Andai Tiada Mertua

Surat Yasmin

Afnan menepuk pelan tangan Ziya yang menggenggam lengan bajunya, seperti cengkeraman seseorang yang takut ditinggal. Dalam diam, ia menunduk dan mencium jemari istrinya satu per satu.

"Aku milikmu," bisiknya lirih, penuh ketegasan lembut. "Nggak ada yang bisa ubah itu."

Ziya tidak menjawab. Matanya menunduk, menyembunyikan gelisah yang meletup dalam dada. Tapi Afnan tahu, dia bisa merasakannya di balik genggaman yang tak juga melonggar.

"Sayang," lirih Afnan, sambil memeluk dan menghujani dahi Ziya dengan kecupan mesra. "Inget adek, jangan gelisah berlebihan ya, bentar lagi kan kita ketemu dia, ok?" sambungnya sembari mengusap punggung Ziya naik turun.

"Ehm!" Suara Ziya tercekat, antara getir dan tangis yang terbendung di tenggorokannya. Jantung sudah berdetak kencang, isi kepala ikut berisik, tapi sekuat mungkin diredam demi kesehatan janinnya.

Di belakang mereka, Salamah berdiri serba salah. Ia akhirnya membuka suara, “Ibu ikut, biar Ziya tenang.”

Afnan sempat ragu. Dia mengurai dekapan, memandang wajah sendu istrinya seolah meminta persetujuan. Hanya sorot mata kuatir yang Afnan tangkap membuatnya yakin untuk mengajak Salamah.

"Baik, Bu." Afnan mengangguki sang mertua.

Dari belakang, Iwana muncul dengan langkah pasti.

"Awasi wanita itu," katanya pada Salamah, tanpa berbisik. Matanya penuh peringatan. "Dan jaga anakku. Awas kalau sampai kamu tergoda!" tatapnya tajam ke arah Afnan.

"Nggak akan, Ma," jawab Afnan sambil menahan napas. Sekali lagi, ia menatap Ziya, mengecup kening istrinya, lalu bibirnya. “Aku pergi sebentar ya, Sayang. Jangan takut.”

Dia melepas perlahan tautan tangan mereka dan melangkah menjauh, menoleh sekali lagi ke arah istrinya sebelum membalikkan badan sepenuhnya.

Fawwaz yang masih memangku Arman di ayunan rotan menoleh. Afnan lalu menghampirinya.

“Jangan pulang dulu. Aku titip mereka semua.”

Fawwaz mengangguk, serius. “Oke, Bang.” Nada panggilannya berubah sejak percakapan panjang mereka beberapa bulan lalu. Kini terasa lebih penuh akrab dan hangat.

Di dalam rumah, suasana berubah senyap. Hanya kerabat dekat yang tersisa. Beberapa orang membereskan tenda dan dekorasi. Aroma wewangian sisa pengajian masih samar tercium, bercampur wangi bunga melati yang layu.

Aisyah membantu Iroh dan asisten rumah tangga menata makanan lebihan syukuran. Di ruang tengah, tempat itu kini disulap menjadi ruang istirahat darurat untuk Ziya. Kursi malas dibentangkan, sebuah kasur busa diletakkan di sudut. Bahkan tabung oksigen tersedia, berdiri kaku di dekat meja kecil berisi termos dan air hangat.

Ziya tampak kesusahan duduk. Wajahnya pucat, nafasnya tak tenang. Dia mengusap perut buncitnya. Mahluk kecil di dalamnya menggeliat pelan seolah ikut merasakan kekhawatiran ibunya.

“Bobok ya, Ziya. Afnan nggak akan macam-macam,” Iwana mencoba menenangkan sang menantu, suaranya lebih lembut dari biasanya.

Ziya tak menjawab segera. Tangannya mengusap-usap pelan perut, bergantian dengan pinggul yang mulai terasa pegal. Napasnya mulai tersengal, disusul air mata yang jatuh tanpa suara.

“Hatiku nggak tenang, Ma.…” gumam Ziya akhirnya, lirih, seperti sedang menahan gemuruh dalam dada.

“Kak Afnan bakal balik, Ziya,” Aisyah ikut menenangkan sambil menyelipkan bantal di punggungnya.

Bayi dalam perut Ziya terus menggeliat gelisah. Ziya menunduk, membelai lagi perutnya.

“Nak, kamu jangan gelisah ya … Ayah bakal pulang, kok. Dia nggak akan tinggalin kita. Dia sayang kamu … sayang Ibu juga...” ucap Ziya, suaranya gemetar.

Tapi kalimat itu membuat air matanya jatuh makin deras, dan Ziya tak sanggup lagi menahannya. Isakannya pecah. Semua yang ada di ruangan itu terdiam. Bahkan Iwana pun membeku.

Tak ada yang berani menyela. Hanya suara isakan Ziya yang terdengar, seperti bunyi retak dari dalam—perlahan, tapi menghunjam.

***

RS. Malam itu.

Afnan tiba di rumah sakit bersama Salamah. Langkah mereka tergesa. Di lobi IGD, mereka mendapati seorang perempuan menangis histeris. Itu suara ibu Yasmin.

“Kenapa, Bu?” Afnan langsung menghampiri.

“Yasmin … Yasmin nggak sadar lagi, Nak … Sudah sejam. Sekarang di ICU.…” Suaranya parau, wajahnya bengkak karena tangis. “Tolong lihat dia.…”

Ibu Yasmin lalu meminta perawat membawa Afnan dan Salamah ke ruang tunggu ICU. Di sana, hanya Salamah yang masuk karena Afnan menolak halus. 

Setelah beberapa menit, Salamah keluar ruangan ICU. Wajahnya lesu, tersisa butir bening di ujung netra tuanya. Tapi, Afnan tidak berniat bertanya apapun, hatinya tak karuan.

Ibu Yasmin lalu mengeluarkan sebuah amplop dari tasnya. Tangannya gemetar saat menyerahkannya pada Afnan.

Salamah sudah curiga, dia bertanya sebelum Afnan menerimanya. "Surat apa ini?" ujarnya dengan nada tak suka.

“Itu … surat dari Yasmin. Dia tulis ini seminggu sebelum kesehatannya drop lagi. Dia minta kasih ke kamu … kalau sesuatu terjadi.” Ibu Yasmin menatap lantai dengan tatapan kosong.

Afnan lalu membuka amplop itu dengan ragu. Tangannya bergetar saat membaca :

“Mas, kalau suatu hari aku makin parah, dan nggak bisa apa-apa lagi ... aku pengin nikah. Bukan karena cinta baru. Tapi aku pengin ngerasain disayang, diperhatiin kayak waktu dulu kamu jagain aku. Rasanya, hidupku hampa banget sekarang... Anggap aja sebagai penebus dosaku.”

Salamah memejamkan mata, menahan napas. Afnan menatap surat itu lama sekali. “Aku nggak setuju,” katanya akhirnya. “Dia butuh didampingi, iya. Tapi bukan begini caranya...” Afnan menyerahkan surat itu pada Salamah. Dia tak ingin babak belur sendirian ketika di berondong pertanyaan Ziya nanti.

Ibu Yasmin menggenggam tangan Afnan. “Kistanya berubah jadi ganas, Nak. Dan ... memorinya, banyak yang hilang. Operasi kepalanya dulu bikin dia lupa banyak hal. Dia cuma ingat yang bahagia. Tapi waktu lihat foto pernikahan kalian, dia malah nangis. Katanya kenapa nggak ingat satupun momen di foto itu?”

Salamah mendekat, lalu memeluk ibu Yasmin dari samping. “Saya ngerti rasanya. Tapi jangan paksa dia cari pelipur dengan luka baru. Yasmin butuh tenang. Kita temani dia, kita buat dia merasa utuh. Bukan dengan pernikahan yang justru mungkin menyakitinya lagi.”

Ibu Yasmin memelas, ini adalah permohonan terakhir Yasmin, tangisnya pun kembali pecah.

"Putriku sedang menunggu suaminya pulang, mereka juga sedang menanti amanah yang Allah titipkan. Jika Yasmin masuk, perhatian Afnan terpusat pada bayinya ... bahagia yang Yasmin cari tidak akan tercapai," beber Salamah mulai kesal.

Mereka semua terdiam. Saat itu, Naufal masuk ke ruangan. Ia berdiri di dekat pintu, menyimak diam-diam. Wajahnya keras, tapi sorot matanya gelisah.

Ia tahu. Jika benar Yasmin hanya punya waktu beberapa tahun… maka ia ingin menolong. Tapi bukan dengan cara menipu kebahagiaan.

Afnan menatap lampu merah di atas pintu ICU. Jantungnya berdebar tak karuan. Tiba-tiba, lampu itu padam. Dan seorang dokter keluar.

“Ada yang perlu kami bicarakan tentang kondisi Yasmin.”

Semua langsung berdiri. Dokter menatap mereka, lalu menghela napas.

“Kami menemukan sesuatu ... dan kami butuh keputusan segera.”

Glek! Semua orang di sana saling pandang, termasuk Naufal yang berdiri mendekati rekan sejawatnya itu.

***

Sudah lewat tengah malam. Hujan turun gerimis di luar rumah Iwana, memantulkan cahaya lampu teras yang remang. Di ruang tengah yang hangat, Ziya terbaring lemah di atas kasur busa, matanya sembab, tangan meraba lembut perut yang makin membesar.

“Tenang, Nak... Tenang, ya...” bisiknya lirih sambil menepuk pelan perutnya yang bergerak gelisah.

Aisyah mengantuk tapi tak tega melihat Ziya terjaga sendirian. Fawwaz bahkan menginap. Semuanya tidur di ruang tengah, demi Ziya.

Tiba-tiba Ziya mengaduh lirih, tangannya mencengkeram selimut. "Ugghh!" 

“Ziya?” Aisyah panik.

“Ziya, kamu kenapa? Nafasmu cepat banget...”

Iwana yang terhenyak bangun karena suara pekikan Aisyah, langsung berteriak. “Fawwaz, Fawwaaaaaazzzz!”

 

.

 

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!