Bidadari untuk Raka
Penangkapan setelah Penyelidikan
Seto bertingkah seperti biasa, tak ada keluhan dan tak ada protes. Seto pun tak dicurigai Roni, namun dia merasa pasti pak Raka akan melakukan sesuatu demi menolongnya dan menangkap penjahat sebenarnya.
Sebenarnya, Seto juga terkesan hanya ikut-ikutan. Perbuatan menggunakan narkoba hanya dilakukannya karena gengsi dan iming-iming setia kawan. Pada akhirnya, dia merasa hidupnya hancur, uang sekolah terkadang untuk membeli barang haram tersebut.
Jika pun tak ada, dia diajak rekannya untuk memalak dan menggunakan uangnya untuk bersenang-senang. Seto berharap menjadi siswa biasa saja dan menjalani hidup seperti biasa. Namun, kalau dia keluar pasti dia akan dihajar dan akan diasingkan begitu saja. Bahkan, resiko nyawa mungkin bisa terjadi.
Seto merasa was was dan khawatir, karena dia tidak tahu sama sekali apa yang direncanakan oleh pak Raka untuk membantunya. Dan…, bagaimana dengan para pemasok obat serta geng yang ada baik dari geng sekolahnya maupun geng dari beberapa sekolah yang lainnya.
Yang jelas, Seto berusaha sebisa mungkin untuk berpura-pura bahwa segalanya tak ada masalah dan dia seperti biasanya. Biarlah, pak Raka nanti yang menyelesaikan dengan cara seperti apa, dia juga menunggunya meskipun khawatir akan akhirnya bagaimana kisah premanisme ini berlangsung.
Hari itu seperti biasa, sepulang sekolah. Seto ternyata diajak oleh Roni untuk berkumpul bersama beberapa orang disana sudah berkumpul. Ternyata mereka adalah dari beberapa sekolah dan memang sudah akan bertemu disana. Ada masalah ternyata, sehingga dari empat sekolah yang merupakan para pemalak yang biasa membeli barang haram itu berkumpul.
Ada permasalahan dimana ada beberapa dari mereka yang memalak memasuki wilayah orang lain. Namun, biasanya hal itu akan selesai jika mereka mengakui dan memberikan kompensasi pada mereka yang berada di wilayah tersebut.
Mereka pun mulai terlibat perselisihan, Seto sendiri merasa bahwa perselisihan ini telah memuncak. Kasusnya adalah, beberapa hari kemarin banyak sekali siswa yang melaporkan dipalak oleh sekolah lain, bahkan sangat banyak. Pihak sekolah itu hanya satu sekolah saja, yang lain biasa saja pemalakannya normal. Maka, salah satu geng dari sekolah tersebut meminta kompensasi dan meminta dari sekolah mana untuk mengaku segera.
Dari ketiga sekolah tersebut yang lain tidak ada yang mengaku.
“Sudah mengaku saja! Kami punya mata-mata kok!”
Tetap saja geng masing-masing dari ketiga sekolah juga tidak ada yang mengaku. Mereka merasa tidak melakukan pemalakan berlebihan, secukupnya saja menurut mereka.
“Baik! Begini saja, kita tunggu mereka agar membantu kita menyelesaikan kasus ini.”
Mereka saling berpandangan dan akhirnya setuju. Mereka saling mengangguk dan sepakat untuk menunggu beberapa menit lagi, karena memang ada yang sedang mereka tunggu, seperti biasanya.
Seto paham, bahwa orang yang ditunggu adalah memang mereka orang-orang dewasa yang membawa barang itu. Mereka juga hanya orang-orang suruhan, namun mereka memiliki kekuatan dalam premanisme dan narkoba. Seto sudah beberapa lama tak menggunakan obat lagi, selain sudah disita oleh pak Raka, dia juga ingin berhenti menjadi gila dan kadang lepas kendali karena obat tersebut.
Orang yang ditunggu pun tiba, dari kejauhan mereka sudah terlibat. Mereka tiga orang, salah satu dari mereka nampak besar badannya. Mereka mulai melangkah mendekat kearah para siswa itu, mereka nampak tergesa dan juga tersenyum seperti biasanya.
***
Di sisi lain, Raka sebenarnya sudah memahami. Dia tak melakukan pergerakan dalam arti yang terlihat. Dia juga tidak menghubungi sekalipun pada Seto, dia membiarkan seolah dia tak mengetahui apa-apa dan jangan menimbulkan kecurigaan sedikitpun.
Rencananya berjalan sesuai rencana.
Raka sudah berkomunikasi secara rahasia dengan polisi, dan mereka juga sudah melakukan apa yang sudah direncanakan bersama dengan pak Raka. Polisi lebih sigap dengan laporan yang akurat dari Raka soal adanya penyalahgunaan narkoba karena menerima bukti barang yang diserahkan Pak Raka.
Mereka yakin akan cerita tersebut dan membuat rencana yang matang untuk membekuk semua yang terlibat.
Polisi juga bertindak cepat dengan menyamar sebagai orang biasa dan mendalami lebih lanjut kasus kenakalan remaja hingga pemakaian obat terlarang dan juga kejahatan berupa pemalakan.
Para polisi juga membuat sandiwara dengan beberapa kasus pemalakan berskala besar yang terjadi pada salah satu sekolah sehingga mereka pasti akan berkumpul dan memanggil mereka yang menjadi dalang di belakang layar soal narkoba dan kenakalan remaja dan menjadi pemasok mereka.
Saat pertemuan itu sudah terjadi, para polisi sudah bersiap dan mengepung tempat yang biasa digunakan untuk transaksi. Mereka bersembunyi dengan baik dan bahkan ada yang menyamar sebagai siswa sekolah dengan mengenakan baju seragam dan memakai topi.
Raka juga sudah bersiap dari kejauhan dari belakang tembok persis dari dekat dalam pertemuan mereka tersebut. Raka juga sudah melubangi sedikit tembok itu sebelumnya beberapa hari yang lalu. Dia sudah mempersiapkannya, dari lubang itu dia dapat mendengar dan melihat beberapa siswa dan orang dewasa yang siap bertransaksi.
***
“Kenapa kalian ribut sendiri?” Lelaki tinggi yang biasanya membawa barang bertanya pada para siswa tersebut. Tidak seperti biasanya ada masalah perebutan kekuasaan dalam hal mencari uang demi mendapatkan barang. Mereka menjual barang untuk para siswa tersebut, keuntungannya lumayan karena mereka dapat mencari uang sendiri dari memalak.
Mereka juga menutupi kasus tersebut sebelumnya dengan menjadikan tawuran karena akan melalaikan pada kasus obat. Fokus mereka pasti hanya kenakalan remaja dan tawuran karena ego. Padahal, tawuran itu mereka provokasi agar kasus obat tertutupi.
Para siswa itu terdiam sejenak, tak ada yang berani membuat suara.
“Baiklah, seperti biasa. Kalian harus bisa fear dalam mencari uang kalian sendiri, jangan masuk ke wilayah orang lain secara berlebihan. Kalian harus memanfaatkan situasi dengan baik dan jangan membuat keributan. Kami mendapatkan laporan kalau ada yang memalak berlebihan di wilayah lain bukan?”
Mereka semua terdiam mendengarkan.
“Harusnya memang begitu Bos!” salah satu Siswa yang merasa wilayahnya dijarah berlebihan buka suara, “Saya meminta kompensasi dan ingat bahwa mereka tak boleh malakukan hal ini lagi! Ini adalah khusus bagi sekolah….”
“Hei! Sedang apa kalian disini?” dari arah sekitar 10 meter, suara lembut seorang wanita mengagetkan mereka.
Suara wanita adalah bu Iffah. Benar, tiba-tiba saja bu Iffah sudah berada di dekat mereka. Iffah sendiri mengetahui ada siswanya di sekolah yang terlihat di luar sekolah tadi dank arena ingin tahu, Iffah mencarinya. Didapatinya tiga siswa itu termasuk Seto sedang bersama para siswa dari sekolah lain.
Takut jika akan terjadi tawuran lagi, Iffah pun menegur mereka dan mencoba melerai jika ada perselisihan diantara mereka. Dia tak tahu bahwa disana sedang ada tiga orang dewasa yang sudah berada di sekitar para siswa tersebut.
“Apakah dia seorang Guru?” Pria gemuk dewasa terlihat kaget karena jika itu guru maka berbahaya apa yang mereka lakukan disana. Dan, apakah guru itu sudah tahu atau belum?
“Kenapa ada guru disini? Jangan-jangan…,” ada suara siswa yang langsung terucap tanpa berpikir panjang lagi.
Raka terkaget melihat ada sosok Iffah yang tiba-tiba datang, tiba-tiba semua rencana menjadi seolah tak sempurna karena belum saatnya penggerebekan itu. Namun, semua hanya masalah waktu, menunggu atau sekarang tentu sudah tak masalah.
Namun, keselamatan Iffah sekarang adalah sasaran utama, karena jika menangkap penjahat maka polisi sudah bersiap siaga sedari tadi.
Saat itulah, saat suasana tak terkendali karena ada bu guru yang tiba-tiba muncul, polisi segera keluar dari persembunyiannya dan mengeluarkan pistol mereka dengan cepat. Mereka berhamburan mendekati para siswa dan orang-orang yang terlibat dalam penjualan narkoba tersebut.
Semua semakin kaget, Raka pun demikian. Benar-benar di luar perkiraan, para siswa menjadi ketakutan dan hendak berhamburan lari karena jika mereka tertangkap mereka pasti akan dimarahi orangtua.
“Semuanya! Jangan bergerak!”
Para siswa dari beberapa sekolah itu ada yang langsung terduduk lemas dan ada yang langsung mengangkat tangannya karena ketakutan. Namun, ketiga orang dewasa itu sigap, namun salah satu dari mereka ada yang sudah ketakutan dan langsung mengangkat tangan ke atas. Mungkin dia rekrutan baru, tubuhnya kecil dan tinggi, dia juga langsung down dan wajahnya pucat.
Dua orang seolah sudah paham situasinya, mereka dijebak. Mau tak mau, mereka harus kabur apapun resikonya. Hukuman untuk pengedar narkoba, apalagi untuk anak sekolah pasti sangat besar. Bahkan hukuman mati. Lebih baik kabur sekarang bagaimanapun caranya.
Mereka berdua berlari, mereka ternyata juga memiliki senjata rakitan. Mereka berdua pun tak punya pilihan selain mengeluarkan pistol mereka tersebut. Sayang, polisi sangat cepat bertindak dan salah satu dari mereka yang bertubuh atletis harus terjatuh karena kakinya dilumpuhkan oleh tembakan.
Dor!
Ahhh!
Situasi semakin tak terkendali, Raka sudah sedari tadi langsung beringsut dan melompati tembok yang membatasi dirinya dengan penyergapan tersebut. Memang, dirinya sudah bekerjasama dengan polisi, namun kali ini ada bu Iffah yang tiba-tiba muncul tanpa ada persiapan sama sekali. Tiba-tiba saja, memang seolah takdir menghendaki demikian?
Saat salah satu dari penjahat itu tertembak di kakinya dan berhasil dilumpuhkan, satu orang yang bertubuh gemuk langsung paham dan ada seorang wanita di dekat pelariannya. Dia langsung berputar dan meraih pundak wanita itu, dan memutarnya dengan cepat dan pistol rakitannya sudah ada mengarah ke pelipis wanita cantik berhijab tersebut.
Wajah bu Iffah langsung pucat pasi, tak menyangka jika dia akan menjadi sandera selama dia hidup. Baginya, mungkin inilah yang merupakan hal yang paling menegangkan baginya karena benar-benar berhadapan dengan maut.
Saat itulah, Raka juga sudah tiba di tempat lokasi dan tepat berada di depan lelaki gemuk yang tengah menyandera bu Iffah tersebut.
“Semuanya jangan mendekat! Biarkan saya keluar, dan wanita ini akan selamat!”
Semuanya kini fokus pada lelaki yang menyandera tersebut.
“Turunkan senjata kalian!”
Polisi kebingungan, arah pistol mereka sudah mengarah ke depan. Namun, mereka pun akhirnya menurunkan pistol mereka. Raka membuka kedua telapak tangannya ke depan yang artinya memberi peringatan kalau mereka tak akan mengalah.