Andai Tiada Mertua
Sang survivor
Satu minggu setelah membaca pesan itu, Yasmin menerima sebuah surat fisik—bukan dalam bentuk surel, melainkan amplop putih polos dengan tulisan tangan rapi menggunakan tinta hitam. Di pojoknya tertera:
"Dari Dava, 14 tahun. Rumah Langit – Yayasan Kanker Anak."
Yasmin membukanya perlahan, duduk di pojok ruang kecil tempat ia biasa menulis dan menggambar desain. Udara sore terasa lebih senyap dari biasanya, seolah dunia sedang menahan napas bersamanya.
Kertas di tangannya bergetar pelan saat ia mulai membaca :
Kak Yasmin yang kuat,
Aku nulis surat ini bukan karena aku sedih, Kak. Tapi karena aku ngerasa punya temen yang ngerti rasanya sakit tapi tetap pengin hidup.
Waktu aku baca tulisan Kakak di blog, aku nangis ... tapi bukan yang nyesek. Nangis yang kayak ketemu cermin. Aku juga suka tanya-tanya, "Kenapa aku? Kenapa sakit ini milih aku?"
Tapi habis baca tulisan Kakak soal Janji Simbolik, dan Kakak bilang: “Aku tidak sembuh, tapi aku memilih hidup” — aku ngerasa ... mungkin aku juga bisa milih. Mungkin aku bisa tetap bercita-cita jadi prajurit walau rambutku belum tumbuh lagi dan temen-temenku udah jarang main ke rumah sakit.
Kak Yasmin, boleh nggak aku bilang sesuatu?
Kakak itu pahlawan. Tapi bukan karena Kakak nyelametin orang. Kakak nyelametin diri Kakak sendiri. Dan itu keren banget.
Aku pengin kayak Kakak. Bukan kuat tanpa air mata. Tapi kuat karena tetap berdiri walau sambil nangis.
Terima kasih sudah hidup, Kak. Terima kasih sudah tidak menyerah.
Salam peluk dari Rumah Langit,
Dava.
Yasmin memeluk surat itu ke dadanya. Matanya basah, tapi bukan oleh rasa takut. Ada sesuatu yang meleleh hangat dalam dadanya—seperti pelukan tak kasat mata dari seseorang yang jauh, tapi mengerti.
Dulu, dia menulis karena ingin melepaskan beban. Kini, ia ingin menulis karena tahu tulisannya bisa menjadi pelita. Hatinya yang lelah karena kehilangan, kini menemukan alasan untuk tetap tinggal.
Dia menyalakan laptop, membuka dokumen baru. Layarnya memantulkan wajahnya yang tenang, penuh tekad baru.
Judulnya :
"Cerita Para Pejuang yang Tak Menyerah"
Dan kalimat pertama pun lahir :
“Untuk Dava. Untuk mereka yang memilih bangkit walau hari tak selalu ramah. Terima kasih sudah mengingatkanku bahwa kita hidup bukan untuk diselamatkan … tapi untuk saling menguatkan.”
Di balik senyap ruang kerjanya, Yasmin tersenyum kecil, lalu mengetik pesan :
[“Naufal… bisa bantu baca satu bab lagi?”]
Beberapa menit kemudian, balasan datang:
[“Kirim aja. Tapi habis ini aku harus belajar, deadline presentasi kasus untuk program spesialis.”]
Yasmin membalas dengan emoji tepuk tangan, tapi hatinya mencelos. Belajar? Presentasi? Program spesialis?
Dia menggigit bibirnya. Naufal mau pergi, ya? Pertanyaan itu menggantung, tak berani ia ucapkan.
Yasmin teringat saat seminar kanker kala dirinya hadir sebagai pembicara tamu. Naufal datang tanpa memberi kabar. Berdiri di belakang ruangan, diam, seperti bayangan yang tenang. Saat mata mereka bertemu, ia hanya tersenyum kecil. Tidak mencoba memotong sesi, tidak ingin menjadi pusat perhatian.
“Kamu beneran dateng?” bisik Yasmin setelah acara selesai.
“Kamu hebat banget. Harusnya yang butuh dukungan itu aku,” jawabnya pelan.
“Kamu nggak pernah ninggalin aku di titik gelap, Naufal.”
“Karena kamu pantas tahu bahwa cahaya itu masih ada. Bahkan kalaupun bukan aku yang nyalain lilinnya.”
Naufal membuat harinya bermakna. Pria itu setia menemani check up di rumah sakit jika jadwalnya kosong. Membalas cepat pesannya juga yang selalu pertama kali ada untuk urusan apapun, meski bukan sebagai kekasih, tapi Yasmin bahagia.
Namun, kata-kata Naufal tadi, menyiratkan sebuah maksud. Yasmin menggigiti bibirnya. Andai dia pergi, apakah dirinya mampu mandiri?
Yasmin menepis prasangka itu, menguatkan dirinya sendiri. "Gapapa, dia juga punya kehidupan sendiri. Aku bisa!" ucapnya semangat.
***
Hari itu, butik ibunya sepi. Yasmin duduk menghadap jendela, memandangi daun jambu air yang menari ditiup angin. Udara terasa lembap, mendung menggantung berat. Di meja, gulungan kain pastel tersusun rapi, sebagian sudah dipotong, sebagian masih ia raba pelan, mencari ide desain.
Pintu ruangannya terbuka.
Sosok yang ia kenal berdiri di sana. Naufal, dengan kemeja biru langit dan tas selempang. Senyumnya hangat seperti biasa, tapi ada kelelahan di sudut matanya.
Dia melangkah pelan ke dalam. Pandangannya menyapu meja kerja Yasmin. “Kamu mulai bisa senyum pas ngelipat kain. Aku senang liatnya.”
Yasmin tersenyum kecil. “Dulu aku cuma tahu sakit. Sekarang … aku pengen bantu orang yang lagi merasakannya.”
Naufal mengangguk, menatapnya lama. Ada jeda sebelum ia bicara, seolah kalimat yang akan diucapkan terlalu berat untuk dilontarkan begitu saja.
“Aku harus berangkat malam ini. Papa maksa aku ambil spesialis di Surabaya. Mungkin ... beberapa tahun.”
Jantung Yasmin seolah tertarik ke bawah. Sunyi mengembang di antara mereka. Akhirnya, hari yang dia takuti terjadi juga.
“Jadi … ini terakhir kita ketemu?” suaranya nyaris tak terdengar, seperti bisik angin di musim gugur.
Naufal tak menjawab pertanyaannya, tapi mengalihkan topik. “Kamu tahu nggak, Yas … aku nggak menduga kamu secepat ini pulih. Dan aku selalu berharap kamu bahagia. Di mana pun.”
Dia merogoh tasnya, lalu meletakkan sebuah jurnal kecil di meja—bersampul cokelat, dengan pita kain terikat di samping. “Catat semua yang kamu alami. Kalau kamu butuh teman baca... email aku. Aku nggak akan lupa.”
Yasmin memandang buku itu. Tangannya gemetar saat menyentuh sampulnya. Mata sipitnya berkaca-kaca.
“Naufal … terima kasih. Bukan karena pernah suka. Tapi karena kamu ngajarin aku … tentang rasa yang nggak harus dimiliki untuk tetap peduli.”
Naufal hanya tersenyum. Ia mengacungkan jempol, lalu menyerahkan seikat bunga kering—bunga kesukaan Yasmin semenjak sakit. Tak berkata apa-apa lagi, ia melangkah pergi.
Yasmin mengikuti hingga ke ambang pintu butik. Hujan mulai turun, tipis tapi cukup membasahi ubin beranda. Ia berdiri, membiarkan angin membelai hijabnya yang menjuntai.
Mobil Naufal perlahan menjauh, samar di balik tirai hujan. Tak ada pelukan. Tak ada janji. Tapi ia tahu, beberapa cinta tak harus dimiliki, untuk bisa tinggal selamanya.
Beberapa jam setelah kepergian Naufal.
Butik sudah sepi. Langit menyisakan warna kelabu yang enggan pergi. Yasmin masih duduk di meja kerjanya. Jurnal cokelat pemberian Naufal terbuka di samping laptop. Tangannya gemetar saat mengetik, tapi bukan karena takut. Karena semangatnya membuncah, seperti hujan yang menabrak jendela sejak sore tadi.
Dia menyelipkan seikat bunga kering yang ditinggalkan Naufal ke dalam vas mungil di pojok meja. Sesekali ia menatapnya, seolah menatap sosok yang tadi berdiri di situ, menyemangatinya tanpa harus berkata banyak.
Yasmin membuka dokumen dengan judul:
"Cerita para pejuang", dan kini—cerita Naufal pun ingin ia selipkan, walau pria itu mungkin tak akan tahu.
Untuk pertemuan pekan depan di Rumah Sakit, tempat yang dulu nyaris menelannya hidup-hidup, Yasmin ingin memberikan hadiah.
Sebuah cerita.
Sebuah napas.
Sebuah alasan untuk bertahan.
Dia mengetik nyaris tanpa henti, hanya berhenti untuk mengelap air mata yang tiba-tiba turun. Bukan karena kehilangan, tapi karena keberanian itu kini miliknya sepenuhnya.
"Mereka bilang sembuh adalah bebas dari rasa sakit. Tapi aku percaya, sembuh adalah saat kita memilih untuk hidup dengan utuh, meski luka belum pergi."
Jam menunjukkan pukul 02.14 dini hari, Yasmin memilih tidak pulang. Butik gelap kecuali satu lampu meja. Aroma kopi yang sejak tadi dingin memenuhi udara. Layar laptop masih menyala, menampilkan lembar keempat belas dari naskah.
Yasmin menyandarkan kepalanya sejenak. Di luar, hujan mulai reda. Ia menoleh ke jendela, melihat bayangan dirinya sendiri—lebih tenang, lebih kuat.
Dia mengambil jurnal cokelat itu, lalu menulis di halaman pertama :
“Untuknya : Yang tidak pernah meninggalkanku dalam gelap. Perpisahan ini bukan luka. Tapi jembatan.”
Lalu ia tersenyum, kali ini tanpa tangis.
Besok ia akan mencetak naskah itu. Membawanya ke pertemuan survivor sebagai hadiah ulang tahun rumah sakit. Bukan sekadar untuk dikenang, tapi untuk dibagikan. Untuk Dava. Untuk siapa pun yang pernah ingin menyerah.
Dan di hari itu, saat membaca kisahnya di depan ruangan penuh orang yang pernah melewati gelap, Yasmin tidak akan menangis.
Karena kali ini, dia tahu—ia bukan lagi seseorang yang diselamatkan. Tapi seseorang yang telah memilih untuk hidup.
***
Beberapa hari kemudian, di aula kecil rumah sakit.
Ruangan itu tak besar, tapi penuh kehangatan. Balon-balon pastel menggantung seadanya. Di salah satu sudut, ada meja kecil dengan tumpukan buklet berjudul “Yang Memilih Hidup”—naskah Yasmin yang sudah dicetak dan dijilid tipis.
Yasmin berdiri di depan mikrofon. Tangannya sempat gemetar, tapi ia menguatkan diri. Di hadapannya ada belasan wajah: beberapa dengan kerudung tipis menutupi kepala yang mulai ditumbuhi rambut, beberapa dengan selang infus tergantung di kursi roda. Tapi mereka tersenyum.
“Waktu kecil, aku pikir jadi kuat itu berarti nggak boleh nangis. Tapi setelah sakit, aku sadar … kuat itu adalah saat kita tetap berdiri, meski air mata masih mengalir.”
Beberapa mata berkaca-kaca. Yasmin melanjutkan dengan suara yang perlahan mengeras oleh keyakinan.
“Aku menulis ini bukan karena aku sudah sembuh. Tapi karena aku ingin hidup dengan sepenuhnya. Dan kalian semua … membuat aku ingat, bahwa hidup bukan untuk ditakuti. Tapi dirayakan. Bahkan dalam keterbatasan.”
Tepuk tangan pelan terdengar. Lalu satu demi satu orang berdiri. Seorang anak perempuan dengan wajah pucat memeluk Yasmin terlebih dahulu, lalu diikuti oleh lainnya. Tak ada aba-aba. Tak ada formalitas.
Hanya pelukan.
Hangat. Lama. Dalam.
Beberapa dengan air mata, beberapa dengan senyum penuh harapan.
Yasmin memejamkan mata. Tangannya bergerak memeluk satu per satu, tubuhnya berguncang menahan haru.
“Terima kasih, Kak Yasmin…” bisik seorang ibu.
“Tulisannya bikin aku nggak malu lagi bilang, aku takut. Tapi aku mau terus hidup.”
Dan dalam pusaran pelukan itu, Yasmin tak merasa kecil.
Tak merasa sendirian.
Tak merasa butuh pengakuan dari siapa pun.
Karena hari itu, ia tahu, hidupnya berguna. Bukan karena sembuh.
Tapi karena memilih untuk tetap tinggal dan berbagi cahaya.
Setelah dari rumah sakit, Yasmin memutuskan mengunjungi sebuah tempat.
Kini, dia berdiri di depan rumah bercat putih dengan pagar menjulang. Di tangannya tergenggam sebuah kado diberi pita biru sederhana.
Tapi saat bel pagar ditekan, tak ada jawaban.
Beberapa detik, lalu pintu dibuka oleh penjaga rumah.
"Non, rumahnya lagi kosong. Semuanya buru-buru ke rumah sakit antar Non Ziya.”
Yasmin tertegun. “Ziya ... lahiran?” gumamnya lirih. Tapi diangguki sang penjaga rumah.
Dia menggenggam tasnya erat, langkahnya surut ke trotoar. Yasmin menoleh lagi ke rumah itu, lalu ke kado dalam pelukannya.
"Mungkin ... belum waktunya aku bertemu Ziya sebagai Yasmin yang sekarang."
Tiba-tiba ... "Mau ngapain lagi?"
.
.