Andai Tiada Mertua

Godaan Shakira

Aisyah gusar, dia melayangkan protes pada Afnan. Lelaki itu pun berbalik badan lalu berjalan ke arah Aisyah. Jelas tersirat ketakutan di wajah Aisyah saat Afnan mencondongkan tubuhnya seraya berbisik, "Makanya, kerja! Jangan jadi parasit."

 

Iwana melihat paras Aisyah yang berubah pucat pasi. Dia lantas menegur putranya. "Afnan! ... kamu kenapa, sih! Sinis dengan saudara."

 

Afnan berpaling pada Iwana. "Saudara darimana, Ma? Mars?" ujarnya melenggang pergi.

 

Saat akan naik ke atas, Afnan meminta Ziya untuk membuat kudapan agar mereka tak lagi naik turun bila didera lapar di malam hari. Ziya pun menyanggupi, asal Afnan menemaninya. 

 

Afnan asik menggulir gadget di meja pantry saat sebuah pesan asing masuk ke ponselnya. "Siapa ini?" gumamnya seraya membalas sapaan salam meski tidak membuka chat-nya.

 

Dia lalu meletakkan gawai itu di atas meja. Namun, getar yang ditimbulkan benda pipih tersebut mengundang reaksi Ziya. Gadis itu melihat ke sumber utama.

 

Tidak ada identitas sang penelpon dan tidak ada notifikasi apapun, membuat Afnan mengabaikannya.

 

"Mas!" kata Ziya, menunjuk dengan dagunya ke arah handphone Afnan.

 

"Spam. Kalau urgent, dia pasti menyebutkan jati diri via pesan," tutur Afnan.

 

Menantu Iwana mendekat ke meja pantry. "Iya juga, tapi ini picture profilnya wanita," imbuh Ziya, melihat tampilan pada layar gawai. 

 

Afnan tersenyum. "Angkat saja, Zie. Daripada berprasangka," sindirnya halus. 

 

"Eh! enggak gitu juga," elak Ziya langsung memutar badan menuju oven untuk memanggang muffin buatannya.

 

Afnan menggeser tombol hijau pada layar ponsel, menekan speaker dan menyodorkan ke arah Ziya untuk bicara. "Sayang," bisiknya.

 

"Halo, Mas?" suara dari ujung panggilan. "Assalamualaikum."

 

Ziya mengernyit, melihat suaminya yang mengendikkan bahu lantas mengucap salam. "Wa alaikumussalaam. Maaf, dengan siapa, ya?" 

 

Tut. Tut. Tut. Panggilan diputus dari seberang.

 

"Loh, mati," heran sang wanita ayu dalam balutan hijab marun tua, melihat suaminya.

 

Putra Iwana lalu memutar benda itu menghadap ke arahnya. "Lihat ya Zie, aku blokir. Jangan curiga lagi," kata Afnan, langsung di hadiahi senyuman manis sang istri.  

 

Pasangan Chairi tak menampakkan diri di lantai dasar semenjak itu. Mereka asik memadu kasih mumpung dunia bagai milik berdua, lainnya ghoib. 

 

Iwana berkali memanggil Afnan mulai dari seruan lembut hingga bernada tinggi, akan tetapi, Afnan hanya menanggapi sekilas dari pintu kamarnya.

 

"Afnan!" seru Iwana kesekian kali. 

 

Waktu telah menunjukkan pukul 9 malam. Namun, pasangan Chairi masih belum menyentuh makan malam mereka. 

 

"Iya, Ma. Kita capek, nggak makan malam," tegasnya dari ujung tangga, berharap ini adalah panggilan terakhir. 

 

"Bukan itu. Ada tamu, turun sebentar," pinta Iwana. 

 

Afnan tidak merasa mempunyai janji temu dengan siapapun malam ini. Lagipula dia hampir tak pernah memberikan alamat kediamannya pada klien guna menjaga privasi. 

 

"Siapa, Ma?" tanya pemilik hunian, bersikukuh enggan turun ke lantai dasar. 

 

"Turun aja kenapa, sih? betah amat sama istri kumalmu itu," cibir Iwana lagi. “Mama akui untuk hal satu ini, Yasmin menang kemana-mana jika soal penampilan," omel sang bunda. 

 

Afnan bergegas turun untuk mencegah perkataan pedas ibunya didengar oleh Ziya. "Ma! Jangan dibanding-bandingkan," belanya untuk istri tercinta. 

 

"Tetap saja, nggak sepadan sama kamu," lanjut Iwana, kembali mencela sang menantu sembari melengos pergi.

 

"Iya Kak, jomplang. Lagian-" sambar Aisyah, menyambung opini Iwana seraya mengunyah makanan. 

 

"Diam kamu! jangan muncul jika aku ada di rumah, sana masuk!" bentak Afnan menatap sinis Aisyah. "Urus saja Arman. Sudah kau tanya dia makan apa tadi? jangan asal menuduh Ziya jika kamu nggak punya bukti!" kecamnya lagi.

 

Glek! Aisyah gegas pergi setelah menerima kata-kata pedas Afnan.

 

Iwana hanya menggeleng, lalu menarik lengan putra sulungnya menuju ruang tamu. 

 

Disana, terlihat seorang gadis ayu tengah duduk dan terburu bangun kala melihat kedatangan Iwana. Dia mendekat dan meraih tangannya untuk salim. 

 

"Assalamualaikum, Bu, Mas," sapanya tersenyum ramah.

 

Afnan enggan mendekat, berdiri di kusen pintu. "Wa alaikumussalam," jawabnya singkat. 

 

"Maaf lama ya, Bu dokter. Afnan ngunci istrinya dulu," seloroh Iwana sembari menyilakan tamunya duduk. 

 

"Ziya gak aku kunci, bahkan pintu kamarku terbuka," balas Afnan untuk sang ibu. Dia mulai kesal meski masih bersandar pada kusen pintu penghubung ruangan. 

 

"Duduk Af, nggak sopan sama tamu," pinta sang ibu melihat Afnan hanya berdiri di sana. 

 

Afnan menolak, dia langsung menanyakan keperluan dokter kecantikan itu bertandang ke rumah di malam hari. 

 

Sang pemilik konveksi menegaskan bila untuk membicarakan urusan bisnis, sebaiknya di kantor saat jam kerja. Semburat rona merah muncul di wajah sang dokter, niatnya begitu mudah terbaca oleh Afnan.

 

"Memang jika ingin main ke sini hanya untuk bicara bisnis?" sambar Iwnaa. "Bu dokter cuma mau ngucapin selamat atas pernikahanmu," pancing Iwana agar Afnan tertarik berbincang dengan mereka. 

 

"Betul, Bu. Selamat ya, Mas," jawab gadis ayu itu lembut. 

 

"Akan kusampaikan pada Ziya juga, malam, Dok," ujar Afnan berbalik badan, sudah menebak akan kemana larinya pembicaraan ini. 

 

Iwana bangkit, terburu menahan lengan putranya. 

Afnan melepaskan perlahan cekalan Iwana sambil mengatakan bahwa dirinya mengantuk dan Ziya menunggunya di kamar.

 

"Bukan urusanku, 'kan. Ziya sedang siap-siap tadi," bisik Afnan di telinga Iwana. Sengaja mengatakan hal ini agar ibunya peka. Dia adalah pria beristri. 

 

Afnan berlalu ke dalam, meski Iwana mengejar tapi enggan menuruti hingga dirinya dibuat terkejut kala mendapati Ziya berdiri tak jauh dari sana. 

 

Iwana mendengus kesal. Dia menyindir sang menantu cemburuan dan curigaan, sehingga membuat ruang gerak Afnan menjadi sempit untuk bersosialisasi.

 

Saat Iroh melintas membawa suguhan untuk tamu, sang mertua pun mengoceh lagi. "Naik sana."

 

"Aku baru ambil air minum," kata Ziya berusaha menutupi niat sebenarnya. Dia sangat penasaran saat Iroh mengatakan ada tamu wanita mencari Afnan.

 

Afnan tak banyak bicara, dia merangkul bahu sang istri dan mengajak kembali ke kamar. 

 

Rupanya Iwana masih belum puas, dia menahan Afnan dengan alasan tak memuliakan tamu.

 

Pria tegap itu lantas menjawab bahwa itu bukan urusannya. Iroh juga sudah menyuguhkan jamuan. Jadi, kewajiban sebagai tuan rumah pun gugur sebab Iwana mewakilkan mereka.

 

"Sejak menikah lagi, kamu banyak membantah Mama." Telunjuknya terarah pada Afnan. "Kamu make pelet apa, Ziya!" tandas Iwana, kini menyasar mental menantu ayu. 

 

Putri Salamah menggeleng pelan. "Aku nggak pernah mendikte Mas. Beliau selamanya putra Mama," sahut Ziya berusaha menenangkan mertuanya. 

 

Aisyah melintas di ruang keluarga, menenteng gelas besar menuju dapur. Ingin rasanya melontarkan pendapat tentang Ziya, tapi dia takut sebab ada Afnan di sana. 

 

Afnan tak lagi meladeni ocehan Iwana, dia menarik Ziya menuju kamar di lantai dua. Sesampainya di sana, Ziya menanyakan sesuatu pada suaminya itu. 

 

"Mas, apa aku nggak pantas di sisimu?" 

 

 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!