Andai Tiada Mertua
Kisah Petani Anggur
"Kang Azhar?" tebak Ziya balik menyapa pria tampan berjas serba putih itu. "Maa sya Allah, sudah jadi dokter," imbuhnya semringah.
Naufal Azhar tersenyum lebar, ternyata Ziya tak melupakannya.
Dia melupakan kehadiran Afnan di sebelah Ziya, sebab dirinya terlalu bahagia berjumpa dengan gadis ayu itu di sini.
"Siapa, Sayang?" tanya Afnan mengulang pertanyaan. Dia mulai tak suka, apalagi melihat binar wajah Azhar yang berseri.
"Kang Azhar, Mas." Ziya mengenalkan ulang mereka. "Beliau ini murid les ayah. Aku sering ikut ayah kalau ibu masih di warung," jelas Ziya, mengenang masa kecilnya.
Ucapan Ziya mengundang senyum sang pria yang berdiri dengan memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
Azhar mengangguk cepat. Keduanya pun membagi kisah lama sampai beberapa menit, sebelum Afnan memotong ucapan Azhar ketika bertanya tentang kesibukan Ziya.
"Ehm, maaf Dok, kami duluan," kata Afnan, sembari mengaitkan jemari ke sela jari Ziya.
"Oh, maaf. Silakan, hati-hati di jalan," sahaut sang dokter muda sambil menggeser posisinya.
Pasangan Chairi pun meninggalkan lobby rumah sakit. Namun, baru beberapa meter, suara Azhar kembali memanggil. Afnan pura-pura tak mendengar, dia terus menarik Ziya menjauh.
Lelaki itu berlari kecil menyusul mereka hingga parkiran. Terbukti, kegigihannya membuahkan hasil, Ziya menoleh ke arah Azhar.
"Zizi!" sebut Azhar sedikit lantang.
Afnan akhirnya berhenti, tergelitik dengan sebutan pria itu untuk sang istri tercinta. Dia bersiap memasang wajah garang tapi Ziya malah terkekeh saat melihat ekspresinya.
Putra Iwana kesal, dia memutar bola mata malas walau Ziya mengusap lengan Afnan saat berbalik menghadap Azhar.
"Ya, Kang," jawab Ziya singkat.
"Maaf, Pak, boleh minta nomer Zizi?" tanya Azhar pada Afnan yang terlihat malas meladeninya.
"Boleh," balas Afnan tersenyum samar sembari meminta ponsel Azhar.
Dokter Azhar menyerahkan gawai miliknya tanpa mengkonfirmasi nomer yang Afnan ketik tadi. Lelaki itu sedikit membungkuk saat pasangan Chairi pamit undur diri kedua kalinya.
Afnan menggerutu sepanjang perjalanan menuju mobil mereka. Dia jelas-jelas mengatakan ketidaksukaan pada Azhar, terlebih saat lelaki itu memanggil Ziya dengan sebutan khusus.
"Zizi! Apaan coba!" tegas putra Iwana mulai jengah.
Ziya masih terkekeh kecil. "Dari dulu dia manggil aku begitu, Mas," beber Ziya, merasa biasa saja meskipun tahu suaminya pasti kesal.
Afnan mulai terbakar cemburu, dia melepas tautan jari mereka dan berjalan mendahului Ziya. Siangnya kacau karena ulah si perusak suasana.
"Mas, Mas!" panggil Ziya mengejar Afnan dan hampir menabrak seseorang yang muncul tiba-tiba dari arah samping.
"Ziya!" Aisyah membola, terkejut melihat iparnya di Rumkit yang sama. "Ngapain di sini? bikin gaduh dimana-mana," usilnya mengomentari hal yang tak dia ketahui.
Afnan tiba di sisi mobilnya, dia melihat Aisyah dari kejauhan. Ingin bertanya sedang apa si ipar di rumah sakit ini, tapi kaki dan mulutnya terlampau berat untuk menegur.
Aisyah menjadi sasaran empuk Ziya meluapkan kekesalan, dia maju mendekati si adik ipar.
"Situ yang ngapain? Kepooo!" Ziya pun melenggang pergi sebab Afnan sudah menunggunya.
Aisyah tak terima, ingin membalas tapi dia gusar, takut mereka melihatnya mengobrol dengan seseorang di dalam, lalu melaporkan pada Iwana.
"Oh, habis tes mandulita, ya!" tawa Aisyah terdengar.
Ziya berhenti, lalu berbalik badan menatap tajam Aisyah. "Heh, benalu! kalau nggak tahu, diem ngapa! ... giliran ditegur Mas Afnan, nanti nangeesss! ngadu sama mama," sindir Ziya kali ini menohok Aisyah yang seketika bungkam.
Tatapan putri Salamah masih menusuk Aisyah yang bergeming. Ziya mendekat seraya berbisik, "Jangan jadi tukang gosok jika nggak mau diperlakukan serupa ... aku bukan tidak berani melawan. Cuma kasihan bila mas Afnan mencabut jaminan untuk Arman akibat ulah ibu macam kamu," ancam Ziya tegas kali ini.
Glek!
Aisyah menelan ludah susah payah mendapat intimidasi kakak iparnya ini. Dia mematung di tempatnya.
Ziya lalu melanjutkan langkah, berlari kecil menuju mobil suaminya.
Sepanjang hari, Afnan mengabaikan Ziya. Dia masih kesal dengan sikap istrinya yang menyerupai wanita as-salfa. Terlebih teringat senyum menawan dan ketampanan pria itu.
Bujuk rayu Ziya tak mempan, walaupun segala cara telah dia ajukan. Mulai dari memasak, menyiapkan air untuk Afnan berendam sampai menggelayut manja minta disuapi.
Afnan bergeming dan makan dalam diam, bahkan tidak membagi menu yang sama pada Ziya. Lelaki itu lalu melenggang pergi saat telah usai bersantap.
Ziya menyerah, di satu sisi bahagia makanannya habis. Tapi, di sisi lain, dia kecewa harus makan sendiri.
Dia pun mulai menyuapkan makanan ke mulutnya. Namun, baru beberapa kunyahan, Ziya buru-buru menelan dan langsung minum.
"Ya Allah, Maasss!" lirih Ziya trenyuh, lemas memandangi pinggan yang kosong disampingnya. Dia urung makan, gegas membereskan semua hidangan di meja juga peralatan kotor lalu menyusul Afnan.
Kala masuk ke kamar, suaminya sedang mencatat sesuatu di atas ranjang. Ziya pun duduk disampingnya sembari melirik tulisan Afnan.
Ternyata Afnan berusaha tidak berat sebelah. Semua kebutuhan rumah, Arman, dan jatah bulanan Iwana masih ditanggung suaminya. Bahkan untuk Salamah pun tertulis di sana.
"Mas ... untuk ibu, dariku saja," cicit Ziya merasa tak enak hati, takut dituduh pemborosan lagi.
Afnan tak menoleh, tapi menyahuti Ziya. "Sudah ada postnya sendiri, kok. Semoga ini yang terbaik," pungkasnya, melirik sekilas sang istri.
Ziya merasa lega, Afnan akhirnya mau bicara dengannya lagi. Sosok di hadapan memang idaman, dia pun berinisiatif meminta maaf.
Afnan tersenyum, menyesal telah bersikap dingin padanya beberapa jam lalu. Dia kemudian menarik istrinya dalam pelukan.
Rasa penasaran Ziya terhadap sikap Afnan kala di meja makan membuat wanita ayu itu mengajukan pertanyaan.
"Tadi waktu makan, kenapa nggak bilang kalau itu asin, Mas?" cicit Ziya tak enak hati, padahal Afnan lahap memakannya tadi.
"Agar pahala istriku tidak gugur sebab keluhan yang keluar dari mulutku. Kamu menyajikan makanan pake tenaga, cinta, sayang dan lainnya. Jika aku katakan ini dan itu pastilah hatimu kesal meski lisanmu tidak. Rasa itu hanya hadir di lidah, Sayang. Jangan sampai merusak hati," jujur menantu Salamah. Afnan ikut tersenyum melihat wajah Ziya bersemu merona.
"Lalu kenapa aku tak boleh mencicipinya juga?" sambung Ziya, kini menatap Afnan penuh tanya.
"Ingat kisah Rasulullah saat di beri hadiah anggur dan beliau tak membaginya pada para sahabat, sedangkan biasanya tak berlaku demikian?" pancing Afnan lagi, sekaligus nostalgia kisah jaman sahabiyah.
"Hmmm, yang mana?" Ziya nampak berusaha mengingat tapi ingatan itu samar. Hingga beberapa menit ke depan, putri Salamah masih tak jua menemukan jawabannya.
Waktu hampir menunjukkan pukul sepuluh malam saat pasangan Chairi masih berbagi kisah. Besok adalah akhir pekan, sehingga Afnan memilih memundurkan waktu tidurnya malam ini. Dia merasa harus menebus waktu, saat mereka saling diam.
Ziya mulai menarik selimut menutupi tubuh mereka.
"Agak panjang kisahnya, semoga nggak ketiduran," kekeh Afnan sebab setiap kali menempel dengan Ziya, dia lebih mudah mengantuk.
Afnan mulai bercerita tentang kebiasaan Rasulullah kala menerima hadiah atau sedekah. Beliau selalu membagikan nikmat rezeki itu pada semua handai taulan. Namun, kali ini tidak.
Siang terik saat tengah berkumpul dengan para sahabat, tiba-tiba datang seorang petani membawa semangkuk anggur lalu diberikan pada kekasih Allah.
Rasulullah menerima hadiah itu lalu memakannya di depan si pemberi. Suapan pertama, Rasulullah tersenyum membuat pria tadi pun sumringah. Demikian halnya dengan suapan ketiga dan seterusnya, Nabiyullah tetap menampilkan senyuman hingga wajah petani tadi berseri dan mangkuk berisi anggur itu habis.
Para sahabat terheran dengan sikap panutan mereka sebab hal ini di luar kebiasaannya. Namun, mereka tak menjeda apa yang dilakukan oleh sang Rosul pilihan Allah. Bersabar menunggu pria tadi pulang.
"Iya ya, kenapa. Beliau melakukan sesuatu pasti ada sebabnya," Ziya ikut terheran.
"Lanjut dulu ya ... setelah pria tadi pulang barulah Rasullullah menceritakan alasannya tak membagi nikmat kali ini." Afnan menjeda kisah karena menghidu wangi rambutnya
Suapan pertama rasanya manis, kedua agak asam, ketiga manis kembali, keempat masih mentah sehingga sepah. Jika membaginya pada para sahabat , Rasullullah khawatir salah satu di antara mereka akan berkata jujur tentang rasa masing-masing anggur itu sehingga membuat hatinya sedih dan bersalah sebab tak memberikan hadiah terbaik.
"Kepedulian Rasullullah begitu dalam dan tulus hingga sampai ke titik mengkhawatirkan sesuatu hal yang dapat merusak kebahagiaan orang lain, Sayang."
"Seperti Mas tadi, ya. Supaya aku tak berkecil hati padahal makanannya nggak layak makan," cicit Ziya.
"Nah 'kan, sekarang merasa bersalah," kekeh Afnan.
"Maaf ya, Mas," lirih Ziya sedikit menyesal tak mencicipinya lebih dulu sebab terburu.
"Jangan memaksakan diri melebihi batas hanya untuk mendapat pujian orang lain, lakukan semua karena niat ibadah. Tuhan akan memberikan Rahmat melalui sekitarmu," pungkas Afnan menutup kisah panjang malam ini.
Sementara di tempat lain. Seorang wanita tengah berbincang dengan sahabatnya. Dia membagi informasi tentang Ziya dan meminta imbalan.
"Aku butuh modal," ujarnya memelas.
.
.