Aku Bukan Anak Haram - Starla

Ganti nomor

“Ada apa ini?”

Suara itu menggantung di udara sore ruang guru.

Miss Rani yang tadi berlutut di depan Starla refleks berdiri. Kepala sekolah yang baru masuk, ikut menghentikan langkahnya.

Di ambang pintu, Hasnawati berdiri tegak. Tasnya tersampir rapi di lengan, sepatu haknya berhenti tepat di garis pintu. Tatapannya langsung tertuju ke Starla.

Starla yang masih memeluk tasnya spontan bangkit, menoleh ke arah neneknya.

Hasnawati mendekat. Ia tidak tersenyum, tapi tangannya terjulur merapikan poni Starla yang sedikit berantakan. Gerakannya lembut, kontras dengan sorot matanya yang dingin.

“Masuk mobil dulu sama Pak supir,” ujarnya pelan, hampir seperti bisikan. “Tunggu Nenek di sana.”

Starla menoleh sekilas ke Miss Rani. Guru itu mengangguk kecil memberi izin. Starla pun berjalan keluar dengan langkah pelan.

Setelah itu Hasnawati masuk dan menatap dua pendidik di hadapannya.

“Saya dengar sekilas tadi, cucu saya dipanggil dengan kata yang tidak pantas.”

Miss Rani meremas jemarinya sendiri. “Mohon maaf, Nyonya. Saya sudah bicara dengan anak-anak—”

“Starla punya ayah dan ibu lengkap,” potong Hasnawati, suaranya sedikit menegas. “Mamanya meninggal tepat saat dia lahir. Anak itu diasuh Eliza sejak bayi.”

Ia berhenti sejenak, memastikan tak ada yang menyela. “Kurasa penjelasan itu cukup. Bila suatu hari ada yang bertanya lagi.”

Kepala sekolah mengangguk cepat. “Tentu, Nyonya. Kami akan menegur—”

“Tidak perlu ditegur.” Hasnawati mengangkat dagu sedikit. “Panggil orang tuanya. Minta mereka ajari anaknya sopan santun.”

Ruangan kembali hening.

“Kami minta maaf,” ucap kepala sekolah akhirnya.

Hasnawati hanya mengangguk tipis, lalu berbalik. Langkahnya mantap keluar ruangan. Dari kaca, Starla terlihat duduk diam di kursi belakang mobil, menatap ke luar jendela.

***

Beberapa hari kemudian.

Bu Gendhis baru saja menurunkan tas dari pundaknya ketika melihat pintu kamar Eliza masih tertutup rapat. Rupanya Eliza belum pulang. 

Tiga hari setelah kepulangannya dari Solo, Eliza muncul, tapi wajahnya lebih tirus.

Dia sedang memilah barang, dimasukkan ke kardus-kardus yang berjejer di lantai. Bu Gendhis masuk tanpa banyak kata. Ia langsung membantu melipat pakaian kecil yang masih tersisa di lemari.

Sebuah sepatu mungil jatuh ke lantai.

Bu Gendhis memungutnya, menatap lama, lalu menyeka matanya dengan ujung kerudungnya yang sudah basah.

“Mbak El… yakin?”

Eliza bergeming. Sibuk memasukkan buku gambar ke dalam kardus. Lalu, tangannya berhenti sebentar.

“Aku pindah kos apa gimana, Bu?” ucapnya pelan, tanpa menatap.

Bu Gendhis tersentak. “Apa?” Ia menoleh cepat. “Lho… alasannya apa, Mbak?”

Eliza menarik napas dalam. “Biar Starla nggak nyariin aku ke sini. Kata tetangga… dia pernah datang malam-malam.” Suaranya nyaris tak terdengar.

Bu Gendhis terduduk di tepi ranjang. Tangannya menggenggam sepatu kecil tadi erat-erat. “Apa nggak ada jalan lain?” suaranya bergetar. “Aku ora duwe kanca, Mbak…”

Eliza menutup kardus dengan selotip. Suara rekatannya terdengar panjang dan menyayat.

“Barang-barang ini mau dikemanakan?” tanya Bu Gendhis lirih.

Eliza menatap dua kardus besar di depannya. “Untuk anak panti saja, Bu. Biar manfaat.”

“Tak simpen wae nggih?” pinta Bu Gendhis, memilah barang Starla.

Eliza menggeleng pelan. “Nanti aku makin nggak bisa pergi.”

Hening menggantung di antara mereka. 

Malam itu, setelah Bu Gendhis pulang ke rumahnya, Eliza duduk sendiri di lantai. Ponselnya menyala. Ia mengetik pesan ke atasannya. Meminta rolling. Jarinya sempat berhenti sebelum menekan tombol kirim, dan akhirnya tetap dikirim.

Keesokan paginya, dua kardus besar dan satu karung sudah berada di depan panti.

Anak-anak kecil berlarian mendekat. Ada yang memeluk kaki Eliza, ada yang menarik ujung tasnya.

Eliza tersenyum, tapi matanya sembab. Suster Nafa keluar dari dalam, langsung memeluknya erat. Dia tahu soal kisah Starla dari kepala panti sebab Hasnawati bercerita saat memberikan santunan bulanan.

Suster Nafa mengusap punggungnya. “Sabar ya, El.”

Eliza menggigit bibirnya agar tidak menangis di depan anak-anak. Ia melepas pelukan itu perlahan, lalu melangkah mundur. 

Eliza mengangguk pelan. “Maaf bila nanti karang ke sini. Aku pindah kerja.”

Suster Nafa mengangguk pelan, masih menggenggam tangan Eliza dan meremasnya hangat.

Tangannya lantas melambai kecil sebelum berbalik. Langkahnya cepat, seolah takut hatinya berubah.

Sore harinya, motor sudah menyala di depan kos. Ransel terpasang di punggungnya. Tote bag tergantung di setang. Bu Gendhis berdiri di teras, kedua tangannya saling menggenggam.

“Aku pamit, Bu,” kata Eliza, suaranya berusaha ringan. “Kosan tetap kubayar… takut kangen ke sini.”

Bu Gendhis mendekat dan langsung memeluknya lebih erat dari biasanya. Tangisnya pecah tanpa ditahan. “Sing ati-ati, Mbak…”

Eliza memejamkan mata dalam pelukan itu. Jemarinya mencengkeram punggung Bu Gendhis, seolah sedang menyimpan kehangatan terakhir.

“Masih bisa telepon dan ngobrol, Bu,” bisiknya. “Nanti aku kabari.” Eliza melepas pelukan itu perlahan.

Helm dipasang, tuas gas ditarik pelan. Motor melaju meninggalkan gang sempit.

Di kaca spion, bayangan Bu Gendhis masih berdiri di sana. Eliza tidak berani menoleh langsung. Karena ia tahu, sekali saja melihat ke belakang, mungkin tak akan sanggup melanjutkan perjalanan.

Malam yang sama di tempat berbeda.

Saba berdiri di dekat lemari, berhenti merapikan kemejanya. Ia menoleh pelan ke arah Starla yang menatap langit-langit kamar. Jarinya memainkan ujung selimut.

“Kalau aku nggak ada… apa semua orang akan bahagia?”

Dhuar.

Kemeja yang dipegang Saba jatuh ke lantai.

Ia tidak langsung menjawab. Dadanya seperti dipukul dari dalam.

“Apa maksudnya?” suaranya lebih pelan dari biasanya.

Starla menoleh sedikit. “Semuanya pergi.” Ia menghitung dengan jari kecilnya dan menarik selimut sampai ke dagu. “Kalau aku juga pergi… mungkin nggak ada yang sedih.”

Saba melangkah cepat ke ranjang. Lututnya menyentuh tepi kasur. Tangannya terangkat seperti ingin memegang, tapi ragu sedetik. Akhirnya ia duduk.

“Starla.” Suaranya berat.

Ia memegang kedua pipi anak itu, mengangkat wajahnya perlahan agar mata mereka sejajar. “Lihat Ayah.”

Starla berkedip pelan.

“Kalau kamu nggak ada…” napasnya tertahan. Ia menelan ludah, jakunnya bergerak jelas. “Ayah yang paling sedih di dunia.” Tangannya gemetar, jadi ia mengalihkan satu tangan ke rambut Starla, mengusapnya pelan.

“Kamu itu alasan Ayah pulang setiap hari.”

Starla menatapnya, masih polos. “Tapi ibu pergi…”

Saba memejamkan mata sepersekian detik. Lalu ia menarik Starla ke dalam pelukan, takut kehilangan.

Dagu Saba menempel di ubun-ubun Starla. Napasnya berat. “Ibu pergi bukan karena kamu,” tuturnya pelan, “Bukan karena kamu salah.”

Starla diam. Saba mundur sedikit, lalu mencium keningnya lama.

“Ayah di sini,” ucapnya tegas. Tangannya kini menggenggam tangan kecil Starla dan meletakkannya di dadanya sendiri. “Rasain? Ini degupnya buat Starla.”

Starla mendengarkan dan tidak berkata apa-apa. 

Saba tetap duduk di tepi ranjang bahkan setelah Starla memejamkan mata. Tangannya tidak dilepas. Sampai akhirnya genggaman kecil itu mengendur sendiri.

Setelah Starla tertidur, Saba berdiri pelan.

Ia membungkuk, mencium keningnya sekali lagi. Tangannya merapikan rambut kecil yang menempel di pipi.

Dia keluar kamar, menutup pintu tanpa bunyi. Begitu sendirian di lorong, Saba menyandarkan punggung ke dinding. Kedua tangannya menutup wajahnya sebentar.

Sejurus itu, ponselnya bergetar. Foto Julia muncul di layar. Rahang Saba mengeras. Jarinya mencubit pangkal hidungnya sendiri, seperti mencoba menahan pening.

Ia memperbesar foto itu. Menggeser. Membaca bukti transfer. Tangannya mengepal. Namun detik berikutnya, yang muncul justru wajah Eliza.

Saba menghembuskan napas panjang dan membuka chat Eliza. Jempolnya sempat berhenti sebelum menekan panggil.

Dering pertama. Terputus.

Saba menatap layar. Alisnya menyatu. Ia mencoba lagi dan ... langsung gagal tersambung.

Tangannya turun pelan. Ia berjalan ke jendela ruang tengah, membuka tirai sedikit, menatap halaman kosong.

“Jangan ikut pergi juga, El…” gumamnya pelan.

Ia lantas menekan nomor Albana. Selama menunggu sambungan, ia mondar-mandir kecil. Tangannya bertolak di pinggang. Lalu menyisir rambutnya ke belakang dengan frustrasi.

"Halo."

“Apa Eliza pergi dari kosan?”

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!