salah. Dang ngelippahko kemarahanmu jama Erni! Nanti niku nyesol!"
(Kamu gak berubah mbak. Erni gak salah. Jangan ngelimpahin kemarahan sama Erni! Nanti kamu nyesel!")
Cuih!!
Ibu meludah dengan sangat kencang ke arahku, hampir saja mengenai wajahku. Aku yang bingung dengan ucapan mereka, karena tak tau artinya. Hanya bengong. Tak biasanya ibu berbicara dengan bahasa itu.
"Yuk Erni, kita pulang dari sini. Males ngeladenin ibu mu yang gak waras ini!" Bude menarik tanganku, namun di saat aku dan bude berjalan keluar, tiba-tiba ibu menarik rambutku dari belakang. Dan dibantingnya, sampai kepalaku terbentur di lantai.
Dengan sigap bude Erni memelukku. Dan mendorong tubuh ibu dengan kuat.
"Kau benar-benar udah gila mbak! Aku gak sangka begini perlakuanmu dengan Erni! Jangan harap kau bertemu Erni mulai dari sekarang!"
"HAHAHA ... aku gila. Aku memang gila! Aku sudah gila semenjak menikah dengan bapaknya! Dan kau tau Erni? mengapa aku sangat membencimu? Karna kau lahir dengan dendam!" Ucap ibu dengan tertawa keras sambil menunjuk ke arahku.
Plak!!!
Bude Lati menampar mulut ibu. Baru kali ini aku melihat bude Lati marah, biasanya bude Lati sangat lemah lembut. Sangat jarang untuk berkata dengan nada tinggi. Apalagi untuk menampar.
"Tamparan ini gak Terasa sakit bagiku Lati! Karna aku pun sudah sangat puas menyiksa anak itu! Perlakuan mereka sudah terbalaskan dengan keturunannya! HAHAHA ... baguslah kau datang membawanya. Sehari lagi saja dia di sini, dia bisa mati di tanganku."
Sontak aku langsung bersujut di kaki ibu. Bergelayut di kakinya ... menangis sejadi-jadinya. Meminta maaf atas perlakuanku. Namun ibu menendangku.
"Pergi kau anak idiot!"
Ntah mengapa, dengan perkataan yang begitu sangat menyakitkan saja. Aku tak bisa membenci ibu! Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa ibu tadi bilang, aku lahir dengan dendam?
Aku di tarik kuat dengan bude keluar. Bude merangkulku dengan erat. Bude menangis di pelukanku ...
"Kau tak salah Er ... percayalah dengan bude. Jangan lagi kau mencari tau tentang orang tuamu. Apa tak cukup kasih sayang nenek dan kakek?" Ucap bude dengan kedua tangannya di bahuku
Aku hanya diam. Aku sangat bingung dengan keadaan ini ... apa aku salah? Mengharapkan kasih sayang dari orang tuaku? Seandainya dari dulu aku tahu, bahwa nenek dan kakek adalah orang tuaku. Mungkin aku bisa hidup tenang tanpa ada banyaknya pertanyaan di otakku.
Kami memesan ojek di pangkalan, untuk menuju ke rumah nenek. Di sepanjang jalan aku hanya diam ... banyak yang kufikirkan, terutama kejadian om Asmun tadi. Aku ingin memberitahu bude, namun aku takut ... ntah mengapa aku sangat takut untuk memberitahu nya. Bude merangkulku dari belakang, dengan sangat erat. Sampai pengap rasanya.
~~~~
"Er ... bude gorengin pisang ya, sekalian nyanyur." Ucap bude Lati.
Aku pun mengangguk. Aku meneruskan mainanku di kamar. Barbie kertas adalah mainan favoritku. Yang bisa berganti-ganti baju dan aku bisa berjam-jam memainkannya
"Assalammualaikum"
"Walaikumsalam" ucapku berlari ke arah pintu.
Betapa terkejutnya aku. Di balik pintu itu adalah om Asmun. Namun tetap aku berusaha tenang. Aku tak ingin menampakkan ketakutan di depannya. Agar terlihat aku sudah melupakan kejadian hal tadi.
"Masuk om ... Erni panggilin bude dulu" aku berjalan namun setengah berlari ...
Aku tak menyangka om Asmun mengikutiku, saat aku menuju pintu dapur, di tariknya tanganku kuat ... kami saling tarik menarik. Dia menarikku ke arah kamarku dan aku menarik untuk berusaha melepaskan tanganku dari genggamannya.
Tanganku terlepas! Tuhan lagi berpihak denganku. Ntah dengan kekuatan apa, aku bisa melepaskan genggaman itu ... aku keluar lewat pintu samping. Dan berlari ke arah seberang jalan. Dan bersembunyi di balik bunga pagar milik tetangga ... aku bersembunyi dengan ketakutan, sambil memperhatikan ke arah rumah. Kulihat belum ada semenit aku bersembunyi, om Asmun pergi dengan motornya.
Lalu bude keluar rumah dan memanggil-manggil namaku ... aku keluar dari persembunyian dan menemui bude.
"Kau kenapa Er? Bude liat dari lemari kaca. Kau di tarik-tarik dengan om Asmun. Bude langsung mengangkat gorengan, terus menghampirimu. Tapi kamu udah keburu kabur." Tanya bude. Memang ada lemari jati dengan cermin di depannya, mengarah ke pintu dapur. Dan kamarku pun tepat di samping lemari itu berhadap-hadapan dengan pintu dapur.
Aku menjelaskan secara detail kejadiannya. Namun tak kuceritakan kejadian waktu di rumah ibu tadi. Aku juga yakin dia ke rumah nenek, tidak ada keperluan apa pun . Pasti dia sengaja menemuiku, yang sebelumnya dia terlebih dahulu ke rumah ibu, dan tak mendapatkan aku disana. Baru om Asmun kesini. Pasti!
"Dasar sialan!" Ucap bude Lati. Lagi-lagi bude keluar dari jati dirinya.
Tut ... tut ...
"Halo Rin, ini mbak ... bilang sama Asmun. Suruh dia kerumah sekarang!"
Bude menjelaskan semuanya. Terpancar dari wajahnya ada kemarahan yang amat sangat di matanya ... bude bolak balik di ruang tamu. Seperti menunggu seseorang.
"Assalammualaikum"
"Walaikumsalam"
Nenek dan kakekku datang. Bude kembali menjelaskan perihal kejadian tadi ... kakekku sangat marah. Umpatan demi umpatan keluar dari mulutnya. Di ambilnya tombak peninggalan buyutku dahulu. Dan berjalan kearah luar. Namun nenek mencegahnya.
"Erni nggak apa-apa kan?" Ucap nenek.
"Nggak apa-apa nek"
"Untung nggak terjadi apa-apa dengan Erni. Kalo nggak akan kutombak kepalanya!" Sanggah kakek sambil mengusap tombak nya.
Dengan kejadian ini ... bibiku memilih untuk membatalkan pernikahannya. Aku tahu bibi juga sangat terpukul. Apalagi mereka terbilang sudah lama berpacaran. Hampir setiap hari aku meminta maaf. Karena akulah yang menyebabkan pernikahan mereka batal.
Namun bibi malah berterimakasih. Bibi bilang bersyukur dengan kejadiannya tersebut. Dia tak bisa membayangkan, bagaimana jika kejadian itu terjadi setelah mereka menikah.
Hari demi hari berlalu ... tak terasa aku sudah lulus sekolah dasar. Aku tumbuh menjadi anak yang mandiri ... anak yang selalu ceria. Tak pernah menampakkan apapun kesedihan di diriku.
Hubunganku dengan Bapak sudah mulai membaik meskipun sikapnya masih sedingin es. Dan aku mulai mengetahui kejadian-kejadian di masa lalu tentang orang tuaku dari bude Nur.
Akulah yang mendekati diri dengan mereka. Diam-diam aku sering menemui bapak. Jangan tanya bagaimana pertama kalinya aku menemuinya sendiri ke sana. Gemeteran campur aduk! Tetapi itu terus ku ulang, jika ada kesempatan aku langsung menaiki angkot, untuk pergi ke rumah bapak.
Usahaku membuahkan hasil. Bapak mulai terbiasa dengan kehadiranku, meskipun yang kubilang tadi. Bapak sangat dingin. Dan wanita tua yang sinis itu, ternyata mbahku ... jangan tanya bagaimana sabarnya aku menghadapi mulutnya.
Namun selalu kutelan mentah-mentah ucapannya. Karena aku terbiasa mendengar ucapan menyakitkan dari ibu. Jadi mendengar ucapan mbahku. Yahh ... sama aja. Tak ada bedanya. Jadi aku biasa saja.
Kata bude Nur aku pandai mengambil hati mbah. Bude Nur hanya berpesan jangan pernah mendekati yayik, suami dari mbah. Karena mbah adalah pencemburu akut.
Dengan wanita manapun dia cemburu. Mau anak kecil, dewasa, dan nenek-nenek sekalipun, yang penting masih wanita. Dia cemburu! Aku menuruti semua perintah bude.
Banyak hal yang kutanyakan dengan bude Nur. Tentang masalalu ibu pun aku bertanya. Bude Nur menjelaskan dengan sangat detail.
Tak terasa waktu itu air mataku menetes. Sebegitu kejamnya kah mbah terhadap ibuku? Cerita itu seperti omong kosong. Namun jika ternyata itu benar ... sangat sudah wajar ibu sangat membenciku. Bagiku, ibuku wanita yang sangat hebat.
Setelah mendengar cerita bude Nur. Di setiap harinya aku selalu mencari kesempatan untuk diam-diam kerumah ibu. Nenek selalu melarangku untuk bertemu ibu, katanya takut jika ibu menyakitiku.
Lebih dari setahun semenjak bude Lati menjemputku duli. Aku tak pernah bertemu ibu. Kerinduan ini sudah sangat besar. Di tambah lagi dengan cerita bude Nur. Rasanya aku ingin bersujud di bawah kaki ibu, dan memeluknya.
~~~~~
Hari ini pendaftaran siswa baru menengah pertama, nenek tak mempunyai uang lebih, untuk mendaftarkanku di sekolahan ternama atau SMPN sekalipun.
Karena biayanya sudah terbilang mahal bagi nenek. Aku hanya bisa mendaftar sekolah di SMP Muhammaddiyah di desaku. Hanya perlu pendaftaran 5000 rupiah sudah terdaftar di sekolah itu. Dan gratis biaya apapun.
Baju sekolah pun, aku hanya memakai baju milik tetangga yang sudah tak terpakai. Itupun hasil nenek berkeliling kampung. Untuk menanyakan apakah masih ada baju sekolah yang layak. Yang bisa nenek beli dengan harga murah. Namun ada tetangga yang berbaik hati. Memberikan baju bekas tanpa di bayar.
Sesampainya dirumah baju itu nenek cuci dengan pemutih. Nenek mempersiapkan semuanya ... dari sepatu tas dan lain lain. Dari semua yang aku punya, hanyalah bukuku yang baru.
~~~~
Hari ini adalah Masa Orientasi Siswa ... semua memakai seragam baru terkecuali aku. Rasa minder sempat terlintas di benakku. Namun kutepis. Mengingat wajah nenek pulang dengan cucuran keringat. Karena lelahnya berkeliling kampung. Demi seragam sekolah untukku.
Orientasiku selesai lebih cepat dari yang kukira. Ini waktu yang pas untuk pergi ke rumah ibu. Rasanya sudah tak sabar melihat ibu. Kabar terakhir yang ku dengar, ibu sedang menanti kelahirannya.
"Bang anterin saya ya ke perumahan Negaratu."
"Iya neng"jawab kang ojek
Sepanjang jalan, aku berdoa semoga kedatanganku tak membuat ibu marah. Ntah mengapa nekatku sudah bulat! Aku ingin memeluk ibu. Ingin memeluknya. Ingin sekali! Sudah lama kumerindukan pelukan itu.
Sesampainya di depan pintu. Perasaanku tak menentu ...
"Assalammualaikum ... buk, ini Erni" ucapku pelan
"Walaikumsalam"ucap ibu dari dalam.
"Oh ... kau Er. ada apa?"ucap ibu sinis.
Kulihat di depanku, ibu yang sedang hamil besar. Di mana dengan kehamilan yang sebesar itu. Ibu mengandungku dengan penuh siksaan. Aku menangis tak tertahan ... Aku langsung bersujud di kaki ibu. Bergelayut di kakinya, menangis sejadi-jadinya.
"Buk, Erni mohon. Jangan benci Erni buk ... Erni sayang ibuk. Ibuk, ibuk terbaik. Ibuk, wanita hebat. Terimakasih buk, sudah melahirkan Erni. Sudah merawat Erni, meskipun saat itu badan ibuk pun sangat lelah. Erni tau semuanya buk! Erni tau! Bude Nur cerita semuanya ke Erni!" Ucapku dengan tangisan yang kuat.
Tiba-tiba ibu terduduk. Air matanya menetes untukku ... mata yang selama ini kulihat penuh dengan amarah. Kini berubah seperti malaikat. Di peluknya aku dengan Erat, pelukan yang selama ini kurindukan. Tanpa berkata apapun ibu mencium keningku ... lalu mengusap air mataku.
"Kau tak pernah salah Er ... maafkan ibu ya. Ibu mohon." ibu menangis di pelukanku. Kami berpelukan haru ... sangat haru.
"Terimakasih Tuhan. Kau telah mendengarkan doa-doaku selama ini." Ucap batinku.