Aku Datang, Aeera!
Aku Datang, Aeera! 41
”Ibu ... aku harus pergi. Aku tidak tahu apakah aku bisa kembali ke rumah, tapi seseorang membutuhkan bantuanku. Jika aku tidak datang, maka aku akan menjadi seorang pengecut selamanya. Aku tidak bisa mengatakan detailnya, tapi ... ”
”Pergilah ... kamu sudah besar dan tahu apa yang harus kamu lakukan.” Ghina memutus penjelasan Kenan. Ghina tahu Kenan punya rahasianya dan dia hanya ingin meyakinkan ibunya untuk meminta izin pergi.
Ghina tersenyum pada puteranya, ”Jika urusanmu sudah selesai, pulanglah ke rumah.”
Airmata Kenan tak lagi bisa disembunyikan, meleleh begitu saja. Kenan memeluk ibunya sekali lagi, keduanya hanyut dalam perasaan haru. Sudah setengah jam Kenan tak bisa menahan airmatanya bersama Ibunya.
Namun, dia harus datang ke peperangan terakhir. Pedang Halilintar memberinya waktu tidak lebih dari tiga jam, dan tentu saja, Aeera sedang menunggunya.
”Aku pergi ibu.”
Kenan melepaskan pelukan Ibunya, dia mencium tangan Ibunya dan keluar dari pintu rumahnya. Lima langkah dari pintu, Kenan berbalik dan melihat sang Ibu melihatnya sambil tersenyum.
Mata Kenan masih berair, tapi dia tersenyum dan mengangguk. Meyakinkan sekali lagi, bahwa dia baik-baik saja.
Kenan meninggalkan halaman rumah dan bergegas, dia merasakan aliran energi mana yang mampu dirasakan dengan konsentrasinya. Dia harus bergegas, dan saat menyadari sesuatu, ada aliran energi seperti garis kabut kuning yang menuntun langkahnya.
Aku harus bergegas!
Di rumah yang ditinggalkan Kenan, Ghina sang Ibu melihat punggung puteranya hingga menghilang. Saat itulah, Ghina baru bisa meneteskan airmatanya, meskipun berusaha sekuat tenaga menahan tangisnya.
Akhirnya ... tangis Ghina pecah! Dia menyandarkan punggungnya di dinding, jatuh ke lantai dan airmatanya bercucuran.
Bukan karena sedih, tetapi itulah tangisan bahagia yang bahkan ketika setiap tetes airmatanya itu dibandingkan dengan lautan. Maka tak ada yang bisa menyaingi kekuatan satu tetes airmata seorang ibu dibandingkan air di lautan yang luas.
”Terima kasih, Tuhan ... kini aku percayakan keselamatan Kenan padamu.”
Ghina tahu, dia tak bisa menahan Kenan untuk tidak pergi. Dia harus menjadi busur yang melesat dan tugas Ghina sebagai ibunya, hanya percaya padanya.
Kembalilah jika sudah selesai urusanmu, Kenan. Ibu akan selalu mendoakanmu dan menyertai langkahmu dalam setiap napasku ...
Kenan ...
***
Kenan melewati jalanan, ramai terlihat kendaraan dan lalu-lalang manusia. Kenan tidak terlalu konsentrasi para orang lewat, dia melihat ada garis kuning membayang tipis. Energi kuning yang seolah memandunya menuju sumber energi yang kuat.
Energi tipis itu tidak ada yang melihatnya, kecuali Kenan.
Kenan melihat sesekali wajah-wajah orang yang lewat, mereka sama sekali tidak peduli pada Kenan dan berlalu tanpa memperhatikannya. Namun, beberapa orang melihat Kenan yang sedikit tertarik karena rambut Kenan yang panjang.
Saat menatap sejenak mereka, ada perasaan takut yang tiba-tiba datang. Perasaan direndahkan dan tak berdaya seperti yang selama ini dirasakannya.
Kali ini tidak!
Dia ingat janjinya pada Tuan Pedang! Dia harus kuat untuk mencapai mana energi yang kuat dan membuat energi itu mencapai dunia Aeera. Tak ada waktu lagi untuk berpikir panjang, Kenan membulatkan tekadnya.
BRUK!
Saat Kenan lengah dan fokus melihat arah energi tipis yang meliuk di depannya, dia menabrak seseorang karena terburu-buru.
Srak!
Beberapa barang yang dibawa orang itu terjatuh, itu adalah tiga buku yang cukup tebal. Buku tentang sosial; Fenomena Sosial, Ilmu Sosial, dan Pembangunan Sosial. Kenan merasa bersalah dan segera memungut tiba buku tebal itu.
”Maaf ... Maaf, saya terburu-buru! Saya kurang konsentrasi. Maafkan saya ... ”
Mata Kenan terhenti, tepat saat dia memberikan tiga buku yang sudah dipegangnya itu pada seorang wanita yang kini juga memandanginya. Mereka masih terduduk, pandangan mereka berdua bertemu dan mereka terdiam sejenak. Tak ada suara, hanya desing angin sepoi yang menerpa wajah mereka.
Wanita itu memakai jilbab hijau tua, dan bola matanya sangat indah. Dan saat itu juga, Kenan memutar memori singkat dalam hidupnya. Beberapa tahun lalu, saat masih sekolah menengah dan dibully.
Wanita itu adalah ...
”Ke ... Kenan? Kamu baik-baik saja ...”
Kenan menyerahkan buku itu dan wanita itu menerimanya, keduanya masih sibuk dengan pikirannya masing-masing.
”Maaf ... maafkan aku. Aku sedang buru-buru. Maaf ...”
Kenan berdiri dan melintasi bahu jalan di atas trotoar, dia bergegas dan tak kembali menengok ke belakang. Dia meninggalkan wanita yang masih menatapnya hingga menghilang di tikungan jalan.
Kenan terus berlari, dia tak mau lagi memikirkan hal lainnya. Saat ini tugasnya adalah menemukan sumber energi yang kuat. Dia terus mengikuti pola energi kuning emas, semakin terasa besar. Itulah petunjuknya. Kenan belajar konsentrasi di tengah jalan agar tidak menabrak siapapun. Dia terus mengikuti garis itu setengah berlari, rambut panjangnya sedikit berkibar karena angin.
Beberapa mata melihat Kenan, hanya sesaat karena heran dengan lelaki yang berambut panjang. Kenan tak peduli lagi, dia terus bergegas. Melewati jalanan yang lebih sepi, dia masuk dalam sebuah perumahan. Saat di gerbang perumahan yang cukup mewah, sang penjaga yang berjumlah dua terlihat sedang berada di posko.
Mereka pasti tidak akan membiarkan Kenan masuk, garis energi kuning itu masih mengarah ke arah perumahan yang cukup elit di kota itu.
Apa yang harus kulakukan?
Namun, belum sempat berpikir lama, sebuah mobil mewah memasuki area perumahan itu. Saat sang supir berhenti sejenak, mereka terlibat obrolan singkat dengan dua penjaga. Kenan tahu, dia menyelinap dan mengambil jalur lain. Kenan menyelinap dan melihat ada pagar yang lebih rendah.
Kenan tak peduli, dia harus cepat. Kenan mengendap dan melompat.
Syuut! Tap!
Kenan belajar meringankan tubuh agar tidak menimbulkan suara, sayangnya seorang penjaga di gerbang itu melihat Kenan dari kejauhan.
”Hei! Siapa itu! Berhenti!”
Kenan melihat sejenak, tak ada waktu. Dia berlari dengan kencang, tak peduli apapun lagi. Dia harus mencapai sumber energi itu. Energi itu semakin membesar, artinya semakin dekat dengan sumber energi. Tiga jam yang sudah dijanjikan akan segera berakhir.
Dua penjaga mengejar Kenan, mereka berlari mengikuti Kenan. Melewati beberapa rumah mewah dan Kenan tak peduli. Dia terus berlari, berlari dan berlari. Dia tak peduli apapun tentang dirinya. Dia harus menyelamatkan Aeera tepat waktu.
”Berhenti!”
”Berhenti!”
Kenan tak peduli, dia bahkan merasakan bahwa dia tak lagi berlari tapi seolah terbang. Dia terus mengikuti energi emas yang semakin besar.
Hampir sampai, sumber energi itu membesar di antara bunga-bunga yang sangat rimbun dan di bawah pohon buah yang lebat. Kenan melompat melihat energi yang sangat besar. Kenan mencapainya, dia melompat dan bergulingan karena kehilangan keseimbangan. Dua penjaga melihat Kenan terjatuh di halaman salah satu rumah mewah. Jaraknya sekitar 30 meter.
”Cepat kejar!”
Sementara Kenan melihat energi besar di dekat dia jatuh, itu adalah ...
Sebuah cincin!
Cincin manik yang memiliki energi? Sumber energi mana itu dari cincin ini?
”Hei! Jangan lari! Diam disitu!”
Teriakan dua penjaga itu semakin dekat.
Kenan tak memiliki waktu, dia harus pergi dan menciptakan kondisi agar portal terbuka. dia bersembunyi di antara bunga yang lebat. Apa yang harus dilakukannya? Dua penjaga semakin dekat.
Cincin, portal? Pakai.
Hanya itu yang dipikirkan Kenan, Kenan membuka jarinya dan memakai cincin energi itu. Dan ....
SLAP! Energi besar datang dari langit, Kenan tahu sekarang. Ini seperti biasanya, dia akan pergi ke dunia Aeera.
Kenan tersenyum dan menyambut energi halilintar yang menyambarnya dengan cepat.
JEGLAAARRRR!
AEERA AKU DATANG!
WOSH!
Dan, dua penjaga itu mempersiapkan dua tongkatnya saat melihat ke arah rimbunan bunga, mereka tak melihat siapapun.
”Apa kita baru saja mengejar hantu?”