Aku Bukan Anak Haram - Starla
Mimpi Eliza
Lampu kamar masih redup. Nafas Eliza terengah. Tangannya gemetar saat meraba sisi kasur sekali lagi.
Kosong.
“Starla…” suaranya pecah, panik yang nyangkut di tenggorokan.
Eliza bangkit terlalu cepat. Kepalanya pening. Matanya menyapu kamar, selimut terlipat rapi di ujung kasur, boneka kelinci terguling di lantai. Pintu kamar… terbuka sedikit. Padahal ia ingat betul, dikunci.
Jantungnya seperti copot, dia membeku.
“El…” suaranya tercekat. Ia melangkah ke pintu, tapi kakinya terasa berat. Tangannya menarik gagang pintu perlahan.
Ruang depan kos gelap dan sunyi.
“Starla?” panggilnya lagi, lebih keras.
Tak ada jawaban.
Eliza memicingkan mata ke halaman, kosong. Sandal kecil itu juga tak ada di rak sepatu.
Nafasnya makin cepat. Dadanya berdebat hebat. Tangannya gegas meraih ponsel di meja, jam 05.12 pagi.
Eliza belum sempat menekan apa pun, dan notifikasi pesan masuk dari Saba. Dia menatap layar itu lama.
"Tenang. Dia aman. Jangan ke mana-mana. Kita perlu bicara."
Ponsel hampir terlepas dari tangannya. “Apa maksudmu…” bisik Eliza. “Apa maksudmu, Saba?!”
Telepon masuk dari nama yang sama. Eliza mengangkat dengan tangan gemetar.
“Halo?! Kamu di mana?! Dia di mana?!”
Suara di seberang terdengar tenang. “Di rumah,” jawab Saba singkat.
Eliza membeku. “Rumah… siapa?”
Jeda sesaat. Lalu suara itu berkata pelan, dingin, dan tegas, “Rumah Mama.”
Dunia Eliza seperti runtuh dalam sekali hentak. “KA—kamu nggak punya hak!” teriaknya. “Kamu nggak bisa seenaknya—”
“Aku ayahnya,” potong Saba. Suaranya rendah dan berat. “... dia sudah cukup lama dia tinggal di tempat yang salah.”
Air mata Eliza jatuh. Di seberang, Saba menambahkan satu kalimat yang membuat lutut Eliza lemas, “Dan satu hal lagi, El, hari ini… semuanya akan berubah.”
Telepon terputus.
Eliza berdiri terpaku di tengah kamar yang tiba-tiba terasa dingin. Dia terjatuh di lantai memeluk dirinya sendiri, menunduk tersedu.
“Ibu?” suaranya kecil, heran melihat Eliza yang terduduk di lantai, napasnya belum juga stabil.
Starla berdiri di depan pintu kamar mandi. Rambutnya sedikit berantakan, dengan mata masih setengah mengantuk.
Eliza mengerjap. Seolah baru kembali ke tubuhnya sendiri. Tangannya gemetar saat meraih saklar dan menyalakan lampu. Cahaya putih menyergap ruangan sempit itu.
Ia menoleh ke sekeliling. Kosan. Kasur. Dinding pink pucat. Tidak ada lorong sempit atau sosok tanpa wajah.
Eliza meraup wajahnya sendiri. Menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan.
Mimpi.
Tapi dadanya masih sesak, seolah ia belum benar-benar bangun.
Pandangan matanya jatuh ke meja kecil. Ponselnya tergeletak di sana. Layarnya masih gelap. Tidak ada jejak nama Saba seperti yang dia alami barusan.
“Ibu kenapa?” Starla bertanya lagi. Mengucek matanya.
Eliza bangkit cepat. Tanpa menjawab, ia langsung menghambur dan memeluk tubuh kecil itu erat. Seolah kalau ia longgarkan sedikit saja, anak itu akan menghilang.
Starla kaget sesaat, lalu balas memeluk. Tangannya yang mungil mengusap punggung Eliza pelan, seperti caranya menenangkan.
“Ibu sakit?” tanyanya polos.
Eliza menggeleng, wajahnya masih tertunduk di bahu kecil itu. “Nggak… nggak apa-apa, Sayang.”
Ia melepaskan pelukan, lalu mengajak Starla ke sisi kasur dengan langkah gontai. Setelah itu, Eliza mandi dan salat subuh yang sudah kesiangan. Sementara Starla, dengan mata berat, kembali naik ke kasur dan terlelap lagi.
Selesai salam, Eliza masih duduk di lantai. Menatap wajah tidur itu lama. Tangannya terulur menggoyangkan kaki kecil Starla pelan.
“Starla,” panggilnya lembut. “Om Saba mau ajak jalan-jalan pagi. Mau ikut nggak?”
Starla membuka mata setipis garis. Menguap lebar. “Ayah?”
Eliza tersentak. Ada jeda sepersekian detik. Jantungnya seperti berhenti. “Eh…” lidahnya kelu. “I-Iya. Ayah Saba.”
Kata itu meluncur begitu saja. Eliza menelan ludah, dadanya terasa aneh.
Starla mengucek mata lagi. “Mau ikut… tapi ngantuk,” gumamnya jujur.
Eliza tersenyum tipis. Ia meraih ponsel di meja, mengangkatnya sedikit ke arah Starla. “Call ayah. Jadi atau nggak?”
Starla mengangguk kecil, masih setengah terlelap.
Eliza menatap layar ponselnya sesaat sebelum jemarinya benar-benar menekan nama itu. Dia menarik napas dalam-dalam, menepis ragu.
Jarum jam berdetak pelan. Kamar masih sunyi, hanya suara napas Starla yang kembali teratur.
Nada sambung berdering sekali. Dua kali.
“Halo,” suara Saba muncul, serak seperti baru bangun.
Eliza menutup mata sesaat. “Pagi,” katanya lirih. Ponselnya dia arahkan ke Starla yang setengah terjaga.
“Starla, ini ... Bicara sendiri,” bisik Eliza di dekatnya.
Di seberang, Saba terdiam sebentar. Ia bisa mendengar gumaman Starla. “Aku ganti video call ya?”
Starla masih malas, tapi begitu mendengar suara itu, matanya terbuka sedikit lebih lebar.
“Ayah…” panggilnya lirih, suaranya serak habis bangun tidur.
Di seberang, Saba langsung tertawa kecil. “Pagi, bintang. Baru bangun ya?”
Saba menatap wajah kecil di kasur. Rambutnya berantakan, pipinya sedikit memerah karena posisi tidurnya.
Starla mengangguk. “Iya… masih ngantuk.”
“Wah,” kata Saba antusias, “kalau gitu jalan paginya santai aja. Lihat yang sepedaan, balon, sama burung-burung. Banyak penjual jajanan, loh.”
Starla tersenyum kecil. “Mau…”
Eliza yang sejak tadi duduk di samping kasur ikut menyela, suaranya samar, “Dia masih ngantuk,” katanya pelan.
“Ya sudah,” jawab Saba lembut, tetap pada Starla. “dijemput agak siang ya.”
Starla mengangguk, lalu menguap dan mendorong ponsel itu menjauh. Saba terkekeh melihat tingkahnya yang lucu.
Eliza mematikan panggilan video, mengalihkan ke mode suara.
“El ... Aku janji,” lanjut Saba, suaranya sedikit melunak, “cuma jalan pagi. CFD, sekalian antar kamu kerja lalu pulang."
Eliza ingin bilang jangan. Tapi bayangan mimpi barusan masih mengendap di dadanya.
“Jam sembilan,” ucap Eliza akhirnya. “Jangan telat.”
Saba tertawa kecil di seberang. “Siap, Bu.”
Telepon ditutup.
Eliza meletakkan ponsel di meja dan duduk di sisi kasur, mengelus rambut Starla pelan.
“Kalau nanti…,” gumam Eliza nyaris tak bersuara, “kalau nanti kamu kangen ibu…”
Starla bergerak sedikit dalam tidur, bergumam tak jelas. Eliza tersenyum tipis, tapi matanya basah. “Main ke sini, ya,” bisiknya. “Izin nginep sama ibu.”
Jam sembilan, Saba muncul mengenakan kaos polos, celana training dan jam tangan di pergelangan, wajahnya tenang seperti biasa. Ia menoleh ke arah kos, lalu tersenyum kecil. Seolah tahu sedang diperhatikan.
Eliza memanggil Starla, mengalihkan degup jantung yang tak karuan.
“Ibu ... Starlaaaaa," sapanya ceria.
Starla berdiri setengah bersembunyi di belakang kaki Eliza, mengintip dan tersenyum kecil. “Ayah…”
Kata itu keluar begitu saja. Saba membeku sepersekian detik. Tapi Eliza melihat perubahan ekspresinya.
“Ayo,” jawab Saba semringah. “gendong sama ayah.” Dia menunduk, menyamakan tinggi badannya dengan Starla. “Siap jalan pagi?”
Starla mengangguk. Tatapannya naik ke Eliza. “Ibu ikut.”
Eliza mengikuti langkah mereka ke mobil. Saba membukakan pintu belakang. Starla menoleh ke Eliza, minta izin duduk di depan.
Begitu Starla masuk, ponselnya bergetar di tangan. Satu pesan masuk.
“Eliza, kan?”
Deg.
.
.