Aku Bukan Anak Haram - Starla
Ketakutan Saba
Eliza membuka mata perlahan, dia makin kesal.
“Balikin kunci motorku,” katanya dengan suara rendah tapi sorot matanya menajam.
Saba menatapnya lama. Tangannya menggenggam kunci itu, ragu. “Kita cuma ngobrol sebentar, El. Lima menit.”
“Lima menit?” Eliza tertawa pendek, pahit. “Versi kalian selalu lebih lama dan campur drama.”
Beberapa pengendara mulai memperlambat laju. Ada yang melirik, ada yang terang-terangan menonton. Eliza merasa jadi pusat perhatian di tengah jalan.
“Balikin,” ulangnya. “Atau aku teriak.”
Saba menghela napas. Ia melirik sekeliling lagi, lalu menyerahkan kunci itu. “Oke. Tapi ini belum selesai, kita harus bicara.”
Eliza merebut kunci itu cepat-cepat. Tangannya gemetar saat menancapkannya kembali. Mesin menyala dengan suara kasar.
“Buat kamu mungkin belum,” katanya sebelum menarik gas. “Buat aku, selesai.”
Motor melaju meninggalkan Saba dan mobil hitam itu.
Angin pagi menerpa wajah Eliza, dingin, tapi tidak cukup menenangkan. Di kaca spion, sosok Saba mengecil, lalu hilang. Mereka tampak seperti pasangan yang sedang bertengkar, pikirnya.
Sampai di kos, Eliza langsung masuk kamar. Ia duduk di lantai, bersandar di kasur. Tangannya menutup wajah.
“Sebel,” bisiknya.
Ponselnya bergetar. Nomor tak dikenal. Ia ragu, meski tetap mengangkatnya.
“Eliza,” suara perempuan terdengar tenang, terkontrol. “Ini saya.”
Jantung Eliza berdegup keras.
“Saya tahu kamu marah,” lanjut suara itu. “Tapi kita tidak bisa terus begini. Starla butuh kejelasan.”
Eliza menutup mata. Tangannya mengepal. “Yang Starla butuh,” katanya akhirnya, pelan tapi tegas, “bukan makan malam mewah. Tapi waktu. Dan ketenangan.”
Hening sejenak di seberang.
“Kita bicarakan baik-baik,” kata Hasnawati kemudian. “Sebagai perempuan ke perempuan.”
Eliza tertawa kecil, nyaris tak terdengar. “Baik-baik versi Nyonya itu berarti saya harus mengalah, ya?”
Tidak ada jawaban langsung, tapi telepon masih tersambung. Sunyi pun menekan telinga Eliza.
“Eliza,” suara Hasnawati kembali terdengar, tetap tenang, nyaris lembut. “Tidak ada yang ingin mengambil paksa Starla darimu.”
Eliza tersenyum kecil, getir. “Kan lagi otewe ngambil.”
Hasnawati menarik napas. “Kamu terlalu curiga.”
“Karena menurut kalian, saya tidak berhak,” potong Eliza cepat. “Dan orang sepertiku memang nggak punya pilihan selain curiga.”
Hening lagi.
“Kami hanya ingin Starla tumbuh lengkap,” lanjut Hasnawati. “Ada ayahnya. Ada keluarganya.”
Eliza menunduk. “Lengkap ... baru nyari setelah sekian lama?” tanyanya lirih. “Starla tumbuh dengan saya dan Bu Gendhis. Setiap hela napasnya. Itu nggak masuk hitungan sebagai keluarga, ya?”
Nada Hasnawati mengeras sedikit. “Kamu emosional.”
Eliza terkekeh pendek. “Saya ibu, Nyonya. Kalau nggak emosional saat tahu akan disingkirkan, lalu harus apa?”
Telepon ditutup sepihak.
Eliza menatap layar itu lama. Tangannya gemetar, karena marah. Ia berdiri, mencuci muka, lalu duduk lagi mengatur napas.
Ponselnya kembali bergetar, pesan dari nomor baru.
["El. Aku nggak tahu Mama nelpon kamu. Aku baru tahu sekarang."]
Eliza membaca tanpa ekspresi.
["Aku minta maaf kalau semua ini bikin kamu ngerasa ditekan. Tapi tolong jangan bawa Starla pergi dari kami."]
Eliza mengetik pelan, lalu berhenti. Menghapus. Mengetik lagi.
“Sesuka kalian saja’,” tulisnya akhirnya, “sudah biasa mengancam, kan.”
Pesan terkirim. Tak ada balasan. Jam di dinding menunjukkan hampir jam 10 siang. Eliza bangkit, bersiap kerja. Ia menutup pintu kamar, mengunci, lalu berhenti sejenak sebelum melangkah.
Tas kerja sudah di bahunya. Tiba-tiba saja kepikiran, apa dia pergi diam-diam dengan Starla ke kota lain?
Bu Gendhis keluar dari pintu samping, membawa sapu. Dia heran melihat Eliza mematung di teras.
“Mbak El… kok meneng wae?” tanyanya.
Eliza tersenyum tipis. “Bu… aku nitip jemput Starla kek biasa ya.”
Bu Gendhis langsung mengangguk. “Yo iso. Gampang itu. Kok kaya lagi banyak pikiran?”
Eliza menarik napas panjang. Awalnya ia ragu. Tapi sapaan Bu Gendhis membuat dadanya runtuh sedikit. Ia pun bercerita pelan. Tentang Saba dan ibunya, makan malam keluarga. Rasa takut kehilangan, dan rasa bersalah yang datang bersamaan.
Bu Gendhis mendengarkan sambil bersandar ke tiang.
“Ngene lho, mbak El,” katanya. “Kita iki, jujur wae, emang bukan sapa-sapa.”
Eliza menunduk.
“Nek arep jahat, yo bisa aja wong-wong kuwi merebut paksa,” lanjut Bu Gendhis, suaranya tetap tenang. “Sah secara hukum. Tapi nyatane, ndak, kan?”
Eliza mengangguk pelan.
“Kita bedua ngurusi Starla saka cilik,” kata Bu Gendhis lagi. “Aku sakit hati, ora ikhlas, kuwi wajar. Malah kalau bilang ora sakit, itu aneh.”
Eliza mengusap matanya yang mulai mengembun cepat-cepat.
“Tapi urip iki kadang ora nurut maunya kita,” lanjut Bu Gendhis. “yang bisa kita pilih adalah sikapmu. Mbak El tetep mikir sing paling apik kanggo Starla.”
Ia menepuk lengan Eliza pelan. “Sing kuat, mbak El. Iki ganjaranmu. Gusti Allah Ndak tidur. Nanti… kebaikanmu bakal dibales. Mungkin bukan dari orang yang sama, tapi pasti diganti.”
Eliza menarik napas panjang. Dadanya masih sesak, tapi tak lagi kesal menggebu.
“Terima kasih, Bu,” katanya lirih. “Aku kadang nggak tau mau marah ke siapa … capek.”
Bu Gendhis tersenyum. “Capek yo wajar. Lillah. Starla kuwi ngerti siapa yang betul-betul sayang dan ngurusin dia.”
Eliza berdiri, membenarkan tasnya.
Bu Gendhis mengusap bahu Eliza, senyumnya muncul tipis. “Kowe kerja sing tenang. Starla aman.”
***
Saba duduk di kursi belakang mobil, jasnya masih rapi tapi pikirannya berantakan. Jalanan macet, klakson bersahut-sahutan, tapi yang paling berisik justru kepalanya sendiri.
Wajah kesal Eliza pagi tadi terus muncul. Ia menghela napas panjang.
“Aku terburu-buru,” gumamnya pelan.
Ponsel Saba bergetar. Nama ibunya muncul. Ia menatapnya lama, lalu mematikan layar tanpa menjawab.
Ia tahu, ibunya menekan Eliza. Dan ia tahu, reaksinya tadi pagi dibaca Eliza sebagai pengkhianatan.
Padahal niatnya ingin semuanya cepat jelas. Agar Starla punya tempat yang “aman” menurutnya. Tapi ia lupa satu hal, Starla tidak dididik Eliza di titik itu.
Saba memijat pelipis. “Aku belum tahu betul watak Eliza,” katanya lirih pada dirinya sendiri. “Ditekan sedikit saja, dia bisa kabur.”
Mobil berhenti di lampu merah. Saba mencondongkan badan ke depan. “Ban,” panggilnya.
Albana, asisten pribadinya, menoleh dari kursi depan. “Iya, Bos?”
“Mulai hari ini, kamu perhatiin kosannya Eliza,” kata Saba datar, tanpa nada perintah berlebihan. “Bukan buat nakut-nakutin. Cuma ngawasin.”
Albana diam sebentar, mencerna. “Maksudnya ngintai, gitu?”
“Jaga-jaga,” potong Saba cepat. “Kalau dia tiba-tiba pindah. Atau bawa Starla pergi tanpa kabar.”
Albana mengangguk pelan. “Baik, Bos.”
Saba menatap keluar jendela. Gedung-gedung lewat seperti bayangan. Dadanya terasa berat.
“Aku ngerti,” lanjut Saba, lebih pelan, seolah bicara ke dirinya sendiri. “Buat kami mungkin ini bagus. Mempercepat proses. Tapi buat Eliza… ini paksaan.”
Ia menutup mata sebentar. “Dan Eliza bukan tipe yang diam kalau terpojok,” tambahnya.
Lampu hijau menyala. Mobil kembali berjalan.
Albana melirik lewat kaca spion. “Kalau Eliza peka dan tahu?”
Saba menggeleng. “Jangan sampai.”
Ia menarik napas dalam. Saba menatap layar kosong itu lama.
Di dalam hatinya, kalau Eliza benar-benar pergi, itu karena dipaksa terlalu cepat untuk melepaskan sesuatu yang ia rawat sendirian selama bertahun-tahun.
Dan kali ini, Saba tidak yakin dirinya berada di sisi yang benar.
"Bos!"
.
.