Andai Tiada Mertua
Permintaan Arman
Begitu Fawwaz meninggalkan rumah, Afnan langsung melangkah cepat ke dalam. Hatinya masih bergemuruh memikirkan pembicaraan barusan. Namun langkahnya terhenti di ruang tengah, ketika suara ibunya menggema pelan tapi jelas.
“Mau apa si Wakasek itu, Kak?” tanya Iwana dengan nada pelan yang terasa dingin, seperti udara malam yang belum sepenuhnya reda. Wajahnya tidak menoleh, tapi tangannya sibuk merapikan taplak meja yang sebenarnya sudah rapi.
Afnan menatap ibunya sejenak, lalu menghela napas dan duduk di sampingnya. Punggungnya disandarkan santai ke sofa, tapi ekspresi wajahnya justru serius.
Di ruangan itu, Salamah sudah duduk sejak tadi, dengan senyum sabarnya yang tak pernah lepas. Santi baru saja datang dari dapur, membawa baki berisi camilan dan dua cangkir teh. Seperti biasa, dia tidak ingin terlibat. Jarinya sibuk di layar ponsel, terdengar suara-suara kecil dari game yang ia mainkan.
Sementara Ziya memilih diam di kamar atas. Sejak pulang tadi tubuhnya lemas, dan ia belum merasa cukup kuat untuk ikut nimbrung. Afnan sempat menyuruh asisten rumah tangga ibunya untuk menemani Ziya, memastikan ia cukup istirahat.
“Fawwaz datang buat menyampaikan niat baik,” kata Afnan, menoleh sejenak ke arah ibunya. Pandangannya lalu bergeser pada Salamah. “Dia izin ke aku … soal Aisyah.”
Salamah menoleh pelan, lalu tersenyum dengan lembut, kepalanya mengangguk perlahan. Seperti meneguhkan restu yang sudah lama tertahan.
“Alhamdulillah,” ucapnya lirih, tepat ketika ia akan menyesap teh manis yang kini sudah mulai hangat.
Namun kalimat itu seperti menyulut api di dada Iwana. Ia mendengus, lalu menatap tajam ke arah sang besan.
“Alhamdulillah saya ditinggalin Arman, gitu?” sindirnya tajam. Nadanya menusuk seperti pisau yang baru diasah. Wajahnya mengeras, matanya menyala marah.
“Ma…!” Afnan tersentak. Dia tahu ibunya bisa meledak, tapi tak menyangka secepat itu. “Bukan gitu maksud ibu. Benar, kan? Alhamdulillah itu … kalau Aisyah bisa punya sandaran.”
Iwana mengatupkan bibirnya. Wajahnya kecut, matanya tak lagi menatap siapa-siapa. Ia hanya bergumam lirih, “Kalian senang aku kesepian. Ini balas dendam, ya?”
Salamah terkekeh kecil, tak merasa tersinggung. Senyumnya tetap sama—hangat dan tulus. “Ya Allah, Bu Iwana … bukan begitu. Justru saya ikut lega kalau Aisyah dipinang orang baik seperti Fawwaz. Dia dari keluarga baik, saya kenal betul. Sayang Arman pula. Di zaman sekarang, susah cari yang seperti itu.”
Santi mengangguk singkat, hanya sebagai tanda bahwa ia mendengar. Tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Dia memilih cari aman, dan sesaat kemudian berdiri dengan alasan ingin melihat Ziya.
Iwana masih tak bergeming. “Tapi aku jadi sendirian…” lirihnya.
Dia berdiri, lalu berjalan ke kamarnya dengan langkah yang lebih berat dari biasanya. Seolah beban kesepian itu benar-benar ia gendong sendiri.
Afnan berniat mengejar, tapi tangan Salamah menyentuh lengannya ringan.
“Biarkan dulu, Nak. Nanti juga reda sendiri. Jangan janjiin apa-apa waktu hati masih keruh.”
Afnan mengangguk kecil. Ia tahu benar, ibunya seperti angin malam—dingin, tapi bisa menusuk kapan saja kalau didekati dalam waktu yang salah.
Setelah Salamah pamit masuk ke kamar, Afnan duduk sendiri beberapa saat sebelum akhirnya bangkit menuju kamarnya. Ziya tengah duduk di tempat tidur, bersandar di bantal besar. Pucat, tapi tersenyum begitu melihat suaminya masuk.
Santi dan asisten rumah tangga ibunya sudah pergi tepat ketika Afnan muncul di ambang pintu.
“Aku tadi sempat bilang ke Mama dan ibu … soal Fawwaz,” ucap Afnan lirih. Dia duduk di pinggir ranjang, mengusap punggung tangan istrinya dengan lembut.
Ziya menatapnya, lalu mengangguk pelan. “Aku dengar sekilas dari Bi Santi. Tolong ceritain lengkap, Mas,” pinta Ziya manja sambil merentangkan lengan meminta pelukan.
Afnan naik ke ranjang, menarik selimut beserta istrinya dalam dekapan. Dia menceritakan niatan Fawwaz yang ingin meminang Aisyah dan siap jadi ayah sambung Arman.
“Aku juga mau ajak kamu ketemu Aisyah. Aku ingin nanya … soal Arman.” Afnan menatap Ziya lekat. “Mama merasa ditinggal. Aku, Aisyah … katanya semua pergi ninggalin dia. Padahal…”
Ziya mengangguk lagi. “Aku paham.”
“Aku nggak bisa ajak kamu tinggal di sini, Sayang. Kamu lagi hamil. Tapi aku mikir gini, bagaimana kalau mulai Jumat sampai Minggu, kita temenin Ibu. Giliran sama Aisyah...” ujar Afnan saat menciumi rambut istrinya.
Ziya tersenyum tipis, meski matanya berkaca-kaca karena menahan kantuk. “Aku bisa sesekali temani Arman di sini sama Ibu, misalnya pas Mas kerja dan Mas jemput aku saat makan siang atau sebaliknya. Kita makan siang di sini dan Mas jemput aku pulang kerja. Nanti tiap Jumat sore Aisyah jemput dia. Jadi Arman bisa ketemu kita juga,” kata Ziya panjang, mengutarakan isi pikirannya.
Afnan terdiam. Ia menggenggam tangan istrinya, lalu mencium dahinya pelan. “Makasih, Sayang. Aku nggak kepikiran sampe situ.”
***
Esoknya, setelah asar, mereka bertemu Aisyah di sebuah kafe kecil dekat taman. Arman bermain dengan beberapa anak lain di pojokan. Aisyah menatap mereka sebentar, lalu kembali menoleh pada Afnan dan Ziya.
“Dia cerita semalam,” gumam Aisyah. “Katanya dia pengen ada sosok ayah. Tapi bukan ayah yang sibuk … Dia bilang begitu.”
Afnan menghela napas panjang. Jantungnya seolah menyesak. Kebetulan Aisyah membuka topik lebih dulu, harusnya Afnan lebih enteng menyambung niatannya tapi ada canggung mendera. Dia pun melirik Ziya yang masih fokus pada minumannya.
“Aku pengen cerita soal Fawwaz. Dia—”
Namun tangan Ziya cepat menyentuh tangan Afnan dari bawah meja. Sentuhannya lembut tapi penuh isyarat. Afnan menoleh, dan tatapan Ziya tegas, seolah berkata : Jangan sekarang.
"Cerita apa, Kak?" tanya Aisyah, menunggu kakak iparnya melanjutkan. Tapi, dahinya mengernyit heran saat tiba-tiba kalimat Afnan menggantung.
Afnan mengangguk kecil, lalu mengganti arah bicara. “Aku ngerti. Arman butuh sosok yang bisa hadir. Dan aku … aku nggak selalu bisa ada. Tapi aku percaya kamu tahu apa yang terbaik buat dia.”
Aisyah tersenyum samar. “Aku masih bingung. Dia ingin, tapi aku belum siap. Bukan cuma soal laki-laki. Tapi soal membagi kasih yang belum tuntas buat Arman,” ucapnya pelan, nyaris berbisik.
Ziya menatap Aisyah dalam-dalam, lalu berkata lembut, “Kamu nggak perlu buru-buru. Tapi kamu juga nggak harus jalani semua sendiri, Ais. Kamu boleh tetap kuat, tapi bukan berarti menolak tangan yang datang dengan niat baik.”
Aisyah menunduk. Tangannya mengusap gelas kopi yang sudah dingin. Ia tak menjawab. Tapi di matanya ada cahaya yang mulai menghangat.
Suasana hening sejenak.
Dari kejauhan, Arman berlari kecil ke arah mereka. Nafasnya tersengal, pipinya merah, tapi matanya berbinar.
“Uwaaaaa Afnan!” panggilnya nyaring. Ia berhenti tepat di depan sang uwa, tangan mungilnya memegang mainan dari kaus kaki.
“Iya, Nak?” jawab Afnan tersenyum.
Arman mengatur nafas. Lalu, dengan nada sungguh-sungguh yang tak biasa untuk anak seusianya, dia berkata, "Ehmm ... boleh nggak aku minta tolong buat carikan ayah lagi? Yang kayak Ayah dulu ... suka bacain doa sebelum tidur.”
Afnan menatap anak itu lekat-lekat, tercekat. Sementara Aisyah memalingkan wajah, matanya memanas.
Dan di bawah meja taman yang pendek, tangan Ziya menggenggam jemari Afnan. Kali ini bukan untuk menghentikan ... tapi untuk menguatkan. Posisinya masih berarti di mata Arman.
Arman menatap ketiga orang dewasa itu seksama, mengamati ekspresi wajahnya masing-masing seolah menunggu jawaban dari salah satunya.
Mata bulat itu kepunyaan Arif, mengerjap lucu beberapa kali membuat Ziya
gemas dan menowel pipi Arman. "Selain itu, harus bisa apalagi?" tanya Ziya masih tersenyum mengamati ekspresi Arman.
"Ehmm...."
.
.