Andai Tiada Mertua
Barter
Afnan menoleh seraya berbalik badan. Dia sedikit terkejut dengan kehadiran beliau di kantornya. "Wa alaikumussalaam. Sendiri, Ma?" tanya sang pemilik konveksi saat menyalimi ibunya.
Iwana tak segera menjawab, dia hanya mengangkat jempol ke arah belakang. Sebagai isyarat bahwa dia datang dengan seseorang.
"Sibuk, Af?" tanya Iwana.
Afnan melirik Iwana sekilas, dan menanggapi dengan anggukan samar pada wanita di hadapan. Tak lupa senyum simpul tersemat di wajah tampannya, lalu pergi menghindar masuk ke ruang kerja.
Iwana jadi merasa canggung karena sikap Afnan. Meskipun demikian, dia tergesa menyusul putranya masuk ke dalam ruangan.
Namun, sebelum Iwana melayangkan protes, Afnan lebih dulu berkata, "Jangan repot-repot menjodohkanku lagi, Ma!"
"Mama rela ninggalin toko demi kamu, loh. Ajak makan siang kek. Anggap saja sedang melobi klien," pintanya sambil berdiri di depan putranya.
"Nggak ada yang minta Mama lakuin itu, 'kan," ujar Afnan menatap sang mama. "Klien itu datang tanpa syarat," sambungnya masih sambil bersandar di depan meja kerja.
"Ya memang nggak ada. Tapi, demi kamu! Demi kamu!" sergah Iwana membalas tatapan putranya.
Ditatap intens Iwana, Afnan memilih menunduk. "Jika demi aku, maka ayo kita mengkhitbah Ziya," sambung Afnan, sembari merapikan semua berkas dari atas meja
Iwana meradang, wajah senjanya langsung berubah memerah. Dia menyatakan dengan tegas tidak akan ikut dengan Afnan jika permintaannya tak dituruti.
Afnan menarik napas berat, dia berjalan ke arah luar ruangan untuk menutup pintu dan mengatakan pada Ghea agar tak menggangunya sementara waktu.
"Andai aku mau melawan Mama, mungkin kami sudah menikah," tuturnya lembut. Dia lalu menarik pergelangan tangan Iwana dan duduk di sofa. "Tapi 'kan enggak." Afnan menepuk tautan jemari mereka.
"Apa bagusnya dia?" sinis Iwana, dia merasa bahwa Ziya tak pantas berdiri disisi putranya. Tidak ada hal istimewa dari gadis itu yang bisa dia banggakan.
Afnan tertawa kecil. "Ziya bakal jadi teman Mama di segala cuaca. Dia gadis yang manis."
Iwana mendecih dan memutar bola mata jengah. "Yakin banget!"
Putra sulung Iwana lantas bercerita bahwa dia pernah mengutarakan sebuah ajakan menikah secara kiasan pada Ziya. Entah gadis itu mengerti atau tidak, tapi niatan Afnan memang demikian adanya.
Dia merasa, ucapan kala itu menjadi dusta dan melukai Ziya sebab tak kunjung datang meminta pada walinya. Sekarang, kesempatan kedua terbuka dan Afnan ingin memperbaiki semuanya.
"Terus, kuliahnya dia itu nanti kamu yang biayain?" tebak Iwana, menyeringai tipis.
Afnan menggeleng kepala, dia lantas bangun dari duduknya. "Keluarga Ziya sederhana, Ma. Tapi, mereka bukan benalu. Aku yakin kalau beliau sudah ada anggaran untuk biaya pendidikan Ziya," bebernya seraya menyambar ponsel di atas meja. "Lagian, sudah jadi kewajibanku menyiapkan al umm madrasatul 'ula."
"Heleh, sama aja. Benalu berkedok istri!" sindir janda Chairi sembari menopang kaki dan bersandar di sofa.
Bicara dan membujuk Iwana tampaknya akan alot. Afnan tak henti geleng-geleng kepala sebelum memilih pergi, agar sang mama dapat merenungi segala ucapannya tadi.
Saat baru membuka pintu, Ghea mengatakan bahwa ada seorang tamu yang mencari ibunya. Namun, wanita tadi turun ke bawah dan menunggu di sana.
"Afnan!" seru Iwana memanggil putra sulungnya dari lawang pintu.
Sang pemilik konveksi tetap melanjutkan langkah menuruni tangga. Dia hanya melihat sekilas pada tamunya yang sedang berbincang dengan bagian marketing, sebelum keluar gedung dan masuk ke mobil.
Terdengar suara Iwana yang memanggilnya tapi Afnan tetap bersikukuh pergi. Sesekali, dia harus menunjukkan sikap tegas pada sang mama.
Masih ada waktu 10 hari lagi sebelum tenggat waktu berakhir. Kedua belah pihak nampaknya tengah mengisyaratkan perang dingin. Antara ibu dan anak itu berlaku sama, tak saling tegur sapa selama tiga hari belakangan. Iwana menahan diri, begitupun dengan Afnan.
Afnan mengurung diri di kamar selama beberapa hari. Seperti biasanya, dia tengah membujuk ilahi agar apa yang menjadi urusan kali ini berjalan lebih mudah. Putra sulung Iwana itu tak pernah kering membasahi lisan juga anggota tubuh yang menjadi rukun wudhu dengan berbagai amalan rutin.
Hingga suatu malam.
Iwana mendapat panggilan via udara dari Iroh, asisten rumah di kediaman Afnan. Dia mengatakan bahwa sang tuan muda terlihat sangat pucat saat menyantap makan malam terakhir.
Wanita paruh baya itu menceritakan kecemasannya sebab beberapa hari ini majikannya sangat sedikit menelan asupan makanan.
Tidak ada ibu yang betul-betul tega mendengar kondisi demikian. Meski dorongan kuat memintanya acuh sebagai jalan agar nurani Afnan terbuka. Tapi, Iwana luluh. Dia bergegas pergi menuju ke kediaman Afnan, putra satu-satunya pewaris Chairi yang tersisa.
Saat dia tiba disana, suhu tubuh Afnan lumayan tinggi. Iwana langsung melarikan putranya ke klinik terdekat agar mendapat pertolongan pertama, mengingat si anak sulung ini mengidap maag kronis yang kerap kambuh.
Seketika hatinya tercubit, dugaan Afnan melakukan ibadah berlebihan kembali terlintas dalam benak Iwana. Seperti tragedi silam saat dia menolak perjodohan meski pada akhirnya Afnan menyerah sebab Iwana sakit keras kala itu.
“Kak, apakah ini usaha untuk melawan mama? Bersikukuh dengan keinginanmu?" gumam Iwana, terduduk lemas di kursi samping brangkar. Dokter telah memberikan obat sehingga demam Afnan mulai mereda.
"Kalau kamu menikah dengan gadis yang dibucinin, mamamu ini dikemanakan?” keluh janda Chairi, suaranya mulai sendu menyiratkan kecemburuan sekaligus kekhawatiran.
Lirih suara tangis sang Bunda terdengar menusuk gendang telinga, namun netra Afnan terlalu berat meski sekadar untuk mengerjap. Dia memilih mengistirahatkan semua organ tubuh kecuali jantungnya.
Keesokan pagi,
Afnan mulai siuman. Dia melihat sang mama masih setia menunggunya disamping tempat tidur dalam ruangan serba putih.
"Ma!"
Iwana yang tidak betul-betul tertidur pun langsung terbangun. Dia menawarkan minum untuk Afnan dan diangguki olehnya.
Wanita senja itu menatap lekat wajah sang putra, terpancar keteguhan dalam binar mata Afnan. Bahunya terhentak keatas, saat menghela nafas kasar. Rupanya Iwana mencoba melunak meski rongga dada diliputi sesak tanda keikhlasan belum sepenuhnya muncul.
Setelah tenggorokan kembali basah, Afnan mulai bicara. “Maaf merepotkan Mama. Lagi-lagi anakmu hanya bisa membuat susah," sesal Afnan, suaranya tercekat karena iba melihat Iwana harus begadang menjaganya.
Iwana bergeming, tak menanggapi perkataan Afnan. Namun, sejurus kemudian tiba-tiba dia berkata, “Baik. Kita lihat Ziya setelah kamu benar-benar pulih. Jaga kesehatan Afnan, siapa yang akan menjaga mama jika kamu seperti ini."
"Apa, Ma? ... nggak denger," kata Afnan, sambil menahan senyum.
"Pura-pura!" ketus si pemilik toko material, melirik malas pada Afnan.
Senyum Afnan tersungging di bibir sensualnya. “Yang ikhlas Ma, agar langkahku ringan. Niatku sekalian khitbah saja,” imbuh Afnan memanfaatkan kesempatan emas.
"Ngelunjak! Belum tentu dia nerima kamu, Af!" cibir Iwana tersenyum simpul.
Afnan menggeleng kepala pelan, bagaimanapun sosok dihadapan kini adalah Ibu kandungnya. Baik buruk beliau adalah satu paket yang Allah sematkan dalam diri Iwana, mungkin sebagai ujian sabar.
Melihat senyum mulai terbit di wajah Afnan, terbersit dalam hati Iwana untuk mengajukan satu persyaratan apabila khitbah Afnan diterima Ziya nanti.
“Jangan merencanakan yang aneh-aneh, Ma,” tegur Afnan mengerti gestur ibunya.
“Kalau kamu ogah bertemu Shakira, maka mama juga ingin mengajukan satu syarat pada Ziya nanti,” ujar Iwana sumringah, wajahnya berseri bagai baru menang undian.
Afnan berdecak kesal. Baru bahagia tapi ternyata semu. “Apalagi sih, Ma? Nggak puas-puas membuat ulah,” gerutunya, mulai jengah atas sikap kekanakan Iwana.
“Ya kalau mau. Lagipula ini perjanjian antara mama dan Ziya nanti. Kamu dilarang ikut campur, setuju?” ucap Iwana getol mendesak Afnan.
“Jika Mama dzolim terhadapnya, aku tidak akan diam kali ini. Dia wanita yang kucintai, Ma,” jujur Afnan. Afnan menggenggam jemari Iwana, berharap ibunya mengerti dan mengasihi Ziya bagai putri kandung sendiri.
“Syaratnya adalah ....”
.