Aku Bukan Anak Haram - Starla

Keputusan Saba Aditya

Arsyira mengangkat bahu ringan, “Belum lama sih… sebulan lebih mungkin?”

Ada sesuatu yang mulai terangkai di dalam kepala Saba. Potongan-potongan kecil yang tadi ia abaikan… mulai saling terkait.

Nama itu. Jarinya perlahan turun ke meja, mengetuk sekali… lalu berhenti.

“Namanya lengkapnya siapa?” tanya Saba lagi, kali ini lebih pelan.

Arsyira mengernyit kecil, heran dengan arah pertanyaan itu. “Eliza aja sih dipanggilnya…” jawabnya santai. “Kenapa, Mas?”

Tatapan Saba bergeser ke arah bar. Ke arah Arka yang sedang bekerja, lalu menoleh ke Starla di sampingnya. Anak itu sedang mengusap mulutnya sendiri dengan tisu. Dada Saba terasa sedikit sesak.

Ia menarik napas pendek, menahan sesuatu yang belum berani ia simpulkan. “Gak apa-apa,” akhirnya Saba menjawab. Tapi kali ini, suaranya tidak setenang tadi.

***

Pagi itu, kafe masih setengah terjaga. Embun tipis menempel di kaca jendela, dan aroma kopi pertama hari itu mulai mengisi ruang. Eliza berdiri di dekat meja panjang, satu tangan memegang catatan kecil, satunya lagi sesekali merapikan rambutnya yang jatuh ke depan.

“Kalau meja ini digeser sedikit ke arah jendela…” ucapnya pelan sambil menunjuk sketsa, jemarinya berhenti tepat di sudut gambar. “Cahaya sore bakal lebih masuk. Orang biasanya betah kalau suasananya hangat.”

Arsyira mengangguk sambil mencondongkan tubuh, ikut melihat lebih dekat. “Berarti space tengah agak dilonggarkan juga, ya?”

Eliza mengangguk kecil. “Iya… biar nggak terasa penuh.”

Arka yang sejak tadi bersandar di meja, meluruskan tubuhnya. Tangannya masuk ke saku celana, matanya memperhatikan Eliza lebih lama dari biasanya. “Kita coba,” katanya singkat, lalu menoleh ke Arsyira. “Mulai hari ini.”

Arsyira tersenyum, mencatat cepat.

Eliza menutup catatannya perlahan, sementara Arka masih berdiri di sana. Tatapan mereka sempat bertemu—singkat.

“Kalau ada ide lagi, bilang aja,” tambah Arka, kali ini nadanya lebih ringan.

Eliza hanya mengangguk. “Iya.”

***

Di tempat lain, Saba berdiri di dekat jendela kantornya. Satu tangan dimasukkan ke saku, tangan lainnya memutar pulpen perlahan di antara jemarinya. Rahangnya mengeras.

“Selidiki kafe itu,” ucapnya tanpa menoleh.

Albana yang berdiri di belakangnya sedikit menegakkan badan. “Detail, Bos?”

“Semua,” jawab Saba singkat. “Terutama Arka.” Ia berhenti memutar pulpen, lalu menjepitnya di antara jari. “Dan orang-orang di sekitarnya.”

“Siap.”

Pintu tertutup pelan setelah Albana keluar. Saba tetap diam di tempatnya, menatap pantulan dirinya di kaca.

Dua hari kemudian, kafe itu ramai.

Suara tawa bercampur dengan denting gelas dan langkah kaki yang saling bersahutan. Arsyira bergerak cepat dari satu meja ke meja lain. Arka sesekali terlihat berbicara dengan pelanggan, sementara Eliza berdiri di dekat kasir, membantu sambil sesekali tertawa kecil.

“Serius?” Eliza menutup mulutnya sambil tertawa, bahunya sedikit terangkat.

Arka menggeleng, ikut tersenyum. “Makanya jangan terlalu percaya sama kakakku.” Arka bilang soal rahasia kecil Arsyira yang jarang mandi pagi.

“Eh, aku denger ya!” sahut Arsyira dari kejauhan.

Tawa mereka pecah lagi.

Dari halaman cafe yang tak terlalu mencolok, Albana berdiri dengan ponsel di tangan. Ia sedikit memiringkan tubuh, memastikan sudut rekamannya pas. Jarinya menekan tombol rekam—mengabadikan kedekatan itu.

Dia kembali ke kantor setelah apa yang dibutuhkan Saba didapat.

“Gimana, Bos?” ujarnya saat menghadap Saba kembali.

Albana berdiri di depan meja, menyodorkan ponsel. Saba mengambilnya tanpa banyak kata. Ibu jarinya menggeser layar, berhenti di satu video.

Ia menekan play. 

Saba menahan napas sejenak. Rahangnya mengendur sedikit. “Tahan,” katanya pelan, matanya masih terpaku pada layar. “Biarkan dulu.”

Albana mengangguk, mundur satu langkah, lalu pergi.

Saba bersandar di kursinya. Jarinya berhenti di layar, tepat di wajah Eliza yang tertangkap sedang tertawa. Senyum tipisnya muncul.

“Kamu happy…” gumamnya. Kepalanya sedikit menunduk. “Tanpa Starla… atau cuma kamuflase, El?”

Ia menghembuskan napas panjang, lalu memejamkan mata. Kepalanya disandarkan ke sandaran kursi. “Aku juga rindu… bukan cuma Starla.”

Tangannya terangkat, menutup sebagian wajahnya. “Senyummu… rambutmu… galakmu…”

Sunyi.

“Benar… kamu ibunya Starla. Dia sakit menanggung rindu padamu.” Jari-jarinya mengepal pelan di pelipis. “Maafkan ibuku, ya…”

Suaranya hampir pecah, “Kamu pasti menahan sakit juga.” Ia membuka mata perlahan, lalu meraih jasnya dan keluar dari sana.

Malam itu, rumah terasa lebih hening kala Saba membuka pintu depan pelan, melepas sepatunya tanpa suara. Matanya langsung mencari ke satu arah.

“Starla?” tanyanya lirih.

Hasnawati yang duduk di sofa menoleh. “Baru tidur.”

Saba mengangguk, langkahnya melambat sebelum akhirnya duduk di kursi seberang. Ia merogoh tas kerjanya, mengeluarkan sebuah amplop, lalu meletakkannya di meja dengan gerakan tenang.

“Ma…”

Hasnawati mengambil amplop itu, membukanya. Matanya bergerak cepat membaca, lalu berhenti.

“Ini… gugatan?” suaranya naik sedikit.

Saba mengangguk, kedua tangannya bertaut di depan. “Perusahaan akan baik-baik saja.”

Hasnawati mengangkat wajah, menatapnya penuh tanya.

“Lagipula…” Saba menarik napas sebentar, lalu mengeluarkan sebuah flash disk dari sakunya. Ia memutarnya pelan di antara jari, sebelum akhirnya meletakkannya di atas map.

“Aku punya bukti lain soal Julia. Kalau nanti alot.”

“Apa maksudmu?” tanya Hasnawati, nadanya mulai tegang.

Saba mendorong flash disk itu sedikit lebih dekat ke ibunya. “Semua ada di sini, Ma.”

Sunyi menggantung.

Saba menegakkan punggungnya. Tatapannya lurus. “Setelah ini…” ucapnya pelan tapi tegas, “tolong biarkan aku yang menentukan apa yang baik untuk Starla.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih rendah. “Mama boleh bantu… tapi utamakan keinginan anakku.”

Hasnawati terdiam. Dan kali ini, Saba tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun. Hasnawati hanya mendesah panjang, sadar putranya memiliki keputusan sendiri.

*

Kasus perceraian Saba tidak lagi ia tangani sendiri.

Beberapa hari setelah percakapan malam itu, semua berkas resmi dilimpahkan ke kuasa hukum. Ia tidak ingin emosinya ikut campur dalam hal yang seharusnya selesai dengan kepala dingin.

Di sisi lain, undangan launching dari Arsyira sudah sampai ke tangannya. Amplopnya masih utuh di meja kerja. Tidak dibuka, hanya diputar pelan di antara jemari.

Saba akhirnya mengambil keputusan sederhana… akan datang tanpa Hasnawati.

Hari acara pun tiba.

Sore itu, café berubah wajah.

Lampu-lampu diganti dengan tone lebih hangat, kekuningan lembut seperti cahaya senja yang sengaja ditahan agar tidak benar-benar tenggelam. Aroma kopi tetap ada, tapi kini bercampur dengan wangi parfum tamu-tamu yang mulai berdatangan—ringan, elegan, dan sedikit semerbak bagi ruang yang biasanya sederhana.

Meja-meja disusun lebih renggang. Di tengah, terbentuk jalur kosong memanjang. Bukan runway megah, tapi cukup untuk langkah para model.

Arsyira bergerak cepat di antara tamu.

Gaun cokelat mahogany yang ia kenakan jatuh pas di tubuhnya, mencerminkan tema yang ia usung. Tangannya sesekali merapikan display kecil di sudut, memastikan semuanya sesuai dengan bayangan di kepalanya.

“Lighting-nya jangan terlalu terang di tengah,” ucapnya pada salah satu kru. “Biarkan jatuhnya dari samping. Biar teksturnya keluar.”

Model-model sudah mulai bersiap di area belakang. Beberapa berdiri di depan cermin, merapikan rambut. Ada yang mengatur lipatan baju, ada yang menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri sebelum berjalan.

Suara mereka berbaur dengan denting gelas dari bar.

Arka berdiri di sana. Apron hitam terpasang rapi. Tangannya bergerak stabil, menuang kopi, menyusun pesanan. Tapi matanya sesekali menyapu, memastikan ritme ruangan tetap terkendali.

“El.”

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!