Andai Tiada Mertua

Wara-wiri

Ziya mencuri pandang ke arah Afnan yang tampak gusar. Ia tahu—atau setidaknya menebak—bahwa itu karena sang mama. Malam sebelumnya, meski setengah sadar, Ziya sempat mendengar Afnan berbicara lewat ponsel dengan suara tertahan. Kalimat-kalimat tajam dan dingin, seperti dua hati yang lama tidak saling memahami.

 

Namun Ziya memilih diam. Dirinya sendiri belum cukup kuat, bahkan untuk sekadar duduk tegak. Dia tidak ingin janin yang mulai tumbuh dalam rahimnya ikut terguncang oleh gelisahnya sendiri. Ini amanah. Ini harapan Afnan dan dirinya. Maka Ziya menenangkannya dengan membelai perut pelan, seakan ingin berkata : "Mama akan menjagamu baik-baik."

 

Ketika Afnan kembali ke Jakarta, Ziya merasa separuh hatinya tertinggal. Namun Salamah, seperti biasanya, hadir menjadi penopang. Ia tak hanya mengurus kebutuhan Ziya, tapi juga menjadi penenang lewat kata-kata sederhana dan doa yang tak putus. Vcall dengan Afnan setiap satu jam sekali memang menenangkan, tapi ada pelukan Salamah yang membuat semuanya terasa lebih nyata.

 

Sementara itu di Jakarta, Yasmin terbaring lemah di IGD. Pelipisnya robek dan dijahit dua kali. Rontgen menunjukkan ada bekuan darah di kepala.

 

Ibunya menangis tak henti-henti, tubuhnya gemetar saat mengingat Yasmin jatuh di eskalator dari lantai dua. Entah terpeleset, atau ada alasan lain.

 

Afnan datang. Sekadar membayar empati, bukan karena masih ada rasa. Naufal yang sejak tadi gelisah, memilih duduk di sampingnya.

 

“Kau tahu sesuatu?” tanya Naufal, menatap lurus ke arah Afnan.

 

“Aku tidak mengatakan apapun saat dia menjenguk mama,” sahut Afnan, datar. Tak ada ledakan emosi, tak ada nada membela diri. Hanya kelelahan.

 

Naufal meneliti matanya, mencari keretakan, sesuatu yang bisa ia benci. Sorot mata Afnan jernih, terlalu jernih untuk orang yang dicurigai menyakiti. Naufal diam sejenak, kecewa karena tidak menemukan alasan untuk melampiaskan kekesalannya.

 

"Jaga saja dia. Dia lebih butuh Anda," ujar Afnan sambil berdiri. "Dia lemah, luar dalam. Tapi aku tahu, yang dia cari dariku hanya balas dendam, bukan cinta."

 

Langkah Afnan menjauh, dan Naufal hanya diam. Menyisakan hening dan rasa aneh dalam dada. Tak ada cinta di sana. Tapi melihat Yasmin terbaring seperti itu, hatinya tetap iba. Kenangan masa lalu hadir seperti reruntuhan, penuh debu dan patahan, tapi tetap saja pernah ada rumah yang berdiri.

 

Yasmin pernah mengisi hatinya, tapi kini bayangan gadis lain hadir : Ziya, yang hangat meski bersahaja meski sadar tak bisa dia miliki.

 

Yasmin sadar beberapa jam kemudian. Tangisnya pecah tanpa bisa dicegah. Naufal, yang duduk di sofa, tidak langsung mendekat. Ia membiarkan Yasmin meresapi rasa sakitnya sendiri.

 

"Kenapa harus aku? Kenapa terus aku?” isaknya. Suaranya patah-patah, seperti tubuhnya yang terasa rapuh.

 

Naufal duduk di sofa kecil, menatapnya. Tak bicara apa-apa. Hanya diam. Tapi diamnya bukan berarti acuh.

 

Lalu datang dokter membawa hasil pemeriksaan. Ada hematoma kecil yang harus segera dioperasi jika membesar. Selain itu, hasil USG menunjukkan kista kembali muncul, dan harus ditangani segera agar tidak menimbulkan komplikasi lebih lanjut.

 

Yasmin menjerit pelan, lalu menangis lagi. Runtuh. Seluruh dunianya retak sekali lagi.

 

Ibunya menangis mendengar kabar itu, dan Yasmin hanya bisa menutup wajah dengan selimut.

 

Naufal bangkit mendekat. Dipegangnya tangan Yasmin. “Kamu harus kuat. Demi dirimu sendiri. Demi harapan kamu yang belum selesai.”

 

Air mata Yasmin mengalir deras, tapi genggaman itu sedikit menenangkan.

 

"Kamu nggak sendiri. Kita selesaikan bareng-bareng, ya." Naufal mengusap lembut bahunya memberinya dukungan.

 

Yasmin menggigit bibirnya, menahan tangis lebih dalam. Untuk pertama kalinya, dia merasa benar-benar lemah.

 

***

 

Di lain sisi kota, Aisyah dan Arman belanja ke pasar swalayan. Bocah itu girang melihat aneka sayuran. Saat melewati rak sayur, mereka berpapasan dengan Fawwaz.

 

Lelaki itu melempar senyum manis untuk Aisyah yang diam-diam tersipu malu.

 

"Bapak masak juga?" tanya Arman polos, memecah kecanggungan.

 

Fawwaz tertawa kecil. "Kadang-kadang. Hari ini pengen masak capcay."

 

"Yang ini aja, Pak!" Arman memilihkan wortel dan brokoli.

 

"Pengennya dimasakin, sih, Arman. Cuma mbak di rumah lagi pulang kampung," balasnya sembari melempar kode dengan lirikan manis ke arah Aisyah. "Arman sudah makan?"

 

"Belum, ini Mama mau masak tapi sama juga bingung," jawabnya sambil melihat ke arah ibunya.

 

Aisyah tersenyum, pura-pura tidak paham maksud Fawwaz. "Mending makan di luar. Restoran Jepang, mau?"

 

"Pak ikut ya," ajak Arman melihat Fawwaz lalu ganti melihat ibunya, "Ya, Ma?" 

 

Fawwaz setuju. Sementara Aisyah hanya tersenyum dan mengangguk samar membuat Arman kegirangan. 

 

Mereka makan bersama, tawa Arman mewarnai meja makan. Hari itu, seperti potongan bahagia yang tak direncanakan.

 

Sejak itu, Fawwaz sering mengantar Arman pulang. Kadang Arman tertidur di mobil, dan Fawwaz menggendongnya ke dalam rumah bila Aisyah belum pulang.

 

Mereka sesekali bertemu di teras dan berbincang singkat. Kebersamaan yang kecil, tapi hangat.

 

Namun semuanya berubah saat Iwana menyudutkan Fawwaz suatu hari, persis ketika Aisyah baru pulang dan Fawwaz hendak pergi.

 

Masih di sekitar garasi, Iwana menegur keduanya. 

 

"Kamu sering ke rumah Mama karena ada dia, kan?" tuduh Iwana untuk Aisyah. "Anda pasti punya maksud lain?" Kali ini pandangannya tertuju untuk Fawwaz.

 

"Kalau Anda serius sama Aisyah, ya harus pikirkan masa depan Arman juga. Aku ini udah sakit-sakitan. Toko ini bisa saja diwarisinya suatu hari ... Anda yakin bukan cuma karena itu dekat-dekat keluarga kami?"

 

Fawwaz tersentak, tapi menatap Iwana dengan tenang. "Saya sayang Arman, bukan karena toko, dan semua yang ibu punya. Niat saya baik dan kurasa ibu bukan orang yang mutlak mengatur semua hal tentang Arman, masih ada mamanya sebagai wali sah," balas Fawwaz telak membuat Iwana sedikit gentar.

 

Tapi Iwana tetap curiga. Suaranya tinggi, penuh tuduhan dan ketidakpercayaan. Fawwaz terdiam. Aisyah yang sedari tadi diam, kini membuka suaranya. Dia jengah dengan sikap Iwana yang tidak berubah.

 

Dengan wajah tenang namun sorot matanya tajam. "Ma, maaf, aku yang memutuskan siapa yang boleh dekat kami . Kalau Mama anggap semua orang datang karena warisan, lalu siapa yang benar-benar peduli pada Arman?"

 

Iwana terpaku. Fawwaz pun tak menyangka Aisyah akan berkata seperti itu. "Oh, berani menentang? Mentang-mentang sudah punya uang? Iyaaa!" bentak Iwana.

 

"Aku hanya ingin Arman bahagia. Dan aku ... ingin bahagia juga, Ma," lanjut Aisyah dengan suara lebih pelan, tapi tetap tegas.

 

Fawwaz tersenyum penuh arti, dia pamit setelah menjelaskan pada Iwana bahwa dia memiliki niat baik terhadap Aisyah.

 

Di sisi lain kota, Yasmin mulai digiring menuju ruang operasi. Naufal mengekor, tak ingin pergi. Tapi sebelum pintu tertutup, Yasmin menatapnya, lalu berkata pelan, "Kalau aku nggak bangun ... tolong jaga ibu. Dan jangan pernah bilang ke Ziya soal ini."

 

Naufal tercekat. Dan pintu tertutup, menyisakan napas panjang dan harapan yang menggantung.

 

 

.

 

 

 

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!