Aku Bukan Anak Haram - Starla
Menjauh
Eliza menatap amplop itu tanpa menyentuhnya.
“Untuk biaya hidupmu,” ujar Hasnawati tenang. “Atau… anggap saja kompensasi.”
Kompensasi. Kata itu membuat tenggorokan Eliza terasa pahit. “Saya tidak menjual kasih sayang,” jawabnya pelan.
Hasnawati mengangkat dagu sedikit. “Kamu tidak menjual apa-apa. Kamu hanya mundur. Demi kebaikan anak itu.”
“Eliza.” Suara Saba terdengar rendah dari dalam kamar. Ia berdiri tak jauh dari ranjang Starla, menatap dua perempuan itu dengan wajah lelah. “Maaa,” ucapnya pendek, peringatan terselubung.
Hasnawati tak menoleh. “Dia harus belajar lepas. Kamu juga tahu itu.”
Eliza menggenggam tasnya lebih erat. “Lepas itu proses bukan diputus paksa.”
Sorot mata Hasnawati sedikit menajam. “Dan kamu pikir terus berada di antara kami bukan memutus sesuatu?”
Hening menegang.
Di atas ranjang, Starla bergerak kecil. Semua refleks menoleh. Anak itu belum benar-benar bangun. Hanya bergumam pelan, mencari Eliza. “Ibu…”
Seketika dada Eliza seperti diremas. Kakinya hampir melangkah kembali ke sisi ranjang, tapi ia menahan diri.
Hasnawati menyodorkan lagi amplop itu, kali ini lebih dekat. “Ambil. Pergi dan jangan buat dia bingung memilih.”
Eliza menatap amplop itu lama. Lalu perlahan mendorong tangan Hasnawati kembali. “Saya tidak akan menghilang seperti itu.”
Saba memejamkan mata sebentar. “El…” suaranya serak. “Tolong… kita harus sama belajar.”
Eliza menoleh padanya. Ada lelah. Ada marah. “Terserah kalian,” jawabnya lirih.
Starla kembali terdiam, napasnya stabil. Ruangan itu terasa sempit meski luas. Terlalu banyak ego dan ketakutan. Hasnawati akhirnya menarik amplop itu kembali ke dalam tasnya.
“Kalau begitu,” katanya datar, “jangan salahkan kami kalau nanti benar-benar membatasi.”
Eliza menegakkan bahu. “Saya tidak pernah melawan kalian. Saya hanya menjaga anak itu.” Ia melangkah keluar sebelum air matanya jatuh di sana.
Saba tidak mengejar. Ia berdiri di sisi ranjang, menatap pintu yang tertutup perlahan. Di atas kasur, Starla bergerak lagi, tangannya mencari sesuatu di udara kosong. Saba duduk dan menggenggam tangan kecil itu.
“Maafkan ayah,” bisiknya.
Hasnawati tidak pernah benar-benar menarik niatannya. Sambil duduk di sofa, dia mengirim pesan pada orang kepercayaannya.
“Cari nomor rekening Eliza,” tulisnya singkat. “Yang biasa dipakai untuk gaji atau transfer honor.”
[“Baik, Nyonya.”]
Tak sampai satu jam, nomor itu sudah ada di tangannya. Hasnawati langsung mentransfer sejumlah uang yang sama dengan isi amplop tadi. Baginya, semua bisa diselesaikan dengan uang, bentuk kepastian paling konkret.
Saba tidak masuk kantor hari itu. Ia duduk di kursi samping ranjang rumah sakit sejak pagi. Kemejanya sudah berganti, tapi wajah lelahnya belum hilang.
Starla masih lemas, meski demamnya turun dan tak lagi mengigau. Ia lebih banyak diam.
Saba menyuapinya makan dengan canggung. “Sedikit lagi,” bujuknya pelan. Starla menurut, meski tanpa senyum.
*
Di kosan, Eliza duduk di tepi ranjang kamarnya. Notifikasi ponselnya berbunyi. Ia membukanya sekilas. Transferan masuk yang jumlahnya mencengangkan.
Tak perlu membaca keterangan, ia tahu dari siapa. Tangannya gemetar tipis. Harga diri dan luka bercampur jadi satu.
Hari itu juga, Eliza mengirim pesan ke bagian HRD kantornya—mengajukan cuti tahunan yang selama ini tak pernah ia ambil. Alasannya singkat : urusan pribadi.
Ia butuh menjauh untuk berpikir tanpa suara siapa pun di kepalanya.
Tiba-tiba, Bu Gendhis yang sudah ia anggap seperti orang tua sendiri, mengetuk pintunya petang itu.
“Mbak El, aku mau pulang kampung. Ada saudara hajatan di Solo. Semingguan mungkin.”
Eliza terdiam beberapa detik. Entah dorongan apa yang muncul tiba-tiba. “Saya ikut, Bu.”
Bu Gendhis tersenyum lebar. “Serius?”
Eliza mengangguk pelan. Mungkin ia tidak bisa mengatur nasib hidupnya, tapi setidaknya… ia bisa memilih untuk menjauh sejenak.
Bu Gendhis sempat melirik Eliza yang sejak tadi diam menunduk. “Starla gimana, Mbak El?”
Pertanyaan itu membuat napas Eliza tercekat. “Kayaknya… aku memang harus melepaskan diri dari mereka, Bu.” Suaranya lirih, hampir pecah. “Kalau terus ada, dia nggak akan pernah benar-benar bisa menerima keluarganya.”
Bu Gendhis tidak langsung menanggapi. Ia hanya menatap wajah Eliza yang pucat dan kehilangan.
“Menjauh demi kebaikan Starla,” lanjut Eliza, berusaha meyakinkan diri sendiri.
Perempuan paruh baya itu akhirnya mengangguk pelan. Lalu tanpa banyak kata, ia menarik Eliza ke dalam pelukannya.
Tangis yang sedari tadi ditahan pecah juga.
Eliza menangis sampai sesenggukan, bahunya bergetar hebat.
“Sabar… sabar, Mbak El…” bisik Bu Gendhis sambil mengusap punggungnya. Air matanya ikut jatuh. Ia teringat masa mengurus Starla sejak anak itu ditemukan dulu. Tak pernah terbayang ujungnya akan seperti ini—terpisah.
*
Beberapa hari setelah kondisi Starla membaik dan diperbolehkan pulang, anak itu mendadak merengek pulang ke kosan.
Hati Saba seperti diremat paksa. Namun ia mengangguk. “Baik.”
Mobil berhenti di depan bangunan kos sederhana itu. Starla turun lebih dulu, langkahnya kecil tapi cepat. Saba mengikutinya sampai ke depan pintu kamar yang sangat ia kenal.
Terkunci.
Starla memegang gagang pintu. Menggoyangkannya pelan. Tak bergerak.
“Ibu mana?” tanyanya tanpa menoleh, matanya sudah berkaca-kaca.
Saba menelan ludah. Ia mengetuk pintu kamar sebelah. Seorang penghuni keluar, tampak heran melihatnya.
“Maaf, Mbak Eliza ke mana ya?”
“Loh, nggak tahu, Pak. Sudah beberapa hari gak keliatan.”
“Bu Gendhis ada?” ulang Saba pelan.
“Mudik, tapi kapan baliknya juga nggak bilang.”
Starla berdiri diam di depan pintu itu. Tangannya masih menempel pada gagang, seolah berharap pintu akan terbuka kalau ia menunggu cukup lama.
“Ibu pergi?” tanyanya lagi.
Saba berlutut di sampingnya. “Mungkin… lagi ada perlu.”
Starla tidak menangis. Tidak marah. Ia hanya melepaskan gagang pintu dan berjalan kembali ke mobil tanpa bicara.
Sejak hari itu, rumah terasa berbeda. Starla tidak lagi merengek atau ngambek. Ia bangun pagi, mandi, makan, duduk, belajar—semuanya tanpa protes apalagi bersuara. Dia seperti robot kecil yang bergerak sesuai perintah.
Saba dan Hasnawati bergantian mencoba mengajaknya bicara. Tapi selalu tak ada jawaban. Tatapannya kosong. Senyumnya hilang.
Akhirnya, seorang psikolog anak dipanggil untuk datang ke rumah. Sesi demi sesi berlangsung. Starla duduk manis, menjawab seperlunya dan tidak memberontak.
Namun tetap… Hasilnya sama saja. Ia tetap diam. Kesehariannya hanya diisi satu hal, menggambar.
Di meja kecil dekat jendela, ia akan duduk berjam-jam dengan krayon warna-warni. Hampir semua kertasnya menampilkan sosok yang sama : perempuan berambut ikal panjang, dengan senyum lembut. Kadang ada gambar dirinya di samping sosok itu di depan rumah kecil. Tapi tak pernah ada Saba.
Suatu malam, Saba berdiri cukup lama di ambang pintu kamar sebelum akhirnya mendekat. Starla sedang menggambar lagi. “Ibu,” gumamnya pelan sambil mewarnai.
Saba duduk di sampingnya. Untuk beberapa detik, ia hanya memperhatikan. Lalu, dengan gerakan sedikit kaku, ia mengeluarkan sesuatu dari album.
Ia menyodorkannya perlahan ke hadapan Starla.
Deg. Starla berhenti menggambar. Matanya menatap foto itu lama.
.
.