Andai Tiada Mertua
Konseling
Ibu Arman menghela napas berat, dadanya terasa sesak oleh beban yang tak kasatmata. Ia tahu, pulang ke rumah orang tuanya bukan pilihan yang menjanjikan. Di sana, dia hanya akan menjadi tambahan mulut yang harus diberi makan, tanpa punya kuasa seperti sekarang—meski statusnya hanya bekas mantu, Iwana masih memberinya uang jajan. Hidupnya tak semewah dulu saat Arif masih ada, tapi setidaknya ia tak kekurangan. Apalagi Afnan masih menanggung seluruh kebutuhan Arman.
Namun, setelah memikirkan Ziya dan kecilnya kemungkinan rujuk dengan Yasmin, Aisyah sadar harus mencari jalan aman. Dia tak bisa terus bergantung.
Dengan niat baru, Aisyah mulai menyusun beberapa lamaran kerja. Ia mengeluarkan kembali gelar sekretaris yang sempat terkubur dalam rumah tangga. Besok, ia berencana mengantarkannya ke sejumlah perusahaan peserta job fair di gedung kampus lamanya.
"Gak taulah, Yas... Aku capek hidup begini. Sekarang keinginanku cuma satu—pengen Arman bangga punya mama sepertiku," lirihnya sembari menatap layar ponselnya yang menampilkan wallpaper keluarga kecil mereka.
"Serah kamu aja, mau ngaduin aku ya nggak apa..." gumamnya lagi, pasrah. Dalam hatinya, Aisyah tahu, setiap langkah punya ganjarannya sendiri.
Ia lalu merapikan diri, tubuhnya lelah, jiwanya lebih lagi. Ia naik ke ranjang, memeluk Arman yang sudah tertidur, dan membiarkan air matanya jatuh perlahan.
***
Pagi harinya, Afnan melirik Ziya yang sedang duduk memandangi cangkir kopi, tak disentuh.
“Sayang, kemarin kamu ngapain aja?” tanyanya, hangat tapi penuh rasa ingin tahu. Semalam ia pulang saat Ziya sudah tidur, tak sempat berbicara panjang.
“Nggak kemana-mana, Mas. Ke kafe bentar, terus pulang ... tidur.” Ziya menjawab tanpa menoleh, matanya lelah, suaranya datar.
Afnan menatap wajah istrinya yang biasanya ceria, kini terlihat murung dan asing. “Lesu gitu ... Kenapa? Mau pulang ke rumahmu sebentar sebelum ngajar lagi?” tawarnya lembut.
Ziya menggeleng pelan. “Nggak ... mager aja. Besok udah mulai kerja lagi.” Ia menahan banyak hal di tenggorokan, termasuk pertanyaan soal hasil pemeriksaan yang belum Afnan sampaikan pada Iwana.
Suasana pagi terasa menggantung. Biasanya, ada tawa, ada canda kecil. Kini hanya bunyi sendok bersentuhan dengan piring dan cangkir, memberi jarak yang diam-diam tumbuh.
Di tempat berbeda, Iwana sedang berbincang dengan Shakira di ruang kerja sang dokter kecantikan ini. Pesanan Shakira sudah selesai dikerjakan, dan Iwana memanfaatkan kesempatan ini untuk mengenalkannya lebih dekat pada Afnan.
Saat mereka sampai di AF design, kebetulan Afnan baru menyelesaikan meeting dan mampir menengok produksi.
“Afnan, Shakira, mutusin jadi klien tetap kita, loh,” kata Iwana sambil tersenyum.
Shakira mengangguk sopan. “Senang akhirnya bisa ketemu Mas Afnan. Ibu sering cerita, tapi aslinya lebih tegang dari yang saya bayangkan,” godanya sambil melirik singkat ke arah Afnan.
Afnan mengangguk sekadarnya, lalu menurunkan pandangannya ke file yang sedang ia pegang. “Makasih udah percaya sama AF Design.”
Melihat suasana agak canggung, Iwana mencoba mencairkan dengan sebuah kode. “Daripada tegang terus, gimana kalau kalian makan siang bareng? Di kafe seberang tuh ada menu baru, enak katanya.”
Afnan langsung menimpali, “Maaf, Ma. Aku ada jadwal follow-up desain digital nanti siang. Lagipula, kayaknya beliau lebih cocok makan siang sama BESTienya aja.” Kalimatnya lembut tapi jelas bernada penolakan.
Shakira tertawa kecil, mencoba meredam suasana. “Wah, ditolak halus nih ceritanya,” katanya sambil meniru nada sinetron dan menambahkan, “Nggak apa-apa, toh belum tentu juga selera kita sama. Saya sukanya makan hemat—yang penting banyak, bukan estetik,” ujarnya bercanda.
Afnan mendongak, memandang Shakira sekilas, lalu tertawa—tapi bukan tawa yang hangat. Lebih pada tawa singkat yang terdengar kering.
“Lucu juga ... biasanya orang yang bilang gitu, ujung-ujungnya paling cerewet pas ngeluhin rasa,” komentar Afnan sedikit sarkastik.
Shakira terdiam sejenak, lalu ikut tertawa canggung.
Di sela momen itu, sambil tersenyum Iwana dengan cepat mengangkat ponselnya dan mengambil gambar. Jepretan itu menangkap Afnan yang sedang tertawa—tanpa suara, tanpa konteks—tapi terlihat seperti tawa yang lepas dan akrab.
Foto itu ia kirimkan ke Ziya.
["Kalau kamu mandul, biarkan Afnan memilih dia sebagai madunya. Kamu tetap dapat porsi sebagai yang pertama."]
Di rumah, Ziya mengusap dadanya kala membuka satu pesan dari sang mertua.
Dingin. Matanya membasah seketika. Ia menatap layar, memperhatikan senyuman Afnan di foto itu—bukan hanya ramah, tapi hangat. Terlalu hangat. Itu bukan senyum ramah yang biasa dia lihat. Itu tawa yang... asing. Apakah dia bahagia dengan perempuan lain?
Tiba-tiba napasnya terasa sesak. Ia menekan dadanya sambil menahan isak.
"Ya Allah, apalagi ini?" lirih Ziya masih mengatur napasnya.
Seakan semesta tahu hatinya rapuh, ponselnya pun berbunyi. Sebuah pesan masuk dari Naufal.
["Zie, aku tahu kamu lagi program. Jangan stres ya. Aku nemu psikolog yang oke buat konseling. Yuk coba, demi kamu juga..."]
Ziya menutup mata. Ia tahu harus kuat, tapi kenyataan terus menyeretnya ke tepi. Dia menggigit bibirnya. Tawaran itu seperti uluran tangan kecil di tengah badai. Ia diam beberapa detik, lalu mengetik pelan:
[“Kapan?”]
Tak lama kemudian balasan muncul.
[“Hari ini bisa. Aku yang jemput. Kamu tinggal siapin hati buat ngomong.”]
["Tolong booking sesi itu, ya ... Aku ke sana sendiri setelah dapat izin."] Tulisnya untuk Naufal.
Ziya menarik napas panjang, mencoba menyeka sisa air matanya. Dalam hatinya masih ada perih, tapi ia tahu, kalau dia tetap diam, dia bisa hancur.
"Aku harus sehat mental jiwa raga agar kuat menghadapi mama dan siap mengandung putraku."
"Akan aku buktikan, bahwa bukan aku yang mandul, Ma." Tekadnya kuat.
Ziya lantas meminta izin pergi pada Afnan melalui pesan singkat. Meski sejuta tanya mengisi otaknya saat melihat foto tadi.
"Jangan terpancing, Ziya," gumamnya menguatkan diri.
***
Di tempat lain, Yasmin menekan rem mobil dengan keras saat melihat sosok Aisyah berdiri di pinggir jalan depan kampus, sedang menunggu ojol. Tanpa pikir panjang, ia turun dan menarik lengan Aisyah masuk ke dalam mobil.
“Kurang ajar kamu! Masih berani muncul di sini?!” seru Yasmin kalap sebab banyak pesannya diabaikan Aisyah.
Aisyah terkesiap, ingin berlari menghindar tapi tas nya ditarik Yasmin. “Yasss! Jangan begini di tempat umum!” Belanya malu dilihat orang banyak.
Tapi kemarahan Yasmin tak bisa dibendung. Keduanya bertengkar hebat di dalam mobil. Aisyah mencoba menjelaskan bahwa ia hanya ingin mencari pekerjaan. Tapi Yasmin tak peduli.
“Aku udah rekam semua omonganmu. Kalau perlu, aku kirim ke Afnan sekarang juga!”
Aisyah terdiam, wajahnya pucat. Kepalanya penuh kekhawatiran. Jika Afnan benar-benar mencabut subsidi untuk Arman... bagaimana mereka bertahan?
Di tangannya, Yasmin mengangkat ponsel, jempolnya melayang-layang di atas tombol kirim.
Sementara itu, Aisyah menerima notifikasi email—lamaran diterima untuk tahap wawancara esok pagi.
Namun, matanya tak sempat menatap bahagia. Sebab saat itu juga, ponsel Aisyah bergetar keras di tangan. Nama sekolah Arman muncul di layar. Jantungnya langsung berdegup kencang.
"Hallo?" Suaranya nyaris panik.
"Bu Aisyah? Maaf mengganggu. Arman barusan demam mendadak di kelas. Kami coba ukur, suhunya hampir 39. Bolehkah segera dijemput?"
Detik itu juga, dunia Aisyah seakan terbalik. Semua kata-kata Yasmin menguap, tersapu panik yang menjalar di seluruh tubuhnya.
"Aku harus pergi!" Aisyah membuka pintu mobil, tapi Yasmin menarik lengan bajunya.
"Kita belum selesai!"
Aisyah menatap Yasmin dengan mata tajam, suaranya bergetar tapi penuh ketegasan. "Kita emang belum selesai, Yas. Tapi sekarang, aku cuma ibu yang harus nyelametin anaknya. Kalau kamu mau terus ngancam, silakan. Aku nggak punya tenaga buat mikirin itu sekarang."
Tanpa menunggu balasan, Aisyah menarik lengannya dan berlari ke arah ojek online yang masih menunggu. Mobil Yasmin tetap diam, tapi wajahnya berubah, tak menyangka Aisyah bisa lepas secepat itu.
Di atas motor, angin membelai wajah Aisyah yang pucat. Napasnya belum teratur, tapi matanya menatap jauh ke depan.
"Aku harus kuat... demi Arman. Hanya dia yang kupunya."
Sementara Aisyah membelah jalan demi anaknya, Yasmin duduk sendiri di dalam mobil. Ponselnya masih menampilkan rekaman itu. Tangannya gemetar, bukan karena marah—tapi karena hatinya mulai bimbang :
Apakah ini benar-benar demi rujuk dengan Afnan, atau hanya balas dendam?
.
.