Andai Tiada Mertua

Bulan Baru

"Maksud kamu apa, Sayang?" Afnan duduk seraya menempeli istrinya yang tampak gelisah.

 

"Aku nggak mau rumahku di masuki orang lain," cicit Ziya menunduk.

 

Jemari lelaki saleh mengangkat dagu Ziya agar melihatnya. "Aku memilihmu. Apapun alasannya, untuk hal satu ini, aku memilihmu," tegas Afnan masih menatap dalam manik mata Ziya.

 

Wanita ayu itu mulai berkaca-kaca. Ingin rasa hati mengatakan perasaan sesungguhnya bahwa dia juga mendamba pria setia. Yang teguh di sisi bila badai menerpa.

 

Namun, bukankah ajaran selalu mengajarkan bahwa mengutamakan orang tua juga merupakan suatu kemuliaan. Terlebih mendukung sosok lelaki yang memang selamanya milik sang mama.

 

"Ziya, jika ibu keterlaluan. Aku berhak tak mengikuti keinginan beliau seperti yang selama ini aku lakukan. Misalnya, memintaku menikah lagi," imbuh putra sulung Iwana.

 

Sejak awal, Afnan tidak setuju saat Iwana mengajukan syarat untuk tinggal satu atap dengan mereka. Tapi, dia juga menyadari bila Ziya ingin dekat dengan beliau agar baktinya sebagai anak tetap tersalur dan pahala sang istri mengalir tiada henti.

 

"Banyak cara lain, Ziya. Nggak harus mengorbankan hati kita," pungkas Afnan menarik istrinya masuk ke dalam pelukan.

 

Tiada bantahan atau balasan dari bibir Ziya, yang keluar hanya tangisan betapa dia sangat bersyukur Afnan sangat peka terhadapnya. Namun, tekad Ziya terlalu kuat atau mungkin dapat dikatakan bahwa dirinya bebal.

 

Ziya ingin tetap tinggal di rumah lama. Jikalau pun harus keluar dari sana, dia berharap harga dirinya tetap terjaga. Ziya ingin melangkah dengan kepala tegak, secara baik-baik, bukan pergi sebab ada masalah dengan sang mertua.

 

Afnan menghela nafas, dirinya diminta lebih sabar terhadap amanah yang dia pilih sendiri. Lelaki tampan itu mengusap punggung Ziya lembut, menghujani pucuk kepalanya dengan bubuhan sayang.

 

Pemilik konveksi itu tiba-tiba memiliki ide sebelum menjalani rangkaian pengobatan lusa nanti. Dia mengajak Ziya liburan tipis-tipis di sekitaran Jakarta.

 

"Kita belum honeymoon," bisik Afnan membayangkan berduaan dengan Ziya di resort tepi pantai.

 

"Aku izin lagi?" lirih Ziya, enggan melepas lengan yang melingkar di pinggangnya.

 

"Coba izin lagi. Kalau ditolak ya kamu masuk pas bimbel aja. Bolos kuliah sesekali," ujar Afnan, tertawa kecil sambil mendekap istrinya erat. "Sekarang kamu pilih mau nginep di resort mana. Jangan bawa apa-apa sebab nggak but--" kekehnya mulai menggoda Ziya.

 

"Mulai, mulai deh ...." Ziya menangkap gelagat tak beres dari suaminya. Dia mencubit pinggang Afnan sampai lelaki itu meringis nyeri.

 

Pasangan Chairi memilih pulau Tidung sebagai destinasi liburan. Afnan pun langsung menghubungi travel agent untuk memandu mereka di sana. Setelah semua proses registrasi selesai, dia mengajak Ziya membeli beberapa kebutuhan untuk menginap di cottage.

 

Saat berbelanja di mini market, ponsel Afnan berbunyi. Iwana mengatakan sedang menunggunya di rumah. Namun, lelaki Chairi meminta ibunya agar pulang kembali sebab dia masih ada urusan di luar.

 

Afnan pun sengaja tak mengabarkan pada Iwana bahwa mereka akan menginap beberapa hari di resort. Sejak menikah kembali dengan Ziya, ruang gerak Afnan seakan dibatasi oleh sang bunda.

 

Memang, di mata ibu, anak selamanya akan menjadi putra yang harus di perhatikan. Namun Iwana terkadang lupa, bahwa tugas itu kini telah beralih pada menantunya.

 

Sebelum tidur, seperti biasanya Ziya melaksanakan witir dengan Afnan. Menyambung sunah hajat dan memanjatkan doa untuk ketenangan hati juga upaya membujuk Allah agar melembutkan hati Iwana.

 

“Ya Robb yang Maha Rahim, terimalah taubatku, hilangkan rasa khawatir, jawablah doa kami, teruskan ucapan benarku, arahkan hatiku kepada hidayah-Mu, dan lenyapkan kedengkian yang menyelubungi dadaku.”

 

Afnan hanya tersenyum samar kala mendengar lantunan lirih doa yang istri kecilnya panjatkan.

 

"Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad. Ingat untuk memuji-Nya menggunakan nama kekasih-Nya, Zie. Agar doamu tak hanya melambung lalu melayang tanpa menyentuh Arsy. Dengan menyebut puja puji, membuat doa kita menjadi lebih berbobot," pesan Afnan saat akan bangkit.

 

Ziya mengangguk dan melanjutkan dzikir petang yang belum sempat dia panjatkan.

 

Setelah subuh, pasangan Chairi berangkat menuju titik temu. Ziya betah bergelung dalam dekapan Afnan selama di Fery. Gadis itu merasa sedikit mual dan pusing lantaran ini adalah pengalaman pertamanya menaiki moda transportasi laut.

 

Afnan berkali mengusap punggung istrinya pelan sembari menikmati wajah teduh putri Salamah yang memejam.

 

Teringat beberapa tahun silam, wajah inilah yang selalu terbayang. Namun, tiba-tiba dia teringat Yasmin.

 

Lelaki yang mengenakan kacamata hitam itu melepas pandang ke hamparan laut lepas. Dia membatin, 'Jangan timpakan sesuatu yang tak sanggup aku emban, ya Allah. Cukup Ziya menjadi tanggung jawab dunia akhirat wahai Dzat yang maha membolak-balikkan hati.'

 

Sikapnya terhadap Yasmin sungguh sangat berbeda jauh dengan Ziya. Afnan pun merasa meski usianya baru 19 tahun tapi Ziya cukup tangguh berdiri di sisinya.

 

Terlebih setelah pembacaan hasil medical check up. Ziya lebih menyalahkan dirinya yang tidak mengurus Afnan dengan baik, sehingga kesehatan mereka kurang kompeten untuk memiliki momongan dalam waktu dekat. Bahkan sang istri menduga ini karena melawan Iwana.

 

"Sayang banget sama anaknya ibu." Afnan mencium pipi gadis yang mulai berisi ini. Dia tak peduli tatapan wisatawan lain yang melihatnya.

 

Bila pasangan Chairi sedang memadu kasih di luar Jakarta, lain hal dengan situasi di dalam kota.

 

Dalam kabin sebuah mobil yang terparkir cantik di pelataran rumah sakit, sedang berlangsung satu percakapan alot.

 

"Aku cuma mau tahu apa diagnosa mereka, Naufal, please," ucapnya dengan nada manja.

 

"Maaf, aku nggak nemu jawaban pas ketika sejawat menanyakan alasan medisnya sebab beliau bukan pasien langsung aku. Lagipula untuk apa? Kamu mau ngusik mereka?" duga sang pria di seberang panggilan.

 

Yasmin mendengus kesal, ternyata rayuan manisnya untuk sang mantan tak lagi mempan. "Nanti aku bantu promoin klinik kamu," imbuhnya mengiming-imingi.

 

Naufal tertawa renyah. "Nggak usah repot-repot, Yaz. Mendingan move on, masih banyak jomblowan," seloroh sang dokter.

 

Naufal menerka hubungan antara Yasmin dengan Afnan. Dia diminta olehnya untuk membocorkan hasil medical pasangan Chairi. Dokter muda itu sempat terkejut sebab dia mengenal baik sang wanita. 

 

Tidak mau ambil risiko mempertaruhkan kredibilitasnya, serta merasa perlu membalas budi pada keluarga Ziya, Naufal akhirnya memilih menepi dari kisruh yang tak dia ketahui.

 

Wanita ayu itu lantas pergi meninggalkan pelataran rumah sakit dengan hati kesal. Dia pun melesat, melajukan mobilnya menuju satu kawasan kuliner.

 

30 menit berlalu, dia tiba di tujuan. Yasmin turun dari Honda City merah miliknya, melenggang percaya diri memasuki sebuah resto. Dia telah membuat janji temu dengan sahabatnya.

 

"Hai!" sapanya renyah tanpa suara, hanya senyuman lebar sambil mengibaskan tangan.

 

Sang sahabat pun semringah. Dia bangun menyambut kedatangan sosok yang dinanti sejak tadi. "Lama amat," ocehnya ketika mereka saling cipika-cipiki. 

 

"Aku ada urusan dulu tadi." Yasmin menarik wanita ini sedikit menjauh. "Gimana, aman 'kan?" bisiknya sambil melihat punggung wanita yang sedang menyesap minuman.

 

"Aman. Nggak tahu kalau kita mau ketemuan," katanya sembari menarik Yasmin mendekat ke meja dimana terdapat seorang wanita lainnya.

 

"Assalamualaikum, apa kabar?" 

 

 

.

 

 

 

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!