Aku Bukan Anak Haram - Starla

Gadunnya Eliza

Pintu depan terbuka tanpa ketukan. Julia masuk dengan langkah ringan, tatapannya langsung jatuh pada Starla yang berdiri setengah bersembunyi di balik tubuh Saba.

Bibirnya terangkat tipis. “Masih miara anak pungut ini?”

Starla refleks memeluk pinggang Saba lebih erat.

“Julia,” suara Saba langsung mengeras, “jaga ucapanmu.”

Julia mendengus pelan. Ia melangkah lebih dekat, sengaja memutari meja makan.

“Kamu tetap pilih dia? Dan gadis panti itu?” Tatapannya tajam. “Dibanding perusahaan ini… dan aku?”

Saba berdiri tegak. Satu tangannya tetap di kepala Starla, seolah menghalangi pandangan Starla.

“Jangan bicara soal pilihan padaku.” Nada Saba tenang, tapi tegas.

Julia tertawa kecil. “Selingkuhanmu itu kabur, Sab. Kena mental. Ingusan kok mau main di ranah atas.” Ia menggeleng pura-pura iba.

Saba diam. Rahangnya menegang.

Julia mendekat lagi, suaranya diturunkan, tapi lebih kejam. “Heh… anak haram. Balik sana ke kosan kumuh.”

“Julia!” Saba menggeram. Dia menangkap lengan Julia dan mendorongnya menjauh membuat tubuh Julia terhuyung setengah langkah.

Starla tersentak.

Julia justru tersenyum sinis. Ia menoleh ke Starla. “Lihat? Ayah angkatmu kasar padaku.”

Starla makin bersembunyi di balik badan Saba.

“Ngapain kamu pulang, huh?” suara Saba kini lebih rendah, diikuti sorot mata tajam.

Julia merapikan lengannya yang tadi ditarik. “Eh, siapa juga yang pulang?” Ia mengangkat alis. “Aku cuma mau ambil uangku. Mana?”

Saba menatapnya tanpa ekspresi. “Uang apa?”

“Jangan pura-pura lupa. Sahamku. Hakku. Kamu pikir aku akan diam setelah kamu singkirkan aku dari rumah ini?”

Sunyi sesaat.

Saba menghela napas pendek. “Pembagian saham ada prosedurnya.”

“Aku nggak peduli prosedur.” Julia melangkah lebih dekat, berbisik tajam. “Kamu masih belum sadar ya? Rumor itu baru pembuka.”

Saba bergeming, tak berkedip.

Julia menepuk pelan dada Saba dengan ujung jarinya. “Kalau aku jatuh, kamu aku tarik bareng.”

Starla mendongak, matanya mulai berkaca-kaca. Saba langsung mengangkatnya ke dalam gendongan.

“Keluar,” ucapnya tegas.

Julia tersenyum tipis. “Kita lihat siapa yang keluar duluan dari permainan ini.”

Ia berbalik, langkahnya tetap tenang sampai pintu tertutup.

Hening.

Napas Saba terdengar berat.

Starla menggenggam kerah kemejanya. “Ayah…”

Saba memejamkan mata sesaat, lalu membuka lagi. Tangannya mengusap rambut Starla pelan. “Nggak apa-apa.”

Suasana masih tegang saat ponselnya bergetar. Nama Albana muncul di layar. Saba menatap pintu yang baru saja ditutup Julia, lalu mengangkat panggilan.

“Ya.”

“Bos, screenshot sudah kami kumpulkan. Pengirim pertama pakai nomor baru. Tapi fotonya asli. Diambil dari jarak jauh.”

Saba menatap kosong ke depan. “Besok kita rapat darurat.”

“Dengan direksi?”

“Iya.” Ia mengencangkan pelukannya pada Starla. “Kalau mereka mau perang, kita mainkan aturan.”

Panggilan terputus.

Saba menatap anak di pelukannya. “Ayah antar kamu sekolah ... Ayo, Sayang.”

Lalu perlahan, ia melangkah menuju pintu. Untuk pertama kali, Saba merasa harus ikut mengurus Starla langsung. Terlibat aktif di segala aktivitasnya.

***

Toko baru itu jauh lebih besar. Lampunya terang. Musik pelan mengalun dari speaker. Orang-orang lalu-lalang, struk tercetak hampir tak pernah berhenti.

Eliza berdiri di balik meja kasir. Senyumnya semringah. “Terima kasih, Kak.”

Tangannya cekatan, tapi matanya lelah. Kuliah malam. Kerja pagi kadang siang. Pulang ke kos, baca materi sebentar atau ikut kelas online pagi, lalu tertidur tanpa sadar.

Begitu saja, berulang setiap hari. Ia pikir pindah kota akan membuat hidupnya lebih tenang, nyatanya sama saja, malah lebih sepi.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar di saku celana. Eliza menepi ke dekat rak gudang kecil.

“Ya, Pak?”

Hening sepersekian detik di seberang. “El… kamu hamil?” suara Indra, atasannya di toko lama. Dia yang membantu kepindahan Eliza.

Eliza membeku. “Hah?” Ia refleks menegakkan badan. “Hamil apa, Pak?”

Tak ada jawaban dari Indra, sebaliknya, notifikasi pesan masuk, sebuah screenshot. Lalu sambungan telepon terputus.

Eliza menatap layar ponselnya. Membaca tangkapan layar dari Grup WhatsApp karyawan toko lama.

Teks panjang. Emoji tertawa bertebaran karena salah seorang di sana menyindirnya dengan kalimat lelucon sarkas.

Dan di bawahnya, Foto siluet seorang pria berdiri di depan toko. Dalam pikiran Eliza, itu jelas Saba.

Captionnya kasar. "Gadun yang bikin Eliza hamil."

Tangannya mulai dingin. Ia membuka media sosial lain. Aman, tidak ada berita viral soal dirinya.

Dadanya masih naik turun. “Ini cuma gosip,” gumamnya pelan. Ia kembali bekerja, seolah kejadian barusan tak pernah ada.

*

Keesokan harinya, saat masuk kerja, suasana terasa berbeda. Dua pegawai lama toko baru, ada di sana, bersandar di salah satu rak.

Tatapan mereka aneh, senyum tipis diikuti bisik-bisik yang terhenti saat ia lewat.

Eliza pura-pura tidak peduli. Tapi pikirannya kemana-mana saat menyusun barang di rak. Ia celingukan lalu masuk ke gudang dan langsung menekan nomor Indra.

“Pak.”

“Iya.”

“Itu gosip dari mana?”

Hening sebentar.

“Kamu hamil, El?” ulang Indra.

Eliza memejamkan mata. “Mana ada, Pak. Sama siapa lagian?”

Napas Indra terdengar berat. “Foto sama video baru beredar pagi ini.”

“Apa lagi?”

“Ada foto kamu sama Starla. Sama pria itu. Lebih jelas.”

Eliza menelan ludah.

“Dan satu lagi…” suara Indra melemah, “foto resepsi pernikahan pria itu. Sama istrinya.”

Deg.

Resepsi Saba dan Julia. Lalu di sebelahnya, foto Eliza memeluk Starla.

Narasinya kejam : Selingkuhan. Hamil. Mengincar harta.

Eliza bersandar ke dinding gudang. Lututnya terasa lemas.

“Kok kamu jadi gini, El?” suara Indra berubah seperti nada kecewa. “Kamu butuh uang atau apa? Kan aku sudah pernah menawarkan bantuan. Kalau Starla butuh ayah, kamu nggak harus segininya.”

Indra memang menaruh suka pada Eliza. Dia juga bersedia menjadi ayah sambung bagi Starla, dengan menikahi Eliza agar hak asuh Starla tetap pada Eliza.

Tapi Eliza ragu. Saat itu, dia sudah tahu jika Saba mulai mendekat. Pernikahan tanpa cinta berdalih melindungi Starla tetap akan kalah secara hukum meski mereka mengadopsi secara resmi sebab orang tua kandung Starla masih hidup dan berkecukupan.

Eliza perlahan membuka mata. “Oh,” suaranya pelan tapi tajam, “jadi Bapak percaya?”

Sunyi.

Indra tidak langsung menjawab. Hanya terdengar hela napas berat. 

Eliza menggigit bibirnya sendiri, menahan sesuatu yang naik ke tenggorokan. “Bapak juga pikir saya sengaja?” lanjutnya, napasnya mulai tidak stabil. “Sengaja cari pria beristri? Sengaja hamil?”

“El, saya cuma—”

“Bapak pikir saya segampang itu?” Tangannya mencengkeram ponsel sampai buku jarinya memutih.

Di luar gudang, suara pintu toko berdenting beberapa kali. Pelanggan masih hilir mudik.

“Kalau saya memang hamil,” suaranya lebih pelan sekarang, hampir bergetar, “apa itu otomatis berarti saya murahan?”

Tak ada jawaban.

Eliza menghapus air matanya cepat sebelum jatuh. “Saya kerja, kuliah dan tidur cuma tiga jam sehari. Itu yang saya lakukan.”

Hening panjang.

Indra akhirnya bicara pelan. “Kalau ini gosip… kamu harus siap, El.”

Eliza menutup mata lagi. Ia tahu dan memutus telepon. Lalu berdiri diam beberapa detik, menarik napas panjang.

“El!”

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!