Andai Tiada Mertua

Isya Hazwan

"Ngapain?"

Sebuah suara yang akrab tapi mulai terasa asing menyentak Yasmin dari obrolan mereka. Ia menoleh, mendapati sosok perempuan paruh baya tak jauh dari pagar. Sorot matanya tajam, bibirnya datar, dan ada guratan lelah di wajahnya.

Senyum Yasmin mengembang lembut. Dia menunduk hormat, sebuah kebiasaan yang tak hilang meski status mereka telah berubah. “Assalamu’alaikum, Ma,” ucapnya pelan.

“Wa’alaikumussalaam,” sahut Iwana singkat. Ia lalu memberi isyarat pada asistennya agar segera membukakan pagar.

Mobil hitam itu meluncur masuk ke pelataran rumah, menyibak keheningan sore. Iwana melangkah menuju teras, sementara Yasmin, yang semula berniat menemuinya, justru memutar arah. Dia mengetuk jendela mobil supirnya dan berbisik, “Kita pulang saja.”

Iwana sempat menoleh, memerhatikan punggung Yasmin yang menjauh.

“Tumben nggak nyelonong,” gumamnya pelan saat menginjakkan kaki di teras. Matanya mengikuti mobil Yasmin sampai menghilang di tikungan. “Eh, makin kurus aja dia ... sakitnya parah, kah? Kenapa dia?”

Iwana mengingat-ingat kejadian beberapa bulan ke belakang. Dia sama sekali tidak mendapat kabar apapun dari grup arisan dimana ibu Yasmin ada, sejak peristiwa itu. "Mau apa ya?" Iwana masih saja berpikir apa tujuan Yasmin datang hari ini.

Dia menarik napas dalam, mencoba menyingkirkan rasa tak enak di dada yang tiba-tiba mampir.

***

Di Rumah Sakit.

“Pelan-pelan, Sayang...” Afnan menuntun Ziya yang sedang berusaha berjalan mondar-mandir, sesuai anjuran bidan. Tangan kirinya menopang pinggang sang istri, sementara tangan kanan memeluk bahu Ziya yang terlihat pucat.

Kontraksi sudah dirasakan sejak subuh. Namun pembukaan lambat membuat Ziya lelah secara fisik dan mental.

“Duh ... Maaassss ... sakit banget,” Ziya meringis sambil menahan perutnya yang kembali mengencang.

“Tarik napas, terus lepasin ... gitu ... ayo,” Afnan mengiringi dengan suara pelan, lembut. Ia berusaha tetap tenang meski wajahnya jelas-jelas panik.

Ziya mengikuti arahan suaminya, sebenarnya dia juga ingat bagaimana cara mengambil napas di situasi sekarang. Tapi, karena sakit, semua latihan di kelas hamil pun buyar. 

"Saa-kk-iitttt, Mas!" rintih Ziya kian tertahan saat puncak kontraksi. Jarinya memutih mencengkram lengan Afnan.

Afnan meringis menahan nyeri akibat tusukan kuku Ziya di lengannya. Tapi, semua ini tak sebanding dengan rasa sakit yang mendera Ziya. "Iya, Sayang. Bentar lagi," hiburnya kehabisan kata-kata.

Di pojok ruangan, Salamah duduk sambil menggenggam tasbih. Sesekali ia menatap Ziya dengan khawatir. “Sabar ya, Nak. Ini jihadmu…”

“In sya Allah sabar, Bu…” Ziya tersenyum tipis. “Tapi ... Subhanallah ... ngilu banget....”

Afnan menyeka keringat di pelipis istrinya. “Kalau nggak kuat, kita SC aja, ya? Aku nggak tahan lihat kamu kesakitan gini.”

Ziya menggeleng cepat. “Aku bisa. Aku mau coba normal. Demi anak kita.”

Dia tidak ngidam aneh-aneh tapi kali ini nyaris semua makanan yang terlintas di otaknya, Afnan belikan. Salamah sampe bulak balik mengambil pesanan ojol di lobby.

"Ayo, jangan lama-lama ya, Adek. Umma mulai ngantuk," goda Afnan saat memeluk Ziya dan merasakan gerakan bayinya. 

Ziya kembali melenguh, tubuhnya melemas diikuti tarikan napas yang panjang lalu berhenti karena menahan sakit. "Ugghh!" rintihnya terdengar menyakitkan di telinga Afnan.

"Sayang...." bisik Afnan tak tega, sembari menahan bobot sang istri dan mengusap punggungnya.

Beberapa jam berlalu. Tak lama setelah azan isya, teriakan Ziya memecah sunyi. Tangannya mencengkeram erat jemari Afnan. Dengan suara penuh peluh, tangis, dan cinta, tangisan pertama sang bayi akhirnya terdengar.

Tangisan yang menggema seperti senandung dari langit. "Oeekk."

Afnan tak langsung melihat bayinya. Ia justru berlutut di samping Ziya, mengusap rambut dan wajah istrinya yang basah oleh peluh dan air mata.

“Terima kasih … terima kasih banyak …” bisiknya lirih. “Kamu hebat banget, Sayang. Maaf, aku nggak bisa bantu kurangi rasa sakitnya. Tapi aku janji ... aku bakal jaga kalian seumur hidupku.”

Ziya menatap suaminya yang kini menangis lebih tergugu darinya, dan ia hanya mampu tersenyum kecil. “Adek, Mas ... laki-laki…”

“Alhamdulillah....” Afnan mencium tangan Ziya, penuh takzim dan rasa syukur.

Beberapa saat kemudian.

Bayi mungil itu dibedong rapi, wajahnya begitu tenang meski baru beberapa menit keluar dari rahim ibunya.

“Mirip banget ayahnya,” gumam Salamah sambil menggendong si kecil. “Hidungnya, alisnya, bahkan lekuk bibirnya.”

Afnan hanya tertawa kecil, lalu berkata, “Aku pengen namain dia Isya Hazwan. Karena dia datang tepat setelah azan isya. Hadiah dari Tuhan di waktu isya...”

Salamah tersenyum. “Bagus. Nama yang indah.”

Dari luar ruang perawatan.

“Uwa ... punya bayi!” Arman bersorak sambil melonjak-lonjak kecil saat kepalanya menyembul di pintu. 

Salamah yang sedang menggendong Isya, menenangkan Arman agar tidak berisik. "Uwa Ziya ngantuk, adek bayi juga baru bobok, Arman yang tenang ya, Nak," pintanya sedikit berbisik.

Aisyah tertawa melihat putranya. “Seneng banget, Man?” Sambil masuk dan menyalami Salamah. "Cakep banget, namanya siapa?" tanya Aisyah mengagumi keponakannya.

"Isya Hazwan," jawab Afnan cepat, merasa bangga telah menjadi ayah.

Merasa diabaikan, Arman lalu menarik baju ibunya. “Iya dong! Aku juga mau punya bayi...”

Fawwaz, yang baru datang dengan kopi di tangan, melirik Arman sambil terkekeh. “Bayi bukan pesanan nasi goreng, Sayang. Nggak bisa langsung jadi.”

“Aku serius, Yah!” Arman cemberut. “Kalau gitu, kapan aku juga punya bayi?”

Ppffttt! Fawwaz tersedak.

Aisyah langsung memerah. Fawwaz lantas mendekat mengusap kepala Arman sambil berkata, “Baiklah. Akadnya kita gelar setelah Isya tiga bulan. Biar Ziya pulih dulu.”

“Yeeaaay!” Arman melonjak. “Lama nggak pesannya, Yah?" sambungnya lagi. Tapi dia tak mendapatkan jawaban dari keduanya, baik Fawaz ataupun sang mama. "Aku rela deh tinggal di rumah Oma aja. Biar nggak ganggu pesanan,” ocehnya membuat Salamah tertawa.

Tak disangka, ucapan polos itu sampai ke telinga Iwana yang baru saja datang menjenguk. Dia terdiam, tersentuh. Ada haru di matanya saat menyadari bahwa Arman tak benar-benar ingin meninggalkannya.

Beberapa hari kemudian.

Setelah Ziya pulang, Afnan benar-benar menepati janjinya. Ia menyewa perawat khusus untuk membantu, tapi semua urusan utama Ziya tetap ia tangani sendiri.

“Sayang, kamu istirahat aja. Biar aku mandikan Isya,” ucapnya suatu pagi.

Ziya masih terbaring lelah, tapi senyumnya mengembang. “Mas yakin bisa?”

“Anakku ... wajahnya mirip aku, berarti aku pasti bisa,” kata Afnan sambil mengedipkan mata.

"Dih, narsis, kan bikinnya sama akuuuuuuu," protes Ziya ditanggapi tawa Afnan yang menggendong Isya. 

Perlakuan manis Afnan membuat Ziya merasa dicintai sepenuhnya. Dia merasa aman, tenang ... dan itu lebih dari cukup.

Tapat hari ketujuh, Afnan menggelar syukuran kelahiran isya sekaligus pemberian nama putra mereka.

Yasmin pun datang. Tapi dia hanya duduk sebentar, mengucapkan selamat, dan menyerahkan sebuah buku dengan sampul cokelat muda bertuliskan “Jejak Pulang”.

“Aku tulis ini ... waktu aku sakit. Tapi sekarang sudah lega,” ucapnya saat didekati oleh Ziya.

Ziya melihat sampulnya dan mengusap pelan saat menerima dengan tangan bergetar. “Terima kasih....”

Yasmin tersenyum, lalu pamit tanpa banyak kata. Di luar rumah, matanya basah, tapi hatinya terasa ringan.

Dia menatap langit, lalu bergumam, “Selamat datang, Isya Hazwan. Hadiah paling manis di waktu terbaik.”

Tanpa Yasmin sadari, sebuah rangkulan hangat dari seseorang membuatnya merasa kembali utuh. Aisyah tersenyum manis padanya seraya berkata, "Kamu keren, Yas. Aku bangga padamu." 

Yasmin membalas senyuman sahabatnya itu. Dia menepuk lembut lengan Aisyah yang melingkari bahunya. 

Akhirnya, semua yang menjauh, kembali mendekat. Bukan karena apa yang telah dilakukan, tapi sebab mau menerima dan berdamai dengan takdir. Tuhan tak pernah pergi, Dia selalu ada, menyiapkan jalan terbaik bagi hambaNya.

 

 

 

(Selesai.) 

Syukron yaaa sudah sampai akhir, semoga feel-nya masih dapat setelah mangkrak setahun xixixi. Sehat selalu, berkah umur dan mudah segala urusan dunia akhirat. Yubarikallahu alaik...

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!