Aku Datang, Aeera!

Reuni Besar 44

Kenan memasuki halaman rumahnya, dan dia melihat Ibunya duduk di depan rumahnya. Saat melihat Kenan, sang Ibu bangun dari duduknya dan berdiri. Tak lupa, senyuman Ibunya menyambut kedatangan Kenan.

Keduanya tersenyum, semilir angin menerpa keduanya.

”Kamu cukur rambut?”

”I ... Iya Ibu. Ibu ... Ibu sudah makan?”

Ghina mengelus rambut Kenan, airmatanya hampir saja menetes. Namun, Ghina menahannya agar tidak jatuh.

”Ibu belum makan, ibu menunggumu.”

Kenan tahu, sejak Kenan pergi dan melawan monster dan iblis di dunia Aeera. Ibunya pasti tak beranjak dari tempat duduknya di depan rumah, menantikan Kenan.

”Ayo makan bersama, Ibu.”

Ghina mengangguk, keduanya tak pernah merasakan hal seperti itu sudah beberapa tahun lamanya. Ghina mampu menyimpan bahagianya itu dengan baik, dia tidak ingin membuat Kenan kehilangan saat-saat dirinya melawan ketidakberdayaannya. Ghina membiarkan Kenan mampu berdiri tegak dengan kemauannya sendiri.

***

”Kenan, ini ada surat dari temanmu. Ibu baru menyerahkannya sekarang.”

”Surat dari siapa Ibu?” Kenan masih duduk di ruang tamu, memegang handphonenya. Dia baru saja membaca berita viral beberapa hari ini. Kenan ingin kembali normal, dan mencari pekerjaan atau membantu ibunya.

[Kebakaran Besar Membakar Pasar Raksasa di Jakarta]

[Pembunuh Berantai Akhirnya Tertangkap]

[PHK Masal kembali terjadi, PT Srimon Bangkrut]

[PPPK Mogok Kerja karena Status PNS Belum Disahkan]

[BOS Mega Multi Muncul Ke Publik Setelah Menghilang]

[Viral Hantu Gentayangan di Ruko Mati Saimena]

Berita-berita aneh, Kenan mengalihkan HP-nya. Dia melihat amplop-amplop itu, dia melihat bagian muka, tak ada namanya.

”Ibu tidak tahu, dia hanya mengatakan dulu temanmu saat SMA. Dia seorang wanita yang cantik dan baik hati.”

Ibunya duduk di dekat Kenan, sang Ibu menceritakan perlahan. Sejak Kenan mengalami kondisi ketakutan dan tak mau keluar dari kamar. Wanita itu sering datang seminggu sekali dan sekedar menanyakan keadaan Kenan. Ghina menceritakan wanita itu terlihat cukup sibuk, hingga dia akhirnya datang setiap setengah tahun sekali dan terus menanyakan keadaan Kenan. Dia menyerahkan beberapa surat saat datang dan mendoakan kesembuhan Kenan.

Kenan melihat urutan surat itu dan membacanya satu-persatu. Ibunya membiarkan Kenan membacanya dan meninggalkan Kenan ke dapur.

Wanita itu ...

***

Satu bulan kemudian ...

”Ibu sudah siap?” tanya Kenan membenahi kemejanya. Dia melihat ibunya memakai baju panjang.

”Iya, Ibu sudah siap.”

Mereka mendapatkan undangan seminggu yang lalu. Undangan reuni sekolah Kenan, undangan itu dikirimkan ke rumah. Sebelumnya, Ghina bertanya apakah Kenan akan menghadirinya, jika dia tidak siap maka Kenan bisa tidak menghadiri undangan itu.

Namun, Kenan mengatakan bahwa jika dia ingin melepaskan bayangan masa lalunya. Dia harus berani menghadapi semua teman-temannya di masa lalu. Setelah itu, Barulah Kenan bisa hidup dengan normal.

Undangan itu juga tertulis, bahwa setiap Alumni bisa membawa orangtuanya sekaligus. Semua biaya sudah dibiayai oleh salah satu alumni sekolah tersebut.

”Ayo berangkat, Ibu.”

Kedua pun berangkat dengan motor matic, Kenan membonceng ibunya, menikmati udara perjalanan dan dirinya menyadari bahwa dia dibutuhkan oleh Ibunya. Dia tidak boleh lemah sedikitpun.

Sekolah tempat Kenan pernah bersekolah kini di depan Kenan, dia memarkir motornya. Keadaan cukup ramai, Kenan melihat beberapa teman sekolahnya dulu, dan Kenan berusaha untuk tegar. Ada yang berbisik melihat Kenan dan tak berani menyapa Kenan. Ghina tahu hal itu tapi dia menepuk pundak Kenan dan memberinya semangat untuk kuat.

Kenan paham dan mengangguk, mereka berjalan menuju aula dan memasuki gerbang sekolah. Kenan terbayang beberapa tahun lalu, semua terbayang dan pembullyan kepadanya. Kini, dia adalah orang yang berbeda. Kenan harus kuat sekarang untuk melindungi ibunya.

Beberapa obrolan terdengar dari orang-orang di sekitar Kenan dan Ibunya.

Mereka mendengar acara ini digelar oleh seorang Alumni yang sukses, alumni itu sudah lebih dari belasan tahun lulus dari sekolah itu. Dia membiayai semuanya dan mengundang semua alumni semua angkatan. Semua biaya gratis untuk semua alumni, selain itu katanya alumni itu adalah seorang pengusaha sukses dan bahkan orang terkaya di negara ini.

Berita ini cukup menghebohkan beberapa pembicaraan. Pembicaraan yang lain tertuju pada alumni, ada yang menjadi seorang Hakim besar, ada yang menjadi menteri. Selain itu pembicaraan alumni juga berkutat pada seorang gadis cerdas bernama Luna yang kini mendapatkan nilai terbaik dan dibanggakan universitasnya. Dia adalah teman Kenan.

Luna datang dari kejauhan, dia diantar oleh ayahnya. Mereka turun dari mobil dan menuju aula, beberapa orang memuji kecantikan dan kecerdasannya. Dia mahasiswa terbaik di kampusnya dengan mengambil jurusan sosial.

Luna sangat berprestasi, sudah mewakili negara ini dalam ajang Krisis Perubahan Sosial dan menjadi pembicara terbaik untuk kategori mahasiswa dunia. Gadis itu sangat anggun memakai jilbab cerah.

Kondisi sangat ramai, Luna memasuki aula dan melewati Kenan tanpa melihat Kenan. Dia bersama ayahnya.

”Wanita itu yang memberikan surat dan selalu menanyakan keadaanmu.”

”Aku tahu, Ibu.”

Beberapa saat kemudian, undangan yang sempat hadir semua berkumpul di aula. Acara ceremonial dilakukan meskipun tidak terlalu formal. Dan, saat sambutan, kepala sekolah mendapatkan giliran bicara. Dia mengucapkan terima kasih atas terselenggaranya acara ini dan berharap ikatan alumni dapat berjalan dengan baik.

Sambutan kedua, alumni yang membiayai seluruh acara ini. Dia memakai jas dan ada satu orang lelaki yang selalu bersamanya. Mereka naik ke podium. Seperti biasa, ceremonial sambutan hingga ...

”Acara ini adalah salah satu hal yang sudah saya persiapkan tiga minggu yang lalu. Ada seorang alumni yang menarik perhatian saya dari kalangan muda. Saya ingin merekrutnya ke dalam bisnis saya, dia akan mewakili perusahaan secara resmi dalam CSR seluruh perusahaan dan anak perusahaan saya.”

Semua orang cukup kaget, mereka menerka-nerka siapa yang beruntung. Apaka itu Luna, sang ahli sosial meskipun belum lulus kuliah. Selain itu ada, Rafi yang merupakan anak pejabat yang jenius dan sudah mendapatkan banyak penghargaan di bidang politik. Tari yang merupakan dokter muda paling berbakat juga menjadi sorotan. Banyak kandidatnya, semua orang menunggu dan penasaran.

”Saya akan memanggilnya ...,” kata Lelaki terkaya di negara ini, semua mendengarkannya.

”Kenan Kalandra, angkatan tahun XXXX. Dia masih sangat muda tapi sangat cocok untuk mewakili semua CSR di seluruh perusahaan saya.”

Kenan dan Ibunya kaget, mereka saling berpandangan. Apa yang terjadi?

Semua orang bingung, bahkan teman-teman angkatan dan yang pernah membully Kenan kaget. Luna pun tak bisa menghilangkan keterkejutannya dan mencari-cari di mana Kenan sekarang. Jadi, apakah dia datang? Begitu pikir Luna.

”Mohon naik ke panggung, Kenan Kalandra. Saya ingin mengumumkannya di hadapan semua orang yang hadir.”

Orang terkaya di negara ini, dia adalah Sadewa, Bos perusahaan Mega Multi.

Kenan menatap ibunya, sang Ibu tersenyum dan memberikan kebebasan pada Kenan untuk memilih apa yang harus dilakukannya.

”Apakah Ibu harus menemanimu naik ke sana?”

Kenan tersenyum, ”Tidak perlu Ibu, aku akan naik sendiri.”

Kenan melenggang membawa kepercayaan dirinya, dia menenangkan dirinya berjalan menuju ke arah panggung depan. Semua mata melihat Kenan, Kenan berusaha tegar.

Kenan membayangkan perjuangannya selama ini, dihina dan direndahkan. Bertarung memasuki dunia Aeera dan menyelamatkan Aeera dan dunianya. Kenan berjalan terus, alunan lagu seolah mengiringi setiap langkah Kenan. Kenan semakin mantap dan mendekati lelaki bernama Sadewa.

Keduanya saling bertatapan, sekretaris Sadewa melihat Kenan cukup penasaran. Sekretaris itu penasaran, kenapa Bosnya memilih pemuda itu untuk mengurus uang CSR yang sangat banyak jumlahnya itu.

”Terima kasih, tuan Kenan Kalandra. Kata-kata anda telah menyembuhkanku, jika seorang ibu tersenyum maka dunia ini baik-baik saja. Dan, kamu benar, Kenan!”

Mata Kenan membulat tak percaya, dia menatap lelaki kaya di depannya itu.

”Tu ... Tuan Pedang ...!”

Keduanya kaget dan tersenyum, pertemuan mereka menjadi saksi yang aneh. Mereka terhubung dalam dunia yang aneh.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!