Aku Datang, Aeera!
Kamu Sudah Besar, Sekarang ... 22
Jamuan makan berjalan lancar, Kenan diminta memberi pidato setelah semua makan dengan lahap. Kenan kaget karena dia diminta oleh Putri Kalya untuk memberi semangat pada bangsa Elf.
Kenan gemetar, dia berdiri dari kursinya dan semua orang diam melihatnya. Kakinya gemetaran, dia masih teringat semua hal yang menimpa dirinya. Kelemahan dan ketidakberdayaan, bullying, penghinaan dan bahkan disiksa. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Kenan pucat.
Kenan menutup matanya, dia masih gemetaran.
Pluk!
Tangan kecil memegang tangan Kenan yang gemetaran, Kenan kaget. Kenan membuka matanya dan melihat tangan kecil itu, tangan Aeera yang tersenyum pada Kenan memberinya motivasi. Kenan pun tersenyum pada Aeera dan melihat ke semua orang, semua bangsa Elf menunggu kata-kata dari Kenan.
”Teman-teman semua!”
Suara Kenan penuh semangat, semua melihat ke arah Kenan dan terdiam.
”Sudah cukup main-mainnya! Kita akan hancurkan Raja Iblis dan Raja Monster dan membebaskan manusia dan elf! Kita semua akan hidup merdeka!”
”HOOOOOOOO!”
Suara gemuruh dan semua orang bersemangat. Kenan tak percaya, dia melakukannya! Dia bisa melakukannya! Dia tersenyum dan mengangkat tengan kanannya.
Kebebasan! Keberanian! Dan percaya diri!
***
”Inilah sebabnya, aku yang menjadi pemimpin bangsa Elf!”
Putri Kalya akhirnya mengajak tiga manusia itu melihat kondisi Ibunya, Ratu Elf, Elsa. Elsa adalah Ibu dari Kalya dan kini terbaring di kamar besar yang dijaga pengawal dengan ketat. Elsa sudah sakit selama kurang lebih 100 tahun. Putri Kalya menggantikan Ibunya dalam memimpin bangsa Elf dan bersembunyi dari serbuan Monster dan Elf.
Mereka terus bertarung melawan Iblis dan Monster. Mereka mencari tempat persembunyian. Pada dasarnya, mereka lebih aman ketimbang manusia. Hal ini karena, bangsa Elf tidak pernah ikut campur dalam hal dunia. Mereka memang suka menempati hutan dan jauh dari keinginan menguasai apapun.
Namun, para Iblis selalu mengejar mereka semua. Para Iblis masih menganggap bahwa para Elf tetap akan melawan suatu hari nanti.
Ratu Elf tertidur dan mahkota masih dikenakannya.
”Boleh aku memeriksanya?” tanya Kenan.
Kalya dan Genio kaget, mereka bahkan sudah mengundang semua tabib hebat dari kalangan Elf maupun manusia. Namun, mereka akhirnya membiarkan Tuan Kalandra untuk melakukannya.
Kenan memeriksa nadi, normal. Setidaknya, Kenan pernah belajar di pelajaran biologi dan anatomi tubuh. Kenan mendekatkan tangannya pada pernapasan ratu Elf, Elsa. Normal. Dia bingung. Kenan meminta bantuan Aeera untuk memegang bagian depan tubuh ratu Elsa, tepat di bagian jantung.
Irama jantung, jumlah detakan diminta Kenan untuk Aeera memberi kode. Dan, Kenan menemukan masalahnya. Detakan jantung ratu Elsa adalah sangat lama, lebih dari 10 detik dan jantung itu baru berdetak, sangat lama.
”Apa yang menyebabkan ratu Elsa tertidur?”
Kalya dan Genio menceritakan, sekitar 100 tahun yang lalu. Ratu Elsa melindungi bangsa Elf saat berpindah tempat. Pertarungan melawan raja Iblis, kekalahan telak dan ratu Elsa terkena serangan. Dia menggunakan sihir terkuatnya untuk melindungi bangsa Elf dan membuat Raja Iblis kehilangan keberadaan para Elf untuk sementara waktu.
Berlebihan dalam menggunakan kekuatan sihir, tubuh ratu Elsa melemah dan akhirnya pingsan.
Kenan berpikir sejenak.
”Aeera! Kembalikan aku ke duniaku. Panggil lagi dalam waktu satu jam,” kata Kenan pada Aeera.
Aeera tidak bertanya banyak hal. Dia pun melakukan hal itu, dia percaya pada tuan Kalandra. Dia melepaskan ikatan sihir pada makhluk panggilannya. Kenan dikembalikan ke dunianya.
JEGLAAAARR!
Tidak ada waktu lagi!
Kenan berada di kamarnya, dia membuka internet dan mencari informasi tentang jantung yang melemah. Umur para Elf memang lama, bahkan mereka bisa hidup seribu tahun. Hal itu Kenan dapatkan kisahnya dari putri Kalya dan Yuhas. Kenan mencari informasi tentang pelemahan jantung, atau berdetak dengan sangat lambat.
Kehilangan kesadaran, dipicu oleh saraf vagus. Syaraf ini menghubungkan aliran darah ke usus dengan sistem pencernaan ke otak. Saraf Vagus yang terlalu bersemangat, menarik terlalu banyak darah ke otak. Hal ini memicu kesadaran menurun dan pingsan. Bisa jadi, juga karena saraf otonom, terjadi malfungsi karena rasa sakit yang berlebihan.
Jadi ...,
Jantung ratu Elf, harus stabil!
Kenan memikirkan caranya untuk dapat menyembuhkan ratu Elsa. Apakah hal ini bisa terjadi? Kenan tersenyum ketika mengingat wajah Aeera. Dia telah percaya padanya selama ini. Jika Kenan bisa menyembuhkan ratu Elsa. Maka, ada kemungkinan mereka akan diberikan izin untuk meminjam Kompas Emas.
Itu benar! Kenan harus percaya diri.
Kenan melihat waktu, tepat satu jam kurang beberapa detik. Dia yakin, waktunya untuk berangkat sudah tiba. Dan, gelang artefak di tangannya menyala. Saatnya untuk berangkat, seorang tabib atau alkemis tingkat dunia. Ha.. ha.. ha..
Cahaya gemerlapan.
JEGGLAAAARRR!
Kenan meninggalkan kamarnya dengan kilat, meninggalkan nyala laptop yang masih menyala.
***
Wooossh! JEGLAAARRR!
Kenan disambut senyuman oleh Aeera.
”Apakah Tuan mengambil sesuatu dari dunia anda?” tanya Aeera.
”Tentu saja, Aeera!”
Kenan melihat ratu Elsa yang masih tertidur di meja panjang. Dia melihat ke arah Kalya dan Genio.
”Izinkan aku mencoba menyembuhkan ratu Elsa,” kata Kenan penuh keyakinan.
Kalya dan Genio kaget mendengar hal itu, mereka tak bisa menolaknya. Mereka tidak yakin akan kemampuan Kenan, tapi mereka tak punya pilihan.
Kenan mengeluarkan magnet gelangnya, jumlahnya ada enam. Kenan mengambil sesuatu dari kantong celananya. Itu adalah kabel? Dia mengambil kabel saat akan berangkat. Kabel itu dibuka di bagian kedua ujungnya. Dikaitkan pada melingkar para enam magnet. Kenan menggunakan kekuatan mana divine, menggerakkan gelang itu dengan kemampuan sihirnya.
”Putri Kalya, aku minta gunakan kekuatan sihir kecepatanmu pada enam gelang ini!”
Kalya tidak mengerti tapi dia bersiap menggunakan kedua pedangnya, masing-masing pedangnya dibentuk dan menyala. Dia siap menggunakan kekuatan sihir kecepatannya untuk dikerahkan pada gelang-gelang bercahaya yang sudah digerakkan Kenan ke atas.
”Aeera! Gunakan sihirmu untuk melindungi tempat ini, kekuatannya akan cukup besar.”
”Baik tuan Kalandra.”
”Yuhas dan Genio, bantu Aeera!” teriak Kenan.
Semua tak mengerti, tapi mereka mengikuti perintah Kenan.
”Mulai, Putri Kalya!”
Kalya melesat, kecepatan tinggi digunakan. Dia melayang di udara, memutar tubuhnya dan kedua pedangnya. Energi halilintar begitu cepat, dia menghunjamkan energi yang kuat pada gelang-gelang yang sudah membesar dengan sihir kenan.
Splash!
Wooosh!
Energi besar, gelang-gelang menyala dengan cahaya gemerlapan. Aeera, Yuhas dan Genio menggunakan kemampuan sihir mereka untuk mengurung energi yang besar di sekeliling mereka. Mereka kesulitan, tapi tetap bertahan. Hal ini karena, kekuatan magnet gelang itu mengunci dan memperbesar energi sihir yang dilepaskan Kalya, menjadi berlipat ganda.
Woossh! Wooosh!
Kenan bergerak, ini saatnya. Dia melesat terbang ke arah gelang-gelang magnet yang menyala. Dia menarik dan membuat kabel yang tersambung dengan gelang, dia menarik energi itu dan turun langsung ke arah ratu Elsa yang masih tak sadarkan diri.
”Bangunlah Ratu Elsa! Kamu harus melindungi bangsamu!”
Teriak Kenan, tangannya memegang kabel yang memanjang dan ada aliran kekuatan besar.
”Menyalalah, dan kembalikan jiwa yang tertahan! Kejut Jantung Terkuat dari Bumi!”
BOOOOOOMMM!
Kenan mengarahkannya pada tubuh Ratu Elsa dari Atas.
WOOOOSSSSHH!
Angin, ledakan, energi, cahaya, dan pendar energi meledak bersamaan dengan kekuatan listrik itu menghantam ratu Elsa.
Semua mata tak bisa melihat, semua diselubungi energi. Dan, semua orang terpental akibat ledakan besar itu. Kecuali, Kenan dan Ratu Elsa yang masih tetap berada di tempat mereka.
Brush!
Ledakan energi, dan akhirnya berakhir. Cahaya mulai hilang. Semuanya bangun dan melihat Kenan masih berdiri cukup kelelahan.
Dan, mata Kalya tak bisa berkedip, dia meneteskan airmatanya. Hal itu karena, Ibunya. Ratu Elsa sudah duduk dan tersenyum padanya.
”IBBBBBBUUUUUUUUUUUU!”
Kalya berlari dengan kecepatan tinggi dan melewati Kenan, dia memeluk Ibunya.
”Kamu sudah besar sekarang, Kalya ....”