Andai Tiada Mertua

Manisan Pala

Sesaat Ziya terpaku, suara lembut itu kembali terdengar lebih jelas. Entah darimana kekuatannya datang, dia mengangguki ucapan Afnan seraya menjawab, "In sya Allah."

 

Lelaki itu lantas mengulas senyum sebelum masuk ke mobilnya. Tak lama, rombongan keluarga Chairi perlahan meninggalkan pelataran As-shofa.

 

Salamah dan Ziya langsung pamit setelah menerima banyak pesan dari Efendi tentang segala hal yang harus mereka siapkan. Dalam perjalanan pulang, Ziya bergelayut di lengan Salamah.

 

"Kok bisa akhirnya menerima?" tanya Salamah, tertawa kecil melihat perubahan sikap Ziya.

 

"Nggak tahu, tadinya pasrah. Tapi, semalam ayah datang ngasih tudung putih." Ziya mengingat mimpinya semalam, mendiang ayahnya memberikan sebuah selendang tepat setelah sepekan dia salat hajat dan melakoni istikharah atas anjuran Efendi.

 

Salamah berhenti. Dia melihat ke arah putrinya yang masih bergelayut di lengan. "Ayah?" tegasnya, "bilang apa?"

 

Ziya mengangguk cepat. "Nggak bicara apa-apa, cuma senyum sambil nyodorin benda itu terus pergi ... aku ngrasa tenang dan mantap pas liat Mas Afnan pake koko putih tadi," ungkap Ziya malu-malu.

 

Salamah terkekeh sambil memanggutkan kepalanya. "Alhamdulillah. Jangan mikirin ibu, ada bi Santi yang akan nemenin di rumah. Daripada dia jadi buruh cuci, mending bantuin ibu jualan," bener Salamah agar Ziya tenang.

 

Putri Hamdan Ghazi itu mengernyit heran. Bukankah bibinya seorang yang mapan meski tiada keturunan dalam pernikahan mereka. "Loh? Kok?"

 

Salamah lantas menjelaskan kondisi akhir Santi hingga di titik demikian. Ziya sedikit lega, setidaknya sang ibu tidak hidup sendirian bila dirinya diajak pindah oleh Afnan.

 

Semua ganjalan hati, wejangan pernikahan diobrolkan sampai tuntas oleh pasangan ibu dan anak itu. Sementara di keluarga Chairi, Afnan tidak membahas apapun dengan Iwana. Dia sibuk berkirim pesan pada pamannya agar berkoordinasi rutin dengan Salamah sehingga pernikahan impian Ziya dapat terwujud.

 

***

 

Jum'at pagi, keluarga Afnan tiba di hotel sebelum ke As-shofa siang ini. Segala persiapan telah rampung, Ziya hanya ingin menikah di majlis sebab tak memiliki banyak kawan. Untuk acara pamungkas bada maghrib nanti, syukuran sederhana akan digelar di kediaman Salamah.

 

Iringan tiga kendaraan mulai menyambangi halaman majlis tepat pukul dua siang. Lantunan maulid menyambut keluarga sang calon mempelai ketika memasuki aula. Tak lama setelah itu, rangkaian acara sebelum ijab qobul pun bergulir satu persatu hingga selesai.

 

 

Suasana sedikit senyap manakala suara berat pimpinan As-shofa mulai terdengar. Beliau sedang menerima taukil wali dari kakek Ziya.

 

Ini bukan pengalaman pertama bagi Afnan. Namun, baru kali ini jantungnya berdegup hebat saat akan mengikrarkan janji.

 

'Ya Allah, Zie. Segugup ini aku,' batinnya. Sedari tadi dia terus bersalawat sebab kuatir salah ucap saat ijab nanti.

 

"Nak Afnan," bisik Efendi, tersenyum melihat kegugupan Afnan saat pria muda itu melihatnya. "Sudah siap?" tanya sang Yai ketika akan menjabat tangan muridnya untuk memulai proses ijab.

 

Afnan duduk menegak, menarik napas panjang lalu mengangguk. "Bismillah, siap, Yai."

 

"Ya Afnan Chairi bin Chairil Am uzawwijuka ala ma amarallahu bihi min imsakin bi ma'rufin aw tasrihin bi ihsan."

 

"Yaa Afnan Chairi bin Chairil Am ... ankahtuka wa zawwajtuka makhtubataka Hanani Ghaziyah bintu Hamdan Ghazi wa qod adzina li fi tazwijiha, bi mahri asyrotu malayin, haalan."

 

Terasa hentakan halus dari pertautan jemari mereka, membuat Afnan langsung menjawab, "Qobiltu nikahaha wa tazwijaha bil mahril madzkur, haalan."

 

Para saksi saling mengangguk dan melafalkan kata, "Sah!"

 

Layar besar yang menampakkan situasi di aula pria di-relay ke tenda khusus akhwat. Riuh rendah doa para hadirin di kedua sisi pun bergema. Salamah memeluk Ziya, bibirnya tak henti mengucap syukur.

 

Kehebohan di tenda putri tercipta saat mempelai pria di pandu Efendi menyambangi tempat di mana Ziya menunggu. Wajah ayu terpoles riasan natural itu menambah syahdu rasa hati Afnan kala melihat istrinya.

 

Kecanggungan menguar di antara mereka sebab sorak sorai santriwati sahabat Ziya terus mengelukan nama pasangan yang masih saling malu-malu.

 

“Ayo ucapkan doa kebaikan bagi Ziya, Afnan,” pinta Effendi. Eiwa membantu memposisikan Ziya agar berdiri lebih mendekat pada Afnan.

 

Putra Iwana mengangguk. Mereka berdiri berhadapan, dan Afnan mulai mengangkat tangan kanan ke udara menyentuh kepala Ziya. Setelahnya, dia membubuhkan kecupan di ubun-ubun sang istri.

 

Mendapat perlakuan manis pertama kalinya dari lawan jenis, membuat Ziya betul-betul terkejut hingga lupa bahwa harus menyalimi sang suami. Dia malah langsung berbalik badan memeluk Salamah yang ada di belakangnya.

 

"Ibuuuuu!" seru Ziya sambil menenggelamkan wajah di bahu Salamah.

 

Bukan hanya Salamah yang tertawa keki melihat sikap Ziya. Seluruh santriwati di sana pun gaduh karena sikap malu-malu pengantin wanita.

 

"Salim dulu," bisik Salamah sambil mengurai pelukan Ziya.

 

Ditemani Iwana, Afnan lalu menyerahkan mahar, hadiah pernikahan juga syarat yang Ziya kehendaki. Menyuapkan satu iris manisan buah pala bergantian.

 

"Mau sekarang atau nanti?" tanya Efendi pada Afnan, ketika Eiwa membawa satu toples manisan pala basah.

 

Afnan melihat ke arah Ziya, tapi istrinya malah rajin menunduk. Dia akhirnya memutuskan dengan berkata, "Nanti saja kalau sudah berdua, Yai."

 

Santriwati serempak mengatakan, "Yassalaaam!" Mereka lantas tertawa renyah. Sementara Efendi hanya tersenyum simpul sambil menepuk lengan Afnan.

 

Keuwuan itu berakhir setelah sesi foto keluarga. Acara pun dilanjutkan dengan ramah tamah. Pernikahan mereka membawa kebahagiaan tersendiri bagi para hadirin. Jamuan yang tersaji apik dari keluarga Afnan, menjadi oase bagi para penimba ilmu yang kerap menahan hasrat untuk menyantap hidangan mewah.

 

Setelah azan isya, keluarga besar Afnan langsung bertolak kembali pulang karena syukuran sederhana di kediaman Salamah telah selesai di gelar bada maghrib tadi.

 

Kecanggungan kembali hadir saat suasana rumah Ziya mulai sepi. Afnan mencari travel bag miliknya ketika ingin berganti baju.

 

“Dek, koper Mas mana,” tanya Afnan melihat Ziya masih sibuk membereskan kekacauan di ruang tamu dengan Salamah.

 

"Di sudut lemari," jawab Ziya tak menoleh ke arah suaminya.

 

Salamah menegur sikap sang putri, dia lalu meminta agar Ziya masuk ke kamar dan meladeni segala kebutuhan Afnan. Gadis yang sejatinya tengah menghindari kegugupan itu akhirnya mengikuti arahan ibu.

 

Menjelang tengah malam, Afnan mengajak Ziya menunaikan witir sebelum tidur. Setelah salam, keduanya lalu duduk saling berhadapan.

 

“Apapun itu, harus cerita sama Mas ya, Zie. Oke?” bisik Afnan menatap lekat istrinya.

 

Ziya mengangguk. “Jika Ibu meminta Mas memilih di antara kami, mana yang akan Mas pilih?”

 

“Kamu.”

 

“Jangan, nanti hanya akan dapat satu kebaikan. Pilih Ibu, terus doakan agar hatinya melembut untukku,” ujar Ziya tersenyum manis.

 

Afnan membalas senyuman menawan sang istri dengan membelai lembut pipinya. “Dirimu adalah tanggung jawabku dunia akhirat. Kamu dulu, lalu sama-sama doakan mama,” tegasnya seakan merasakan kegundahan Ziya.

 

"Makan manisannya belum," cicit Ziya mengalihkan perhatian Afnan.

 

Afnan meraih jemari Ziya untuk dikecupnya lalu menarik tubuh lelah itu dalam pelukan. "Love you, Sayang. Setelah sekian lama,” bisik Afnan, bulir bening muncul di ujung netra tanda dia trenyuh.

 

Ziya membalas dekapan suaminya erat seraya berkata lirih, “Mimpi nggak sih ini, Mas?” Dia tak kalah haru.

 

“Enggak.” Menantu Salamah mengurai pelukan. “Bismillah.” Afnan mengecup bibir pink mungil Ziya yang menggoda sebelum saling menyuapkan satu iris manisan pala.

 

Filosofi buah pala dinyatakan sebagai lambang kerja keras. Rempah berharga karena semua bagiannya bisa bermanfaat, menjadi pilihan Ziya dalam menjalankan visi misi pernikahan mereka.

 

Manis, sepet, getir, renyah dan nikmatnya rempah satu ini ketika dijadikan manisan berharap membawa keduanya sama-sama kian seimbang menjalani hidup, beribadah sampai meninggalkan kesan baik terhadap sesama layaknya cita rasa khas buah pala.

 

Sementara itu di Jakarta. Salamah mengantar menantu dan cucunya kembali pulang ke rumah mendiang Arif, si putra bungsu. Namun, matanya membelalak ketika melihat sesuatu di depan rumah tersebut.

 

"Aisyah! Apa-apaan ini?" sentaknya masih dengan kelopak mata yang terbuka lebar.

 

.

 

.

 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!