Aku Bukan Anak Haram - Starla

Kejanggalan dirasakan Saba

Pria itu tidak langsung menjawab pertanyaan Arka.

Ia justru menoleh sedikit ke samping, melihat anak kecil yang masih menggandeng lengannya. Jemarinya kecil, menggenggam erat seolah tidak ingin terlepas.

“Duduk dulu, ya,” ucapnya pelan.

Anak itu mengangguk, lalu ikut melangkah masuk. Baru setelah itu, pria itu kembali menatap Arka. “Sekalian makan aja,” katanya singkat.

Arka mengangguk tipis. “Silakan."

Mereka memilih meja tidak terlalu jauh dari bar. Anak kecil itu duduk, tapi tubuhnya condong ke arah pria di sampingnya, menggelayut manja, seperti belum sepenuhnya nyaman dengan tempat baru.

Pria itu membuka menu, lalu menurunkannya sedikit agar sejajar dengan wajah anak itu. “Mau apa?” tanyanya pelan.

Anak itu melihat menu cukup lama. Matanya bergerak dari satu gambar ke gambar lain, tapi tidak langsung menunjuk.

“Kita pilih sama-sama,” lanjut pria itu, suaranya lebih lembut dari sebelumnya.

Ia menunjuk beberapa pilihan. “Daging… atau ayam?”

Anak itu mendongak. “Ayah mau apa?”

Pria itu tersenyum tipis. “Ayah mau Starla senang.”

Starla langsung menunduk sedikit, lalu tersenyum kecil sebelum akhirnya menunjuk satu gambar. “Ayam… sama ini…” jarinya bergeser ke bawah, “jus… sama dimsum.”

Pria itu mengangguk. “Oke."

Pesanan dicatat oleh kru, lalu suasana kembali tenang.

Di balik bar, Arka memperhatikan mereka, matanya sesekali terangkat, menangkap gerakan kecil dari meja itu.

Beberapa menit kemudian, Arka sendiri yang membawa pesanan. Ia meletakkan satu per satu di meja mereka. Ayam fillet, jus buah, dan dimsum yang asapnya masih mengepul tipis.

“Silakan.”

Pria itu mengangguk. “Terima kasih.”

Arka sempat menahan langkah sepersekian detik. “Maaf… Pak Saba, ya?” tanyanya memastikan.

Pria itu tersenyum ringan. “Iya."

Maaf tadi saya…” Arka mengangguk kecil, “lupa.”

“Tidak apa-apa,” jawab Saba santai. “Jarang ketemu juga.”

Arka mengangguk. “Kakak saya bentar lagi ke sini. Sedang antar Shabira les.”

“Baik,” sahut Saba. “Terima kasih, Arka."

Arka kembali ke bar. Baru saja ia mengambil lap, ponselnya bergetar di atas meja.

Arka langsung mengangkatnya. “Ya, El?”

Deg.

Saba yang baru saja mengambil sendok, berhenti.

Starla yang sedang memakan dimsum juga ikut diam, matanya tanpa sadar terarah ke suara itu.

“Kenapa?” lanjut Arka, berjalan sedikit menjauh dari meja.

Suara Eliza di ujung sana terdengar agak terburu. Ia lupa menutup laporan penjualan harian di sistem, juga belum mengganti nama shift kasir di akhir hari. Data bisa tertumpuk kalau tidak dirapikan malam itu.

Arka berhenti di dekat ujung bar, membuka tablet sekilas. “Sudah saya cek,” katanya tenang. “Saya rapikan.”

Jeda sedetik.

“Besok kita briefing sebentar,” lanjutnya. “Datang lebih awal bisa?”

Di seberang sana, jawaban pelan terdengar. “Bisa, Pak.”

Arka mengangguk, meski tidak terlihat. “Good.” Suaranya sedikit menurun. “Pertahankan ritmemu, Eliza.” Ia menutup panggilan, lalu kembali ke bar.

Di meja, sendok di tangan Saba belum bergerak. Jarinya mengetuk pelan sisi meja. Tatapannya turun ke piring, tapi pikirannya tidak di sana.

Eliza?

Nama itu berputar pelan di kepalanya, banyak yang namanya sama… batinnya mencoba menenangkan. 

Saba mengangkat kepala sedikit, melirik ke arah bar. Arka sudah kembali bekerja seperti biasa.

Bukan dia… lanjut pikirannya. Tidak mungkin Eliza yang sama. Tangannya akhirnya bergerak, mengambil satu potong ayam, tapi tidak langsung dimakan.

Di sampingnya, Starla memegang dimsum dengan hati-hati, meniupnya pelan sebelum menggigit kecil. Bola matanya sedikit membesar. Lalu ia mengambil lagi.

Saba melirik, sudut bibirnya naik tipis.

“Enak?”

Starla mengangguk cepat, pipinya sedikit penuh. “Enak…”

Saba menghela napas pelan. Setidaknya… satu hal hari ini berjalan baik. Anaknya mau makan dan raut wajahnya ceria.

Namun pikirannya belum benar-benar pergi dari nama itu. Saba menunduk, menyentuh gelas jus di depannya tanpa benar-benar meminumnya.

Kenapa seolah sengaja tidak ingin ditemukan?

“Mas Sabaaa!”

Suara itu memecah lamunannya. Saba langsung menoleh.

Arsyira berdiri di dekat meja, wajahnya cerah. “Ya ampun, lama banget nggak ketemu!”

Saba berdiri sedikit, tersenyum sopan. “Halo, Bu Arsyira.”

Mereka bersalaman ringan.

“Ini Starla?” tanya Arsyira, langsung menunduk sedikit agar sejajar dengan anak itu.

Starla menatap sebentar, lalu mengangguk pelan sambil mendekat sedikit malu-malu ke Saba.

“Lucu banget…” gumam Arsyira, matanya berbinar.

Di balik bar, Arka melirik ke arah mereka, dan menggeleng kecil. Ganjen amat… batinnya datar, sambil kembali mengelap cangkir seperti tidak terjadi apa-apa.

Arsyira sempat terdiam beberapa detik setelah menyapa Starla. Tatapannya tidak lepas dari wajah kecil itu. Alisnya sedikit berkerut, seperti sedang mengenali seseorang tapi belum menemukan jawaban.

“Kayaknya aku pernah lihat…” gumamnya.

Starla yang diperhatikan seperti itu justru menunduk, jemarinya memainkan ujung tisu di meja. Tubuhnya sedikit mendekat ke lengan Saba, mencari rasa aman dari tatapan asing.

Arsyira berkedip, lalu tersenyum lagi, menutupi pemikirannya sendiri. Ia memang tipe yang cepat hangat.

Dalam hidupnya, Arsyira sudah melewati banyak hal. Dua tahun lalu, ia kehilangan suaminya karena serangan jantung. Sejak itu, ia terbiasa berdiri sendiri, mengurus anak, bisnis, dan hidup yang tiba-tiba sunyi di satu sisi. Mungkin itu juga yang membuatnya lebih peka pada detail kecil, pada wajah-wajah yang terasa… punya cerita.

“Ah, mungkin cuma perasaan aja,” ucapnya seraya mengibaskan tangannya.

Saba menggeser sedikit kantong yang tadi ia bawa, lalu menyodorkannya. “Ini… titipan untuk Shabira.”

Arsyira langsung menerimanya dengan senyum hangat. “Wah, makasih banyak. Nggak usah repot-repot sebenarnya.”

“Biar dia senang,” jawab Saba singkat.

Arsyira memeluk kantong itu sebentar, lalu seperti baru ingat sesuatu. “Oh iya, sekalian ya. Beberapa minggu lagi aku ada launching koleksi baru di sini.” Ia menunjuk sekeliling café dengan dagunya. “Datang ya, Mas. Ajak Tante juga.”

Saba mengangguk ringan. “Berkabar saja nanti.”

“Pasti.” Arsyira tersenyum puas, lalu kembali melirik Starla. “Mas masih lama?” sambungnya santai.

Saba mengangkat bahu sedikit. “Tergantung Starla.”

Arsyira mencondongkan tubuh sedikit ke arah anak itu. “Mau main nggak nanti sama Shabira? Dia lagi les sebentar. Habis itu biasanya ke playground.”

Starla mengangkat kepala, menatap sebentar… lalu menggeleng pelan.

Saba tersenyum tipis, mengusap kepala putrinya perlahan. “Baru sehat,” katanya pelan. “Masih belum mau banyak aktivitas.”

Arsyira mengangguk mengerti, tapi matanya tetap memperhatikan Starla. Ada senyum kecil di sudut bibirnya, lalu tanpa sadar ia melirik Saba beberapa kali.

Dari balik bar, Arka memperhatikan sekilas, lalu bersuara datar, “Kak, Shabira bentar lagi balik.”

“Ya, iya…” sahut Arsyira tanpa menoleh, tapi senyumnya masih ada.

Di meja, makanan Starla hampir habis. Tidak banyak, tapi cukup untuk ukuran beberapa hari terakhir. Saba terlihat lebih fokus sekarang. Ia mengambil potongan kecil ayam, meniupnya sedikit sebelum menyuapkannya.

“Pelan,” katanya lembut.

Starla membuka mulut kecil, lalu mengunyah. Saba memperhatikannya dengan tenang. Ada rasa lega yang tidak ia ucapkan.

Tiba-tiba, kursi Arsyira bergeser. “Aku duluan ya,” katanya sambil berdiri. Lalu ia menoleh ke arah bar. “Arka!”

Arka hanya mengangkat kepala sedikit.

“Aku sudah kirim file ke Eliza. Suruh dia cek ya.”

Sendok di tangan Saba berhenti lagi. “Eliza?” ulangnya, refleks.

Arsyira menoleh, santai. “Iya. Karyawan barunya Arka.”

Saba menatapnya beberapa detik, ekspresinya tidak berubah, tapi sorot matanya penuh tanya, “Sejak kapan?”

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!