Aku Bukan Anak Haram - Starla

Arka kepo

Jarinya perlahan meremas kertas itu sampai sudutnya kusut. Eliza menunduk sebentar, menarik napas, lalu mengangkat wajahnya lagi.

“Saya…” suaranya hampir tak terdengar, berhenti sesaat seolah kalimatnya tersangkut di tenggorokan.

Arka tidak menyela, hanya berdiri di sana, menunggu. Tatapannya tetap tenang, tapi cukup tajam untuk membuat Eliza merasa tak bisa mengelak dengan jawaban setengah-setengah.

Eliza menelan ludah. “Saya tidak berniat bawa apa-apa ke sini.”

Sunyi sejenak.

Arka masih menatapnya, seolah menimbang sesuatu yang akan diucapkannya. 

Di luar, satu kursi diseret pelanggan terakhir yang hendak pulang. Suaranya bergesek pelan di lantai.

“Berniat atau tidak,” kata Arka akhirnya, pelan, “itu dua hal berbeda.”

Eliza menggenggam struk itu lebih erat.

Arka melanjutkan, suaranya tetap datar, tidak menghakimi. “Café ini kecil. Kalau ada orang kerja sambil menyembunyikan sesuatu … biasanya kelihatan.”

Eliza tidak langsung menjawab. Ia menunduk sebentar, lalu berkata pelan, “Saya cuma butuh tempat kerja yang tenang.” 

Sunyi kembali turun di antara mereka. Arka diam. 

Beberapa detik berlalu, Arka menarik napas pendek, seolah sudah membuat keputusan kecil di kepalanya.

“Besok datang lagi di jam yang sama,” katanya sambil melangkah menuju bar. “Kita rapikan alur kasirnya.” Nada suara Arka kembali datar seperti biasa.

Eliza mengangkat kepala, sedikit terkejut.

Arka sudah setengah berbalik ketika ia menambahkan, “Dan kalau kamu punya sesuatu yang bisa mengganggu kerja di sini…” Ia berhenti sebentar, lalu menoleh sedikit ke arah Eliza. “Katakan dari awal.”

Arka kemudian berjalan kembali ke balik bar, mulai membereskan peralatan seolah percakapan itu sudah selesai.

Eliza berdiri diam beberapa saat setelah Arka pergi. Baru ketika pintu dapur di belakang bar tertutup, ia mengembuskan napas yang sejak tadi ditahannya.

Tangannya masih memegang struk yang kusut. Ia meratakannya perlahan di meja kasir, mencoba membuat kertas itu kembali rapi meski bekas lipatannya tetap terlihat.

Café benar-benar tutup setengah jam kemudian.

Lampu utama dimatikan satu per satu. Hanya lampu bar yang masih menyala redup saat para karyawan pulang.

Eliza mengambil tasnya dari loker kecil di belakang. Saat ia keluar ke area café, Arka masih di sana, berdiri di belakang bar, memeriksa catatan penjualan di tablet POS.

Eliza ragu sejenak. “Pak… saya pulang dulu.”

Arka mengangkat pandangannya sebentar. “Ya. Hati-hati.”

Eliza mengangguk kecil lalu keluar.

Bel pintu café berdenting pelan ketika ia menutupnya dari luar.

Malam di jalan itu sudah jauh lebih sepi. Lampu toko-toko lain sebagian besar sudah padam. Eliza menarik gas motornya menjauh tanpa menoleh lagi.

Di dalam café, Arka masih berdiri di tempat yang sama. Beberapa menit berlalu sebelum ia kembali melihat layar tablet.

Daftar transaksi malam itu masih terbuka. Nama Eliza tercatat di setiap pesanan.

Arka menggeser layar itu pelan, lalu menutup aplikasinya. Tatapannya bergeser ke arah pintu kaca tempat Eliza tadi keluar. Lalu mematikan lampu bar terakhir.

Besok pasti tetap ramai. Tapi cara Eliza menjawab tadi membuat Arka yakin pada satu hal. Perempuan itu tidak datang hanya membawa kebutuhan kerja. Ada sesuatu yang lain.

Café menjadi jauh lebih sunyi tanpa suara mesin kopi dan percakapan pelanggan. Hanya dengung kecil kulkas di sudut dapur yang masih terdengar.

Rutinitas penutupan café hampir selalu sama setiap malam. Biasanya ia tidak banyak berpikir, tapi malam ini berbeda.

Arka berjalan ke ruang kecil di belakang, kantor yang juga berfungsi sebagai tempat menyimpan dokumen karyawan. Lampu dinyalakan. Cahaya putih tipis jatuh ke meja kayu yang dipenuhi map.

Ia menarik satu laci. Map-map karyawan tersusun rapi di dalamnya. Nama mereka ditulis dengan spidol hitam di bagian atas. Arka tidak langsung mengambil apa pun. Tangannya berhenti sebentar di atas tumpukan itu, seolah masih mempertimbangkan sesuatu.

Arka menggeser beberapa map sampai menemukan satu nama dan menariknya keluar.

Map itu tidak tebal. Hanya beberapa lembar kertas: fotokopi KTP, formulir lamaran kerja, dan satu lembar CV sederhana.

Arka membukanya pelan. Riwayat pekerjaan Eliza tidak panjang. Rupanya dia langsung mendapatkan pekerjaan sebagai kasir setelah lulus SMK.

Matanya bergerak turun ke bagian alamat. Sebuah panti asuhan.

Arka berhenti membaca, alisnya terangkat sedikit tapi ekspresinya tidak berubah banyak. Hanya ada kerutan kecil di dahinya.

Ia membaca ulang alamat itu sekali lagi, memastikan dirinya tidak salah lihat. Arka menutup map itu perlahan.

Pikirannya sempat melintas pada beberapa kemungkinan. Tapi Arka malah memasukkan kembali map itu ke dalam laci, tepat di tempat semula.

Arka mematikan lampu ruang kantor, lalu berjalan keluar.

Café sudah gelap seluruhnya. Hanya cahaya lampu jalan yang masuk lewat kaca depan.

Ia berdiri sebentar di dekat pintu.

Rasa penasaran itu tetap ada. Tapi Arka terbiasa dengan satu prinsip sederhana sejak membuka café ini. "Hal-hal yang tidak ingin seseorang ceritakan… biasanya punya waktu sendiri untuk terungkap."

Ia mengunci pintu depan, lalu berjalan ke mobilnya. Besok pagi café akan kembali buka seperti biasa. Dan untuk saat ini, rasa ingin tahunya sudah cukup.

***

Tiga pekan berlalu tanpa kejadian berarti.

Ritme café berjalan seperti biasa. Pagi yang tenang, sore yang mulai ramai, malam yang penuh suara grinder, uap susu, dan obrolan pelanggan.

Eliza mulai hafal semuanya. Urutan tombol di POS. Cara Arka menyusun cangkir di rak. Waktu yang tepat untuk mengisi ulang gula di meja.

Bahkan tanpa melihat, ia sudah tahu kapan barista membutuhkan cangkir bersih atau pesanan akan selesai. Mereka tidak banyak bicara, tapi mulai memiliki ritme yang sama.

Semuanya berjalan tenang. Sampai sore itu.

Café sedang cukup ramai. Beberapa pelanggan datang untuk meeting kecil. Empat orang duduk di meja panjang dekat jendela.

Eliza berdiri di kasir ketika salah satu dari mereka mendekat.

Eliza baru saja membuka mulut untuk bertanya pesanan ketika pemesan itu tiba-tiba terdiam. Matanya membesar. “El?”

Eliza membeku sepersekian detik.

Pria itu tersenyum lebar, hampir tidak percaya. “Alhamdulillah… akhirnya ketemu lagi.” Nada suaranya penuh kelegaan. “Kamu ganti nomor, El?” katanya cepat. “Kemana aja sih?”

Eliza menahan napas sebentar sebelum menjawab. “Lama nggak ketemu, Pak Indra.”

Senyumnya tipis.

Indra terlihat terlalu senang karena menemukan seseorang yang lama hilang. “Serius, kamu kemana aja? Aku sempat cari—”

“Pesanannya, Pak?” Eliza memotong pelan.

Indra berhenti bicara, baru sadar mereka sedang berdiri di depan kasir café. “Oh, iya. Iya," kekehnya lalu menyebutkan pesanan untuk dirinya dan tiga temannya.

Di balik bar, Arka sedang menimbang biji kopi, tapi telinganya jelas menangkap percakapan itu. Sapaan yang terlalu akrab.

Eliza selesai mencatat pesanan. “Sebentar ya, Pak.” Ia menyerahkan struk ke arah bar

“Pesanan mereka, El?” Suara Arka datar seperti biasa, berdiri tegak di depan mesin kopi, apron hitam masih terikat rapi. Tangannya sudah mulai menakar espresso.

Eliza hanya mengangguk lalu bergerak ke sisi bar untuk membantu mengambil cangkir-cangkir yang sudah Arka keluarkan dari rak. Arka menggeser pitcher susu ke arahnya tanpa melihat. 

Gerakan mereka rapi. Dari meja dekat jendela, Indra memperhatikan semuanya. Ada sesuatu yang terasa… terlalu sinkron untuk sekadar partner baru.

Beberapa menit kemudian, pesanan selesai.

Eliza mengantarnya ke meja.

Meeting kecil itu berlangsung hampir satu jam. Suara mereka kadang naik, kadang turun, bercampur dengan musik lembut café.

Menjelang magrib, mereka mulai berkemas.

Indra berjalan terakhir ke kasir untuk membayar. “El,” sebutnya pelan.

Eliza menatapnya.

Indra menurunkan suaranya lagi. “Kita bisa ngobrol sebentar? Di luar mungkin.”

Eliza sudah tahu arah pembicaraan itu. Ia menggeleng kecil. “Maaf, Pak.”

Indra terlihat bingung. “Maaf?”

“Aku sudah melupakan itu.”

Indra terdiam beberapa detik. Ada banyak hal yang sepertinya ingin ia katakan, tapi akhirnya ia hanya menarik napas panjang. “Ya sudah,” katanya pelan lalu kembali ke teman-temannya.

Beberapa menit kemudian mereka semua keluar dari café. Bel pintu berdenting pelan ketika pintu tertutup kembali.

Suasana kembali seperti biasa. Arka berdiri di depan mesin kopi, membersihkan portafilter.

Eliza sedang merapikan struk di kasir ketika suara Arka terdengar dari arah bar.

“Dia siapa?”

 .

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!