Andai Tiada Mertua
Ricuh
"Ehm ... anu, Pak." Iroh kian gugup ditatap intens oleh Afnan. Seprei ditangan kini dia dekap erat sambil meremas ujungnya. Dia tahu sesuatu tapi ini bukan urusannya.
"Mbak dikasih uang berapa oleh Yasmin untuk tutup mulut?" tegas Afnan sambil memegangi kepala yang mendadak berdenyut hebat. "Oh iya, kalau mau ikut Yasmin juga boleh. Tolong kemasi barang-barang Mbak sekarang." Dia lalu melenggang pergi meninggalkan Iroh.
"Pak, maafin saya. Jangan pecat saya, Pak!" panggil sang asisten, mengejar Afnan ke lantai atas. "Iya, saya akan jujur."
Afnan berhenti di tengah anak tangga dan berbalik badan. Dia berdiri mendengarkan penuturan Iroh seksama tanpa melontarkan pertanyaan apapun.
Hembusan kasar terlepas ke udara, Afnan menengadah lalu meminta Iroh pergi. Sesaat dia memejam, tubuh tegap itu sedikit goyah sehingga tangannya dengan cepat mencengkeram kisi tangga sampai buku jari ikut memutih. Lagi-lagi hatinya didera lelah karena berjuang sendiri dan ternyata sia-sia.
Suasana rumah dibiarkan gelap gulita hingga wanita ayu itu kembali pulang jelang tengah malam.
Suara langkah kaki mendekati kamar diikuti gerakan pintu yang terbuka, membuat Afnan tahu jika Yasmin baru saja masuk ke bilik mereka. Dia berbaring miring dan memilih pura-pura tidur. Bergeming meski wanita itu memeluknya dari belakang.
"Mas!" bisiknya manja. "Dah tidur, ya? Mau lanjutin yang tadi siang, nggak?" ucap Yasmin lembut mendayu, merayu Afnan seperti kebiasaannya selama ini.
Jika dalam situasi normal, mungkin Afnan akan bersedia melayani permintaan istri cantiknya itu. Tapi, pertanyaan dalam benak yang sudah menumpuk membuat dirinya kehilangan rasa.
Keesokan pagi saat sarapan, Afnan mencoba membuka obrolan dengan Yasmin.
"Kemarin kemana aja?" ujar Afnan, dengan nada datar tanpa melihat ke arah istrinya.
"Ke butik dan ketemu klien yang mau pesan wedding gawn. Habis itu, nyari bahan baku," jawab Yasmin, sumringah sebab mendapatkan orderan puluhan gaun untuk Bridesmaids. "Ini project besar ketiga di tahun ini, loh," sambungnya bangga.
Afnan enggan menanggapi. Dia mengalihkan topik pembicaraan. "Kalian ketemuan lagi?"
Yasmin menghentikan kunyahan, dia meletakkan alat makan di sisi pinggan lalu menatap lekat suaminya.
Afnan melirik ke arah Yasmin sebelum ikut menyudahi sarapan. "Tadinya aku mau kita konseling ke penasihat perkawinan. Deep talks dan berjuang dari awal lagi tapi sepertinya sia-sia," beber Afnan.
"Emang bisa? Kayaknya susah karena kamu terlalu lembek!" sergah Yasmin, seraya menyeringai tipis.
"Jika suamimu bukan aku, mau dikemanakan wajah orang tuamu saat tahu semua ini, Yasmin?" sindir Afnan, menatap lekat rupa ayu di hadapan. "Haruskah kusesali keputusan menangguhkan talak untukmu sejak 24 jam pernikahan kita waktu itu?!"
Pandangan keduanya beradu, Yasmin memang mengagumi kesabaran Afnan yang selalu mengalah dan melindunginya dari cecaran para sepuh jika ketahuan berulah. Lelaki ini juga tetap menjalankan kewajiban sebagai suami tanpa cela.
Namun, perlahan Yasmin sadar bahwa selama ini Afnan hanya iba setelah tahu apa yang telah dia perbuat di masa lalu. Sejak awal, pernikahan ini cuma Yasmin jadikan kedok meski dia sempat terpesona dengan lelaki dihadapan.
"Oh, merasa jadi Hero, ya? Padahal cuma kasian, 'kan? ... mana bisa," sinis Yasmin. Dia meraih gelas di hadapan dan meneguk habis isinya.
"Bisa, kalau kamu mau berubah dan nggak main kejauhan kayak kemarin ... sama dia lagi, atau beda orang?" ejek Afnan tak kalah sinis.
Brak! Yasmin menggebrak meja.
"Kamu pikir aku lonte?!" sentak Yasmin sampai dia bangkit berdiri.
"Aku cuma nanya," sahut Afnan masih berusaha tenang dan sabar meski harga dirinya tercabik. "Jangan terus-terusan sedekah dosa padaku. Kalau ingin pergi ya aku lepasin," tuturnya. Dia menurunkan pandangan agar tak lepas kendali.
"Jinakkan dulu mamamu. Jangan pernah ikut campur lagi masalah kita," cecar Yasmin, masih berapi-api. "Heran, sampai urusan ranjang pun berani ngatur aku!"
Afnan tahu dan menyadari bahwa selama ini ibunya selalu mengusik kenyamanan mereka. Tapi, bukan berarti dia hanya diam. Sang mama hanya ingin Yasmin berubah dan lebih memperhatikan Afnan ketimbang semua bisnisnya itu.
Afnan meneguk air, tenggorokannya mendadak kering teringat percakapan mereka waktu itu. "Kitanya dulu berubah, biar mama juga tenang."
"Oh, jadi kamu juga ikut nyalahin prinsip aku?" Yasmin menunjuki wajah Afnan. Dia lantas mendorong kursi hingga terjatuh. "Aku capek ditekan beliau. Anak, anak terus ... dahlah, nikahi saja wanita lain." Dia menyambar tas dari atas meja dan berjalan tergesa ke depan hunian.
"Yasmin!" Afnan ikut bangun dan mengejar istrinya itu. "Kita belum selesai bicara!"
Yasmin berhenti, berbalik badan dan menatap tajam ke arah suaminya itu. "Aku yang akan ajukan ... kamu tahu beres saja," sengitnya sambil menarik pintu depan sedikit kuat.
Deg!
Keduanya dikejutkan oleh kehadiran seseorang yang sedang berdiri di depan pintu, menatap tajam bergantian ke arah mereka.
Afnan lebih dulu maju, menyalimi wanita yang telah melahirkan dirinya ke dunia. Dia lalu menggamit pinggang Yasmin dan mendorong perlahan agar sang istri menyambut Iwana.
"Mau ajukan apa tadi, Yasmin?" tanya Iwana ketika menantunya meraih telapak tangan dan menciumnya.
"Kredit pinjaman, Ma," jawab Afnan, seraya memapah ibunya masuk.
"Mama tanya sama Yasmin, bukan kamu," sergah Iwana, masih menatap menantunya saat duduk di sofa ruang tamu. "Cerai? Kamu yakin mau melepaskan Afnan yang sudah berkorban banyak buatmu, hemm?!"
Yasmin menunduk menyembunyikan wajah yang menegang. “Aku berangkat ya, Ma, Mas,” kata Yasmin melihat ke arah Afnan, berusaha bersikap biasa untuk menghindari tatapan sinis Iwana.
Bila ada Iwana, atau sedang ingin bermanja dengan Afnan, Yasmin akan memanggil suaminya dengan sebutan ~Mas. Selain dua hal itu, panggilan ~kamu lebih sering terdengar dari mulutnya.
Afnan mengangguk, dia membelai wajah Yasmin lalu membubuhkan kecupan di pucuk kepalanya. "Hati-hati."
Wanita ayu itu tersenyum manis tapi tak melihat ke arah Iwana. Yasmin mengabaikan sang mertua.
“Yasmin. Su’ul adab!” seru Iwana. "Harusnya Afnan--"
“Ma,” ucap Afnan menjeda kalimat Iwana. "Yasmin ditunggu klien, tadi 'kan sudah pamit." Dia masih saja membela sang istri.
Yasmin menghentikan langkah. Terlihat bahunya turun naik tanda dia menghela nafas kasar. Wanita berhijab itu pun berbalik badan.
Iwana mengoceh panjang lebar bahwa Yasmin tak becus ngurus Afnan. Padahal sejak awal dirinya mengatakan enggan memiliki keturunan dalam waktu dekat. Juga tak bersedia mengurus pekerjaan rumah tangga. Waktu itu, Afnan setuju sebab butuh waktu untuk saling mengenal.
"Masih ingat 'kan jawaban Mama kala itu?” tutur Yasmin, lembut namun menohok Iwana.
“Yasmin!” tegur Afnan sedikit tegas, disertai gelengan kepala.
Iwana menggeram, buru-buru bangun mendekati sang menantu lalu menampar wajah ayunya. Plak!
“Ma!" Afnan menahan tangan sang Bunda kala hendak mengulang tamparan.
“Lagi, yang ini belum, Ma." Tantang Yasmin memberikan pipi kirinya sukarela untuk dilukai Iwana. Namun, Afnan berdiri di hadapannya guna menghalangi aksi sang mama.
“Kamu masih bela dia, Af? Belum cukup selama ini nutupin dia?!” geram Iwana atas sikap Afnan.
“Dia istriku, Ma. Kewajibanku menegurnya secara halus bukan dengan kekerasan begini. Maaf Ma, ranah ini masih milikku, Mama sudah terlalu jauh menekan Yasmin,” bela Afnan untuk istrinya.
“Enggak usah kamu bela. Aku memang bukan menantu baik di mata beliau. Aku capek, Mas. Mama terlalu mendominasi kita. Selamat tinggal, Afnan. Aku menyerah,” pungkas Yasmin. Wanita ayu itu kembali naik menuju kamarnya, bebenah barang yang bisa dia bawa.
Afnan menatap nanar kepergian Yasmin. Sabarnya tak pernah dihargai wanita itu. “Sama, aku juga lelah. Kamu bebal dinasihati,” ucap Afnan ikut berlalu pergi meninggalkan ruang tamu.
Yasmin masih bisa mendengar ucapan Afnan. Dia memutar tubuhnya lagi. “Nasihat? Harusnya beliau yang kamu nasihati agar menjaga jarak dengan kehidupan rumah tangga kita!” pekik Yasmin tak terima di sudutkan.
“Aku sudah melakukan itu, bahkan mengutamakanmu dibanding beliau. Tak sadarkah kamu, Yasmin!!!!” seru Afnan tak kalah lantang.
“Biarkan dia pergi. Wanita tak tahu diuntung, masih bagus anakku menerima gadis sepertimu untuk dinikahi,” cibir Iwana sambil bersedekap di depan dada, menatap jengah menantunya.
Yasmin membalas Iwana kala sang mertua merendahkan dirinya, dengan tatapan nyalang. “Coba ulangi, Ma?"