Aku Bukan Anak Haram - Starla
Kujaga Amanahmu
Starla justru membuka kedua tangannya lebar-lebar seperti pemain sirkus kecil. “Aku bisaaa!”
"Starlaaaaaa!"
Saba sudah siaga, tapi masih menahan senyum melihat kepanikan Eliza.
“Starla Vali Dwipa…” tegas Eliza, wajahnya mulai serius sekarang. Telunjuknya ikut terangkat ke wajah Starla. “Turun sebelum ibu hitung sampai tiga.”
Bukannya turun, Starla malah maju setapak. Dan… Bruk! Tubuh kecil itu kehilangan keseimbangan. "Aaaaaaa!"
“STARLA!”
Eliza langsung berlari dan berusaha menangkapnya. Tangannya berhasil memeluk badan anak itu sebelum jatuh terlalu keras… tapi kepalanya tetap sempat membentur lantai duluan.
Duk.
“El!” Saba langsung mendekat cepat.
Starla membeku sepersekian detik sebelum bibirnya bergetar kecil. Matanya mulai berkaca-kaca.
Eliza langsung duduk di lantai sambil memeluk tubuh kecil itu erat. “Ya Allah…” napasnya memburu. Tangannya buru-buru memeriksa kepala Starla, menyibak rambutnya panik. “Mana? Sini… sini ibu lihat…”
Starla mulai meringis kecil.
“Pusing nggak? Sakit nggak?” tanya Eliza cepat. Jemarinya menyentuh dahi kecil itu hati-hati, memastikan tidak benjol besar.
Saba ikut jongkok di depan mereka. Wajahnya ikut tegang sekarang.
“El…”
Tapi Eliza sudah lebih dulu memeluk Starla erat ke dada. “Jangan bikin ibu shock, Starla Vali Dwipa…” suaranya gemetar tipis. Ia mencium pipi anak itu berkali-kali, dahinya, rambutnya. “Kamu satu-satunya milikku…”
Kalimat itu meluncur begitu saja. Starla yang tadi hampir menangis malah perlahan diam. Matanya berkedip-kedip, lalu senyum kecil muncul.
“Ibu sayang aku ya?” tanyanya polos.
Deg.
Eliza langsung menunduk cepat, seolah takut seseorang melihat matanya yang mulai basah. Namun Starla sudah lebih dulu memeluk lehernya erat. “Starla juga sayang ibu…”
Cup.
Pipi Eliza dicium berkali-kali dengan suara keras sampai anak itu sendiri tertawa kecil. Ketegangan di ruangan itu mendadak mencair akibat ulahnya.
Eliza yang ingin marah, jadi ikut gemas sendiri. Dia balik menciumi pipi Starla.
Saba terdiam memandangi keduanya. Ia melihat bentuk rumah yang selama ini cuma ada di kepalanya.
Anak kecil berambut acak-acakan yang tertawa di pelukan ibunya. Si perempuan keras kepala yang panik setengah mati hanya karena takut Starla kenapa-kenapa.
Saba mengusap wajahnya pelan, lalu berdeham kecil agar suaranya kembali stabil.
“Kalau gitu…” gumamnya sambil menatap mereka bergantian, “aku boleh jadi milik kalian juga nggak?”
Eliza langsung melotot malu. "Ish!"
Starla malah mengangguk cepat sampai badannya yang masih di pelukan Eliza, bergoyang, “Boleh!”
Eliza berdecak pelan. Dia menepuk pantat Starla agar bangun dan mandi.
Starla menggeleng malah naik lagi ke tempat tidur dan memeluk bantal.
“Ayo sekolah,” ajak Eliza sambil menarik selimut.
“Nggak mau,” jawab Starla cepat.
Saba yang kini duduk santai di sofa bed ikut menyahut tanpa dosa, “Ayah juga.”/
Eliza langsung menoleh tidak percaya. “Hah?”
Saba mengangkat bahu santai. “Mager ngantor.”
“Jangan ngajarin anak bolos!"
“Sesekali family time,” balasnya enteng sambil membuka ponsel. Dan... Suara rekaman semalam terdengar memenuhi kamar hotel.
“…Iya…”
Eliza langsung membeku. Itu suaranya.
“Jawaban Anda saya kunci, Nona Eliza Dwipayana,” suara Saba dari rekaman menyusul setelahnya.
“Heh!” Eliza buru-buru berjalan cepat mendekat hendak meraih benda pipih di tangan Saba, penasaran dengan isi ponselnya. “Apaan sih!”
Saba mengangkat ponselnya lebih tinggi sambil tertawa kecil. “Bukti otentik.”
“Itu konteksnya beda!” protes Eliza, pipinya langsung memanas. “Maksudku iya pindah kosan!”
“Deal,” jawab Saba cepat.
Eliza mengernyit. “Deal apaan?”
“Barangmu akan mulai dipindahin siang ini.” Saba terlihat mengetik cepat di hapenya, wajahnya serius.
Deg.
“Apa?!”
Saba santai menyeruput kopi, kemudian menunjukkan pesan yang dia kirim ke seseorang yang akan mengurus barang-barang kepindahan Eliza. “Sore nanti kita pamitan ke ibunya Arka.”
“Anda tuh—” Eliza memijat pelipis. “Suka bikin keputusan sendiri.”
“Bukan sendiri,” koreksi Saba. “Bareng rekaman.”
Starla malah tepuk tangan kecil di atas kasur. “Ibu pindah ke rumah kita, Yah?”
Eliza reflek menatap anak itu. Pertahanannya goyah sepersekian detik. "Nggak gitu, Nak," kata Eliza menggeleng samar.
Saba melihat itu. Dia menaruh gelasnya pelan. Pandangannya ke arah Eliza yang berdiri di sisi ranjang kali ini lebih serius dibanding candaan-candaan sebelumnya.
“Resign juga mau nggak?”
Eliza spontan mendelik. “Ogah. Baru juga kerja.”
Saba mengangguk kecil seolah sudah menduga jawabannya. “Kan dapat kerjaan baru.”
Eliza mengernyit heran, “Apa?”
Saba menatap lurus ke arahnya, sudut bibirnya tertarik pelan ke atas, “Nemenin aku sama Starla.”
Glek.
Jantung Eliza seperti salah detak. “I-itu…” suaranya mengecil sendiri. “Jangan ngomong sembarangan di depan Starla…”
Saba tersenyum tipis, kakinya kini disilangkan. Satu tangannya bersandar di sofa.
“Lanjutkan kuliahmu,” ujarnya tenang. “Fokus lulus dulu. Kami nggak akan ganggu.”
Eliza perlahan diam.
“Tapi kupastikan kamu aman.”
“Maksudnya?”
Saba menyandarkan tubuhnya santai. “Kalau pulang malam ada yang jemput. Kalau sakit ada yang jagain. Kalau capek…” matanya melirik Starla sekilas, “…ada yang bawelin buat istirahat.”
Lalu pria itu terkekeh kecil, “Aku juga bakal bujuk Starla biar nggak minta adek dulu.”
“Ish!” Eliza langsung menunduk malu. “Ngomong apaan sih. Ada bocil tauuuuuu…” Pipinya sampai ikut memerah sekarang.
Saba menatapnya cukup lama sebelum melanjutkan lebih pelan, “Serius, El.” Tangannya bertaut santai di depan dada. “Kalaupun kamu mau kerja, silakan. Mau lanjut sekolah lagi, boleh.”
Jeda sebentar. “Urusan lain bisa didelegasikan," tegasnya.
Eliza perlahan mengangkat wajah.
“Aku lebih suka kamu nemenin aku kemana-mana…” lanjut Saba sambil tersenyum kecil, “…tapi tetap jadi diri kamu sendiri, produktif dan punya mimpi,” bebernya dengan nada percaya diri.
Deg.
“Nggak mau LDR pokoknya,” imbuhnya santai. “Kalau kamu kuliah jauh, kami yang ikut.”
Eliza cuma bisa menatap pria itu, mencoba mencari ketidaksungguhan di sorot matanya. Tapi, karena Saba mengatakannya setenang itu… semuanya terdengar realistis.
“Entahlah…” bisik Eliza akhirnya. “Aku masih nggak percaya.”
Saba mengangguk kecil, memahami. “Izinin aku aja dulu,” katanya pelan. “Ada di sisi kamu.” Tatapannya jatuh lurus ke mata Eliza, ada binar harap terlukis di sana, “Nikmatin kehadiranku selain Starla… gimana?”
Sunyi.
Bahkan Starla ikut diam sekarang, sibuk memeluk bantal sambil memperhatikan mereka bergantian.
Eliza benar-benar bingung harus menghindar dengan alasan apalagi.
Seumur hidup, ia terbiasa menjalaninya sendiri. Tumbuh di panti dengan perasaan harus kuat menghadapi apapun sebelum sempat belajar dimanja.
Hidupnya seperti lorong panjang yang harus dilalui tanpa banyak pilihan. Semua hal ia usahakan sendiri. Makan, sakit, sembuh sendiri. Menangis pun sering diam-diam supaya tidak merepotkan siapa-siapa.
Ia terlalu terbiasa jadi figuran dalam hidupnya dan sekitar.
Sampai akhirnya bertemu Starla. Bocah itu datang seperti harapan kebahagiaan kecil yang mengetuk pintu hatinya pelan-pelan. Mengisi ruang kosong yang bahkan tidak Eliza sadari.
Dan sekarang… ada Saba, yang perlahan membuatnya merasa… dijaga.
Ya Robb… hidup memang aneh.
Kadang manusia meminta bahagia sampai menangis dalam doa. Tapi saat kebahagiaan benar-benar datang… justru takut menerimanya.
Eliza menunduk pelan.
Bukankah Allah tidak mungkin mempertemukan hati tanpa alasan? Bukankah setelah luka panjang, manusia juga berhak mendapat rumah?
Matanya perlahan kembali terangkat menatap Saba. Pria itu masih di sana, sabar menunggu. Seolah tidak keberatan kalau Eliza butuh waktu lebih lama untuk percaya bahwa dirinya juga layak dicintai.
Eliza menatap jemarinya sendiri beberapa saat. Sunyi di kamar hotel itu seperti memberi ruang untuk hatinya berpikir lebih jujur.
Ia lalu menghembuskan napas pelan. “Aku tuh…” suaranya lirih saat duduk di sisi ranjang, “…takut salah melangkah.”
Saba diam mendengarkan.
Eliza tersenyum samar, tapi matanya terlihat rapuh. “Dulu aku mikir… orang kayak aku cukup hidup biasa aja. Nggak usah berharap banyak.” Tatapannya beralih ke Starla yang masih memeluk bantal. “Tapi Allah malah ngasih aku kamuuuu.”
“Aku nggak mau gegabah sama sesuatu yang mungkin aja jadi jalan bahagiaku…” lanjutnya pelan sambil menengadahkan wajah ke atas. Seolah sedang meminta izin pada Tuhan. “Karena kalau niatnya baik, aku takut merusaknya dengan prasangka dan ketakutanku sendiri.”
Saba menunduk, meresapi perkataan Eliza.
Eliza kembali menatapnya sekarang.
“Aku nggak bisa jawab itu,” Sudut bibirnya naik tipis. “Aku juga masih belajar percaya, mencoba tidak menggantungkan harap pada manusia.”
Jeda.
“Tapi…” napasnya tertahan sepersekian detik, “…kalau memang Allah yang mendekatkan, mungkin kali ini aku nggak harus menghindar lagi."
Saba perlahan mengangguk. Binar matanya teduh sekali sampai Eliza salah tingkah sendiri dibuatnya.
“InsyaAllah,” jawab pria itu rendah. “Aku jaga amanahnya.”
Starla yang sedari tadi mendengarkan dengan wajah polosnya, langsung memeluk Eliza erat.
“Yeyyy!” serunya bahagia. “Ibu nggak pergi lagi!”
Eliza langsung tertawa malu sambil memeluk balik tubuh kecil itu. “Siapa juga yang mau pergi,” bisiknya lembut.
Saba bersandar santai sambil menatap dua perempuan itu dengan senyum semringah.
Eliza mengusap rambut Starla pelan yang masih memeluknya erat. Matanya sempat menunduk sebelum berkata lirih,
“Kadang kita sibuk takut kehilangan… padahal kalau sesuatu memang Allah tulis untuk kita, sejauh apa pun larinya… tetap akan ketemu.”
Saba terdiam. “El,” panggilnya pelan.
Eliza cuma tersenyum kecil, tapi sorot matanya mulai menghangat, “Aku cuma nggak mau lagi mendahului takdir dengan rasa takut.”
Saba mengangguk setuju, “Berarti…” gumamnya rendah, “…aku boleh berharap sama doa-doaku?”
"Boleh. Sebab Tuhan menciptakan doa sebagai bahasa cinta antara Dia dan makhluk-Nya.”
Di sana, rintihan hamba berbalas kasih sayang-Nya, di mana keterbatasan manusia bertemu dengan kemahakuasaan-Nya.
Kujadikan sujud sebagai tempat paling tulus untuk menitipkan rindu dan harapan, sebab doa adalah dialog yang tak pernah Tuhan abaikan.
Mencintai-Nya adalah satu-satunya cinta yang tak pernah bertepuk sebelah tangan. Ketika kata tak mampu lagi mewakili hati, kubiarkan air mata sujud yang berbicara. Sebab dalam diamnya doa, Tuhan sedang memeluk hamba-Nya dengan kasih sayang yang tak terucap.
.
.
TAMAT.