Andai Tiada Mertua

Kejujuran Afnan

Afnan menyalakan mobil dengan satu tujuan : menyelesaikan semua kekacauan ini. Tiga puluh menit melaju tanpa henti, dia tiba di rumah yang dulu hangat oleh tawa masa kecilnya, dan kini dihuni sang Mama yang lebih sering memendam bara dalam diam.

 

Mobil tua Mama masih terparkir rapi di carport. Ia menepuk setir sejenak, menarik napas panjang, lalu turun. Gerbang sudah terbuka; seperti biasa, sang supir sudah tahu kode.

 

Langkahnya pelan, tapi hatinya seperti dipacu. Hingga akhirnya ia tiba di halaman belakang, dan di sana, Afnan melihat Iwana duduk di kursi malas. Wajah wanita paruh baya itu tampak kosong, nyaris beku—seperti ada awan gelap yang menutupi jiwanya.

 

"Assalamu'alaikum," sapa Afnan sambil meraih tangan ibunya dan mengecupnya lembut.

 

Iwana menoleh, senyumnya muncul namun penuh arti. “Wa’alaikumussalam. Tumben ingat Mama, Kak,” sahutnya datar dengan nada menyindir. “Sendirian?”

 

Afnan menarik kursi lipat di samping sang Mama. “Aku mau bicara, Ma. Soal kami.”

 

Iwana menajamkan pandangannya. Seolah waspada terhadap apa yang akan Afnan sampaikan.

 

“Hasil tes kemarin itu … ternyata aku yang kurang sehat. Bukan Ziya.” Afnan menunduk sambil menghela napas panjang, seolah sebuah beban baru saja terangkat dari pundaknya.

 

Dahi Iwana langsung mengernyit. “Apa? Jangan becanda kamu, Kak.” Tangannya mengepal dan menghantam sandaran kursi. “Nggak mungkin! Pasti ada yang salah! Jangan-jangan hasilnya ditukar!”

 

Afnan menggeleng, tenang namun berat. Ia menggenggam tangan Iwana, lalu menepuknya dua kali, lembut tapi mantap. “Nggak, Ma. Ini sudah pasti. Tapi aku dan Ziya sudah mulai terapi. In sya Allah tidak ada yang terlambat,” katanya berusaha meyakinkan meski sorot matanya terlihat sayu.

 

Iwana masih menatapnya, kecewa bercampur marah.

 

“Kamu nggak bisa punya anak?” desaknya pelan, disertai tatapan kuatir. Arif saja, putra bungsunya yang hidupnya tidak seteratur Afnan, bisa punya Arman. Masa Afnan yang tegap, disiplin menjaga kesehatan malah sebaliknya, rasanya mustahil, pikir Iwana. "Bagaimana bisa?"

 

Afnan menatap langit, lalu kembali ke mata ibunya. “Masih bisa, Ma. Lewat bayi tabung, atau ikhtiar lainnya. Tapi—”

 

“Tapi kamu nyalahin Mama karena Ziya stres?” potong Iwana dengan nada tinggi. “Mama udah usaha, bahkan sampai bujuk Shakira jadi madumu, tapi kamu yang lemah! Kamu yang loyo! Gimana ini, malu dong Mama,” ungkap Iwana sambil menghentakkan genggaman mereka.

 

Afnan menghela napas, lalu tersenyum getir. “Ma, aku tahu Mama cuma mau yang terbaik. Tapi tolong ... cukup. Jangan tambah tekanannya. Biarkan Ziya tenang. Jangan lagi campuri rumah tangga kami.”

 

Afnan berhenti sejenak, lalu menambahkan, “Dan soal Aisyah... biarkan dia kerja, Ma. Kalau Mama merasa sepi, kenapa nggak izinkan Arman lebih banyak dampingi Mama? Meskipun masih bocah tapi dia perhatian, bisa diajak bicara. Mama tidak sendiri.”

 

Iwana menatap Afnan dengan tatapan kosong. Lalu tiba-tiba berkata, “Aisyah akan Mama pulangkan!”

 

Afnan sedikit terkejut. “Arman bagaimana?” tanyanya hati-hati.

 

Iwana menghela napas, pandangannya menerawang jauh. “Entahlah ... Mama sedang pikirkan. Sekarang, semua berantakan, entah dosa apa aku,” keluhnya lirih. 

 

***

 

Sore itu, setelah Afnan pamit pulang, Iwana duduk lama di meja makan tanpa menyentuh makanannya. Akhirnya, ia menyuruh supir untuk bersiap. “Kita makan di luar saja,” ucapnya singkat seraya bangkit.

 

Namun, hidup tak pernah membiarkan hati yang baru saja mulai dingin beristirahat.

 

Di lampu merah kawasan bisnis, mobil mereka sejajar dengan sebuah sedan hitam elegan. Di balik kaca filmnya, terlihat siluet seorang perempuan ... dan seorang pria.

 

Awalnya Iwana tak begitu memperhatikan, tapi stiker di bagian spion, juga hiasan dashboard yang akrab dia lihat, membuatnya mulai menaruh perhatian. Hatinya bergumam, seperti punya Shakira.

 

Saking penasarannya, dia menurunkan kaca mobil. Ketika terbuka sedikit, Iwana membeku. Ia mengenali wajah di mobil sebelahnya—Shakira. Tapi bibir wanita itu kini menempel lembut pada bibir seorang pria muda, yang bukan Afnan.

 

Detik berikutnya, Iwana memberanikan diri menjulurkan tangan dan mengetuk kaca mobil itu dengan gemetar. “Shakira!” serunya, tepat saat lampu kembali hijau.

 

Dari dalam, tampak Shakira menoleh kaget. Mobilnya pun langsung melesat.

 

Namun Iwana tak sempat mengejarnya. Napasnya tersengal, dadanya mendadak terasa nyeri hebat.

 

“Paaak! Rumah Sakit! Cepat!” pekiknya pada sang supir. Mobil pun berbelok, membelah jalanan menuju IGD.

 

***

 

Beberapa jam kemudian, Iwana terbaring di ranjang rumah sakit, selang infus terpasang di tangannya. Dia memejamkan mata, tapi pikirannya sibuk. Sakitnya bukan hanya di dada. Tapi juga di hati yang dikhianati oleh kenyataan.

 

“Jangan kasih tahu Afnan,” pesannya pada sang supir. “Biar aku tanggung sendiri semua ini.” Suaranya sangat pelan, seakan lelah menderanya.

 

"Baik, Bu." Pak supir pun izin keluar untuk menebus obat.

 

Di lobby, Yasmin yang baru keluar dari klinik gigi mengenali supir keluarga Iwana. 

 

“Pak Indra? Siapa yang sakit” sapanya ramah, tapi tidak mendapatkan jawaban dari si supir. Dia pun bertanya lagi, “Apa Mama di rumah sakit?” selidiknya menatap lekat Pak supir.

 

Pak Indra ragu menjawab, tapi akhirnya mengangguk samar. Yasmin tersenyum kecil dan membujuk supir Iwana itu agar mengizinkan dia naik. 

 

"Bentar, masa aku gak sopan, Pak?" bujuknya dengan senyum manis.

 

Pak Indra tampak kikuk, dia menunduk sambil menjawab, "Jangan lama-lama, Non. Jangan bilang saya yang ngasih tahu," katanya takut-takut saat melirik Yasmin tersenyum lebar.

 

Di kamar, Yasmin mengetuk dan langsung masuk. Ia membawa beberapa cemilan yang dibeli di supermarket rumah sakit. Setelah basa-basi ringan, ia menunjukkannya pada Iwana. Di layar, terlihat Ziya sedang bersama Naufal berbincang, tertawa dan tampak akrab.

 

Iwana menarik napas panjang, tidak tertarik. “Kalau harus cerai, nikah lagi pun bukan dengan kamu, Yasmin,” potong Iwana tanpa menoleh.

 

Senyum Yasmin menghilang seketika. Ia menggigit bibir bawah, lalu keluar kamar dengan geram.

 

Sementara itu, di rumah, Ziya duduk di ruang kerja kecil di lantai atas. Tangannya gemetar memegang ponsel. Dia baru saja menerima pesan dari nomor tak dikenal lagi kali ini, tapi pesannya lebih personal.

 

Ziya curiga, apakah ini Yasmin. Tapi otaknya berpikir dari mana Yasmin tahu nomor pribadinya? Ia pun menelpon seseorang yang punya potensi besar menjadi tersangka--Aisyah.

 

Tuut. Tuut.

 

“Aisyah, kamu kasih nomor aku ke Yasmin?” tanyanya tanpa basa-basi.

 

Belum sempat Aisyah menjawab di ujung sana, pintu kamar Ziya terbuka. Afnan muncul dengan tatapan mencurigakan.

 

“Telpon siapa? Lelaki itu, kah?” suaranya rendah, tapi penuh tekanan. 

 

Ziya menatap Afnan, kaget dan bingung, namun juga terluka. “Mas, apa maksudmu? Lelaki, siapa?”

 

“Jawab dulu!” bentak Afnan gusar, dia teringat bagaimana ekspresi Ziya saat bicara dengan Naufal di video Yasmin. “Jangan-jangan kamu memang sengaja....”

 

Ziya berdiri, wajahnya pucat, matanya mulai basah. “Mas pikir aku senang diperlakukan begini? Sengaja apanya?” Belanya dengan suara getir.

 

"Kenapa kamu nggak bilang pergi dengan Naufal?" ucap Afnan masih dengan tatapan menyudutkan. "Kamu menyalahgunakan kepercayaanku."

 

Ziya meremat ponselnya geram, ingin menjawab tapi rasanya sudah lelah. Dia pun memilih diam. Suasana jadi panas, dan malam itu ... mungkin adalah malam yang akan mengubah segalanya.

 

Sementara di seberang sana, Aisyah harap-harap cemas, pertengkaran pasangan Chairi baru saja didengarnya. Ingin bersuara tapi takut malah bikin makin runyam. 

 

 

.

 

 

 

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!