Andai Tiada Mertua

Aisyah ketauan

Afnan mengusap wajahnya yang lelah, matanya sembap karena semalaman tak bisa tidur. Bayangan Ziya yang termenung di kamar terus mengganggu pikirannya. Kemarin, saat dia sibuk dengan klien dan mengizinkan istrinya pergi, dia lupa satu hal penting : bertanya, Ziya pergi ke mana. Sekarang, penyesalan menelusup tanpa ampun ketika ia membaca ulang diagnosis stres yang baru diketik dokter.

 

Dengan hati berat, ia raih ponsel Ziya yang tergeletak di meja. Galeri terbuka, dan video itu masih ada. Potongan detik-detik dari ibunya yang merekam, terasa getir di hati. Ziya salah paham, sialnya berakibat fatal.

 

Afnan menghapus video itu. Matanya menatap kosong, pikirannya berputar. Kenapa Mamanya sendiri bisa begitu? Kenapa selalu ada yang mencoba merobek tenangnya pernikahan ini?

 

Saat pagi menjelang, Ziya hanya menyiapkan sarapan tanpa sepatah kata. Suaranya hilang, matanya enggan bertemu pandang.

 

“Sayang, kapan ke RS lagi? Aku temani,” ucap Afnan pelan, mencoba mencairkan suasana.

 

Namun Ziya tetap diam. Sendok nasi berpindah ke mulut, cepat-cepat dia habiskan makanannya dan berdiri tanpa menatap sang suami.

 

~Mas, peka dong, pikir Ziya sambil membawa piring kotor ke dapur. ~Kamu nanya soal RS, tapi lupa siapa yang bikin aku stres.

 

Merasa makin jauh dari Ziya, Afnan mengikuti ke mana pun istrinya pergi, seperti bayangan yang tak mau lepas.

 

Di kamar, Afnan mendekat dan duduk di sisi ranjang, menatap istrinya lekat-lekat. “Sayang, please ... jangan diemin aku. Minta maaf, oke?”

 

Ziya menoleh cepat, nada tajam menyelip dalam suaranya. “Kapan jadinya, Mas?”

 

Afnan menarik napas dalam. “Pulang kerja ... kamu mau ikut atau di rumah? Aku nggak nunda, Zie. Aku udah niat ke Mama, tapi nggak sempat. Waktu itu aku—”

 

“Aku liat betapa ramah sumringahnya Mas di video itu. Itu yang Mas bilang nggak sempat? Kayaknya hepi sekali,” sungut Ziya, nada bicaranya masih ketus.

 

Afnan menatap mata Ziya yang penuh kekesalan, lalu meraih tangan istrinya dan menggenggamnya erat. “Yang kamu lihat di video, itu bukan kenyataannya. Aku nggak pernah berpikir ninggalin kamu. Aku sayang kamu, Zie.”

 

"Kan kamu denger juga, aku ngomong apa, terlepas gimana senyumanku, kan?" imbuh Afnan masih menatap wajah istrinya. "Itu satire, Sayang."

 

Ziya menahan napas, lalu mengangguk perlahan. Sebuah senyum tipis muncul, membuat dada Afnan terasa lebih lega. Ia cium kening Ziya sebelum pamit ke konveksi.

 

Namun setibanya di sana, sosok Yasmin sudah berdiri di depan pintu masuk, bersandar santai dengan ponsel di tangan.

 

Afnan berjalan melewatinya begitu saja. Tapi Yasmin menghalangi, menyodorkan layar ponsel yang memperlihatkan Ziya dan Naufal berjalan keluar dari ruang konseling.

 

"Lucu ya, suami kok nggak tahu istrinya curhat dan jalan sama mantan?" sindirnya datar, dengan mata menyipit.

 

Afnan diam. Tadinya ia ingin mengabaikan, tapi penasaran, dan melihat video sampai habis. Wajahnya tak menunjukkan reaksi, tapi dalam dadanya, kecewa mengendap perlahan. Kenapa Ziya tak bilang soal Naufal? 

 

Jika Ziya saja bisa salah paham terhadap sikapnya kemarin pada Shakira, dia pun merasakan hal yang sama.

 

Yasmin mulai nyerocos, menyebut Ziya yang terlalu sering bicara dekat dengan Naufal, seolah menabur racun di benaknya. Tapi Afnan tak menggubris lebih lama. Dia tahu niat Yasmin tak pernah murni.

 

“Pulang sana, Yas. Urus hidup kamu sendiri,” ucapnya dingin, mengusir Yasmin tanpa menoleh lagi.

 

"Mas!" serunya kesal, usahanya tak jua berhasil. Dia malah digiring keluar oleh Ghea, sekertaris Afnan.

 

Sementara itu di rumah sakit, Iwana datang tergesa, langkahnya terburu-buru usai telepon dari Aisyah sore kemarin. Namun saat tiba, dia tak menemukan sang menantu di kamar cucunya.

 

Suster berkata, Aisyah sedang keluar wawancara kerja. Arman masih tidur, ditemani oleh perawat. Iwana meradang dan langsung menghubungi Afnan, tapi tak dijawab.

 

Beberapa menit kemudian, Aisyah muncul, Iwana pun meluapkan emosinya. “Kamu tega ninggalin anak kamu demi kerja? Kamu pikir ini waktunya nyari-nyari kerja?”

 

Aisyah tergagap lalu menunduk meremas ujung kemejanya, “Aku cuma ingin berguna, Ma ... Lagipula biaya pengobatan Arman makin tinggi…”

 

"Berguna itu diam di sini ngurus anakmu, bukan keluyuran nggak jelas. Uang dariku kurang, kah?" sentak Iwana sambil berkacak pinggang diikuti napas yang memburu.

 

Percekcokan makin panas saat orang tua Aisyah datang dan mendengar kemarahan itu. “Anak kami ingin membantu dan mandiri, kenapa dilarang?” ujar Ayah Aisyah.

 

Iwana tersinggung, melipat tangan di dada. “Kalau begitu, urus sendiri anak kalian! Aku tidak akan biayai dia lagi. Sejak kapan otaknya berpikir mencari kerja ... selama ini dia cuma ongkang kaki saja.” Ia berbalik pergi, meninggalkan kekakuan yang membeku di lorong rumah sakit.

 

Aisyah terduduk di bangku tunggu. Air matanya jatuh, pikirannya berkecamuk. Apa harus aku pakai uang dari Yasmin lagi? Atau... minta tolong ke Ziya agar Kak Afnan mau pinjamkan?

 

Ucapan orang tuanya yang menenangkan tidak bergema di telinga Aisyah. Dia sibuk dengan prasangkanya sendiri.

 

Belum sempat ia putuskan, ponselnya berdering. Nama Afnan tertera di layar.

 

Dengan ragu, Aisyah angkat. Suara Afnan terdengar datar, terlalu tenang untuk dibilang biasa.

 

“Aish, kita perlu bicara. Ke konveksi sekarang.”

 

Aisyah menatap layar ponsel yang baru saja mati. Nafasnya tercekat. Nada suara Afnan tak seperti biasanya—terlalu tenang, nyaris datar, tapi jelas mengandung sesuatu yang tak bisa ia tebak : kemarahan, kecurigaan, atau… kekecewaan?

 

Ia menoleh ke Arman yang masih terbaring lemah di ranjang. Mata anak itu baru saja terbuka, menatap ibunya dengan sayu.

 

Aisyah mengecup kening Arman. “Mama pergi sebentar ya, Nak… Arman sama kakek dulu, ya.”

 

***

 

Di kantor konveksi, Afnan berdiri membelakangi pintu ruangannya saat Aisyah masuk. Wajahnya kaku, rahangnya mengeras. Tanpa menoleh, ia bicara.

 

“Aku udah cukup diam, Ais. Tapi kali ini aku perlu tahu... kalian berdua ada rencana apa?”

 

Aisyah menelan ludah. “Maksudnya?”

 

Afnan berbalik, matanya tajam. “Yasmin. Kamu cerita apa saja ke dia?” cecarnya.

 

Aisyah menggeleng cepat. “Aku nggak cerita apa-apa! Sumpah, Kak... Aku nggak tahu Yasmin akan—”

 

“Lalu kenapa Yasmin tahu Ziya kemana-mana? Siapa yang kasih tahu?” potong Afnan tajam.

 

Aisyah gugup. “Aku... aku cuma...”

 

Afnan memejamkan mata, menarik napas panjang. “Dan kamu pikir itu keputusan yang tepat? Sekarang Ziya stres, dan Yasmin bawa-bawa video seolah dia selingkuh.”

 

“Dia nggak selingkuh!” suara Aisyah meninggi, nyaris panik. “Aku tau Ziya gadis baik.”

 

Afnan menatap Aisyah lama, wajahnya mulai mengendur, tapi masih belum percaya sepenuhnya. “Aku ingin tahu satu hal, jujur... Kamu masih komunikasi sama Yasmin, kan?”

 

Aisyah tak bisa menjawab. Diamnya sudah cukup jadi jawaban.

 

Afnan menghela napas panjang. “Aku tahu kamu butuh uang, dan pasti Yasmin manfaatin itu ... Sama seperti dulu. Kali ini aku nggak bisa diam."

 

Aisyah menggigit bibir. “Aku bingung, Kak. Mama udah angkat tangan ... Arman butuh biaya banyak. Aku cuma mau anakku tau ibunya berguna.”

 

Afnan menunduk sebentar, kemudian menatapnya lagi. Kali ini nada suaranya lebih dingin.

 

“Kamu bisa bicara ke Ziya. Tapi kamu malah main dua sisi. Yasmin itu—dia nggak peduli siapa yang dia rusak, yang penting aku kembali ke dia.”

 

Aisyah menangis pelan, menutup wajahnya. “Aku salah...”

 

Afnan berdiri dan mengambil jaket. “Aku nggak bisa urusin ini sekarang. Tapi kamu pastikan satu hal : mulai hari ini, jangan ada satu info pun soal Ziya atau aku yang nyampe ke Yasmin lagi. Aku nggak main-main.”

 

Saat Aisyah masih terduduk dengan tubuh gemetar, Afnan melangkah pergi. Namun sebelum menutup pintu, ia berkata lirih:

 

“Arman tetap tanggunganku sampai kamu mampu dan dia selesai sekolah. Tapi jangan buat aku kehilangan Ziya," ancamnya datar, meninggalkan Aisyah yang terpaku.

 

Sementara itu, di rumah.

 

Ziya menatap layar ponselnya yang baru saja menyala. Ada pesan dari nomor tak dikenal.

 

["Hati-hati. Afnan mulai tahu semua. Tapi dia belum tahu soal pertemuan kamu dan Naufal sebelum konseling.”]

 

Ziya menggenggam ponselnya erat. Matanya menyipit. Jantung pun berdetak keras. Siapa yang kirim ini? Yasmin kah, atau Naufal mengkhianatinya?

 

 

 

.

 

 

 

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!