Andai Tiada Mertua
Kandidat
"Wa alaikumussalaam." Afnan menjawab salam dari dua orang gadis berhijab panjang yang langsung masuk ke kediaman Yai. Dia mengusap dadanya karena sempat mencurigai sesuatu tadi.
"Kirain siapa," batinnya.
Tembok pembatas antara hunian Efendi dan kompleks putri itu masih sama kokoh menjulang. Dari sebaliknya, terdengar riuh rendah suara akhwat yang tengah hafalan nadzom alfiyah dari aula, sejenak mengingatkan Afnan pada seseorang di masa lalu.
"Dia masih di sini nggak, ya?" gumam Afnan kala melihat ke sisi samping. Tanpa sadar senyum yang sudah lama hilang itu muncul kembali ketika satu kenangan manis melintas. "Allahumma baarik, semoga kamu selalu sehat," lirihnya seraya memejam dan menundukkan kepala.
Keesokan pagi, Afnan diajak Efendi berjalan-jalan di sekitar lingkup As-shofa. Dia menunjukkan lokasi pembangunan asrama yang belum rampung dekat dengan petak sawah milik pondok.
Dari kejauhan, samar terlihat gestur yang pernah dia kenali dulu. Afnan tak mendengarkan seksama ucapan Efendi, dia malah berdiri mematung menghadap para akhwat di seberang sana.
Efendi yang sedang berjalan di undakan bangunan setengah jadi pun berhenti. Pandangannya ikut tertuju mengikuti Afnan. Seketika, lelaki paruh baya itu mengulas senyum tipis, seakan tahu apa yang sedang Afnan rasakan.
"Kalau naksir, bilang," kekeh Efendi sambil mengibaskan tangannya ke depan wajah Afnan. "Gadhul bashar-jaga pandangan," imbuh sang Yai, masih disertai tawa kecil.
Afnan gelagapan, kepalanya langsung menunduk canggung. "Afwan, Yai," cicitnya tak enak hati ketahuan mencuri pandang.
"Itu yang mau ana bicarakan pada antum." Efendi menepuk bahu Afnan, masih dengan ulasan bahagia di wajah senjanya. "Kode didukung semesta kayaknya ini," sambung sang Yai.
Dahi Afnan sedikit mengerut mendengar penuturan gurunya. "Maksudnya, Yai?"
Efendi tersenyum, lalu duduk di teras yang baru separuh dipasangi keramik. "Ana mau tanya, apakah Nak Afnan ada niatan untuk kembali rujuk?" ujarnya sambil menepuk lantai di sebelahnya.
Lelaki berusia 28 tahun itu ikut duduk dan menunduk. Ragu menjawab pertanyaan sang guru. Dia tak ingin membuka aib Yasmin pada siapapun.
"Enggak. Ana tidak mencintai Yasmin, semua kewajiban yang tertunaikan hanya karena ana suaminya. Meminta solusi pada Yai pun demi mewujudkan keinginan mama." Tatapan Afnan mengelana jauh ke depan, mengingat betapa sulit menolak keinginan Iwana waktu itu.
Effendi lantas mengingatkan pada muridnya bahwa batasan ketaatan birul walidain ialah dalam hal kebaikan, sementara bila menyentuh kemaksiatan kita diperbolehkan untuk mempertimbangkan kepatuhan terhadap orang tua.
Kala itu, Iwana anfal sampai di opname lama karena aksi mogok makan, juga mengancam berhenti minum obat jantung bila Afnan menolak menikahi Yasmin Khan. Padahal, keluarga Chairi baru saja berduka atas kematian Arif, putra bungsu Iwana.
Kondisi sang mama yang kian drop membuat Afnan menyerah. Dia telah memiliki tambatan hati dan berniat akan melamarnya tepat ketika sang gadis lulus sekolah. Namun, impian tersebut seketika pupus dan parahnya lagi, dia hanya dijadikan alat tukar bagi kedua wanita itu.
"Kalau begitu, ada niatan menikah lagi kah dalam waktu dekat?" sambung Efendi Ghazali, melirik sekilas pada pria yang dilanda murung.
"Belum tahu, Yai. Baiknya bagaimana?" tanya Afnan dengan senyum samar.
Dirinya adalah pria dewasa yang pernah menikah, tentu ada masa merasa kesulitan untuk menahan hasrat yang semestinya tersalurkan. Afnan lantas mengutarakan niat agar sang Yai dapat membantu mencarikan jodoh yang tepat kali ini.
“Jika khawatir, maka jatuh hukum wajib bagi Nak Afnan untuk kembali menikah. Apalagi memang sudah matang secara usia, mapan dan siap lahir batin. Namun, ana ragu, bagaimana dengan mama?” tanya Yai Effendi, gurat wajahnya mendadak terlihat cemas.
“Semoga mama dapat mengambil ibroh dan menakar sikap bijaksana kali ini, Yai,” ucap Afnan, meski hatinya belum yakin apakah tabiat Iwana bisa sedikit melunak.
Efendi mengangguk. “Ya kheir. Pelan-pelan saja. Jika Nak Afnan setuju, gadis itu yang ana ajukan," pungkasnya sambil menunjuk ke arah kerumunan akhwat di seberang yang sedang memetik di bedeng sayur.
Deg!
Afnan terpaku, kelopak matanya mendadak sulit digerakkan. Ingin bertanya memastikan sosok yang ditunjuk oleh Efendi, tapi lidah ikut kelu. Bahkan, napas pun seakan berhenti berhembus. Hanya debar jantung saja kian terasa bergejolak memompa darah hingga berdesir hebat.
Beberapa detik kemudian. Bibir Afnan terbata mengeja satu nama. "Ha nan-"
"Maunya, ya?" goda Efendi, kali ini tertawa lebar. "Dia khidmah andalan As-shofa. Nggak semudah itu mengajukan lamaran padanya," beber sang Yai, dengan senyum yang masih mengembang, melihat ke arah Afnan.
Putra Iwana menunduk malu, tapi dirinya sangat penasaran siapa wali sang gadis kini. "Walinya masih ada, Yai?"
"Masih. Mau jajal?"
Afnan tak menjawab, tatapannya kembali lurus ke depan mengikuti langkah para akhwat yang berjalan kembali ke pondokan melewati pematang sawah menuju gerbang belakang.
"Apa pantas? Ana 'kan duda," keluh Afnan. "Gadis yang Yai tunjuk itupun, belum tentu mau," imbuhnya pesimis menunduk lesu.
"Ajukan proposal saja dulu jika naksir sama dia," sahut Efendi.
"Pada?"
Efendi menatap lekat muridnya ini. "Pada ana."
Dhuar!
Afnan membola, dia sampai merubah posisi duduknya demi melihat keseriusan di wajah sang guru. "Wali Hanani Ghaziyah, adalah Yai?" tebaknya dengan wajah pias.
Efendi mengangguk. Lelaki sepuh itu bercerita bahwa ibu kandung Ziya menitipkan padanya. Bila ada pria saleh yang menurut penilaian Efendi layak untuk menjadi mahram bagi putri tunggal Salamah, maka wanita itu akan ridho.
Afnan menelan ludah susah payah, tak menduga bila kini Efendi yang menjadi wali perantara bagi Hanani Ghaziyah.
Gadis inilah yang Afnan incar sejak dia Aliyah. Kala itu, Ziya masih kelas 5 SD. Afnan setia menunggunya, bolak balik Jakarta Bogor setiap pekan selama 7 tahun hanya demi melihat Ziya bertumbuh menjadi wanita dewasa. Keduanya beberapa kali bertemu atau berkoordinasi bila acara besar pondok digelar sebab Afnan kerap terlibat. Dari sinilah, mereka saling memelihara rasa.
Satu tahun terakhir, dirinya berhenti menyambangi As-shofa karena telah menikah. Sekuat tenaga melupakan Ziya sebab menghargai Yasmin dan kini cinta lamanya kembali disodorkan. Membuat harapan Afnan melambung tinggi.
"Kenapa? Ana tunggu ya." Efendi pun bangkit dan mengajak Afnan kembali ke hunian. Afnan mengangguk antusias, entah kemana perginya keraguan dan rasa pesimis di awal percakapan tadi.
Sepekan berlalu pergi. Selama mukim di As-shofa, Afnan tak pernah melihat Ziya wara wiri membuat ingatan liarnya kian berkembang. Proposal sudah dia serahkan ke Efendi sebelum pamit siang tadi. Tugasnya kini adalah meluluhkan hati ibunda.
Dia kini berada di kediaman Iwana, bermaksud menyampaikan niatan agar bersedia mendampinginya saat menerima jawaban dari gadis itu dua pekan mendatang. Sekaligus meminta restu dari sang mama untuk menikah kembali.
Wanita paruh baya itu baru saja pulang dari toko material peninggalan ayah Afnan. Dia pun duduk di ruang keluarga mendengarkan putranya mengutarakan maksud.
"Anak siapa? Orang mana? Apa pekerjaan kedua orang tuanya? Dia sekarang kerja sebagai apa?" cecar Iwana sambil bersandar ke punggung sofa.
Afnan menggeleng kepala dan tersenyum getir. Tapi, dia tetap menjawab pertanyaan sang mama. "Ziya, murid Yai dan baru lulus Aliyah. Lagi nyari kampus buat kuliah ... yatim dari seorang pensiunan guru, Ma. Tapi, ibunya punya warung makan di sana," tutur Afnan bernada lembut seraya menyodorkan proposal Ziya ke hadapan Iwana.
Iwana meraih map tersebut dan membacanya sekilas sebelum meletakkan asal di atas meja. "Cari yang sekufu, nggak asal-asalan sebab ini pernikahan keduamu ... mama punya calon, tak kalah salihah dari ini. Bagaimana jika kalian bertemu dahulu?” desak Iwana atas pilihannya.
Afnan diam, dia menggeleng samar. “In sya Allah pilihanku juga baik buat Mama, tolong restui kami,” pinta sang putra memandang sendu.
Iwana chairi tak menanggapi keinginan putranya. Dia tetap bersikukuh dengan pendapat semula. Merasa diri gagal mendidik Yasmin menjadi menantu yang baik, kali ini dia bertekad tak akan lagi kecolongan dalam menyeleksi anggota baru keluarganya.
“Kapan Mama memiliki waktu luang untuk ketemu Ziya?” desak Afnan kali ini tidak ingin menyerah begitu saja.
“Kapan kamu ketemuan dengan Shakira?” Iwana balas bertanya.
Afnan menarik napas panjang dan berat. Tatapan tajam Iwana menegaskan bahwa dia tengah mengintimidasi dirinya.
“Mulai berani membantahku?” tantangnya seraya mendongakkan dagu ke arah Afnan.
.