Aku Bukan Anak Haram - Starla
Ghosting
Eliza mengangkat kepala, ujung kertas itu masih berada di antara jemarinya.
“Teman lama,” jawabnya singkat.
Arka tidak langsung menanggapi. Ia masih menghadap mesin kopi, mengetuk portafilter pelan untuk menjatuhkan sisa bubuk. Bunyi logam kecil itu terdengar lebih jelas di café yang mulai sepi.
“Teman… atau atasan?” tanyanya lagi, nada suaranya tetap datar.
Eliza terdiam sepersekian detik. Ia menurunkan pandangannya, merapikan tumpukan struk itu sekali lagi meski sebenarnya sudah rapi. “Pernah kerja bareng,” katanya singkat.
Arka mengangguk, nyaris tak terlihat. Ia membilas alat di bawah air mengalir, lalu mematikan keran.
Sepi beberapa detik berlalu sebelum Arka berbicara lagi.
“Dia nyari kamu."
Eliza menarik napas pelan. “Mungkin.”
Arka mengambil lap kering, mengelap tangannya. Kali ini ia menoleh sedikit ke arah kasir. Tatapannya tidak tajam, tapi malah membuat Eliza merasa sedang diamati.
“Dan kamu menghindar.”
Eliza diam, tidak menyangkal.
Di luar, suara azan magrib mulai terdengar samar dari kejauhan, menembus kaca café yang tertutup.
Eliza menelan ludah. “Saya nggak mau bawa kisah itu ke sini," ujarnya lebih pelan dari sebelumnya.
Arka menatapnya beberapa detik lebih lama, lalu ia mengangguk lagi. “Bagus.”
Ia kembali ke pekerjaannya, tapi beberapa saat kemudian, ia berkata tanpa menoleh, “Besok saya mulai nggak selalu di sini.”
Eliza sedikit tertegun. “Maksudnya?”
“Saya balik ke kerjaan utama.” Arka menyusun cangkir di rak. “Café tetap jalan. Dan saya cuma datang di hari tertentu.”
Ada jeda kecil.
“El… kamu yang pegang kasir.”
Eliza refleks menegakkan badan. “Saya?”
“Iya.”
“Sendiri?”
“Dengan tim yang ada.” Arka menoleh ke Eliza. “Kamu sudah cukup ngerti alurnya.”
Eliza tidak langsung menjawab. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Tiga minggu lalu ia bahkan belum tahu letak tombol POS. Sekarang…
“Kalau ada apa-apa, lapor segera,” lanjut Arka singkat. “Dan selama saya nggak di sini, kamu yang jaga ritmenya.”
Eliza mengangguk pelan. “Iya.”
Arka memperhatikannya sebentar, lalu kembali ke bar. “Oh ya, satu lagi.”
Eliza menoleh lagi.
Arka menyandarkan pinggangnya ke meja bar, tangannya terlipat santai di depan dada. “Kalau orang tadi datang lagi…” Ia berhenti sebentar, tatapannya berubah lebih dalam. “Pastikan itu nggak ganggu kerja kamu.”
Eliza menggenggam sisi meja kasir, “Iya,” jawabnya pelan.
Arka mengangguk sekali, lalu kembali berdiri tegak. Namun beberapa saat kemudian, ponsel di atas meja bar bergetar.
Layar menyala. Arka mengangkatnya, alisnya sedikit bertaut saat membaca nama pengirim. Jarinya bergerak cepat, membuka pesan. Eliza melirik lelaki yang selalu tampak rapi itu, wajahnya serius ketika membaca sesuatu di sana.
Di layar, Kakaknya ingin reservasi café untuk acara ulang tahun anaknya.
Arka mengetik balasan singkat, lalu berhenti sebentar, menimbang. Matanya bergerak sekilas ke arah Eliza yang masih berdiri di kasir, lalu kembali ke layar.
Ia menjawab dengan ringkas.
Di cafénya tidak ada paket pesta yang rumit. Menunya tetap sederhana, seperti konsep yang ia bangun sejak awal. Pilihan utama hanya beberapa : ayam fillet, iga bakar, atau ikan dori fillet. Untuk tambahan, ada dimsum dan kudapan ringan seperti bakpao. Menu berkuah hanya satu, sup iga. Minuman pun tidak berlebihan, kopi, teh, dan air mineral botol.
Tak ada dekor berlebihan. Semua tetap dalam garis dan warna yang sama, bersih, rapi, terkontrol style Arka. Menjual kopi dengan ciri khasnya.
Balasan berikutnya dari sang kakak, masuk cepat. Sekitar dua puluh lima anak, plus orang tua, jelasnya.
Arka mengetik lagi, kali ini tanpa banyak pikir. [“Datang saja besok. Ketemu Eliza. Diskusi langsung, Kak.”] Ia menekan kirim, lalu memasukkan ponsel ke saku apron.
“El,” panggilnya singkat.
Eliza menoleh.
“Besok ada yang datang. Reservasi kecil. Kamu handle dia.”
Eliza mengangguk, meski belum sepenuhnya paham. “Baik.”
“Saya nggak di sini,” tambah Arka. “Jadi pastikan jelas dari awal.” Nada suaranya tetap datar, tapi kepercayaan yang ia lemparkan terasa… berat.
Keesokan harinya, café belum terlalu ramai saat pintu terbuka. Bel berdenting pelan.
Seorang wanita masuk dengan langkah percaya diri. Penampilannya rapi, elegan. Tatapannya langsung menyapu ruangan sebelum berhenti di kasir.
Eliza yang sedang merapikan daftar stok langsung berdiri tegak. “Selamat siang, Kak.”
Wanita itu tidak langsung bicara. Ia justru mengamati Eliza. Cara berdirinya, menyapa, dan senyum manis yang tidak dibuat-buat.
Baru setelah beberapa detik, ia mendekat.
“Kamu Eliza?”
“Iya, Kak.”
Wanita itu tersenyum tipis. “Saya Arsyira, kakaknya Arka.”
Deg.
“Oh… iya, Kak. Silakan duduk,” Eliza segera mengambil menu dan buku catatan kecil.
Mereka duduk berhadapan di meja dekat jendela. Cahaya siang masuk sedikit miring, jatuh di atas meja kayu.
Namun alih-alih langsung membahas pesanan, wanita itu masih memperhatikan Eliza cukup lama. Dari cara duduk, cara menjawab, sampai senyum kecil yang muncul tanpa dibuat-buat.
Sampai akhirnya ia bertanya santai, “Kamu… dekat sama Arka, ya?”l
“Hah?”
Eliza benar-benar tidak menduga. Matanya membesar, tubuhnya sedikit kaku. Wanita itu tertawa kecil, ringan, seperti menikmati reaksi itu.
“Arka percayain aku ngobrol sama kamu,” lanjutnya santai, “itu jarang.”
Eliza masih bengong beberapa detik. “Hah…?” hanya itu yang keluar.
Wanita itu terkekeh lagi. “Kamu lucu.”
Eliza semakin tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
“Manis juga,” tambahnya sambil menyandarkan punggung. “Pantesan dia betah di sini. Biasanya cuma mampir sebentar.”
Eliza langsung menggeleng cepat. “Eh, maaf, Kak… saya karyawan baru kok. Masih banyak salah. Mungkin karena itu beliau sering di sini… ngajarin.”
Wanita itu mengangkat alis, senyumnya berubah tipis, seolah paling mengenal adiknya.
“Bisa jadi,” katanya ringan. “Atau… ada hal lain yang bikin dia nyaman.”
Eliza terdiam, jantungnya berdetak satu kali lebih keras dari seharusnya.
“Eh…” Eliza menunduk, tangannya refleks meremas ujung buku catatan.
Wanita itu tidak melanjutkan. Ia justru mencondongkan tubuh sedikit ke depan, kembali ke tujuan awal.
“Ehm… jadi,” katanya santai, “siapkan ini ya. Ayam fillet saus tiram dua puluh lima. Air mineral botol. Untuk orang tuanya, tambah iga bakar sama kopi aren saja.”
Eliza langsung menulis cepat, seperti menemukan arah untuk kembali tenang.
“Area indoor sini aja,” lanjutnya sambil menunjuk sekitar. “Nggak usah dekor berlebihan. Yang penting nyaman buat acara sejam, sisanya makan.”
“Iya, Kak,” jawab Eliza, kali ini lebih fokus.
“Acaranya lusa. Jam segini aja, pas buka café biar nggak terlalu ramai.”
Eliza mengangguk. “Siap.”
Wanita itu bangkit dari kursinya. Sebelum pergi, ia sempat berhenti sebentar di samping meja, menoleh ke Eliza.
“Jangan terlalu polos,” kata Arsyira pelan, setengah berbisik. “Arka itu… bukan tipe yang lama di satu tempat.” Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan senyum tipis, “Kecuali dia lagi nyaman.” Lalu ia tersenyum tipis, berbalik, dan berjalan keluar café.
Bel pintu berdenting lagi.
Sunyi.
Eliza masih duduk di tempatnya beberapa detik. Pulpen di tangannya berhenti bergerak.
Kata-kata tadi masih menggantung di kepalanya.
Perlahan, ia menatap tulisan di depannya. Tulisan “25 pax” terlihat jelas. Dia mulai mengetik pelan di catatan ponselnya.
"Mana ada, gak mungkin juga. Candaan orang kaya gitu, dikit-dikit naksir, ghosting," gerutu Eliza hendak bangkit.
Tiba-tiba.
"Siapa yang ghosting?"
Deg.
.
.