Andai Tiada Mertua
Kejujuran niatan Fawwaz
"Ehmm ... bisa nemenin aku main, ngajarin naik sepeda, terus anterin Mama kemana-mana. Mama nggak kerja jadi bisa bantuin Oma di toko, pulangnya dijemput Ayah," oceh Arman sambil menggelindingkan mobil-mobilan kecil di atas meja makan. Suaranya riang, seolah sedang menggambar masa depan dari khayalannya sendiri.
Ziya menyunggingkan senyum, lalu merunduk, wajahnya nyaris sejajar dengan wajah Arman. Telunjuk lentiknya menyentuh ujung hidung mungil keponakannya itu. "Banyak banget maunya, ya," ujarnya manja, senang melihat pipi Arman merona malu.
"Arman pengennya siapa?" tanya Ziya pelan, mencoba menyelami isi hati bocah itu.
Bola mata Arman bergerak ke atas lalu ke samping. Telunjuk kecilnya mengetuk pipi, mimik wajahnya menunjukkan ia sedang berpikir keras. Pandangannya kemudian beralih ke Aisyah yang sedari tadi lebih banyak diam.
"Ma...." panggil Arman, menepuk pelan lengan ibunya.
Aisyah tersentak kecil, buru-buru meraih gelasnya. Tenggorokannya mendadak terasa kering, seperti ada yang mengganjal. "Ehm, apa?" tanyanya dengan suara yang terdengar lebih serak dari biasanya.
"Siapa?" tanya Arman polos, memperlihatkan barisan gigi susu yang mulai bolong.
"Siapa apanya?" elak Aisyah, pura-pura tak mengerti sambil mengelus kepala anaknya.
Arman menoleh ke arah Afnan dan Ziya, lalu menatap ibunya lagi. "Itu ... A-ayah..." jawabnya, nyaris berbisik, seperti menyampaikan permohonan rahasia.
Aisyah menahan napas. Bahunya terangkat sedikit, mengisyaratkan ketidakberdayaan untuk menjawab. Ekspresi kecewa segera melintas di wajah Arman.
Bocah itu kemudian menatap Afnan, kali ini dengan nada perintah, "Uwa, cariin ya!"
Afnan hampir tersedak, tidak siap dengan permintaan langsung seperti itu. Tapi Ziya cepat tanggap, menenangkan Afnan dengan mengusap pelan lengannya.
"Arman berdoa aja, ya. Semoga Allah kabulkan secepatnya," jawab Afnan lembut.
Ziya mengalihkan perhatian Arman dengan mengajaknya duduk dan menyantap makanan yang baru dihidangkan. Obrolan kembali cair. Arman mulai bercerita tentang Fawwaz, yang katanya sering menemaninya bermain ketika Aisyah terlambat menjemput.
"Arman, kalau doanya lama dikabulkan gimana?" tanya Ziya di sela-sela mengunyah, ingin tahu seberapa sabar keponakannya ini.
Arman menjawab ringan, “Ya nggak apa-apa. Kata Allah, balasan orang sabar itu indah.”
Namun, tiba-tiba ia terdiam. Sendok di tangannya menggantung, sorot matanya berubah cemas. "Uwa ... tapi, Allah pasti ngasih kan, ya?"
Pertanyaan itu membuat Ziya tertawa kecil, sementara Afnan hanya bisa tersenyum geli, dan Aisyah—ia menatap piringnya, menyembunyikan sesuatu yang mulai mengembun di sudut matanya.
Keinginan Arman untuk memiliki sosok ayah rupanya sudah lama mengendap. Tapi Aisyah belum siap. Ia baru saja berdiri tegak sebagai ibu, dan Afnan tahu, jalan yang ditempuh Aisyah tidak mudah.
Setelah makan malam selesai dan malam semakin larut, mereka pun berpisah. Sebelum pulang, Ziya menggenggam tangan Aisyah sejenak. “Nggak harus buru-buru. Tapi Arman sedang membangun harapannya. Semoga kamu bisa lebih bijak nanti kalau dia kecewa.”
Aisyah mengangguk pelan. Kata-kata itu menancap tepat di tempat yang rapuh.
***
Beberapa hari setelahnya. Di sebuah kafe kecil tak jauh dari kantor Aisyah, saat jam makan siang...
Aisyah baru saja duduk dengan segelas es teh di tangannya, ketika sosok Fawwaz muncul di depan meja. Mengenakan kemeja biru muda dan celana kain gelap, Fawwaz menepuk pelan meja sebelum tersenyum.
“Tumben istirahat sendirian, Bu Aisyah,” sapa Fawwaz santai.
Aisyah mendongak, sempat kaget. “Pak Fawwaz?” Ia tersenyum ragu. “Ngapain di sini?” ucapnya sambil celingukan barangkali ada guru Al-Ghifari yang lain, dia berniat menyapa.
“Lagi lewat. Ada urusan dekat-dekat sini,” ujarnya sambil mengeluarkan dua lembar kupon makan dari saku. “Kebetulan, ada kupon diskon dari temen yang kerja di sini. Boleh nemenin?” sambung Fawwaz diikuti senyum merekah di wajah tampannya.
Aisyah tak langsung menjawab, tapi ia menggeser kursi di depannya sedikit. “Yaudah ... Silakan ... duduk aja.”
Obrolan mereka dimulai ringan, tentang kerjaan, cuaca panas, dan menu kafe yang katanya hits di kalangan karyawan. Tapi setelah beberapa menit, Fawwaz akhirnya menatap Aisyah lebih serius.
“Aku pengen ngobrol sesuatu yang agak beda, mbak Ais,” ujarnya pelan, mencondongkan tubuh sedikit.
Aisyah meneguk es tehnya, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. “Tentang?” suaranya sedikit tercekat, kuatir topiknya di luar dugaan dan dia tak siap dengan jawabannya.
“Aku tahu ini mungkin dadakan banget, tapi aku udah mikir cukup lama. Tentang kita,” kata Fawwaz, tak memaksakan tatap, tapi cukup mantap untuk membuat Aisyah terdiam.
Hening. Ruangan kafe yang luas mendadak terasa sempit karena ketegangan yang diciptakan Fawwaz.
“Aku pengen sesuatu yang serius, Syah. Bukan sekadar nemenin Arman main dan ngobrol pas kamu terlambat jemput. Tapi ... nemenin kamu beneran. Jagain Arman juga.” Fawwaz sesekali melirik wajah wanita di depannya, dengan perasaan berdebar sampai rasanya bernapas pun sesak.
Aisyah mendadak lupa caranya menelan. Ia meletakkan gelas, lalu menatap tangan sendiri.
“Hmm, Pak ... aku belum jadi apa-apa,” ucapnya pelan. “Aku baru mulai ngerasa bangga karena bisa jagain Arman sendiri. Aku masih pengen berdiri pakai kaki sendiri, punya sesuatu yang bisa aku tunjukin ke Arman nanti. Ke Mama Iwana, ayah ibuku juga.”
Fawwaz mengangguk. Tak ada penolakan di sana, tak juga kekecewaan. Dia sudah menduga hal ini, sebab Afnan juga membahasnya kemarin saat bicara empat mata.
“Aku ngerti. Dan aku nggak ingin buru-buru. Aku cuma pengen kamu tahu ... aku serius. Kamu nggak harus jawab sekarang,” ujarnya dengan senyum kecil. “Tapi kalau satu hari nanti kamu ngerasa udah cukup kuat berdiri, aku mau jadi orang yang kamu pilih buat jalan bareng.”
Aisyah tak sanggup berkata-kata. Ia hanya mengangguk kecil. Senyum tipis terselip di bibirnya, campuran rasa syukur dan haru yang tak tuntas.
“Terus kenapa sekarang bilangnya?” tanya Aisyah akhirnya, setengah menggoda.
Fawwaz tertawa, pelan tapi lega. “Soalnya hari ini kafe-nya diskon. Aku pengen ngobrol sambil makan enak.”
Aisyah terkekeh. “Alasan receh.”
“Tapi niatnya nggak receh,” balas Fawwaz, lalu membuka menu.
Aisyah menatapnya sejenak sebelum kembali tersenyum—masih dengan debar yang belum hilang. Untuk pertama kalinya, dia merasa diperhitungkan bukan karena lemah, tapi karena kuat. Dihargai seutuhnya sebagai dirinya sendiri.
“Hm?” gumam Fawwaz, masih dengan menu di tangannya. “Boleh nggak ... jangan panggil aku Pak atau Fawwaz terus? Kan pernah kita bahas sebelumnya kalau tak salah,” lanjutnya sambil mengingat kejadian yang membuat mereka pertama kali akrab.
Aisyah mengerutkan kening, heran. “Lah terus ... mau dipanggil apa?”
Fawwaz menyunggingkan senyum penuh makna. “Terserah kamu sih. Tapi ... kalau bisa, yang agak beda. Biar aku ngerasa spesial sedikit lah.”
Aisyah spontan menunduk, pipinya memanas. “Ih ... kok gitu sih.”
“Iya, kan?” goda Fawwaz. “Masa Arman aja punya panggilan manja dari kamu, aku enggak?”
Aisyah memutar bola mata, menahan senyum. “Ntar malah kamu yang manja beneran.”
Fawwaz mengangkat alis, santai. “Kalau manja ke orang yang tepat, kenapa nggak?”
Aisyah menutup wajahnya dengan satu tangannya mencoba menyembunyikan wajah yang memerah. Tapi senyum di baliknya tak bisa ia tahan. Dan untuk pertama kalinya, perasaannya yang selama ini rapat terkunci... mulai mengetuk-ngetuk pintu harapan.
"So? Apa jadi?" desak Fawwaz menunggu sambil tersenyum tipis, membuat wajah Aisyah makin bersemu merah.
"Ehmmm ...." Wajah ayu itu menunduk, berpikir sapaan yang tepat untuk seseorang yang mulai menunggunya.
.
.