Bidadari untuk Raka
Musyawarah Mencegah Tawuran
Raka kembali ke sekolah seperti biasa, namun kini dia disapa oleh banyak guru dan murid. Raka juga lebih dikenal oleh para murid sebagai Guru pemberani, baik murid yang sudah diajarnya maupun siswa yang memang tak pernah bertemu dengannya di kelas. Farel juga menyapa Raka tadi dan menanyakan kesehatan gurunya itu, Raka tersenyum padanya dan menyebutkan kalau dirinya sudah sehat sekarang.
Setelah masuk kelas, Raka juga langsung diundang oleh perwakilan beberapa Guru. Siang itu, mereka ingin membahas bagaimana menanggulangi kenakalan siswa yang berujung pada tawuran tempo hari. Musyawarah itu diharapkan mencapai kata mufakat untuk melakukan penyelesaian yang dapat efektif mencegah hal buruk terjadi lagi di kemudian hari.
Tawuran antar siswa harus bisa dihentikan dan tidak berlanjut, karena hal itu bisa merusak citra sekolah sebagai tempat belajar dan bukan sebagai tempat untuk adu kekuatan atau premanisme.
Bahkan, setelah tawuran yang terjadi beberapa polisi kadang berpatroli dan melihat situasi terkini. Kerusuhan kemarin cukup membuka mata banyak orang tentang bahaya premanisme di sekolah. Televisi pun sudah meliput dan media massa baik cetak maupun online sudah terlanjur cepat menyebarkan berita tawuran sekolah hingga menjadi viral.
Raka diminta dalam rapat para guru itu untuk memberikan masukan sehingga mereka bisa mengambil kesimpulan soal mencegah tawuran agar tak terjadi lagi.
Raka melihat kepala Sekolah, Pak Dani yang sudah sepuh itu. Ada juga wakil kepala sekolah dan juga para guru semuanya berkumpul untuk membicarakan masalah kenakalan remaja yang dirasa memang sudah sering terjadi, dan puncaknya adalah tawuran kemarin.
Secara transparan, Raka menceritakan apa yang dialaminya dan dirasakannya, karena dirinya sangat dekat dengan para murid. Diantaranya banyak siswa dan siswi yang belajar mempelajari agama dan belajar ngaji dengan mereka. Secara psikologis, mereka memang terkesan sedang mencari jati diri, jika salah melangkah dan terjerumus itu berbahaya. Maka, harus dibiasakan dan diarahkan ke hal positif sehingga mereka akan disibukkan dengan hal-hal yang bermanfaat dan secara otomatis akan melupakan hal-hal buruk.
Raka memberikan gambaran secara mendalam, bahwa dia juga menemukan ada diantara para siswa yang suka merokok, ada yang bahkan suka membolos dan malah berhenti di tengah jalan dan tidak ke sekolah malah bermain game. Ada juga yang kedapatan bahkan hampir terjerumus dengan minuman keras atau narkoba, Raka sudah mendengar laporan dari beberapa siswa namun mereka belum memiliki bukti.
Para Dewan guru dan kepala sekolah pun terkaget dengan fakta baru yang diceritakan Raka. Raka ternyata juga sudah menyelidiki cukup lama namun merahasiakan hal tersebut, namun nyatanya tawuran terjadi dengan skala besar dan tidak bisa ditebak.
Seperti ada yang provokasi sehingga menyulut pertempuran tersebut. Raka hanya mendapatkan laporan-laporan dari siswa dimana mereka juga ada yang dipalak dan tak berani melapor siapa orangnya, bahkan ada orang di dalam sekolah sendiri yaitu siswa yang juga ikut dalam kenakalan remaja tersebut. Semacam gang anak sekolah.
Rapat pun dilanjutkan terus, akhirnya banyak pendapat yang bermunculan dan akhirnya menemukan titik kesimpulan untuk menanggulangi kenakalan remaja di sekolah
Pertama, Para siswa harus mengikuti ekstra sekolah sepulang sekolah. Minimal, satu organisasi yang diikuti, pada hari tertentu setiap minggu tergantung organisasi sekolah apa yang menjadwalkan harinya. Misalkan Pramuka hari Jumat, kemudian ekstra agama hari selasa, hari rabu paskibrakan dan lain sebagainya. Dengan mengikuti salah satu kegiatan positif, mereka akan mendapatkan teman curhat dan saling bicara sehingga mereka akan mendapatkan informasi lebih cepat ketika ada permasalahan yang terjadi antar siswa.
Selain itu, kegiatan positif akan membuat siswa melupakan hal negatif dengan perlahan dan mereka akan bisa berubah.
Kedua, ada bimbingan agama tergantung pada agama yang dianut setiap siswa. Misalkan yang beragama Islam harus mengikuti kajian Islam yang diadakan sekolah, demikian juga yang beragama Kristen, Budha, Katholik dan lainnya. Sehingga dengan kajian agama itu mereka dapat mencegah remaja siswa dan siswi terjerumus dalam hal keburukan seperti; mabuk minuman keras, narkoba, dan kebiasaan buruk lainnya.
Ketiga, pendampingan oleh BP atau Bimbingan Konseling akan diperbaiki. Siswa dapat melaporkan masalah yang dihadapi kepada pengurus BP yang akan dibuatkan ruangan khusus sehingga seolah psikiater bagi para siswa. Para siswa dapat curhat masalah pendidikan dan pelajaran, juga masalah yang dihadapi dari bullying ataupun kekerasan oleh siswa lainnya sehingga dapat dengan cepat diatasi.
Keempat, Siswa dan siswi juga akan mendapatkan pembinaan dari pusat-pusat kelembagaan yang menaungi permasalah remaja. Secara berkala akan diundang narasumber, seperti pemahaman soal KPAI maupun dari kepolisian agar para siswa semakin sadar akan bahaya dari kenakalan remaja yang kini banyak ditemui.
Itulah beberapa kesimpulan yang dihasilkan dalam rapat para guru tersebut.
Selesai rapat, Raka masih membereskan catatannya yang dibuat barusan. Rapat musyawarah yang barusan membawa dampak yang baik tentunya dalam memperbaiki para generasi penerus yang kini masih remaja dan berstatus pelajar. Sekali salah melangkah, maka bisa jadi bencana bagi masa depan mereka dan masa depan negar ini.
“Bapak seperti detektif saja.”
Tiba-tiba suara lembut itu mengagetkannya, suara lembut itu sudah duduk di sebelah Raka. Wajah wanita itu nampak bersemangat dan ceria, dia adalah Iffah Inshira. Raka dibuat kaget dan canggung.
“Ibu Iffah bisa saja, i.. itu hanya karena saya sering berinteraksi dengan para siswa sehingga mengetahui apa yang sering mereka bicarakan. Bukankah bu Iffah sering mendengar kalau sering bertemu itu akan menimbulkan kepahaman?” Raka tersenyum, namun barusan kata-katanya malah seolah sedang menggelitik hubungan mereka sendiri. Mereka beberapa kali bertemu dan secara tak sengaja selalu bertemu dalam kondisi yang memang harus selalu teringat.
Pertama mereka tabrakan dan kertas berhamburan, kedua mereka bertemu saat shalat dhuha di mushola sekolah dan terakhir mereka bertemu saat terjadi tawuran. Saat itu, Raka membantu Iffah dan salah satu siswi keluar dari tawuran dan saat itu Raka harus terluka.
Mereka malah jadi canggung sejenak, ada kerikuhan yang terjadi.
“Oh iya, Pak Raka sudah benar-benar sehat?”
Iffah langsung sigap dan mengalihkan pembicaraan. Suasana pun kembali cair dan keduanya berbincang seperti biasa lagi.
“Alhamdulillah sehat bu, sudah siap mengajar lagi dan bersama para guru untuk mendidik siswa-siswi. Oh iya, apakah ada masalah lain yang terjadi selama pasca tawuran yang terjadi kemarin?”
Raka sejenak menatap kedua mata bu Iffah, mata indah dan lentik itu benar-benar membuat Raka seolah ditiup hatinya dan seolah ingin selalu dekat dengan Iffah.
“Secara garis besar tak ada masalah Pak, hanya saja polisi beberapa kali meminta informasi kesini. Lalu mereka menemui beberapa siswa dan ditemani guru untuk menanyakan perihal kejadian. Termasuk Farel juga ditanya-tanya, ada juga murid yang terluka diinterogasi dan juga katanya mereka melakukan investigasi lebih dalam karena beberapa siswa di sekolah kita juga terlibat dalan provokasi sehingga terjadi tawuran tersebut.”
Panjang Iffah menjelaskan pada Raka, Iffah sendiri tanpa terasa begitu nyaman bercerita persoalan yang terjadi pasca tawuran dan seolah tak ada kecanggungan. Iffah merasa nyaman berbicara dengan Raka, dalam perasaannya Raka adalah orang yang dapat dipercaya dan enak diajak bicara. Selain itu, Raka juga sangat bertanggungjawab dan tentu saja nilai plus dalam hal agama seperti yang diceritakan para siswa membuatnya kagum dengan sosok Raka.
“Pak Raka belum menikah sampai sekarang?” Tiba-tiba pertanyaan sensitif itu keluar begitu saja dari bibir Iffah. Iffah pun seolah tak sadar bertanya hal itu, “Eh maaf pak Raka, saya malah tanya hal privasi. Maafkan saya, tidak usah dijawab saja, tadi saya keceplosan,” Iffah kembali meminta maaf karena pertanyaan tersebut seolah keluar dari pembicaraan dan tiba-tiba saja keluar begitu saja. Tepat ketika mereka tengah asyik membicarakan persoalan para siswa.
“Saya belum menikah Bu, mungkin Allah tengah membuat saya harus menjaga Ibuku lebih baik lagi sebelum saya bisa menjaga bidadariku nanti,” Senyuman Raka saat mengatakan bidadari itu membuat jantung Iffah berdetak lebih cepat.
“Wanita yang dipilihkan untuk Bapak pasti sangat beruntung nantinya,” senyum Iffah kembali merekah, jantung Raka berdegub kembali.
“Ibu Iffah bisa saja ngegombal, Saya orang biasa saja Bu karena orangtua saya juga orang biasa. Kami bukan orang sehingga mana mau ada wanita gadis saya saya Bu,” Raka pun mencairkan suasana dan mereka terlibat obrolan lagi.
Dari sana mereka tahu, bahwa mereka berdua sama-sama jomblo dan belum menikah. Mereka pun saling bertukar nomor telepon, agar ketika ada masalah dalam hal kenakalan siswa dan juga masalah lainnya. Mereka dapat saling berhubungan dan cepat dapat menyampaikan informasi terkait sekolah maupun permasalahan pribadi.
Keduanya lalu berpisah, ada yang menyelimuti hati mereka. Begitupun dengan Raka seolah dia menemukan kembali semangatnya untuk segera menikah dan membina rumah tangga dan membawakan bidadari ke rumahnya untuk menemani Ibunya.
Alangkah indahnya jika wanita yang akan menjadi pendamping hidupnya adalah bu Iffah. Astaghfirullahal ‘adhim, Raka kembali tersadar hatinya tiba-tiba menjadi normal kembali. Harapan tetap harapan kepada manusia hanyalah semu, berharaplah kepada Allah, maka itulah tujuan sebenar-benarnya.
Namun memang benar, hatinya juga telah berhasil tertawan oleh sikap bu Iffah dan juga bagimana kelembutan cara bertuturnya. Setiap lelaki yang mendengar suaranya dan juga berbincang dengannya mungkin akan berharap menjadi suaminya. Raka pun melesatkan doa dalam hatinya, jika Iffah memang terbaik untuknya dan ditakdirkan untuknya maka ya Allah mudahkanlah dan lancarkanlah. Dalam hatinya, Raka terus berdoa, namun jika bukan jodohnya maka tunjukkan tanda bahwa dia bukan yang terbaik untukku, doa Raka.
Dalam duduknya, Raka beradu jauh ujung pojok. Kadang, Raka tak sengaja menoleh dan melirih kearah bu Iffah. Ada dorongan baginya untuk terus melirik meskipun dipaksanya bahwa hal itu tidaklah baik. Namun, karena perasaan suka di hatinya itulah yang kadang tanpa sengaja mengkomando matanya untuk melirik.
Saat lirikan mata itulah, ketika wajah Iffah nampak teduh dan cantik, dan saat menulis di buku dan pandangan wajahnya menghadap ke tulisan yang ditulisnya. Oh, betapa indah Allah menciptakan wajah yang demikian indah. Raka pun terbuai pada kecantikan Iffah, dia tertawan, benar-benar tertawan. Kehilangan Azkia membuatnya agak kecewa, namun kini dia merasa bahwa Allah memang membuatkan pasangannya yang tepat suatu hari nanti, dia dia sabar dan ikhlas.
Raka pun melihat tulisannya kembali, dia tersenyum dan yakin pada Allah, lalu dia pun berdzikir kembali. Hari sudah mendekati waktu dhuhur, Raka pun bersiap ke mushola sekolah. Saatnya shalat.