Aku Bukan Anak Haram - Starla

Cuma Aku dan Ibu

Deg.

Eliza tidak langsung menjawab. Dadanya terasa mengencang. Ia melangkah pelan, lalu duduk di depan Starla.

Tangannya meraih bahu kecil itu. Hangat. “Kenapa nanya gitu?” tanya Eliza akhirnya, suaranya nyaris bergetar.

Starla menunduk. Krayon di tangannya diputar-putar. “Soalnya… aku kan sayang ibu,” katanya pelan, “aku nggak tahu ayah gimana.”

Eliza memejamkan mata. Napasnya tercekat sebentar, lalu ia menarik Starla ke dalam pelukannya.

“Entah. Yang pasti, Ibu nggak ke mana-mana,” katanya cepat, seolah menenangkan dirinya sendiri. “Ibu di sini.”

Starla tidak langsung menjawab. Kepalanya bersandar di dada Eliza. Tangannya mencengkeram baju itu, seperti malam-malam sebelumnya.

“Tapi ayah kan rumahnya beda,” gumam Starla. “Kalau ayah ajak Starla, ibu ikut nggak?”

Pertanyaan polos itu menghantam lebih keras dari dugaan Eliza.

“Ibu…” Eliza terdiam. Tangannya mengusap punggung kecil itu pelan, berulang-ulang. “Ibu selalu sayang Starla,” katanya akhirnya. Tidak menjawab pertanyaan yang sebenarnya.

Starla mengangguk kecil. “Starla juga sayang ibu.” Pelukannya menguat.

Beberapa saat mereka diam begitu. Hingga Starla perlahan melepas pelukan, kembali menatap gambarnya.

Ia mengambil krayon biru, menambahkan satu sosok kecil di samping anak yang tadi digambar. Lalu satu lagi di sebelah kiri.

“Ini siapa?” tanya Eliza, meski ia sudah tahu.

Starla tersenyum kecil. “Ayah dan Ibu,” jawabnya singkat.

Eliza menelan ludah. Ia memalingkan wajah sebentar, takut matanya mengkhianati perasaannya.

Di sore itu, Eliza sadar, Starla bukan sekadar takut kehilangan ayah yang baru dikenal. Dia juga masih bingung harus bagaimana.

Besok hari liburnya. Sambil mengusap kepala Starla, Eliza bilang ia akan mengajaknya main.

“Mau nggak? Pulang sekolah?” tanya Eliza sambil meraih selimut.

Starla langsung mengangguk. Matanya berbinar. “Mau! Mau mau mau!”

Eliza tersenyum. “Ajak ayah juga, boleh?"

Starla mendadak diam. Senyumnya pelan-pelan hilang. Ia menunduk, jari-jarinya saling meremas.

“Kenapa?” Eliza mendekat. “Nggak suka?”

“Bukan…” jawab Starla pelan.

“Tapi?” Eliza menebak, menatap wajah bulat itu.

Starla mengangkat wajahnya sedikit. “Aku pulang sama ibu, kan?”

Eliza terkekeh kecil. “Iya dong. Sama ibu.”

Senyum Starla langsung kembali. Ia bersorak kecil, melonjak di tempat tidur. “Yeeeeaaay!”

Eliza tertawa pelan. “Sekarang gosok gigi, cuci kaki, terus tidur.”

Starla mengangguk patuh. Ia turun dari tempat tidur, lalu berhenti sebentar. Menoleh ke Eliza. “Bener ya, Bu.”

Eliza mengangguk sambil merapikan buku gambar dan krayonnya. “Iya.”

Baru setelah itu Starla melangkah ke kamar mandi. Dia lalu merapikan peralatan sekolahnya ke tas dan naik ke tempat tidur.

Starla sudah terlelap ketika Eliza meraih ponselnya. Lampu kamar redup. Nafas kecil di sampingnya teratur, satu tangan masih menggenggam ujung kaus Eliza.

Ia mengetik pelan, seolah takut bunyi tombol mengganggu tidur itu.

"Besok aku libur. Starla mau diajak ketemuan ... Main. Tapi jangan libatkan orang lain dulu. Dia masih bingung tiba-tiba punya ayah."

"Kenalkan dulu diri Anda sebaik mungkin."

Eliza membaca ulang pesannya sekali. Lalu menekan kirim. Layar masih menyala beberapa detik sampai tanda pesan terkirim. Eliza langsung mematikan ponselnya. Diletakkan terbalik di meja kecil. Ia tidak menunggu balasan. 

Pagi menyongsong kosan Gulajawa. Eliza bergerak cepat—menanak nasi, menggoreng telur, menuang susu ke gelas kecil.

Starla duduk di lantai, menguap sambil mengucek mata. Rambutnya masih berantakan, menunggu disisir Eliza.

“Bekalnya ini ya,” kata Eliza, menyelipkan kotak makan ke tas.

Starla mengangguk. Rambutnya dikepang rapi. Seragamnya sudah dipakai, masih bau pewangi.

Di perjalanan menuju sekolah, ponsel Eliza bergetar berkali-kali di dalam tas. Ia tahu dari siapa, tapi tidak membukanya.

Sampai di gerbang sekolah, Eliza menurunkan Starla. Baru ketika ia mendongak, langkahnya terhenti.

Saba berdiri tak jauh dari gerbang. Memakai kemejanya biru langit. Senyumnya terukir sambil mengangkat tangannya, melambai kecil.

Starla melihat ke arah itu. Senyumnya muncul ragu-ragu, malu-malu.

“Pagi, Starla,” sapa Saba ceria. Saat menghampirinya.

“Pagi, om—” Starla berhenti. Alisnya mengernyit tipis. Ia menunduk, lalu melirik Eliza, seolah mencari izin.

Eliza tidak berkata apa-apa. Ia hanya tersenyum kecil, lalu mengusap kepala Starla dengan lembut, seolah bilang, nggak apa-apa.

Starla menarik napas. “Pagi,” ulangnya pelan.

Eliza berjongkok. “Baca doa dulu,” katanya lembut.

Starla mengangguk, memejamkan mata sebentar. Setelah itu, Eliza mengecup pipinya sebelum ia melangkah masuk kelas.

Saat nyaris menghilang di balik pintu, ia menoleh sekali lagi—ke Eliza. Lalu ke Saba. Eliza berdiri, senyum terulas di bibirnya.

Starla menghilang di balik pintu kelas. Suara anak-anak lain menyamarkan langkah kecilnya.

Eliza masih berdiri di sana. Baru ketika bel masuk berbunyi, ia berbalik. Dan hampir langsung bertabrakan dengan Saba.

"Eh!" Eliza terkejut, dia kira Saba tak berdiri di belakangnya.

“Maaf,” kata Saba duluan. Senyumnya tak sepenuh tadi. “Aku cuma ... Mau liat dia lebih lama. Takut kelewatan momen.”

Eliza mengangguk singkat. “Aku sudah bilang semalam,” ucapnya datar. “Starla masih perlu waktu menyesuaikan diri.”

“Iya. Aku ngerti.” Saba menghela napas, lalu menatap ke arah kelas. “Dia lucu ya.”

Eliza tidak menjawab. Tangannya sibuk merapikan tali tasnya sendiri.

“Aku nggak masuk kelas kok,” lanjut Saba cepat, seolah membaca kekhawatiran Eliza. “Cuma mau lihat dari jauh.”

“Besok jangan begini lagi,” kata Eliza akhirnya. Suaranya rendah, tapi tegas. “Aku nggak mau Starla kayak dipaksa menerima Anda.”

Saba mengangguk. Kali ini tanpa senyum. “Oke.”

Mereka berjalan menjauh dari gerbang. Sampai di ujung pagar, Eliza berhenti. “Nanti siang… kita ketemu sebentar aja. Di taman kecil dekat kosanku.”

Saba menoleh, matanya terang. “Ok. Aku bakal datang.” 

Eliza tidak membalas ekspresi itu. Ia hanya mengangguk, lalu melangkah pergi.

Siang hari, Starla keluar kelas paling akhir. Wajahnya tidak seceria pagi tadi. Tasnya diseret, bukan disampirkan.

“Ibu,” panggilnya pelan ketika melihat Eliza.

Eliza berjongkok. “Capek?”

Starla mengangguk. “Teman-teman cerita ayahnya yang mau jemput.”

Eliza merapikan pita rambutnya. “Starla sedih?”

Starla tidak langsung menjawab. Ia menatap sepatunya sendiri. “Aku bingung,” katanya jujur.

Eliza menggenggam tangannya. “Nggak apa-apa bingung. Tapi ... Starla suka nggak, punya ayah?" 

Starla diam beberapa detik. Dia mendongak ke Eliza lalu mengangguk pelan.

Masih ada ketakutan dalam dirinya, bahwa ayah akan memisahkannya dari ibu. Sebab di otak Starla, rumah ayah berbeda dengannya.

Mereka berjalan pulang pelan. Setelah makan siang, Eliza meminta Starla tidur siang dulu. Dirinya harus streaming kuliah.

Setelah Ashar. Di taman kecil dekat kos, Saba sudah menunggu di bangku. Kali ini tanpa melambaikan tangan. Ia hanya berdiri ketika melihat mereka.

Starla berhenti. Langkahnya ragu.

“Starla,” kata Saba lembut. “Om boleh duduk di sini?”

Starla menoleh ke Eliza.

Eliza mengangguk pelan. “Kalau Starla mau.”

Starla maju satu langkah. Duduk di ujung bangku, menyisakan jarak. Saba ikut duduk, tidak mendekat.

Beberapa detik berlalu. Tidak ada yang bicara.

“Aku suka gambar,” kata Saba tiba-tiba, sambil menunjuk krayon di tas Starla. “Dulu waktu kecil, aku sering gambar rumah.”

Starla melirik. “Rumah?”

Saba terdiam sejenak. Lalu mengangguk. “Iya.”

Starla memainkan jarinya, menunduk. “Aku juga bisa gambar rumah,” katanya lirih. "Tapi cuma ada aku dan ibu."

Deg. Saba membeku. Eliza menahan napas.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!