Aku Bukan Anak Haram - Starla
Mulai jadi Kesayangan
"El?" sebut Saba, karena Eliza hanya diam daritadi.
“Ish.” Eliza langsung mencebik, melirik tajam. “tetep bukan namaku.”
Saba terkekeh, bahunya naik turun santai. “Bismillah diterima.”L
Eliza memutar mata jengah, tapi sudut bibirnya hampir naik kalau saja ia tidak buru-buru menahannya.
Mereka lanjut makan. Obrolan mengalir ringan, tapi sesekali Saba tetap menyelipkan hal-hal yang membuat Eliza ingin menyikutnya.
Seperti saat ia tiba-tiba mengeluarkan ponsel, menggeser layar ke arah Eliza. “Ini,” katanya. “Beberapa kosan. Lebih aman. Lebih proper.”
Eliza bahkan belum lihat sudah menggeleng. “Nggak mau.”
“Pindah, El.”
“Nggak mau.”
Saba tidak menyerah. Ia geser ponselnya lebih dekat, menunjuk salah satu foto. “Kalau nanti Starla sering nginep, kamu butuh tempat yang layak.”
Kalimat itu membuat Eliza berhenti. Jemarinya yang tadi siap mendorong ponsel itu… tertahan. Ia akhirnya melirik sekilas. “…dipikirin,” gumamnya.
Saba tersenyum senang. “Kalau mau ke Bu Gendhis, bilang,” tambahnya santai. “Aku antar.”
Eliza mendengus. “Bisa sendiri kok.”
Saba menyandarkan punggung, menatapnya santai tapi penuh arti. “Mulai sekarang, ada aku sama Starla.” Ia mengangkat bahu kecil. “Kamu nggak akan bisa jauh dari kami.”
Eliza menatap datar. Lalu mencebik, sedikit manyun. “Pede.”
Jam di ponselnya hampir menunjukkan dua dini hari.
Eliza berdiri lebih dulu, meraih tasnya. “Udah sana pulang. Besok Anda kerja.” Ia melangkah duluan.
“Mas… El… Mas—” panggil Saba sambil bangkit cepat, berusaha mengejar langkahnya.
“El!”
“Ogah!” balas Eliza tanpa menoleh, tangannya sudah membuka pintu mobil.
Saba berhenti sebentar di samping mobil, menghela napas, lalu mendekat lagi. “Belajar napa, Bu.”
Eliza menoleh cepat. “Belajar apa?”
Saba menyeringai tipis. “Nerima aku.”
Eliza langsung menggeleng, hampir tertawa saking tidak percayanya. “Mau juga belum kan?” Ia membuka pintu lebih lebar. “Pede amat, Tuan.”
Saba ikut tertawa tanpa beban. “Pede lah,” jawabnya santai. “Aku nggak ada saingannya.”
Eliza mendecak, masuk ke dalam mobil tanpa komentar lagi. Tapi pipinya… masih menyimpan rona hangat yang belum sepenuhnya hilang.
Mobil berhenti pelan di depan kosan. Mesin masih menyala, lampu redup memantul di pagar besi bercat hitam pekat. Jalanan sudah sepi, hanya sesekali suara motor lewat.
Di kursi penumpang, kepala Eliza sudah miring ke samping. Tangannya masih memeluk tas, napasnya teratur. Tertidur begitu saja, seperti semua pertahanannya ikut lelah.
Saba melirik.
Untuk beberapa detik… hanya melihat.
Rambut yang sedikit berantakan. Nafas yang tenang. Wajah yang polos dan lelah.
Saba menghela napas pelan. Tangannya sempat terangkat… hampir menyentuh, tapi berhenti di udara.
“Nggak usah dibangunin deh,” gumamnya.
Ia menurunkan sedikit kaca mobil. Udara dini hari masuk, dingin tipis. Mesin akhirnya dimatikan. Dan entah sejak kapan… Saba ikut menyandarkan kepala ke kursi. Matanya terpejam.
Alarm berbunyi nyaring.
Saba mengerjap lebih dulu. Tangannya meraba ponsel, mematikan suara itu dengan cepat. Tapi suara lain masih nyaring di sisi sebelah.
Eliza mengernyit, menggerakkan bahu, lalu membuka mata perlahan. Pandangannya masih kabur… sampai akhirnya fokus. Dan menemukan Saba di sampingnya.
“Lah…?” gumam Eliza, suara serak bangun tidur. “Ngapain di sini?”
Saba mengusap wajahnya sekali, lalu melirik santai. “Anda di mobilku, Nona.”
Eliza langsung menegakkan badan. Matanya membesar. “Terus ngapain nggak bangunin aku?” tangannya naik, menyilang di dada. “Sengaja ya?”
Saba mengangkat alis, lalu terkekeh pendek. Ia menurunkan kaca mobil lebih lebar, membiarkan udara segar masuk.
“Enak aja,” balasnya santai. “Kalau mau curangin kamu, nggak bakalan tanggung, El.” Ia menoleh, senyum tipis. “Hamilin sekalian biar Starla punya adek.”
“Dih!” Eliza langsung membuka pintu.
Brak.
Pintu mobil ditutup keras. Ia melangkah cepat masuk ke dalam kos tanpa menoleh lagi.
Saba hanya menatap punggung itu pergi, lalu menggeleng pelan sambil tersenyum sendiri.
“Ya ampun… galak amat,” gumamnya. Jarinya naik, mengacak rambutnya sendiri. “Padahal gemesin.”
Ia menggeliat di kursi, meregangkan bahu, lalu meraih ponselnya.
Pesan terkirim. “Sarapan, El.”
Tidak lama, balasan Eliza masuk, [“Puasa.”]
Saba menyeringai. Mengetik lagi, "Boong dosa, Sayang.”
[“Beneran.”]
Saba tertawa kecil di balik kemudi, kepalanya menggeleng pelan. “Ya udah, sedekahin ke siapa kek. Aku pulang dulu… see you malam nanti.”
Beberapa detik kemudian, [“Dih, rusuh.”]
Saba menatap layar itu sedikit lebih lama. Senyumnya masih terulas, jempolnya bergerak sekali lagi. "Biarin. Rusuhin kamu mah bahagia.”
Ia meletakkan ponsel, menyalakan mesin mobil kembali dan melaju pulang.
***
Awal bulan akhirnya tiba.
Langit tetap sama, jalan masih ramai, tapi di satu titik, ada sesuatu yang resmi berakhir.
Ruang sidang itu terasa dingin, emosi yang tertahan selama beberapa tahun akhirnya dilepas.
Saba berdiri tegak saat mengucap ikrar talak. Bahunya lurus, dagunya terangkat sedikit. Suaranya stabil, seakan setiap kata sudah ia timbang lama, jauh sebelum hari ini datang.
Ia tidak menoleh ke siapa pun setelahnya. Hanya menarik napas… dan melepaskannya perlahan.
Tok. Tok. Paku hakim pertanda status barunya telah sah.
Keluar dari gedung itu, langkahnya melambat. Tidak langsung menuju mobil. Ia berhenti di pelataran, membiarkan angin siang menyentuh wajahnya.
Tangannya masuk ke saku celana. Jari-jarinya menggenggam sesuatu yang tidak terlihat. Pikirannya melayang… jauh ke belakang.
Ke rumah yang dulu terasa asing. Ke hari pertama ia dipanggil “anak” oleh seseorang yang bahkan tidak memiliki kewajiban apa pun untuknya.
Perempuan itu tidak pernah benar-benar memintanya berubah. Tapi dunia di sekelilingnya… perlahan membentuknya. Mengajarinya cara duduk, cara bicara, cara menjadi “cukup pantas” untuk berada di dalam keluarga itu.
Saba tersenyum tipis. Tidak semua perjalanan mudah dan membuatnya bisa jadi dirinya sendiri. Tapi… ia tidak pernah benar-benar sendiri sejak saat itu. Dirinya merasakan kasih sayang Hasnawati.
"Sejauh ini… gue pernah bahagia."
Ia mengangkat wajah sedikit, menarik napas lebih dalam… lalu melangkah menuju mobil.
Rumah terasa lebih sunyi dari biasanya.
Saba tidak langsung masuk ke kamar. Langkahnya justru berbelok ke arah pintu yang jarang ia datangi. Ia mengetuk pelan.
“Masuk.”
Pintu terbuka.
Hasnawati duduk di tepi ranjang, selimut dilipat rapi di sampingnya. Wajahnya tenang, tapi jelas menyimpan banyak hal yang tidak diucapkan.
Saba berhenti beberapa langkah dari pintu. Bahunya turun sedikit, seperti ada beban yang akhirnya ia akui.
“Ma…” suaranya lebih rendah dari biasanya. “Maaf… kalau pernikahanku… kandas.”
Jeda.
Hasnawati menatapnya lama. Tidak menyalahkan dan hanya menerima dengan anggukan.
“Cari bahagiamu, Nak,” ucapnya lirih. “Mama doakan.”
Saba mengangguk. Matanya sempat berkaca, tapi ia tidak membiarkan butirnya jatuh. Ia keluar… dada yang sejak tadi terasa sempit… sedikit lebih lapang. Setidaknya dia sudah meminta maaf atas keputusan ini yang sedikit banyak berpengaruh pada ibunya itu.
***
Sore merayap saat langkah mereka sampai di pelataran parkir kecil itu.
Starla berjalan di sampingnya, sesekali melompat kecil, sepatu mungilnya berdecit halus di jalan setapak. Tangannya beberapa kali meraih jari Saba, lalu melepas lagi, seperti ingin memastikan… dia benar-benar ada di sana.
Mereka menuju makam Wulan.
Saba berdiri diam. Pandangannya turun. Tangannya masuk ke saku, ibu jarinya mengusap pelan genggaman tangan Starla.
“Sayang, ternyata dia anak kita…” gumamnya pelan. “Aku akan merawatnya dengan seseorang yang menemukan putri kita.”
Starla ikut diam, menggenggam ujung baju Saba. Mata bulatnya mengerjap, dan dengan tangan mungil itu, dia mengusap pelan nisan sang mama.
"Mama." Starla tersenyum lebar, lalu menoleh ke ayahnya.
Setelah berdoa, keduanya kembali ke depan dan melanjutkan perjalanan.
Malam membawa mereka ke café.
Lampu hangat menyambut, suara gelas dan tawa tipis pengunjung jadi latar ruangan bernuansa earth tone itu.
Starla duduk di kursi, awalnya tertib tapi tak lama kemudian, isi pinggannya habis. Lalu tangannya terangkat lagi, menepuk lengan ayahnya. ”Aku mau lagi, ayah."
Eliza dari balik kasir melirik. Alisnya sempat naik, tumben Starla makan banyak malam ini, pikirnya.
Piring kedua datang, ketiga pun habis dilahapnya. Seolah perut kecil itu punya ruang rahasia yang tidak pernah penuh.
Eliza beberapa kali lewat, pura-pura sibuk tapi matanya tidak lepas dari Starla.
“Perut atau gudang, Sayang…” gumamnya setengah berbisik saat mengangkat piring dan gelas kosong dari meja Starla.
Starla hanya nyengir, pipinya mulai penuh. Dia mengayunkan kaki, badannya bergoyang ke kanan kiri tapi lama-lama, gerakannya melambat.
Sendok di tangannya berhenti di tengah jalan. Kepalanya miring sedikit dan… pelan-pelan jatuh ke meja. Tangan kecilnya masih menggenggam sendok, dia belum selesai menikmati.
"Aih, tidur kekenyangan." Saba terkekeh, mulai merapikan baju dan mengelap bibir Starla dari sisa makanan.
Saba membiarkan Starla tertidur sambil duduk, perutnya penuh makanan. Dia tak mau anaknya sesak.
Jam menunjukkan sebelas saat café mulai benar-benar kosong.
Kursi didorong masuk, lampu mulai diredupkan.
Eliza keluar dari balik kasir, langkahnya otomatis melambat saat melihat Starla yang tertidur di meja.
Ia mendekat tanpa suara. Tangannya refleks merapikan rambut anak itu, menyelipkan poni yang jatuh ke mata.
Saba berdiri di sisi lain, memperhatikan tanpa mengganggu. “Udah selesai?” tanyanya pelan.
Eliza mengangguk kecil. Starla berpindah ke gendongan Eliza, napasnya hangat, teratur saat mobil melaju.
Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di depan kos. Gerakan kecil terasa, tangan mungil itu menarik ujung baju Eliza.
“Ibu…” suara itu serak, setengah sadar. “Aku… mau ikut ibu…”
Eliza membeku.
Saba hanya melihat keduanya. Mengerti betul… ini bukan sekadar permintaan tapi rindu yang menumpuk.
Rengekan Starla mulai terdengar. “Ibu…”
Eliza menutup mata sebentar, seraya mengelus punggung Starla.
Saba menghembuskan napas panjang, lalu membuka suara, “Ke hotel aja yuk,” katanya pelan. “Biar kalian nyaman istirahat.”
Kamar hotel itu tenang. Starla langsung terlelap begitu dibaringkan. Seolah tubuh kecil itu akhirnya menemukan tempat yang ia cari dari tadi.
Eliza duduk di sisi ranjang. Tangannya berulang-ulang mengusap rambut Starla pelan. “Ibu di sini…” bisiknya.
Di belakangnya, Saba duduk di sofa bed. Siku bertumpu di lutut, jemarinya saling mengait. Dia sedang mengamati interaksi antara Eliza dan anaknya. Dadanya menghangat… dengan cara yang tidak ia sangka.
Eliza akhirnya merebah di samping Starla. “Ya udah…” gumamnya setengah sadar. “Ibu pindah…”
Saba langsung menoleh, lalu ia berdiri pelan, meraih ponselnya. Menyalakan perekam suara. Langkahnya mendekat, hati-hati, seolah takut memecah momen.
“Sayang…” suaranya rendah. “Pindah ke rumah… mau, kan?”
Eliza mengerjap samar. “Hm…?”
Saba sedikit menunduk, lebih dekat. “Iya?” pancingnya lembut.
Eliza mengangguk kecil di bantal. “Iya…”
Klik. Rekaman berhenti.
Saba menahan napas sepersekian detik… lalu senyum itu muncul. “Jawaban Anda… saya kunci, Nona Eliza Dwipayana,” bisiknya.
Eliza sudah terlelap sepenuhnya, tidak tahu menahu. Saba berdiri sebentar, menatap mereka dan ikut merebah di sofa bed. Satu tangan jadi bantal. Matanya terpejam.
"Gak sabar manggil kamu ~Sayang."
.
.