Aku Datang, Aeera!
Aku Sudah Menemukan Kebahagiaan 25
Raja Iblis, Lucifer Helios.
Helios duduk di singgasananya, beberapa pengawal berdiri di belakangnya, di depannya duduk para petinggi dari bawahannya. Pasukan elit di bawah kekuasaan langsung Helios datang. Mereka semua menunggu perintah dari Helios.
”Regius dikalahkan oleh para manusia. Ini di luar perkiraan. Mereka telah mulai berani melawanku!”
Pasukan Helios terdiam. Mereka benar-benar takut jika Helios murka. Namun, sedetik kemudian Helios tiba-tiba tersenyum.
”Shodam! Apakah laporanmu kemarin bisa dipercaya?” tanya Helios dan gigi taringnya terlihat.
Shodam menggerakkan kedua tangannya ke depan, ”Informasi itu akurat, Rajaku. Mereka sedang menuju Pegunungan Raktus untuk mencari senjata mitos Pedang Halilintar!”
Pasukan Helios saling berpandangan, mereka baru mengetahui informasi itu. Siapa mereka? Apakah para menusia lemah itu mencoba untuk melawan Iblis dan Monster. Apakah mereka ingin mencoba melawan lagi?
”Ha.. ha.. ha..!” tawa Helios diselingi matanya yang menyala.
”Aku tugaskan pada kalian, siapkan diri kalian. Aku ingin kalian mendapatkan Kompas Emas dan Kunci Langit apa pun resikonya!” teriak Helios, dia berpikir jika mendapatkannya item tersebut, maka Helios bisa mengalahkan raja monster, Horus. Selama ini, mereka berbagi benua yang berbeda sebagai basis kekuatan. Helios dan Horus harus berbagi kekuasaan karena kekuatan mereka seimbang. Sebenarnya, setiap dari mereka mencari celah kelemahan masing-masing.
”Aku tidak peduli, VIP Elit tertinggi. Sembunyi, dan dapatkan kedua artefak kuat itu!”
Suara Helios menggelegar. Pasukan elit yang dimiliki Helios pun paham, mereka tak berani membangkang. Apalagi, mereka hanya melawan pasukan manusia. Segala serangan, mereka pasti terbirit-birit lari.
Pasukan Elit tertinggi dari ras Iblis pun undur diri, mereka memiliki satu misi. Artefak Manusia dan Elf yang dibawa oleh tim utusan yang mencari senjata pedang halilintar. Mitos aneh yang dipercaya manusia. Mereka sudah kehilangan harapan, sehingga rumor palsu itu pun mereka percayai.
***
Horus berdiri di atas bukit, pasukan terkuatnya sudah berkumpul.
”Tujuh King Beast! Sembunyi dan dapatkan dua artefak yang disimpan para utusan manusia itu. Aku ingin mendapatkan dua artefak kuat itu. Aku tak peduli dengan Pedang Halilintar, senjata kuat itu hanyalah omong kosong!”
Suara Horus menggelegar dari atas bukit, tujuh pasukan tertinggi yang dimilikinya segera paham. Mereka pun mundur dan menghilang untuk melakukan tugas mereka. Sisa dari pasukan monster kemudian berlutut hingga Horus pergi dari bukit tersebut.
Horus pun meninggalkan tempat itu, dia masih berpikir alangkah bodohnya para manusia itu masih percaya dengan mitos Pedang Halilintar.
Padahal, itu hanyalah bualan agar memberikan harapan semu pada para menusia itu. Selama waktu apapun mereka melawan. Mereka hanya akan menemui kehancuran dan ketundukan sebagai budak.
Ha... ha.. ha..!
***
Kenan berada di dalam kamarnya, dia memejamkan matanya. Perjuangannya di dunia Aeera sudah mencapai titik akhir. Dia harus bisa menemukan pedang terkuat, pedang yang bisa menghancurkan raja iblis dan raja monster. Kenan menghembuskan napasnya perlahan.
Dia meminta izin pada Aeera untuk dikembalikan ke dunianya, dia meminta waktu satu jam saja. Benar! Satu jam cukup bagi Kenan untuk bertemu dengan Ibunya. Satu hal yang tidak bisa dipastikan oleh Kenan. Apakah dia bisa kembali ke dunia ini lagi atau tidak. Pertarungan melawan Raja Iblis dan Raja Monster akan menjadi pertarungan yang sangat krusial.
Kenan tidak tahu, apakah dia bisa mengalahkan Raja Iblis dan Raja Monster?
Namun, Kenan memilih untuk bertarung dengan berani untuk membebaskan dunia Aeera. Tak masalah jika dia menjadi pecundang di dunianya, tapi tidak untuk Aeera. Kenan akan membantu Aeera untuk menjadi seorang penyihir terkuat dan dia tidak akan dibully seperti dirinya.
Jadi kali ini, Kenan meminta pulang sebentar. Untuk bertemu dengan Ibunya secara langsung dan meminta maaf padanya.
Kenan harus berani!
Dia berdiri di depan pintu kamarnya, semua kelemahan dan ketidakberdayaannya, harus berakhir! Dia adalah Kenan, sebelum pergi dia ingin memastikan bahwa Ibunyam akan menjadi orang paling bahagia di dunia ini. Dia tidak ingin membiarkan Ibunya bersedih lagi.
Klak!
Kenan membuka pintu kamarnya, dia melangkahkan kakinya. Meskipun bergetar, dia harus meyakinkan dirinya. Dia berjalan, dengan segala kekuatannya. Dia ingin bisa melakukan sesuatu yang bisa membuat ibunya tersenyum. Meskipun hanya untuk sekali saja.
Kenan meyakinkan dirinya, berjalan dengan percaya diri. Dan, saat melewati lorong. Tibalah Kenan dengan langkah pelan, dia melihat dari balik dinding. Dia melihat Ibunya sedang membuat kue untuk dijual. Ibunya, Ghina memang menghidupi dirinya dan Kenan dengan berjualan kue.
Ada kelelahan di wajah Ibunya, Kenan tak kuasa menahan airmatanya. Bibirnya bergetar, dia ingin berani datang kepada Ibunya. Meminta maaf dan memeluknya, tapi kakinya masih gemetaran. Kenan gemetar kembali, perasaan takut menghinggapi dirinya lagi.
Srak!
Satu kakinya tiba-tiba muncur perlahan, dia gemetar. Suara itu didengar oleh ibunya. Ibunya kaget dan melihat ke arah Kenan. Dia melihat Kenan menatapnya. Pandangan keduanya bertemu, tanpa ada suara. Mereka saling berpandangan. Cukup lama.
Bibir Ghina bergetar, ”Kamu sudah makan, Kenan?” suara ibunya bergetar. Ghina mencoba untuk tegar sambil mengucapkan hal itu, meskipun airmatanya tak bisa ditahan.
Kenan gemetaran, kedua lututnya jatuh ke lantai. Kenan menangis dan Ghina mendekatinya. Sebagai seorang Ibu, Ghina tahu apa yang dirasakan puteranya. Dia pun mendekat dan memeluk kepala Kenan, mengelus rambutnya yang panjang dengan penuh cinta.
”Tidak apa-apa, Kenan. Tidak apa-apa..., kamu pasti tegar. Ibu akan menunggumu sampai kapanpun."
HUUUUAAAAAAA!
Kenan menangis dengan keras, dia memeluk kedua kakinya ibunya dengan kuat. Kenan tak bisa lagi menahan dirinya. Rambutnya dielus dengan penuh kasih sayang, Kenan merasakan bahwa dia seperti bayi yang baru dilahirkan.
Ghina membiarkan Kenan, hingga anaknya siap untuk menghadapi dunia kembali.
”Maafkan ..., maafkan Kenan, Ibu. Maafkan Kenan ... hiks hiks hiks!”
”Tidak apa-apa Kenan. Ibu akan menunggumu, sampai usia ibu habis di dunia ini.”
Tangis Kenan bertambah keras.
Keduanya larut dalam kesedihan.
Tangisan sudah mereda, hanya suara tangis Kenan yang masih terdengar lirih.
”Aku harus kembali Ibu ..., percayalah padaku. Aku sedang berjuang untuk kembali pulih. Aku harus kembali ke kamar.”
Kenan berdiri dan melangkah lagi ke kamar, meninggalkan Ibunya yang masih meneteskan airmata tanpa ada suara.
”Kenan jaga diri baik-baik, ingatlah pada Tuhan. Kamu pasti bisa bangkit, Anakku.”
Suara lirih Ghina membuat Kenan menganggukkan kepalanya, Kenan melangkah lagi dengan perlahan. Dia pun masuk ke kamar dan mengunci pintunya kembali. Sedangkan, Ghina tak bisa menahan dirinya. Dia menangis setelah Kenan pergi. Dan, itu adalah tangis bahagianya sebagai seorang ibu.
***
Woooossh!
Tujuh orang berangkat ke tujuan yang sudah ditentukan, Pegunungan Raktus. Lima orang menaiki burung energi yang diciptakan Kalya. Regas dan Sera menaiki kuda terbang yang diciptakan dengan kekuatan Sera. Mereka terus terbang melintasi hutan dan dataran yang panjang. Kehancuran di mana-mana. Banyak pepohonan yang kering, kehidupan binatang yang mulai musnah.
Dataran di seluruh benua seperti dikutuk.
”Kenapa kamu lama memanggilku, Aeera?” tanya Kenan yang duduk di belakang Aeera. Burung energi besar itu terus terbang sesuai arahan dari energi Kalya.
”Aku takut mengganggu tuan Kalandra. Tuan pasti mengurus urusan penting sehingga meminta waktu untuk pulang kembali.”
Kenan tersenyum, ”Baiklah, tak masalah Aeera. Aku hanya takut kalau kamu lupa.”
”Oya tuan Kalandra,” Aeera menatap ke belakang dan melihat Kenan, ”Terima kasih untuk bantuan tuan karena memarahi ayahku.”
Aeera merasa bahagia, karena dengan kata-kata tuan Kalandra. Untuk pertama kalinya, ayahnya mengakui dirinya. Aeera merasa memiliki seorang ayah, meskipun ayahnya itu memiliki anak yang banyak dari isteri yang lain. Namun, Aeera tahu bahwa ayahnya sangat mencintai mendiang Ibunya.
”Tidak masalah, Aeera. Tugas kita di depan akan sangat berat. Jadi, kita harus fokus untuk menyelamatkan duniamu. Kita harus bisa mendapatkan Pedang Halilintar, kita harus mengalahkan Raja Iblis dan Raja Monster. Duniamu harus kembali damai, Aeera.”
Kenan begitu bersemangat.
”Aku tidak peduli dengan itu semua, tuan Kalandra.”
”Apa maksudmu, Aeera?” Kenan menatap kedua mata Aeera.
”Aku sudah berterima kasih pada Tuhan, karena mengirimkan anda padaku. Sejak tuan bersamaku, aku sudah bahagia. Apapun yang terjadi, aku akan percaya padamu, tuan Kalandra.”
Kedua mata mereka bertemu. Entah apa yang dipikirkan mereka masing-masing.
”Awas!”
Teriakan Sera menggema, serangan gumpalan api besar dari arah tanah mencoba membakar burung energi milik Kalya. Serangan itu sangat kuat dan besar. Kalya kehilangan keseimbangan dan serangan itu mengenai sayap burung energinya.
Brush! Boooomm!
Mereka diserang, burung energi meledak. Mereka terpelanting dari burung energi itu.
”Aeera!” Kenan melihat Aeera terjatuh. Dia menggunakan kecepatan terbangnya dan berusaha menangkap Aeera di antara ledakan besar di udara.
Wooooossshh!
Aku akan menangkapmu!