Aku Bukan Anak Haram - Starla
Atelier 28
“Boleh liat CV-mu?”
Deg.
Degup jantung Eliza seperti menurun. Tangannya yang masih memegang map cokelat itu mengencang tanpa sadar. Ujung kukunya menekan kertas di dalamnya.
“Iya, Bu…” jawabnya pelan. Ia menyerahkan map itu dengan dua tangan. Jemarinya sedikit berkeringat dingin.
Ibu kos membuka halaman pertama sambil berdiri di teras. Angin siang mengibaskan sudut kertas. Mata tuanya membaca perlahan riwayat pendidikan, pengalaman kerja di retail, sertifikat pelatihan kasir.
“Hmm…” gumamnya pelan, menimbang CV Eliza.
Eliza berdiri tegak. Ia tidak berani duduk sebelum dipersilakan. Pandangannya jatuh ke lantai semen yang baru disapu.
“Dulu kerja di toko besar ya?” tanya ibu kos tanpa menoleh.
“Iya, Bu.”
“Keluar kenapa?”
Pertanyaan itu seperti jarum kecil yang menusuk tepat di bekas luka. Eliza menarik napas pelan. Ujung jarinya saling meremas.
“Kontrak selesai,” jawabnya singkat.
Tidak sepenuhnya bohong. Tapi tidak juga menjelaskan kasus sebenarnya.
Ibu kos menatapnya lama. Seperti membaca sesuatu yang tidak tertulis di kertas CV itu. Matanya turun ke wajah Eliza yang masih sedikit sembab meski sudah ditutup bedak tipis.
“Kalau kerja pulang malam, kamu berani?”
Eliza mendongak. Ada sedikit cahaya muncul di matanya. “Berani, Bu.”
“Kami punya usaha. Baru dua tahun buka. Bulan puasa ini pelanggan lumayan banyak. Anak saya sering di luar kota.” Ia menutup map itu pelan. “Kalau mau, bantu-bantu dulu. Gajinya nggak besar.”
Eliza menelan ludah. Bukan soal besar kecilnya. Yang ia butuhkan adalah kesempatan.
“Saya mau, Bu," jawabnya cepat.
Ibu kos tersenyum tipis. Beliau bilang nanti sore anaknya akan ke sini. Dia meminta Eliza bersiap untuk bertemu dengannya.
“Nanti sore pakai baju yang rapi, anak saya yang bungsu ini apik soal penampilan.
“Iya, Bu.”
Eliza menerima kembali map CV-nya. Tangannya sudah tidak segemetar tadi.
Sore itu udara sedikit berdebu. Matahari turun perlahan, menyisakan cahaya keemasan di halaman kos.
Eliza duduk tegak di teras bersama ibu kos. Blus putihnya disetrika rapi. Rambut ikal itu diikat rendah, wajahnya hanya diberi bedak tipis. Tangannya saling menggenggam di pangkuan, menahan gugup.
Suara mesin mobil terdengar halus sebelum akhirnya berhenti. Mercedes GLS hitam itu parkir presisi.
Pintu terbuka.
Sepatu kulit menginjak paving. Langkahnya tenang. Kemeja slim fit warna gelap membungkus tubuh tegapnya. Jam tangan metal berkilat samar terkena cahaya sore.
Eliza menelan ludah.
Pria itu menutup pintu mobil, lalu sorot matanya langsung menangkap sosok Eliza yang duduk di samping ibunya. Tatapannya tajam, lalu melunak saat beralih pada wanita tua di sebelah Eliza.
“Maa…” suaranya rendah, lembut, kontras dengan pembawaannya yang tegas.
Ibu kos tersenyum lebar. “Macet?”
“Lumayan.” Ia mencium punggung tangan ibunya singkat sebelum duduk. Baru setelah itu, matanya kembali ke Eliza.
Hening sesaat.
Eliza refleks menunduk sedikit. Jemarinya makin erat menggenggam ujung blus.
“Ini yang Mama bilang?” tanyanya datar.
“Iya. Namanya Eliza. Lagi cari kerja. Pengalaman retail ada.”
Pria itu mengangguk kecil. Menyandarkan punggung, menautkan kedua tangan di depan dada. “Pernah jadi kasir café?”
“Belum. Tapi pernah pegang mesin EDC dan sistem POS, Pak.” Suara Eliza stabil, meski degup jantungnya tidak.
“Panggil saya Arka.”
Nada bicaranya profesional. Arka memperhatikan detail kecil, sepatu Eliza bersih, kuku pendek rapi, tidak ada cat mencolok, rambut tidak berantakan.
“Di Atelier 28 saya nggak suka drama. Datang tepat waktu. Jujur. Dan penampilan bersih.” Tatapannya lurus, tidak berkedip. “Bisa?”
Eliza mengangguk mantap. “Bisa.”
“Kerja shift sore sampai malam. Mahasiswa biasanya ramai habis maghrib. Apalagi pas jelang buka puasa.” Ia berhenti sebentar, seperti menimbang sesuatu. “Karyawan lama keluar mendadak. Jadi saya butuh cepat.”
Eliza tahu, itu artinya ia juga bisa dikeluarkan cepat jika tidak sesuai. “Siap, Pak—Arka.”
Sudut bibir Arka bergerak tipis. Hampir seperti senyum, tapi tertahan. “Mama yang rekomendasiin. Jadi saya coba percaya dulu.”
Kalimat itu sederhana, tapi ada beban di dalamnya. Eliza mengangguk lagi, kali ini lebih pelan.
Di dalam dirinya, ada sesuatu yang berbeda dari wawancara-wawancara sebelumnya. Bukan terintimidasi. Tapi… diperhatikan.
Arka berdiri. “Besok ikut saya ke café. Lihat situasi dulu. Kalau cocok, langsung mulai.”
Ia melirik ibunya sebentar. “Maa, aku balik lagi nanti malam. Ada meeting online.”
“Hati-hati. Minum vitamin jangan lupa,” tegur ibunya.
Arka hanya tersenyum tipis, lalu melangkah kembali ke mobilnya.
Saat mesin mobil menyala dan kendaraan itu keluar dari halaman, Eliza baru sadar ia sedari tadi menahan napas. Ia menghembuskannya perlahan.
Ibu kos menepuk pahanya lembut. “Anak saya yang ini memang kelihatannya dingin. Tapi hatinya nggak sekeras mukanya.”
Eliza tersenyum kecil, tidak tahu apakah ini awal hidup yang mulai membaik atau sebaliknya. Tapi setelah semua kekacauan itu, dirinya punya pekerjaan lagi.
***
Hari pertama Eliza di Atelier 28 dimulai dengan aroma kopi yang lebih pekat dari yang pernah ia hirup sebelumnya.
Pintu kaca ditutup pelan di belakangnya. Denting lonceng kecil berbunyi singkat. Ruangan itu tidak besar, tapi terasa hangat. Dindingnya didominasi cokelat tua dan hitam doff. Meja kayu solid berjarak rapi. Tidak ada dekor berlebihan. Semua pas.
Di belakang bar, Arka sudah berdiri. Kemeja hitamnya digulung sampai siku. Apron gelap terikat bersih. Tangannya bergerak tenang menakar biji kopi sebelum masuk ke grinder. Suara mesin itu tajam, berputar cepat, lalu berhenti mendadak.
“Datang jam berapa tadi?” tanyanya tanpa menoleh.
“Empat kurang lima, Pak.”
“Bagus.”
Hanya itu.
Eliza berdiri sebentar, menunggu instruksi. Ia belum tahu harus memegang apa, harus berdiri di mana. Tubuhnya terasa kaku.
Arka menunjuk rak gelas. “Hafalin ukuran cup. Bedain untuk manual brew sama latte. Jangan sampai ketukar.”
Eliza mengangguk cepat. Tangannya menyentuh satu per satu gelas bening itu. Ada yang ramping tinggi, ada yang lebar pendek. Semua mengilap, tidak ada noda sidik jari.
Sore menjelang maghrib, pelanggan mulai berdatangan.
Mahasiswa. Pasangan muda. Dua perempuan yang duduk dekat jendela dan sesekali melirik ke arah bar.
Eliza membantu di kasir. Jari-jarinya sempat salah pencet sekali. Arka tidak memarahi. Hanya mendekat dan membetulkan dengan satu gerakan cepat.
“Pelan. Jangan panik,” katanya singkat. Tidak ada nada tinggi, tapi cukup membuat Eliza ingin lebih hati-hati.
Waktu berjalan lebih cepat dari dugaannya.
Menjelang malam, suara obrolan memuncak. Uap susu berdesis. Sendok beradu dengan cangkir. Aroma espresso bercampur manisnya caramel syrup.
Eliza mulai hafal alur, tahu kapan harus bergerak tanpa disuruh. Dan tanpa sadar, ia menikmati ritmenya.
Lewat pukul sebelas, café mulai lengang.
Kursi kosong bertambah. Meja-meja yang tadi penuh kini hanya menyisakan dua atau tiga tamu. Lampu utama diredupkan sedikit. Nuansanya berubah. Lebih hangat sedikit sunyi.
Eliza sedang mengelap meja dekat panggung kecil di sudut ruangan ketika Arka keluar dari balik bar membawa gitar listrik hitam mengilap.
Ia duduk di bangku tinggi, menyampirkan strap di bahu, lalu memetik satu nada.
Suara itu bersih. Jernih. Mengalun pelan memenuhi ruangan yang sudah setengah kosong.
Spotlight kecil menyala. Cahayanya jatuh tepat di bahu dan garis rahangnya.
Eliza berhenti mengelap.
Arka yang tadi tegas kini terlihat berbeda. Matanya terpejam sesaat saat jari-jarinya bergerak lincah di fret. Seperti seseorang yang tahu persis apa yang ia mainkan.
Beberapa pelanggan yang tersisa menoleh. Ada yang tersenyum atau diam menikmati.
Eliza berdiri di sisi ruangan, merasa seperti sedang melihat sesuatu yang bukan untuk umum.
Lagu itu selesai tanpa tepuk tangan meriah. Hanya gumaman kecil dan anggukan puas.
Arka menurunkan gitar, lalu kembali ke bar seperti tidak terjadi apa-apa.
Hampir tengah malam ketika pintu café dikunci. Eliza dan satu barista lain membantu menyusun kursi. Tubuhnya lelah, tapi hatinya ringan.
Arka berdiri di sampingnya, membuka ponsel.
“El."
.
.