Andai Tiada Mertua
Misi Aisyah
Afnan turun dari mobil tapi pandangannya terhalang tembok sebab Ziya sudah terlalu jauh.
Sementara itu, Ziya sedang berusaha mengenali sosok yang memanggilnya. "Mmmm." Dia berusaha mengingat satu nama sebab wajahnya familiar. "Ehmm ... duh, lupa," ujar Ziya sambil menangkup telapak tangan.
"Ya ampun, tega sekali," keluhnya seraya berdecak. "Kalau tampang pas-pasan emang susah diingat sih, ya," kekehnya.
Ziya ikut tertawa kecil. "Bukan gitu, aku ingat wajah tapi lupa nama," elaknya masih mengulas senyum.
Pria itu berhenti, membuat Ziya melakukan hal yang sama. "Fawwaz, Ziya. Kamu masih dipanggil Hanan, 'kan? "
Ziya terkejut. Hanan adalah panggilannya di As-shofa. Hanya orang terdekat yang memanggil dengan sebutan Ziya. "Kok tahu? ... ehm, tapi mirip putranya Abah haji Faishal."
Pria muda itu mengangguk. "Pengawas Banin-putra di As-shofa," sebutnya bangga, sekadar basa-basi di depan Ziya. "Nah, itu ingat!"
Hanani Ghaziyah terkekeh. "Oh, iya. Pantesan familiar, petinggi tapi jarang tampak di Banat-santri perempuan."
"Hanya orang-orang penting yang bisa ketemu aku," seloroh Fawwaz diikuti tawa kecil Ziya.
Keduanya lantas berbincang tentang kabar masing-masing hingga bertemu di kampus yang sama.
Mereka berpisah lantaran Fawwaz di susul oleh mahasiswa yang memintanya masuk ke ruangan segera. Di sinilah Ziya tahu bahwa pria ini adalah asisten dosen di kampus mereka.
Ziya melihat kepergian pria itu dari jauh. Perbedaan penampilan yang sangat kontras membuatnya sedikit kesulitan mengenali sosok tadi.
Putra tokoh masyarakat itu sekali lagi menengok ke arah Ziya, yang baru saja masuk ke ruangan administrasi kampus.
Sementara di workshop AF design, Afnan baru saja selesai salat Zuhur. Pintu ruangannya tiba-tiba dibuka oleh seseorang saat Afnan akan menelpon istrinya.
Mimik wajah si pemilik konveksi seketika datar kala Iwana dan seseorang yang enggan dia temui masuk ke dalam.
"Af, ada job nih," ujar Iwana semringah, melirik ke sampingnya.
Afnan tak menanggapi, dia memanggil sekretarisnya. "Ghea!" sebut sang pria.
Gadis berkacamata itu menyahut, "Ya, Pak." Dia berdiri di belakang Iwana.
"Tolong antarkan ke frontline, dan rekomendasikan produk yang sesuai dengan keinginan beliau." Afnan menunjuk pada kedua wanita di depannya.
Iwana meradang, dia menegur keras putranya. "Afnan!"
"Maaf, Ma. Aku ada janji dengan klien, permisi," ucapnya sembari bangun dan bersiap pergi. "Silakan dengan Ghea dulu, ya," sambung Afnan melihat ke arah tamunya.
“Baik. Silakan,” ajak Ghea ramah pada tamu sang pimpinan.
Iwana bergeming, dia mengejar Afnan dan menahan lengannya. “Kenapa nggak langsung di design sama kamu, sih? Ribet amat,” ucap Iwana tak suka akan perlakuan sang putra.
“Jasaku mahal, Ma. Bahkan untuk dua ribu pesanan pun, team marketing yang maju, bukan aku,” kilah Afnan pada Iwana.
“Kan sama saja, bisnis,” sergah wanita paruh baya itu lagi. Masih bersikukuh.
“Bisnis is bisnis. Waktu istirahatku terbuang percuma. Jika aku lost ide, bisa Mama bayangkan berapa kerugianku?” jawab Afnan, kali ini melihat si nona muda yang juga menatapnya.
Afnan memberi isyarat pada Ghea agar segera mengajak tamunya keluar dari ruangan.
Sementara wanita ayu itu hanya menunduk, merasa tak enak hati mendengar kalimat Afnan barusan. Dia tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti sekretaris pria ini.
Sang wanita melangkah lebih dulu dengan Ghea sementara Iwana ditahan Afnan. Dia kehabisan cara untuk menegur ibunya ini.
"Aku pria beristri, Ma,” cecar Afnan kembali menegur sang bunda.
“Lah, terus? cari istri itu kudu yang setara dengan kita,” kata Iwana, menohok Afnan. "Ziya sudah test kesuburan belum? Jangan sampai sudah banyak keluar modal malah mandulity. Rugi dua kali," tandasnya lagi sembari melangkah menyusul gadis tadi.
Afnan mencelos. Tidak ada solusi lebih baik yang ada di otaknya kini. Dia hanya bisa menggeleng kepala pelan sambil terus berjalan keluar dari sana.
Tujuannya jelas, kampus Ziya meski siang ini istrinya tak meminta untuk dijemput. Afnan hanya menghindari mereka.
Pasangan Chairi lantas bertemu dan melanjutkan perjalanan ke beberapa tempat bimbel yang terdekat dengan kampus Ziya. Pekan depan kuliah sudah dimulai, Afnan tidak ingin Ziya banyak membuang waktu di jalan saat menuju tempat part time.
Setelah menitipkan CV ke beberapa sekolah, tujuan akhir mereka adalah sebuah taman kanak-kanak bernuansa alam. Ziya pun mencoba menemui kepala sekolah untuk melayangkan CV.
Dia disambut ramah oleh seorang wanita paruh baya. Beliau pun membaca dokumen yang Ziya bawa.
Setelah beberapa menit berbincang dan menjalani beberapa test. Ziya dipersilakan pulang. Beliau berjanji akan mengabarinya dalam waktu dekat.
Hari menjelang Asar ketika Afnan mengajak Ziya ke suatu komplek tak jauh dari sana. Ziya heran sebab suaminya ini tak banyak bicara sejak tadi.
"Mas, ini rumah siapa?"
"Teman, tapi nggak di tempati," jawab Afnan saat mobilnya mulai masuk pekarangan.
"Lalu?" lanjut Ziya, sampai menyerongkan duduknya menghadap Afnan.
"Cuma jalanin amanah dia, liat kondisi rumahnya sesekali," tutur Afnan lagi.
Ziya merasakan telah terjadi sesuatu. Dia ragu bertanya tapi dugaannya menguat saat Afnan membuka pintu bagian kiri, dan menariknya masuk ke pelukan.
Tiada percakapan di antara mereka. Ziya hanya merasakan degup jantung Afnan terasa lebih cepat dari biasanya.
"Ngalah aja, yuk," bisik Afnan dengan suara berat.
"Tapi, Mas ...." Ziya menggelengkan kepala beberapa kali. Pikirannya semerawut, Iwana pasti akan menuduhnya macam-macam.
Afnan menarik Ziya masuk, sekadar melihat-lihat isi di dalamnya. Senyum lelaki itu terulas ketika istrinya berkomentar suasana rumah ini terasa nyaman.
Keduanya memutuskan untuk sejenak tinggal di sana sampai waktu menunjukkan pukul delapan malam.
Iwana sedang bercengkrama dengan Arman saat mereka tiba di rumah. Keduanya hanya meminta salim lalu langsung naik ke atas tanpa berkata apapun.
Perang dingin berlangsung hingga satu bulan mendatang. Iwana kian jarang bertemu Afnan sebab putranya selalu pergi pagi dan pulang jam 9 malam.
Suatu pagi, setelah pasangan Chairi pergi. Dia meminta sesuatu pada Aisyah.
"Ais, apa mereka punya rumah baru, ya?" tanya Iwana setelah mereka sarapan.
"Entah, kenapa emang, Ma?" sahut sang menantu.
Iwana pun membisikkan sesuatu pada Aisyah. Wanita muda itu mengangguk perlahan tanda mengerti.
Beberapa hari setelahnya, Aisyah menjemput Arman di sekolah. Ketika baru saja memarkirkan kendaraannya di bahu jalan, kaca mobilnya diketuk seseorang.
Aisyah memekik kegirangan. Dia langsung menekan tombol sentral agar sosok di luar sana dapat segera masuk. Mereka pun berbincang seru melepas kangen.
Selang beberapa menit kemudian, Arman pulang. Wanita cantik itu ingin turun, tapi Aisyah menahannya. Dia bahkan mengajaknya ikut ke suatu tempat.
"Kemana?" tanyanya.
"Ikut aja, lah. Biar update," kekeh Aisyah. "Nanti kuantar lagi ke sini," imbuhnya lalu diangguki oleh sang kawan.
Setengah jam kemudian, Aisyah melihat target yang dia tuju. Wanita disampingnya terkejut saat sang pria berjalan bergandengan mesra dengan seorang gadis.
"Ais, dia siapa?" sebutnya sedikit melongo.
Aisyah pura-pura tak paham pertanyaan sahabatnya itu. "Mana?"
"Itu, yang jalan bareng Afnan!" tunjuknya ke arah mobil pria itu.
"Oh, dia Ziya. Bininya," jawab Aisyah enteng sembari melirik diam-diam mengamati reaksi sang sahabat.
"D-dia su-"
.
.